YouTube Music menggantikan Spotify

Era membeli kaset telah sirna, sementara membeli musik digital dalam bentuk audio cakram kompak juga sudah terlalu populer lagi. Saya tidak menyimpan lagi kaset dan audio CD yang saya beli bertahun-tahun lalu. Perpindahan dekade, abad sekaligus milenium dari tahun 1990-an menuju 2000-an adalah masa-masa penuh kenangan dengan lagu-lagu keren.

Era ini, musik hadir dalam bentuk digital, entah membelinya melalui penyedia (seperti iTunes) atau mendengarkan gratis maupun berbayar seperti di Spotify atau Deezer. Dan saya sangat menyukai Spotify untuk mendengarkan musik.

Namun kemarin saya beralih ke layanan lain, yaitu YouTube Music. Ya, seperti YouTube yang biasanya menyediakan media user generated content berupa video, kini menyediakan kanal musik. YouTube Music resmi menggantikan Google Play Music yang mungkin kurang laku. Strategi pemasarannya adalah pelanggan bisa mendengarkan musik dan bebas iklan menonton video di kanal YouTube. Anda mungkin merasakan bahwa menonton YouTube saat ini bisa lebih banyak iklan dibandingkan konten, tergantung nasib (baca: algoritme Google).

Sebenarnya harga yang ditawarkan baik oleh YouTube Music, Spotify, maupun Deezer tidak berbeda jauh. Ada paket personal, dan ada paket keluarga. Harganya juga bersaing. Sayangnya saya tidak terlalu jauh mencoba Deezer, jadi saya tidak bisa bekomentar.

Bagaimana dengan pengalaman pengguna? Menurut saya, untuk aplikasi streaming musik, saya masih menyukai antarmuka Spotify, entah kenapa, terasa lebih nyaman ketika digunakan. Tapi sekali lagi, price for benefit membuat saya memilih YouTube Music.

Baik Spotify maupun YouTube music memiliki paket langganan hemat untuk pelajar. Jadi sekali lagi, harga keduanya bisa sangat terjangkau. Apalagi dengan fitur penyimpan lagu menjadi berkas luring, lebih mudah bagi yang suka bepergian. Kelemahannya, YouTube music tidak memiliki paket harian, sehingga bagi yang hanya perlu untuk satu atau dua hari, tentu saja ndak bisa. Beda dengan Spotify, jika hanya perlu paket premium sehari, tinggal beli dengan pulsa.

Saya juga pernah membeli paket sharing Spotify dari niaga elektronik seperti Shopee, hasilnya belum selesai masa berlangganan, saya sudah “ditendang” dari kelompok sharing. Kebanyakan akun sharing yang dijual seperti itu, jadi jangan terlalu berharap layanan bagus, mending keluar uang berenam untuk sama-sama berlangganan, kan jadi murah.

Hal menarik lain dari YouTube music adalah tidak tersedianya aplikasi tersendiri bagi desktop. Sehingga jika ingin mendengarkan di komputer/laptop harus memasang aplikasi berbasis peramban dengan apa yang dinamakan progressive web app (PWA) untuk chromium, seharusnya semua peramban berbasis chromium bisa melakukannya. Tentu saja pengguna juga bisa langsung memutarnya dari peramban.

Hanya saja, dengan menggunakan PWA, fitur seperti mengunduh lagu tidak tersedia. Sehingga Anda bergantung pada kualitas jaringan internet yang baik untuk mendengarkan lagu-lagunya. Berbeda dengan Spotify yang memiliki aplikasi asali, lagu bisa diunduh dan disimpan di komputer.

Tenaga kesehatan dan aplikasi perpesanan Signal

Signal – sebuah aplikasi perpesanan yang turut dibangun oleh pendiri WhatsApp kini sedang naik daun. Sebagaimana banyak yang telah kita baca, hal ini disebabkan oleh sejumlah pembagian data antara WhatsApp dan Facebook, yang menyebabkan pengguna yang tidak suka oleh praktik ini beralih ke aplikasi perpesanan alternatif, yaitu kebanyakan Telegram dan Signal. Celetohan Elon Musk di twitternya juga berperan dalam melonjakkan pengguna Signal hingga puluhan juta dalam hitungan hari.

