Nyepi – Mengenal Yang Tiada

Tahun baru Saka di nusantara selalu diperingati dengan perayaan Nyepi, sebuah hari dimana masyarakat Hindu menarik diri dari kehidupan sosial dan keseharian serta rutinitasnya. Tentu saja terdapat beberapa tujuan sebagaimana yang akan banyak di-dharma-wacana-kan baik oleh kaum agamawan maupun intelektual, mereka berbicara bagaimana memaknai dan menjalani Nyepi sehingga tercipta ataupun terwujud suatu kesucian lahir dan batin. Maka ada sebuah doktrin tua mengenai bagaimana Nyepi dijalani, sebagaimana yang telah saya tulis untuk Nyepi setahun yang lalu, yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian yang kurang lebih jika diterjemahkan secara harfiah bermakna empat hakikat sikap dalam menjalani Nyepi. Empat hal ini terdiri dari amati g’ni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan rutinitas), amati lelungan (tidak bepergian) serta amati lelanguan (tidak melakukan sesuatu yang menciptakan kesenangan). Keempat hakikat sikap ini diterapkan sebagaimana arti sesungguhnya setiap pelaksanaan Nyepi tentunya dalam tatanan tradisi, walaupun beberapa yang berpandangan filosofis menyatakan bahwa terdapat makna yang lebih mendalam akan hal ini, seperti tidak menyalakan api emosi, tidak membiarkan pemikiran berkeliaran, dan berbagai hal lainnya. Inilah yang kebanyakan yang dilakukan oleh mereka yang menjalani hari raya Nyepi, walau beberapa masyarakat juga memberikan waktunya untuk berada di tempat-tempat suci guna memperoleh secercah kekhusyukan.

Namun apa-pun yang telah disebutkan sebagaimana juga tua-nya doktrin ini, mereka selalu berbicara tentang hal yang sama, serupa, dengan sedikit pernikan di sana sini, sehingga tampak lebih berkilauan. “This is the way, and you should done everything just like the order said.” Inilah doktrin-nya sahabat, dan engkau harus melakukan keempat hal ini dalam Nyepi, sedemikian hingga jiwa ragamu dapat tenang, lakukan introspeksi, dan dengan menjalankan sesuai tuntunan akan menjadikan dirimu suci lahir batin. Hal-hal seperti inilah yang selalu diulang s’panjang masa, dan inilah wajah Nyepi yang dikenal oleh banyak orang. Namun bagaimana-pun Anda memaknainya, itulah Nyepi bagi Anda.

Metode konvensional ini telah diterapkan cukup lama, dengan melatih jiwa seseorang, mengukirnya dari luar, membentuknya, dan menjadikan sesuai dengan tatanan, sehingga dicapai apa yang diharapkan. Namun telah-kah seseorang menjadi Sepi sepenuhnya? Maksud saya, tentunya makna kata Nyepi itu sendiri adalah membuat Sepi, bukankah demikian? Nah, kini adakah Anda telah Sepi sepenuhnya? Tunggu dulu… jangan menjawab dengan tergesa-gesa, lihatlah sekeliling Anda dan perhatikan, Anda mungkin telah berhenti beraktivitas, dan mematikan semua peralatan yang dapat membuat gaduh, adakah Sepi di situ? Jika Anda sungguh memperhatikan, di sana ada suatu nature (sifat yang alami) dari semua hal di dunia ini, yaitu gerak, seluruh dunia ini sedang bergerak, dan gerak tidaklah menghasilkan Sepi, ha… ha… dan Anda bisa melihat ini dengan sangat jelas, Anda tidak perlu membuka buku fisika dan menemukan setiap gerak menghasilkan suara, ya … di luar sana ada suara-suara alam yang nature yang tidak akan dapat kita hentikan, perhatikan sendiri gerak udara, suara serangga, gemericik aliran air, bahkan suara napas kita. Walaupun Anda melaksanakan doktrin Catur Brata Penyepian dengan penuh penghayatan (walau jika jujur mungkin sebagian besar tidak), Anda tidak akan bisa menjadikan dunia di luar sana Sepi, Anda bisa menghentikan semua kegiatan masyarakat, lingkungan mungkin terkesan sepi, namun alam ini tak pernah Sepi sama sekali. Namun mungkin doktrin itu dapat membantu Anda untuk memiliki lebih banyak kesempatan melihat ketidak-sepian ini. Setidaknya sejumlah orang telah puas dengan sepinya lingkungan, mereka adalah orang-orang yang sederhana dan menawan… atau mungkin tidak.

Banyak orang yang melihat kekonyolan ini, dengan mencoba menyepikan dunia, beralih setelah menyadari ketidakmungkinannya. Ia beralih melihat ke dalam dirinya. Beberapa yang masih memegang doktrin ini berusaha menerapkan doktrin ini pada dirinya, ia menyepikan dirinya. Beberapa yang malang menemukan dirinya sedang dibanjiri lautan emosi, mengejar kesenangan, pikirannya yang selalu bekerja dan melompat kesana kemari, ia tengah bergulat antara keberadaannya dan sang doktrin yang hendak ia wujudkan dalam keberadaannya. Batin yang seperti ini tak pernah Sepi, karena tekanan, perpecahan, konflik di dalam dirinya dan semua gerak itu telah menjadikannya begitu malang dalam keributan-keributan yang halus, yang bahkan ia sendiri tak menyadarinya.

Beberapa orang lain menjadi geli melihat kekonyolan ini, antara membuat dunia yang tak mungkin sepi menjadi sepi, dan mencoba menyepikan dirinya sementara ia memasukan konflik dan menimbulkan perpecahan di dalam dirinya, yang berusaha membuat diam pikirannya, sementara usaha itu sendiri telah membuat batinnya berlari kesana kemari.

Mereka yang telah melihat berkata, Akulah Sepi. Setelah melihat bagaimana usaha membuat kemalangan itu hadir dengan sia-sia dalam upaya mengubah sang keberadaan, maka ia meniadakan semua bentuk usaha itu. Setelah melihat batin yang penuh gerak, ia mengamati gerak-gerak ini dan membiarkannya menjadi tiada. Setelah melihat jiwa yang berusaha membangun keberadaan yang sepi justru melahirkan gerak, ia membiarkan usaha dan ide akan keberadaan itu tiada. Dan ketika ketiadaan itu ada, di sanalah Sepi muncul. Sebuah dimensi yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Dan dari dimensi inilah kulihat kehidupan berawal. Ya… Mengenal Yang Tiada – Nyepi.

 

Selamat Hari Raya Nyepi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.