Seni Mendengarkan – Bagian 01

Sahabat, saya ingin Anda membuat sebuah penemuan hidup, bukan sebuah penemuan yang diinduksi (disebabkan) oleh pelukisan orang lain. Jika seseorang, sebagai contoh, telah memberitahukan Anda mengenai pemandangan di sini, Anda akan datang dengan batin anda tersiapkan oleh pelukisan itu, dan kemudian mungkin Anda akan terkecewakan oleh kenyataan. Tidak seorang pun dapat melukiskan kenyataan (realitas). Anda harus mengalaminya, melihatnya, merasakan seluruh atmosfer-nya. Ketika Anda melihat keindahan dan kasihnya, Anda mengalami sebuah pembaharuan, sebuah penghidupan kebahagiaan.

Kebanyakan orang yang berpikir bahwa mereka sedang mencari kebenaran telah menyiapkan batin-batin mereka bagi penerimaannya dengan mempelajari deskripsi akan apa yang mereka cari. Ketika Anda mengamati agama-agama serta filosofi-filosofi, Anda menemukan bahwa itu semua telah mencoba melukiskan realita; mereka telah mencoba melukiskan kebenaran sebagai panduan anda.

Kini saya tidak akan mencoba melukiskan apa itu kebenaran bagi saya, karena itu bisa jadi sebuah usaha yang mustahil. Seseorang tidak bisa melukiskan atau memberikan pada orang lain sepenuhnya suatu pengalaman. Seseorang harus mengidupkannya bagi dirinya.

Seperti kebanyakan orang, Anda telah membaca, mendengarkan dan meniru; Anda telah mencoba menemukan apa yang orang lain katakan akan kebenaran dan Tuhan, akan kehidupan dan keabadian. Jadi Anda memiliki sebuah gambaran di dalam batin anda, dan kini Anda ingin membandingkan gambar itu dengan apa yang akan saya sampaikan. Itu dia, batin anda semata-mata mencari pelukisan; Anda tidak mencoba menemukan suatu yang baru, namun hanya mencoba membandingkan. Namun karena saya tidak akan mencoba melukiskan kebenaran, karena ia tak dapat dilukiskan, biasanya akan ada kebingungan dalam batin anda.

Ketika Anda menggenggam di balik diri anda sebuah gambar yang Anda coba menjiplaknya, sebuah idealis yang Anda coba mengikutinya, Anda tidak akan pernah bisa menghadapi sebuah pengalaman sepenuhnya; Anda tidak pernah berterus terang, tidak pernah jujur mengenai diri anda dan tindakan-tindakan anda sendiri, Anda selalu melindungi diri anda dengan suatu ideal. Jika Anda sunguh-sungguh menyelidiki batin dan hati anda sendiri, Anda akan menemukan bahwa Anda datang ke sini untuk mendapatkan suatu yang baru; sebuah ide baru, sebuah sensasi baru, sebuah penjelasan baru akan kehidupan, dengan tujuan bahwa Anda mungkin mencetak hidup anda sendiri menurut itu. Oleh karena itu Anda sesungguhnya mencari sebuah penjelasan yang memuaskan. Anda tidak datang dengan sebuah sikap kesegaran, sehingga dengan persepsi anda sendiri, intesitas anda sendiri, Anda mungkin menemukan kegembiraan tindakan yang alami dan spontan. Kebanyakan dari Anda hanya semata mencari apa itu kebenaran, Anda kemudian dapat mencetak hidup anda menurut cahaya yang kekal itu.

Jika itu menjadi alasan pencarian anda, maka itu bukanlah pencarian akan kebenaran. Lebih seperti untuk penghiburan, untuk kenyamanan; itu hanya sebuah upaya lolos dari konflik dan pergulatan yang banyak sekali yang Anda harus hadapi setiap hari.

Karena penderitaan lahirlah keterdesakan untuk mencari kebenaran; dalam penderitaan terbentang alasan penyelidikan yang terus-menerus, pencarian untuk kebenaran. Hingga kini saat Anda menderita – sebagaimana setiap orang menderita – Anda mencari suatu penyembuh dan kenyamanan yang segera. Ketika Anda merasakan rasa sakit fisik yang sementara, Anda mendapat sebuah pereda pada toko obat terdekat untuk mengurangi penderitaan anda. Demikian juga, ketika Anda mengalami derita mental atau emosional sementara, Anda mencari penghiburan, dan Anda membayangkan bahwa mencoba mendapatkan peringanan dari rasa sakit adalah dengan mencari kebenaran. Dengan begitu Anda terus mencari sebuah kompensasi bagi rasa sakit anda, sebuah kompensasi bagi usaha yang Anda paksakan melakukannya. Anda menghindarkan penyebab utama penderitaan dan dengan demikian hidup dalam sebuah kehidupan yang terilusi.

