Luna Da Campo

Hari ini umurku bertambah menjadi 23 tahun, ucapan ulang tahun pertama yang kuterima menyatakan bahwa sudah menjadi tua. Ya, hadiah itu pun kuterima karena memang seperti itu adanya. Jika aku melihat melalui sebuah cermin, tak sama lagi seperti dulu, tapi di sinilah aliran waktu membawa tubuh dunia yang melapuk ini dalam tambatan yang tak abadi.

Menurut tradisi di daerah kelahiranku, terdapat dua jenis perayaan ulang tahun – lebih tepatnya hari kelahiran, satu yang secara tradisional yang dikenal sebagai “otonan” (mohon melihat Kamus Bali-Indonesia untuk mencari makna kata ini), dan satunya lagi adalah ulang tahun sesuai dengan yang banyak yang kita rayakan menurut tarikh masehi atau penanggalan Georgian yang tibanya setiap 365/6 hari (1 hari tidak disamakan dengan 23 jam 56 menit 48 detik, ha… ha…).
Kembali pada yang tradisional ini, berbeda dengan tarikh masehi yang menggunakan sistem solar, maka “otononan” menggunakan sistem “lunar”, menurut kala revolusi bulan terhadap bumi, perhitungannya menggunakan “wuku” (ada 30 wuku, 1 wuku lamanya 7 hari, terhitung mulai Raditya/Minggu hingga Saniscara/Sabtu), kemudian terdapat Saptawara (hitung 7 harian dalam bahasa Indonesia adalah Minggu hingga Sabtu) kemudian ada Pancawara (hitung 5 harian = Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon), jadi jika seseorang lahir pada wuku X pada hari Minggu Umanis maka ia akan merayakan hari kelahirannya lagi pada 210 hari kemudian (dihitung dari 7×30)…. hmm… aku jadi pusing sendiri ^_^
Pada saat seseorang lahir di daerah kelahiranku, maka hitungan sistem lunar dan solar ini dimulai, nah … pada orang-orang yang terlahir tahun 1984, pada saat berumur 23 tahun, hari perayaan kedua sistem ini bertemu pada saat yang sama (tapi aku sendiri tak yakin kalau semuanya sama, bukan ahli perbintangan sih), kalau mau ngecek sepertinya dulu aku pernah melihat buku yang berjudul aneka tarikh 🙂
Baiklah … yang itu bukanlah hal-hal yang penting, jadi bukan inti yang hendak kutuliskan di sini, tapi hanya sakadar informasi ringan untuk pengetahuan yang sederhana.
Namun pengetahuan seperti tak akan pernah membuatku dewasa dalam arti yang sesungguhnya, hanya sekadar bumbu dalam kehidupan ini. Aku bertanya-tanya, banyak hal yang sudah terlewatkan, dan banyak hal yang masih tersamarkan, bagaimana pun juga beberapa hal yang abstrak memanglah berada dalam keabstrakannya.
Tepat pergantian hari menjadi hari ini, aku menemukan diriku dalam ruang alam yang terbuka, memandang ke arah langit yang tak terhalang oleh apapun jua. Seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menemukannya di atas sana. Bersinar dengan indah dan lembut di antara serpihan awan-awan tipis yang mengitarinya.
Sahabat yang selalu mengingatkanku betapa indahnya sebuah kehidupan yang utuh dalam keberadaan yang penuh. Aku selalu memandangnya, dan sebelum sekejap semuanya berakhir ke dalam kehampaan yang sunyi dan begitu penuh.
Dan kemudian aku pun tersenyum sambil mengingat-ingat alunan Amazing Grace yang kucoba gesekan dengan susah payah dalam berbagai nada sumbangnya, ha.. ha… “Luna Da Campo” sampai jumpa tahun depan sahabatku, walau kita akan selalu bertemu, bisikku ^_^.
Iklan

3 pemikiran pada “Luna Da Campo

  1. geLLy

    oya km ultah ya…met ultah ya diva moga panjang umur tercapai apa yg km cita N cintakaN…N tentunya jd dokter yg sukses N baik hati AMIENN

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.