Mereka yang menginginkan lebih banyak privasi akan lari ke Signal atau Telegram, dan ini terjadi!

Pelonjakan penggunaan Signal dalam beberapa hari ini mungkin tidak terlalu terdampak di Indonesia. Kita sangat nyaman dengan WhatsApp, sehingga apapun kata orang, kita tidak akan pindah ke Telegram beberapa tahun lalu, atau pun mungkin Signal tahun ini. Kita juga tidak terlalu peduli dengan privasi, dan itu sudah jadi bagian keseharian kita sebagai sebuah komunitas.

Tapi bagaimana dengan profesi, misalnya tenaga kesehatan?

Pendapat saya sendiri, untuk urusan tugas dan kegiatan berhubungan dengan data kesehatan di mana kerahasiaan sangat diperlukan, aplikasi khusus memang sangat diperlukan. Aplikasi seperti Siilo umumnya dianjurkan, tapi aplikasi ini bekerja seperti masker, jika hanya satu dua orang yang menggunakan, maka akan sia-sia, selayaknya aplikasi seperti ini diterapkan pada tataran organinasi. Apabila penggunaan aplikasi yang khusus tidak bisa dihadirkan, maka aplikasi publik yang menjaga privasi dengan sangat baik adalah alternatif lainnya, seperti Signal dan Telegram.

Untuk data yang bersifat rahasia, termasuk karena sangkut pautnya dengan rahasia medis atau rahasia jabatan. Semakin privat media komunikasinya, maka akan semakin baik mutu kerahasiaannya dapat terjamin.

Sementara itu, tenaga kesehatan juga orang pribadi. Jika tidak terkait komunikasi yang mengandung rahasia medis atau jabatan, maka media komunikasi publik apapun saya rasa tidak masalah.

Berminat dengan Signal? Anda dapat mencobanya memasangnya di ponsel Anda.

Antivirus untuk Mac OS

Pengguna klasik Mac OS mengatakan bahwa Mac OS tidak memerlukan antivirus. Dan semua sistemnya berjalan dengan aman dan baik. Sayangnya, saya tidak setuju dengan hal itu. Mac OS bukan sebuah sistem tertutup penuh yang bisa aman dari serangan malware, dan saya termasuk yang sepakat dengan pernyataan tersebut.

Semua fasilitas perlindungan standar yang diperlukan Windows juga layak dipertimbangkan ada di Mac OS, antivirus adalah salah satunya. Tentu saja, hal ini ada untung dan ruginya.

Avast Premium Security

Ada banyak tersedia produk antivirus untuk Mac OS di pasaran. Bahkan lebih banyak daripada yang disediakan bagi distribusi Linux. Mulai dari yang gratis, hingga yang premium.

Pertama, mari bicara keuntungannya. Tentu saja dari namanya, antivirus berfungsi untuk menemukan, menghapus aplikasi jahat (malware) sebelum menimbulkan kerusakan pada data atau privasi pemilik data di komputer, dalam ini pengguna Mac OS. Antivirus pada Mac OS efektif, dan saya selama dua pekan menggunakan Mac OS mencegah potensi serangan dari tidak hanya satu atau dua saja berkas yang potensial merusak.

Mereka yang tidak menggunakan antivirus mungkin tidak akan menyadari bahwa Mac OS mereka terinfeksi oleh malware. Sama seperti halnya pengguna Windows, tidak banyak yang menyadari bahwa komputer Windows mereka telah terinfeksi oleh virus komputer. Setidaknya Windows 10 mengambil langkah lebih baik saat ini dengan memiliki antivirus Windows Defender yang mereka jalankan secara asali dan memiliki pembaruan keamanan berkala setiap bulannya.