Jadi mereka yang selalu menyatakan bahwa mereka mencari kebenaran, dalam kenyataan kehilangannya. Mereka telah menemukan hidup mereka menjadi tidak berkecukupan, tidak utuh, kekurangan cinta, dan berpikir dengan mencoba mencari kebenaran mereka akan menemukan kepuasan dan kenyamanan. Jika Anda terus terang mengatakan bahwa Anda mencari hanya penghibur dan kompensasi bagi kesulitan-kesulitan kehidupan, Anda akan mampu mengatasi masalah kecerdasan. Namun selama Anda berpura-pura pada diri anda bahwa Anda mencari sesuatu yang lebih dari kompensasi belaka, Anda tidak dapat melihat permasalahan dengan jelas. Hal pertama agar ditemukan, adalah, apakah Anda sungguh-sungguh mencari, secara fundamental mencari kebenaran.

Seseorang yang mencari kebenaran bukanlah murid kebenaran. Anggap Anda berkata pada saya, “Saya tidak memiliki cinta di dalam hidup saya; hidup begitu miskin, rasa sakitnya berkelanjutan; oleh karena itu, dengan tujuan memperoleh kenyamanan, saya mencari kebenaran.” Maka saya harus menunjukkan bahwa yang Anda cari untuk kenyamanan adalah sebuah delusi semata. Tidak ada hal seperti itu dalam kehidupan sebagai kenyamanan dan keamanan. Hal pertama agar dipahami adalah bahwa Anda haruslah sepenuhnya jujur.

Namun Anda sendiri tidak yakin apa yang sesungguhnya Anda inginkan: Anda ingin kenyamanan, penghiburan, kompensasi, dan tetap, pada saat yang sama, Anda ingin sesuatu yang secara tak terbatas lebih besar daripada kompensasi dan kenyamanan. Anda begitu kebingungan dalam batin anda sendiri di mana sesaat Anda mencari sebuah otoritas yang menawarkan kompensasi dan kenyamanan bagi Anda, dan dikesempatan lain Anda beralih pada yang menolak kenyamanan bagi Anda. Jadi hidup anda menjadi sebuah keberadaan munafik yang disuling, kehidupan yang bingung. Cobalah menemukan apa yang sesungguhnya Anda pikirkan; jangan seolah-olah berpikir apa yang Anda percaya layak bagi Anda untuk dipikirkan; maka, jika Anda sedang bingung, hiduplah sepenuhnya dalam apa yang Anda sedang lakukan, Anda akan tahu dengan sendirinya, tanpa analisis diri, apa yang sesungguhnya Anda harapkan. Jika Anda sungguh-sungguh bertanggung jawab pada tindakan-tindakan anda, maka Anda akan tahu tanpa analisis diri apa yang sesungguhnya Anda cari. Proses penemuan ini tidak mewajibkan keinginan yang besar, kekuatan yang besar, namun hanya ketertarikan untuk menemukan apa yang Anda pikirkan, menemukan apakah Anda sesungguhnya jujur atau hidup dalam ilusi.

Dalam berbicara ke kelompok-kelompok pendengar di seluruh dunia, saya menemukan bahwa semakin banyak orang tampaknya tidak memahami apa yang saya katakan, karena mereka datang dengan ide-ide yang sudah menempel; mereka mendengarkan dengan pendirian yang bias, tanpa mencoba menemukan apa yang telah saya katakan, namun hanya mengharapkan apa yang diam-diam mereka harapkan. Adalah sia-sia mengatakan, “Inilah sebuah idealis yang baru setelah saya harus mencetak diri saya.” Daripada menemukan apa yang sesungguhnya Anda rasakan dan pikirkan.

Bagaimana Anda bisa menemukan apa yang sesungguhnya Anda rasakan dan pikirkan? Dari titik pandang saya, Anda dapat melakukan itu hanya dengan menjadi sadar akan seluruh kehidupan anda. Maka Anda akan menemukan pada tinggkat apa Anda adalah seorang budak bagi idealis-idealis anda, dan dengan menemukan itu, Anda akan melihat bahwa Anda telah menciptakan idealis-idealis semata-mata demi penghiburan.

Di mana ada dualitas, di mana kebalikan, di sana ada kesadaran akan ketidak-utuhan. Batin terperangkap dalam kebalikan, seperti hukuman dan hadiah, baik dan buruk, masa lalu dan masa depan, memperoleh dan kehilangan. Pikiran terperangkap dalam dualitas ini, dan oleh karena itu ada ketidak-utuhan dalam tindakan. Ketidak-utuhan ini menciptakan penderitaan, konflik akan pilihan, upaya dan otoritas, serta pelarian dari yang tidak esensial menuju yang esensial.

