Reinkarnasi – Di Balik Sang Putaran

Salah satu topik yang selalu menjadi pembicaraan hangat di antara para ‘pencari’ adalah sebuah topik reinkarnasi (perputaran roda kehidupan, dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya), mungkin beberapa pihak juga akan menyinggu masalah rebirth (terlahir kembali), namun semua itu tetaplah berpangkal sebuah titik yang serupa, kelahiran kembali.

Semua bertanya di seputaran lokasi, adakah kehidupan lain setelah kehidupan ini, atau adakah kehidupan yang lampau dari masa kehidupan sekarang. Hal ini merujuk pada sebuah dogma tua mengenai jiwa (atau roh) yang memiliki sifat yang abadi, berpindah dalam setiap kehidupan, dari satu badan ke badan lainnya, seperti manusia yang mengganti pakaian yang lapuk atau rusak dengan pakaian yang baru dan segar. Manusia dari masa ke masa, mencari kebenaran akan konsep ini, bukti-bukti ilmiah dan telusuran kepustakaan yang kuno dan tua. Bagi mereka yang telah meyakininya, konsep ini diturunkan dari generasi ke generasi, bahwa konsep ini adalah hukum yang nyata adanya, tidak mempengaruhi apakah mereka yakin, percaya ataupun tidak, hukum ini akan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Ini adalah salah satu hukum alam yang tertua yang pernah diketahui manusia, menurut mereka, hukum yang menjaga keseimbangan dunia, memutar roda karma di lingkaran kehidupan dan kematian. Mereka telah merajutnya ke dalam bait-bait syair yang menggugah sanubari, menyimpannya dalam tempat-tempat tersuci yang dapat dibangunnya.

Sang Putaran – itulah reinkarnasi – sang waktu. Reinkarnasi tak akan dapat terjadi tanpa waktu, karena jika waktu hilang, maka putaran pun akan hilang. Ah… itu sebenarnya analogi yang sederhana. Namun jauh di balik semua itu, ada hal-hal yang menggelitik untuk diwacanakan. Karena ‘reinkarnasi’ ini sendiri telah begitu mengikat mereka yang meliak-liuk bersamanya, yang menggenggamnya erat dan tak hendak membuka matanya untuk melihat keberadaannya yang sebenarnya.  Apakah Sang Putaran sesungguhnya ada atau tiada, ada hal yang lebih bermakna untuk diselami, hal-hal yang mendasar, seperti mengapa kita memunculkan topik ini, apakah kita percaya, mengapa kita percaya atau mengapa tidak, adakah makna dari semua yang kita ketahui tentang reinkarnasi sesungguhnya pada kehidupan kita? Kita saat ini sedang hidup, itulah faktanya, secara sederhana kita tak pernah tahu apakah reinkarnasi ada untuk kehidupan, yang menjadi jelas adalah kehidupan tidak ada untuk reinkarnasi, tidak sebagai sebuah konsep.

Berikut adalah sebuah petikan tanya jawab mengenai reinkarnasi, yang saya petik dari sebuah surat (terjemahan) di Yahoo!Group yang dikirimkan oleh Bapak Hudoyo Hupodio. Duduklah dengan tenang, bacalah dengan membuka semuanya, lepaskan semua sekat yang menutup….

======

PENANYA: Mohon Anda memberikan pernyataan definitif tentang tidak adanya reinkarnasi, oleh karena pada dewasa ini semakin banyak terkumpul ‘bukti ilmiah’ yang membuktikan bahwa reinkarnasi itu fakta. Saya prihatin, oleh karena saya melihat banyak orang mulai menggunakan bukti ini untuk lebih memperkuat suatu kepercayaan yang telah mereka miliki, yang memungkinkan mereka lari dari masalah-masalah kehidupan & kematian. Bukankah Anda bertanggung jawab untuk bersikap jelas, langsung dan tidak meragukan mengenai masalah ini dan bukan sekadar berputar-putar di sekitar masalah ini?

KRISHNAMURTI: Kami akan bersikap pasti. Ide tentang reinkarnasi sudah ada jauh sebelum Agama Kristen. Ide itu meluas hampir di seluruh India, dan mungkin di seluruh dunia Asia. Pertama, apakah yang berinkarnasi – bukan hanya berinkarnasi sekarang, tetapi juga berinkarnasi berulang-ulang? Kedua, pengertian bahwa ada bukti ilmiah bahwa reinkarnasi benar, membuat orang lari dari masalah-masalah mereka, dan itu menyebabkan keprihatinan penanya. Apakah ia benar-benar prihatin bahwa orang melarikan diri? Orang lari ke sepakbola atau pergi ke tempat ibadah. Kesampingkan semua keprihatinan tentang apa yang dilakukan orang lain. Kita berkepentingan dengan fakta, dengan kebenaran dari reinkarnasi; dan Anda minta jawaban pasti dari pembicara.

Apakah yang berinkarnasi, yang lahir kembali? Apakah yang hidup pada saat ini, duduk di sini? Apakah yang tengah terjadi sekarang terhadap apa yang sedang berinkarnasi? Dan bila kita berangkat dari sini, apakah sesungguhnya terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, yang adalah gerak yang hidup dari inkarnasi — pergulatan kita, nafsu-nafsu, keserakahan, iri hati, kelekatan — semua itu? Apakah itu yang akan bereinkarnasi dalam kehidupan yang akan datang?