Intinya, jika pengguna mengunduh berkas terinfeksi virus di Mac OS, saya melihat Mac OS tidak akan melakukan apapun. Ya, Mac OS memiliki sistem antimalware yang menurut produsen bekerja secara tak kasat mata. Tapi untuk kasus yang saya temukan langsung, hal ini tidak terjadi. Antivirus mencegat dan mengamankan berkas perusak lebih cepat dibandingkan dengan sistem keamanan bawaan.

Sedemikian hingga, antivirus pada Mac OS memang bekerja secara efektif.

Kedua, apa kerugiannya? Banyak yang mengatakan bahwa antivirus akan menyita sumber daya komputer, dan membuatnya menjadi lebih lambat. Memasang antivirus pada Mac OS lebih banyak rugi daripada untung, kata beberapa nasihat di forum. Tapi apakah demikian?

Penggunaan RAM oleh aplikasi avast antivirus pada Mac OS Big Sur

Sejak tahun 2020 yang lalu, saya kira standar minimal RAM untuk komputer yang dijalankan oleh Windows 10 dan Mac OS 11 adalah 8GB RAM. Jika kapasitas RAM di bawah 8GB, maka biasanya saya menyarankan menggunakan distribusi Linux yang ringan, atau menggunakan Windows versi sebelumnya dengan lebih berhati-hati. Jika perangkat kita memiliki 8GB RAM, maka tambahan aplikasi antivirus yang berjalan tidak terlalu berat.

Lalu, antivirus apa yang akan digunakan?

Jika aktivitas Anda hanya membaca dan membalas surel, menjelajahi situs web, Anda mungkin tidak memerlukan antivirus tambahan. Jika Anda harus bertukar berkas lewat email/instant messaging atau flashdrive/disk, Anda mungkin memerlukan antivirus dengan perlindungan dasar. Jika Anda memiliki data sensitif yang tidak boleh rusak sama sekali, Anda akan mempertimbangkan proteksi premium.

Produk antivirus bisa dipilih dari produk yang memang sudah Anda percayai. Atau jika belum pernah menggunakannya, silakan bertanya pada forum atau pada mereka yang sudah pernah menggunakan. Pengguna juga harus mempertimbangkan harga, kadang proteksi premium jika Anda tidak benar-benar memerlukannya mungkin akan sia-sia saja dan menjadi pemborosan.

Setelan Pemeriksaan Ejaan Bahasa Indonesia di Ms Word

Salah satu alasan saya menggunakan Microsoft Word adalah pemeriksaan ejaan bahasa Indonesia yang lebih unggul dibandingkan aplikasi lain bertahun-tahun lalu. Ini membuat saya nyaman menulis dokumen dalam bahasa Indonesia di komputer. Sayangnya, mesin baru saya tidak berpikir demikian.

Mac Mini M1 dengan Big Sur mengenali ejaan Indonesia dengan baik, namun tidak mau menggunakannya secara asali (default). Walau pun setelan sistem menggunakan bahasa Indonesia, dan Microsoft Word sudah menggunakan setelan bahasa Indonesia, namun saat mengetik, sistem akan mengembalikan pemeriksaan ejaan ke English (Amerika Serikat).

Situasi ini tidak pernah saya temukan ketika menggunakan Windows (sejak versi Windows 98) dan juga pelbagai distribusi Linux. Saya berusaha mencari jalan keluar untuk masalah ini di Internet, namun belum beruntung menemukan hasilnya, karena menurut Apple, jika sudah disetel ke bahasa lokal, maka semuanya akan otomatis mengikuti. Nyatanya tidak!

Isu sebenarnya bisa dimunculkan pada Windows dengan mengubah setelan bahasa keyboard (papan ketik). Microsoft Windows punya setelan papan ketik US – Indonesia, yaitu papan ketik tipe Amerika Serikat yang digunakan untuk mengetik dalam bahasa Indonesia. Adopsi ini tidak terdapat pada Big Sur 11.11, saya tidak bisa menemukannya. Papan ketik yang tersedia tetap ABC (default) dan U.S. Internasional yang paling mendekati.