Ketika Anda merasa bahwa Anda tidak utuh, Anda merasa kosong, dan dari rasa kekosongan itu timbul penderitaan; karena ketidak-utuhan itu Anda menciptakan standar-standar, idealis-idealis, untuk menopang Anda dalam kekosongan anda, dan Anda mendirikan standar dan idealis ini sebagao otoritas eksternal anda. Apa penyebab internal otoritas eksternal yang Anda ciptakan bagi diri anda? Pertama, Anda merasa tidak utuh, dan Anda menderita dari ketidak-utuhan itu. Selama Anda tidak memahami penyebab otoritas, Anda hanyalah sebuah mesin peniru, dan di mana ada imitasi maka tidak mungkin ada pemenuhan yang kaya akan kehidupan.Untuk memahami penyebab otoritas Anda harus mengikuti proses-proses mental dan emosional yang menciptakannya. Pertama kali, Anda merasa kosong, dan dengan tujuan menghilangkan perasaan itu Anda membuat suatu upaya; dengan upaya itu Anda hanya menciptakan kebalikan; Anda menciptakan sebuah dualitas yang hanya meninggkatkan ketidak-utuhan dan kekosongan. Anda bertanggung jawab bagi otoritas seperti itu seperti agama, politik, moralitas, seperti otoritas standar ekonomi dan sosial. Karena kekosongan anda, karena ketidak-utuhan anda, Anda telah menciptakan standar-standar eksternal ini dari yang kini Anda coba bebaskan diri anda. Dengan berevolusi, dengan mengembangkan, dengan tumbuh jauh dari mereka, Anda ingin menciptakan sebuah hukum internal bagi diri anda. Setelah Anda memahami standar-standar eksternal, Anda ingin membebaskan diri anda dari mereka, dan membangun standar internal anda sendiri. Standar internal ini, yang Anda sebut “realitas spiritual”, Anda identifikasikan dengan sebuah hukum kosmik, yang berarti bahwa Anda menciptakan – namun itu hanya pembagian lainnya, dualitas lainnya.

Jadi Jadi pertama-tama Anda menciptakan sebuah hukum eksternal, dan kemudian Anda mencari pertumbuhannya dengan mengembangkan sebuah hukum internal, yang Anda identifikasikan dengan alam semesta, dengan keseluruhan. Itulah apa yang terjadi. Anda masih sadar akan keangkuhan anda yang terbatas, yang kini Anda identifikasikan dengan sebuah ilusi yang besar, menyebutnya kosmik. Jadi ketika Anda berkata, “Saya menuruti hukum internal saya”, Anda hanya menggunakan sebuah ekspresi untuk menutupi hasrat anda untuk lolos. Bagi saya, seseorang yang terikat baik dengan sebuah hukum eksternal atau sebuah hukum internal adalah yang terkurung dalam sebuah penjara; ia tertahan oleh suatu ilusi. Karenanya orang seperti itu tidak dapat memahami tindakan spontanitas, alami, sehat.

Kini mengapa Anda menciptakan hukum-hukum internal bagi diri anda? Bukankah karena pergulatan dalam kehidupan sehari-hari begitu hebat, begitu tidak harmonis, sehingga Anda ingin lolos darinya dan menciptakan sebuah hukum internal yang akan menjadi kenyamanan anda? Dan Anda menjadi seorang budak bagi otoritas internal itu, standar internal itu, karena Anda telah menolak hanya gambaran keluar, dan telah menciptakan ditempatnya sebuah gambaran internal baginya Anda seorang budak.

Dengan metode ini Anda tidak akan mencapai kearifan (discernment) yang benar, dan kearifan tidaklah sama dengan pilihan. Pilihan hadir dalam dualitas. Ketika natin tidak utuh dan sadar akan ketidak-utuhan itu, ia mencoba lolos darinya dan oleh karena itu menciptakan kebalikan terhadap ketidak-utuhan itu. Kebalikan itu dapat jadi standar eksternal maupun internal, dan ketika seseorang telah membangun standar seperti itu, ia menilai setiap tindakan, setiap pengalaman dengan standar itu, dan karenanya hidup dalam sebuah keadaan memilih yang berkesinambungan. Pilihan lahir hanya dari perlawanan. Jika ada kearifan, maka tiada konflik.

Jadi bagi saya, seluruh pemikiran membuat upaya menuju kebenaran, menuju realitas, ide membuah suatu mempertahankan kerja keras, hanyalah palsu belaka. Selama Anda tidak utuh Anda akan mengalami penderitaan, dan karenanya Anda akan sibuk dengan pilihan, upaya, pergulatan tanpa henti untuk apa yang Anda sebut “pencapaian spiritual.” Jadi saya katakan, ketika batin terperangkan dalam otoritas, ia tak bisa memiliki pemahaman yang benar, pikiran yang benar. Dan karena kebanyakan batin anda terperangkap dalam otoritas – yang hanyalah pelarian dari pemahaman, dari kearifan – Anda tidak dapat menghadapi pengalaman kehidupan dengan utuh. Karenanya Anda hidup dalam kehidupan dualisme, sebuah kehidupan palsu, munafik, sebuah kehidupan yang di sana tiada saat pemenuhan.



Alpino, Itali, Pembicaraan Publik Pertama – 1 Juli 1933

Jiddu Krishnamurti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.