Nyepi – Caka 1929

Nyepi – saat semua aktivitas masyarakat Hindu di nusantara terhenti dalam lingkup catur brata penyepian. Mungkin tidak semua, karena tiap orang selalu memiliki hal-hal yang tidak dapat dijindari untuk terjadi.

“Amati Karya” ~ dalam hal ini secara gamblang dapat diartikan tidak bekerja. Umat Hindu tidak melaksanakan kegiatan sehari-harinya, sebagaimana biasanya. Untuk saat ini baik petani, buruh, pegawai, nelayan, atau apapun fungsinya dalam masyarakat, seseorang akan beristirahat dari semua itu pada hari ini. Setidaknya dimulai dari matahri terbit hingga matahari terbit kembali keesokan harinya.

“Amati Gni” ~ tidak menyalakan api, yah itulah makna dasarnya. Sehingga semua hal yang berhubungan dengan api menjadi tiada, bahkan termasuk memasak. Namun aku sendiri tidak terlalu mengerti apakah ini yang kemudian menjadi dasar bahwa “puasa” adalah bagian dari nyepi?

“Amati Lelungan” ~ tidak bepergian, masyarakat disarankan (oleh siapa …?) untuk tetap berada di rumah dan menghindari perjalanan, kecuali untuk hal-hal yang darurat.

“Amati Lelanguan” ~ tidak menikmati (makanan) kesenangan (duniawi?) selama sehari penuh.

Apakah makna-makna hal di atas? Terkadang aku tak ingin memandangnya dengan memilah-milah, karena sebuah kesatuan adalah hal yang paling sederhana yang dapat terlihat.

Nyepi ~ penyepian Sang Diri, merupakan sebuah hal yang sangat menarik untuk diselami, karena selama ini kita selalu hanyut dan sibuk berkutat pada dunia luar yang bising ini, dan kita telah membawa semua kemelit ini masuk ke dalam diri kita. Membuat kita menjadi mudah untuk bimbang dan ragu.

Bagi beberapa orang, perasaan sepi nan penuh kesunyian terkadang menjadi hal yang dirindukan. Kita merindukannya karena kita merasa begitu jauh dari sebuah ketenangan.

Orang-orang yang lebih menggunakan akal daripada perasaan akan membuat sistematika dunia yang sunyi, untuk mendapatkan kembali ketengan itu. Membuat dunia sunyi itulah hal yang termudah (dan tentunya dengan bantuan sedikit kekuasaan). Kemudian Anda akan manarik diri dari semua kegiatan dan segala hal yang dapat menarik kenikmatan yang mengundang kegaduhan dunia datag kembali. Dan setelah sebuah tempat yang senyaman rumah, tanpa kekhawatiran akan ini dan itu, Anda akan mendapatkan sebuah suasana penuh kesunyian.

Hmm … namun jauh dari itu ada hal-hal yang indah selain suasana yang sunyi. Diamkahlah diri Anda sejenak (amati karya), amtilah pikiran-pikiran Anda yang bermunculan … lihatlah bagaimana ia muncul sebagai ego dan emosi yang sia-sia, sehingga Anda melihat bagaimana kesia-siaan itu padam (amati gni), dan amati selalu pikiran Anda karena ia dapat bergerak dan perpindah dengan cepat untuk menciptakan kekonyolan yang baru, jangan melakukan intervensi – cukup mengamati dan kediaman dan keheningan akan datang saat kita menyadari bahwa sia-sia membawa pikiran ini berlarian (amati lelungan), dan jika Anda berjodoh ketenangan itu akan ada dan lebih indah dari kenikmatan dunia manapun (amati lelanguan).

Sederhana namun indah …

Selamat Tahun Baru Saka 1929

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.