Tidak ada satu pun setelan itu yang bisa membuat saya mengetik dengan pemeriksaan ejaan bahasa Indonesia, baik di Ms Word maupun aplikasi lain, termasuk Safari.

Pada akhirnya solusi terakhir yang bisa membantu saya sedikit bernapas lega adalah memilih keyborad Unicode Hex input yang bisa membiarkan ejaan bahasa Indonesia terdeteksi saat mengetik di Microsoft Word, walau tidak berefek pada aplikasi lainnya.

3 Pijakan bagi Penderita Hipertensi

Hipertensi dikenal sebagai pembunuh senyap, karena sering kali tidak diketahui, atau diketahui tanpa keluhan, atau diketahui dan tidak terkentrol dengan baik yang pada akhirnya menyebabkan kematian. Kondisi yang dikenal juga sebagai tekanan darah tinggi cukup banyak dijumpai di masyarakat, dan pada tahun 2016 menyebabkan 23,7% dari 1,73 kematian di Indonesia.

Hampir semua kematian, penyakit, dan kecacatan akibat tekanan darah tinggi merupakan keadaan yang dapat dicegah. Kita hanya tidak melakukan pencegahan itu.

R. Todd Hurst

Ada tiga nasihat yang biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi. Ketiganya merupakan standar yang digunakan sedemikian hingga bisa menjadi pijakan sederhana bagi penderita hipertensi.

Ketahui Angkanya

Jika memungkinkan, cek tekanan darah Anda secara mandiri di rumah. Alat pemeriksaan tekanan darah digital saat tersedia banyak di pasaran termasuk toko niaga daring, dan tidak terlalu mahal (ini tentu saja relatif).

Saya tahu, beberapa pasien lebih percaya hasil pemeriksaan tekanan darah di tempat dokter dengan periksa langsung, yang sebenarnya mungkin tidak memiliki perbedaan akurasi, atau malah justru tidak lebih akurat seperti yang Anda bayangkan.

Ambilah waktu untuk duduk tenang di rumah, lima menit duduk diam diperlukan sebelum memulai memeriksa tekanan darah Anda. Lakukan hal ini secara tertatur, dan hasil pemeriksaan harian ini juga akan menjadi panduan penting bagi dokter Anda untuk mengkaji terapi terbaik bagi kondisi Anda.

Berkonsultasilah kepada dokter Anda mengenai seberapa sering Anda harus melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kapan waktu yang baik. Jangan lupa, kosongkan kandung kemih dengan pipis, serta tunda pemeriksaan hingga setidaknya 30 menit pasca berolahraga, merokok, atau minum kopi.

Tangani Penyebabnya

Darah tinggi memiliki sejumlah faktor risiko dan penyebab yang beberapa dapat diatasi atau dihilangkan, sedemikian hingga tekanan darah dapat dikendalikan dengan lebih baik.

Sejumlah penyebab umum tekanan darah tinggi termasuk:

  • Kurang gerak – atau dalam istilah anak muda zaman sekarang adalah malas gerak (mager). Lakukan olahraga secara teratur, hindari pola hidup yang kebanyakan berdiam, hal ini bisa membantu mengurangi tekanan darah dan mengurangi pengobatan yang diperlukan.
  • Konsumsi makanan yang diproses – terutama makanan yang tinggi kadar sodium/natriumnya. Jika Anda bingung apakah menu keseharian Anda bermasalah dengan isu ini, konsultasikan dengan ahli gizi Anda.
  • Memiliki berat badan yang tidak sehat – kelebihan berat badan dan obesitas adalah penyakit, kurangi berat badan Anda, hal ini dapat menurunkan tekanan darah jauh lebih baik daripada obat-obatan.
  • Kelebihan alkohol – konsumsi alkohol secara berlebihan, lebih dari satu minuman sehari dapat meningkatkan tekanan darah Anda. Hindari konsumsi alkohol berlebihan.
  • Apneu tidur yang tak tertangani – kira-kira ada sekitar 30%-50% penderita hipertensi memiliki apneu tidur, kebanyakan tidak tertangani. Jika Anda mendengkur, bangun pagi tapi tidak merasa cukup istirahat, atau pasangan Anda mendapati Anda beberapa kali berhenti bernapas ketika tidur, maka tanyakan pada dokter Anda apakah Anda harus diperiksa untuk kemungkinan apneu tidur.
  • Aldosteronisme primer – Ini merupakan kondisi masalah hormonal yang dulu dikira langka, namun ternyata ditemukan cukup umum dalam penelitian terkini. Jika tekanan darah Anda tidak terkendali dengan baik dengan sejumlah pengobatan, tanyakan pada dokter Anda jika kadar aldosteron yang tinggi mungkin jadi penyebabnya.

Usahakan selalu berkomunikasi dengan dokter Anda mengenai kemungkinan penyebab darah tinggi Anda. Memang unsur genetik memiliki peran penting, namun diperkirakan setidaknya separuh tekanan darah tinggi disebabkan oleh faktir yang bisa kita kendalikan.

Minum Obat

Ini adalah hal yang sederhana, namun relatif sulit dilakukan. Tidak ada yang ingin minum obat, apalagi ketika mereka merasa tidak sakit atau tidak memiliki keluhan.

Namun, jika Anda tahu bahwa tekanan darah Anda biasanya di atas 130/80 mmHg – dan bahkan setelah melakukan semua yang Anda bisa lakukan untuk mengelola penyebab tekanan darah tinggi – maka dengan tidak minum obat untuk tekanan darah tinggi membuat Anda berisiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, dan kematian dini.

Lini pertama obat-obat tekanan darah tinggi itu efektif, tidak mahal, dan memiliki risiko efek samping yang rendah. Sedemikian hingga sangat penting agar Anda bersedia bekerja sama dengan dokter Anda untuk berstrategi dalam mengobati tekanan darah Anda yang dapat Anda terima dan mampu mengendalikan tekanan darah Anda.

Dan harap diingat kembali, walau pun tekanan darah tinggi sering tanpa gejala, dampaknya terhadap kesehatan dapat sangat merusak. Dan Anda memiliki kendali lebih banyak dibandingkan apa yang Anda bayangkan untuk menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan kematian dini. Ingat tiga pijakan ini, jadilah pengendali terhadap kesehatan Anda, bukan menjadi sekadar angka-angka yang dilihat secara berkala.

Face shield tanpa masker?

Kita melihat banyak fenomena orang menggunakan face shield (pelindung wajah), namun tidak menggunakan masker. Bagaimana isu keselamatannya?

Masker sangat penting dalam mengurangi penyebaran COVID-19. Walau sering kali terasa tidak nyaman digunakan, oleh karena itu orang mencari alternatif lain, seperti beralih ke menggunakan face shield.

Pertanyaan besarnya tentu saja, apakah hanya dengan menggunakan face shield bisa mengurangi penyebaran COVID-19, atau Anda masih perlu menggunakan masker dengan face shield?

Jawaban cepatnya adalah: Anda masih perlu menggunakan masker walaupun telah mengenakan face shield.

Mengenakan face shield membuat orang merasa lebih nyaman dibandingkan mengenakan masker, dan membuat orang bisa memperlihatkan wajahnya atau melihat wajah orang lain, dan bisa lebih berguna bagi mereka yang berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Sayangnya, pelindung wajah ini tidak memberikan perlindungan yang sama dengan masker.