Nah, mereka yang percaya pada reinkarnasi, mereka percaya bahwa mereka akan lahir kembali dengan segala yang mereka miliki sekarang–mungkin ada modifikasi di sana-sini–dan dengan demikian meneruskannya, kehidupan demi kehidupan. Kepercayaan tidak pernah hidup. Tetapi seandainya kepercayaan itu sangat hidup, maka apa adanya Anda sekarang jauh lebih penting daripada apa adanya Anda dalam kehidupan yang akan datang. Di dunia Asia ada istilah ‘karma’ yang berarti tindakan dalam kehidupan sekarang, pada masa ini, beserta segala kesengsaraannya, kekacauan, amarah, cemburu, benci, kekerasan, yang mungkin dimodifikasi, tetapi akan berlanjut ke dalam kehidupan yang akan datang.

Jadi ada bukti dari ingatan akan hal-hal di masa lampau, suatu kehidupan lampau. Ingatan itu adalah timbunan si ‘aku’, ego, kepribadian. Onggokan itu, yang dimodifikasi, diluruskan, dipoles sedikit, berlanjut ke kehidupan yang akan datang. Jadi itu bukan masalah apakah ada reinkarnasi (saya sangat tegas dalam hal ini), melainkan bahwa inkarnasi sekarang; yang jauh lebih penting daripada reinkarnasi mengakhiri keamburadulan ini, konflik ini, sekarang. Maka berlangsunglah sesuatu yang sama sekali lain. Tidak bahagia, sengsara, dirundung kesedihan, orang bilang: "Saya berharap kehidupan yang akan datang lebih baik." Harapan akan kehidupan yang akan datang itu adalah penundaan dari menghadapi fakta sekarang.

Pembicara sudah membahas ini panjang lebar dengan mereka yang percaya, berceramah dan menulis tentang reinkarnasi, tanpa akhir. Itu bagian dari permainan mereka. Saya berkata, "Baik, Bapak-Bapak, Anda percaya pada semua itu. Jika Anda percaya itu, maka apa yang Anda perbuat sekarang penting." Tetapi mereka tidak tertarik akan apa yang mereka perbuat sekarang, mereka berminat kepada masa depan. Mereka tidak berkata: "Saya percaya dan saya akan mengubah hidup saya secara menyeluruh sehingga tidak ada lagi masa depan." Janganlah pada akhir nanti bilang bahwa saya saya menghindari pertanyaan ini; Andalah yang menghindarinya. Saya berkata bahwa kehidupan sekarang ini sangat penting; jika Anda paham dan menyelaminya, dengan segala kekacauannya, kerumitannya – mengakhirinya, tidak meneruskan itu. Maka Anda masuk ke dalam alam yang sama sekali lain. Saya rasa itu jelas, bukan? Saya tidak berputar-putar.

Anda mungkin bertanya kepada saya: "Apakah Anda percaya akan reinkarnasi?" Bukan? Saya tidak percaya pada apa pun. Ini bukan penghindaran; saya tidak punya kepercayaan, dan itu tidak berarti saya seorang ateis, atau saya tidak spiritual. Selamilah, lihat apa artinya. Itu berarti bahwa batin bebas dari semua lilitan kepercayaan. Dalam kitab-kitab India kuno ada cerita tentang kematian dan inkarnasi. Bagi seorang brahmana, salah satu adat dan hukum kuno mengatakan bahwa, setelah mengumpulkan kekayaan duniawi, setelah lima tahun ia harus melepaskan segala sesuatu dan mulai lagi dari awal. Ada seorang brahmana yang mempunyai seorang anak laki-laki, dan anak itu berkata kepadanya, "Bapak memberikan semua ini kepada berbagai orang; kepada siapa Bapak akan memberikan saya, kepada siapa Bapak akan menyuruh saya pergi?" Sang ayah berkata, "Pergilah, saya tidak tertarik." Tetapi si anak datang beberapa kali dan sang ayah menjadi marah dan berkata, "Saya akan mengirimmu kepada Maut." Karena ia seorang brahmana, ia harus menepati kata-katanya. Jadi ia mengirim anaknya kepada Maut. Dalam perjalanan menuju Maut, anak itu singgah pada berbagai guru dan mendapati bahwa ada guru yang berkata ada reinkarnasi, dan ada yang berkata tidak ada reinkarnasi. Ia terus mencari, dan akhirnya ia sampai ke istana Maut. Ketika ia tiba, Maut sedang tidak ada.–Implikasi ini menarik, jika Anda menyelaminya.–Maut tidak ada. Anak itu menunggu selama tiga hari. Pada hari keempat, Maut muncul dan minta maaf. Ia minta maaf karena anak itu seorang brahmana; katanya, "Mohon maaf, saya telah membuat Anda menunggu; berkat penyesalan ini, saya menawarkan kepada Anda tiga keinginan. Anda boleh menjadi raja terbesar, menjadi orang terkaya, atau menjadi kekal-abadi." Si anak berkata, "Saya telah mengunjungi banyak guru, dan mereka semua saling berbeda pendapat. Apa pendapat Anda tentang kematian, dan apa yang terjadi setelah itu?" Jawab Maut: "Wah, seandainya saya punya murid seperti Anda; Anda tidak peduli dengan apa pun kecuali itu." Maka ia mulai menyampaikan kebenaran kepada anak itu, tentang keadaan hidup di mana tidak ada waktu. …

QUESTIONS AND ANSWERS, OJAI, CALIFORNIA – 13TH MAY 1980 ‘REINCARNATION’

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Reinkarnasi – Di Balik Sang Putaran

  1. hanano

    apakah kita bisa mengigat kehidupan kita yg terdahulu? tapi jika tidak itu berati kita tidak akan tau siapa kita sebenarnya pada kehidupan lampau sebelum kita terlahir? tapi aku sering sekali mendengar kalau adanya orang yg masih bisa mengigat kehidupan lampaunya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.