Kelahiran Kembali

Dwijati, sebuah istilah yang kental di pulau dewata, bagi mereka yang telah terlahir dua kali. Namun apa maknanya hal ini?

Tentunya dengan nilai pelajarn agama yang pas-pas’an, saya tidak akan berkompeten menjelaskan hal ini dari sudut pandang agama, nah… sebagai gantinya mungkin ada hal lain yang bisa dijadikan sebuah gubahan baru ….

Pada suatu sore nan kelabu, Nang Lecir sedang berjalan-jalan di pematang ‘carik’nya yang berdekatan dengan kali kecil yang sekaligus merupakan sumber air yang mengairi sumber kehidupan ia dan keluarganya.

Karena musim panas yang agak panjang, dan musim penghujan yang belum kunjung tiba, pergiliran pengairan terpaksa dilakukan. Walau sudah bersiap-siap dengn keadaan seperti ini, tetap saja ada yang mengganggu pikirinnya. Beberapa saat lagi tumpek uduh, nah … menurut adat (agama juga) ia wajib membuat sesajen/haturan ‘ala kadarnya’ (a.k.a semampunya) untuk menghormati hari suci dimana umat Hindu merayakan kehormonisan hidupnya bersama alam, terutama tumbuh-tumbuhan. Nang Lecir yang polos tak pernah berkeberatan dengan semua hal itu, namun permasalahannya adalah adanya ‘pepeson’ (baca: iuran) dan beberapa ‘banten’ (a.k.a saji) yang wajib dan bukannya suka rela.

Semua ini ‘katanya’ sudah ditentukan oleh para ‘penglingsir’ (baca: pendeta dan pimpinan desa/banjar), dan sudah disesuaikan dengan awig-awig yang tentunya juga sudah disesuaikan dengan sastra agama plus-plus (plus ‘pewisik’, plus neraca anggaran, dll, plus pendapat ahli).

Nang Lecir sendiri sudah mengutak-atik buku saldonya sejak beberapa hari yang lalu, walau masih mampu untuk semua ‘pepeson’ yang nantinya ‘pesu’ (iuran dan beban yang dikeluarkan), namun itu jauh rasanya dari ikhlas.

Ia berpikir, tidakkah para ‘penglisir’ yang notabene sudah arif nan bijaksana, apalagi ada yang sudah me-dwijati, tidakkah mereka memahami keadaan ini, keadaan orang-orang seperti Nang Lecir yang serba kesusahan.

…………

Aku lahir di dunia ini tak membawa apapun, dan kini ketika aku memandang, aku melihat dunia dipenuhi begitu banyak warna, demikian juga dengan diriku. Aku berwarna, dan dari warna ini aku bisa melihat diriku dan orang lain, aku dan dia. Di saat yang lain aku melihat, aku dan dia, berbeda. Cermin hubunganku memperlihatkan bahwa aku adalah aku, dan hal-hal disekitarku bukanlah aku … namun kami semua saling terhubungkan, dari cermin inilah aku melihat diriku ada. Semakin lama, semua kenangan dan ingatan membuatku selalu memperbandingkan, aku tahu ketika aku ‘suka’ dan ketika aku ‘tidak suka’. Aku melihat diriku bergulat dalam perasaan yang tiada menentu ini, antara apa yang kuanggap baik dan kuanggap buruk, aku mengejar satu sisi dan menghalau sisi lain dari kehidupanku.

Apa pun yang kulakukan, aku ada dalam pergulatan ini.

Suatu hari, semua hal ini membuatku jenuh, aku ingin berhenti dari semua perbandingan ini.
Aku duduk di hamparan rumput tanah persawahan yang sudah lama tampaknya tak dikelola. Matahari sedang menuruni senja yang ingin segera terbaringkan. Aku duduk dan memandang semua itu, setiap hal yang ada, mendengar setiap gerak yang beradu di alam. Aku melihat suatu hal yang menakjubkan, hal-hal yang tak pernah ada ketika aku sibuk dalam pergulatanku.
Ingatanku tak dapat menemukan adanya diriku ketika saat itu tiba, yang ada hanya yang ada, segala yang berasal dari kenangan dan ingatan menjadi mati, segala yang kuketahui padam, yang ada hanyalah yang ada, dan segalanya seakan satu, seperti ‘terlahirkan’ kembali, namun tanpa diriku, karena aku tak dapat mengenalinya, semuanya adalah diriku, namun semuanya juga bukan diriku, bagaimana aku dapat menyampaikannya.

Dalam dimensi yang penuh keindahan ini, yang ada hanya yang tiada. Aku bahkan tak dapat mengenangnya kembali, tapi ‘itu’ akan ada ketika ‘kematian’ tiba lagi, maka ketika itu ‘aku mati’, dan ‘terlahir’ kembali dalam kehidupan ini.

…………………

Nah … kembali ke kisah Nang Lecir, ia masih mengeleng-gelengkan kepala. Lalu apa fungsi dwijati, kalau hal-hal yang memberatkan masih saja ‘diperwajibkan’ bagi orang-orang yang akan setengah mati diberikan ‘wajib’ itu.
Kalau awig-awig dibuat untuk dia dan masyarakat, koq dia ga pernah tahu kapan awiq-awiq dibuat, tahunya kalau pas masa ‘wajib’ tiba baru ada ‘arah-arah’…. ‘arah wajib’ lagi …

Yah … Bali sing ken-ken

Dhamme ca ye ariyapavedite ratā
anuttarā te vacasā, manasā kammunā ca.
Te santisoraccasamādhisaṇṭhitā,
sutassa paññāya ca sāramajjhagū.

Those who are devoted to the Dhamma made known by the Noble Ones are unsurpassed in speech, thought and action.
They are established in peace, gentleness and concentration, and have reached the essence of learning and wisdom.

Sutta Nipāta 3.332

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.