Face shield tidak menyerap droplet dari napas Anda sebaik masker. Yang terjadi adalah droplet saluran napas ditepis dan diarahkan jatuh ke bawah. Karena desainnya yang “berlubang” di bagian bawah, kemungkinan ada kuman pada napas seseorang yang lolos ke udara, yang merupakan cara penularan SARS-CoV-2. Itulah mengapa menggunakan face shield sebagai pengganti masker tidak dianjurkan.

Di sisi lain, face shield dapat melindungi mata Anda dari paparan partikel virus dan mencegah Anda menyentuh wajah Anda sendiri. Dan jika Anda berada di lingkungan tinggi potensi penularan, seperti merawat orang yang sakit COVID-19, menggunakan face shield bersama dengan masker memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi mulut dan hidung.

Jika Anda memutuskan menggunakan face shield, pastikan Anda juga mengenakan masker. Dan cuci face shield setiap kali setelah penggunaan untuk membersihkan kuman yang menempel pada permukaan plastinya.

Periksa Swab Antigen SARS-CoV-2 di Bantul

Bulan ini adalah permulaan saya untuk memulai penugasan residensi di salah satu rumah sakit di Bantul. Salah satu syaratnya adalah melalukan swab (hapusan) nasofaring untuk pemeriksan antigen SARS-CoV-2 untuk melihat potensi infeksi COVID-19. Orang-orang seperti saya bekerja di bidang kesehatan termasuk yang paling rentan terkena COVID-19, oleh karena berhadapan langsung dengan mereka yang sakit ‘bergejala’ COVID-19. Apalagi, tidak semua orang yang kita hadapai sehari-hari bisa taat dengan protokol kesehatan.

Saya melaluikan pemeriksaan swab antigen di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, setelah janjian, saya datang pada waktu yang ditentukan. Saat itu pemeriksaan dikenakan biaya IDR 250K, dan saya membayar sebagai pasien umum.

Saya kemudian menuju ke area pengambilan sampel, setelah menunggu beberapa saat, petugas mengambil sampel dari ruang khusus yang disediakan. Walau pun saya pernah menjalani pemeriksaan ini sebelumnya, saya masih tetap merasa tidak nyaman, dan mungkin memang tidak akan pernah nyaman.

Hasilnya jadi dalam dua jam, namun karena saya tidak memerlukan bentuk fisiknya, saya meminta tolong petugas untuk mengirimkan saya hasil pemeriksaannya dalam bentuk digital.

Hasil pemeriksaan keluar sebagai negatif. Tentu saja, negatif di sini tidak bermakna pasti bebas COVID-19. Bisa jadi memang tidak terinfeksi SARS-CoV-2, atau bisa jadi jumlah virus terlalu sedikit pada sampel dari kemampuan deteksi minimal alat.

Oleh karena itu, saya tidak mengendurkan protokol kesehatan. Apalagi saat ini kasus COVID-19 di Bantul melonjak tinggi. Kasus yang bagi banyak orang dulu jauh, kini bisa ditemukan di sekitar mereka.

Saya memang masih melihat kecenderungan tidak sedikit masyarakat yang masih menyepelekan kondisi pandemi ini. Atau mereka mungkin peduli, tapi antisipasinya kadang tidak berdampak positif pada perbaikan situasi pandemi. Hal ini memang disayangkan, karena masyarakat adalah moda penyebaran COVID-19 itu sendiri, tanpa disiplin, sebaik apapun regulasi yang dihadirkan, maka laju pandemi akan sulit dikendalikan, sampai ada metode kendali yang lebih baik.

PDF Reader Pro

Kembali bercerita tentang pembaca PDF dan aplikasi yang bisa dipilih untuk itu. Selain tentu saja yang gratis seperti Sumatra PDF, hingga yang premium seperti Kofax Power PDF Reader yang saya gunakan, ada yang berada di tengah-tengah, seperti semi premium-lah. Aplikasi pembaca PDF ini adalah PDF Reader Pro.

PDF Reader Pro tersedia untuk pelbagai versi sistem operasi: Windows, Mac OS, Android, dan iOS. Aplikasinya termasuk aplikasi yang ringan dan kecil, serta mudah dioperasikan.

PDF Reader Pro memiliki dua versi Lite dan Pro. Versi Lite tentunya adalah yang gratis, ada iklan yang tidak terlalu menganggu (ini relatif), dan keterbatasan fungsi. Sementara versi Pro (yang sebenarnya agak aneh karena nama aplikasinya adalah PDF Reader Pro) tidak memiliki iklan, dan lebih banyak fungsi yang dapat diakses.

Fitur PDF Reader Pro tidak berbeda dengan pembaca PDF kebanyakan seperti membaca dan memberi anotasi, menyunting PDF (menyunting tulisan/isi, halaman (rotasi/subsitusi), menggabung dan memisah halaman), mengonversi PDF (ke Word/Excel/PowerPoint/Gambar), serta mengisi dan menandatangi berkas PDF.

Saya menggunakan PDF Reader Pro sebagai alternatif Kofax di laptop utama, saya juga menggunakannya di laptop milik anggota keluarga lainnya.

PDF Reader Pro termasuk aplikasi pembaca PDF yang paling ringan yang pernah saya temukan. Dan saya suka lisensinya, untuk 1 PC seumur hidup. Tentu saja lisensi ini akan hilang jika PC atau laptop rusak dan tidak bisa diperbaiki, tapi ini lebih murah dibandingkan lisensi lain yang berlangganan per bulan atau per tahun.

Walau pun produk ini tersedia untuk perangkat gawai, namun saya tidak memilih menggunakannya pada posenl android atau tablet iPad. Karena fungsinya hanya sekadar membaca, maka saya lebih suka Adobe Reader atau PDFElement untuk menemani perangkat jenis gawai untuk saat ini.

OCR pada aplikasi ini juga mendukung bahasa Indonesia, walau tidak sempurna, namun membantu mereka yang bekerja untuk menyalin isi dokumen ke dalam bentuk teks. Saya sendiri suka, karena aplikasi ini sederhana dan mudah digunakan dibandingkan pesaing lainnya, serta tetap enak dipandang karena desain antarmuka yang sesuai dengan selera saya.

Kesan Pertama dengan M1 dan Big Sur

Sangat aneh jika mengatakan bahwa saya penyuka Linux yang bekerja kesehariannya menggunakan Windows 10 dari Microsoft. Satu-satunya mesin yang menemani saya adalah sebuah laptop Dell dengan prosesor Intel Generasi ke-6/7, saya tidak begitu ingat. Sebuah laptop yang sejak saya membelinya empat tahun lalu, sudah empat kali berganti baterai.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah biaya perawatannya akan menjadi tinggi, dan kemungkinan kerusakan laptop lebih awal daripada yang masa pakai yang ditargetkan karena sering dibongkar pasang.

Mau tidak mau, ini membuat saya mempertimbangkan sebuah alternatif, mesin kedua yang tidak semahal laptop saya, namun cukup mumpuni untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari saya. Tidak perlu juga berupa laptop, saya tidak ingin berurusan dengan baterai lagi, dan saya rasa sudah cukup dengan notebook Dell saya tersebut.

Sehingga saya melirik pada sebuah produk besutan salah satu produsen komputer dari Kalifornia. Sebuah mesin mini hemat daya, yang menggunakan prosesor berbasis ARM bernama M1, yang biasanya digunakan pada gawai cerdas. Saya mengambil varian yang paling murah, 8GB RAM dan 256GB SSD, yang sudah tertaman Big Sur di dalamnya.

Saya sama sekali tidak pernah menggunakan sistem operasi ini sebelumnya, kecuali mungkin hampir tiga puluh tahun yang lalu, ketika logo perusahaan ini masih bermotif pelangi. Hei, tapi apa yang mungkin jadi keliru, saya sudah menjalankan distribusi Linux termasuk Ubuntu, openSUSE, Fedora, Arch, dan lainnya selama bertahun-tahun, sesama turunan UNIX seharusnya tidak akan bermasalah – pikir saya.

Jika pengalaman pengguna Windows 10 seperti dari gunung ke pantai dengan jalur tol, sementara distribusi Linux kita bebas memilih jalan yang diinginkan, maka Big Sur seperti kita naik angkot ngetem yang mesti singgah di kota sebelah terlebih dahulu.

Android 10 jauh lebih mumpuni bagi pekerja harian seperti saya dibandingkan Big Sur.

Mari bicara yang bagus-bagusnya dulu. 8GB RAM dan 256GB SSD saya mendapatinya sudah lebih dari cukup. Bahkan berjalan dengan sangat cepat, tapi tidak selancar Dell saya, yang menggunakan 12GB RAM dan 128GB SSD. Intinya, tidak banyak berbeda, dan ini bagus.

Hampir semua aplikasi di Windows 10 tersedia di Big Sur, dan sisanya tiga atau empat dicarikan alternatif yang gratis atau murah. Saya akan bertebal muka memanfaatkan diskon kartu pelajar saya dalam hal ini. Ya, ini juga termasuk kabar yang bagus. Buruknya, tidak semua aplikasi ini bekerja dengan baik sebagaimana pada Windows 10.

Misalnya saja, saya hendak membagi tangkapan layar (screenshot) via perpesanan seperti WhatsApp dan Telegram, saat menempel (paste), aplikasinya akan macet, bahkan hal yang sama terjadi pada Microsoft Outlook. Ini artinya baik aplikasi bawaan asli (native) maupun yang dijalankan melalui Intel Rosetta, semuanya memiliki masalah yang sama. Ini kabar yang sangat buruk bagi produktivitas.

Bagian bagus yang lain, mesin ini sangat dingin. Saya bisa menjalankan banyak aplikasi sekaligus tanpa menambah panas di ruangan kerja saya yang kecil. Hal ini berbeda dengan Dell, yang mulai menebar semangat musim panas ketika diajak gotong royong.

Pengalaman scrolling halaman di Big Sur sangat menyakitkan mata, apa karena saya pakai mouse dan monitor murah meriah, second pula? Saya kira tidak, saya menghubungkan Dell ke monitor yang sama, dan hasilnya Windows 10 bisa meluncurkan halama secara vertikal dengan sangat elegan. Jadi saya rasa masalahnya memang ada di Big Sur. Demikian juga font-nya, menyiksa mata, mungkin keduanya saling berhubungan.

Di luar dugaan, setelah memasang seluruh aplikasi yang saya butuhkan, masih tersisa ruangan nyaris 4/5 dari keseluruhan 256GB SSD. Karena sebagian data saya selalu disimpan di cloud service, jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkan ruangan sisa.

Ini adalah mesin yang bagus, pas dengan keperluan sehari-hari saya. Tidak berlebihan, tidak juga kekurangan. Saya hanya perlu membiasakan diri, karena harus belajar kembali shortcut dari awal. Serta sedikit bersabar dengan beberapa aplikasi yang berjalan tidak sebaik ketika mereka digunakan di Windows 10.

What’s your favorite romantic song?

What’s my favorite romantic song? Well, there are two actually, but if I may only choose one of them, it would the “eyes on me” over “melodies of life.” Both are old school, but well, I came from an old era after all.

The songs come from the same game franchise, and I love them. I played FF VIII many times in the past, as well as the FF IX (while the latter I’ve never been able to finish it). So the song always gives me a vivid yet vibrant recollection of something carved deep in my memory.

I also like “To Zanarkand.” But, since I never gone too far within the game. Stuck somewhere within a dungeon before I quit 😅.

Final Fantasy VIII perhaps the only series that I have completed. And I fall in love with the story and the musics, including the legendary “Eyes on Me.” It is a warm, full of affection and tenderness song. When I miss something behind, I always find this song gives me a calmness and a bittersweet taste in my mind.