Visakah Puja – Tri Suci Waisak

Hal-hal yang ternilai adalah kehampaan yang menyuarakan keributan, yang penuh selalulah diam. Ketidaktahuan seperti mangkuk yang setengah terisi, sang bijak seperti kolam dalam yang begitu tenang. Sutta Nipāta 3.726

 

Saya bukanlah orang yang mengikuti jejak maupun ajaran Buddha, juga bukan bagian dari klan besar seperti Theravada maupun Mahayana. Saya juga tidak besar di lingkungan kaum Buddhis, juga mengenal ajaran Buddha maupun Zen dengan baik. Perjalanan Buddha telah menggugah begitu banyak insan di muka bumi, pesan-pesan Buddha menghiasi banyak kolam-kolam yang membawa kesejukan bagi banyak hati.

 

Kebijaksanaan mengalir dari meditasi, tanpa meditasi kebijaksaan tak tersisa. Mengenal dua kewajaran yang berlawanan ini, biarlah seorang manusia menapaki dirinya, sehingga ia menjadi bijaksana. Dhammapada 20.282

 

Buddha diakui secara universal sebagai salah satu manusia yang luar biasa, hanya sekali dalam beberapa ratus atau ribu tahun, umat manusia dianugrahi kehadiran sosok yang begitu menakjubkan. Konon kelahiran Pangeran Sidharta disambut oleh segenap alam raya, dan kelahiran sang pangeran telah diramalkan untuk menjadi sosok yang luar biasa, seorang raja yang luar biasa atau seorang guru yang luar biasa. Dibesarkan dalam lingkungan istana yang penuh dengan kemewahan dan segala hal yang hanya mimpi bagi orang kebanyakan. Ia hidup tanpa mengkhawatirkan apapun, hingga bertemu dengan si tua, si sakit, si mati dan si pertapa….

Melihat bagian lain dari dunia yang tak pernah dilihat sebelumnya, bagian yang begitu pahit dari kehidupan ini, dan bagian yang terbanyak dari kehidupan ini bagi banyak orang, sang pangeran memutuskan untuk mencari jalan guna memutuskan, mengakhiri hal-hal ini yang membuat manusia begitu sedih, menderita, ketakutan serta putus asa. Ia pun meninggalkan semua kehidupan istana dan mulai berjalan dari hutan ke pegunungan, ke desa-desa sebagai seorang pertapa, untuk menemukan sang jalan.

 

Dengan cinta kasih mereka akan memadamkan api kebencian, dengan kebijaksanaan pada api kebingungan dan kepalsuan. Mereka yang mahainsan meniadakan delusi dengan kebijaksanaan yang memotong hingga mencapai kebenaran. Itivuttaka 3.93

 

Perjalanan sang pertapa untuk menemukan sang jalan tidaklah mudah, berbagai siksaan telah dihadapi baik tubuh maupun batin. Lambat laun sang pertapa melihat hal-hal dengan jelas, tentang apa yang telah ditempuhnya, apakah makna akan semua yang dijalani para pertapa, akankah ini semua mengakhiri penderitaan manusia, ataukah berakhir sia-sia. Di satu sisi mempertahankan kehidupan, di sisi lain melenyapkan penderitaan. Dalam perjalanan waktu alam raya ini, sang pertama menemukan bahwa kehidupan adalah dukha – setiap geraknya menimbulkan penderitaan – gerak yang hadir dari kekosongan, melihat bahwa dukha tak abadi – oleh karena ia gerak yang memiliki awal iapun memiliki akhir, dan ada jalan untuk mengakhiri dukha. Dan Buddha hadir dengan ajarannya.

 

Ia yang telah menyeberangi perangkap kebuntuan, menghancurkan iritasi sensualitas, mencapai akhir dari delusi, ialah orang suci yang tak terpengaruhi oleh kebahagiaan dan derita. Udāna 3.22

 

Maka selanjutnya para master selalu berkata, “All about Zen and Buddism are the same, about this life, about dukha, and how cross this life of dukha“. Ya… menjalani kehidupan ini dengan benar, itulah yang menjadi inti yang dapat saya petik. Sehingga untuk selanjutnya secara sederhana, mereka yang memilih jalan Buddhis akan selalu bertemu dengan empat renungan untuk diamati, dukha, anicca, anatta, dan nibbana.  Empat lajur yang sangat indah menurut saya, penderitaan dan kesengsaraan, ketidakabadian, tanpa aku (no-self) dan padam (nirvana). Buddha telah membuka kembali jalan untuk memasuki diri sendiri dan melihat kebenaran yang ada di alam semesta dan diri sendiri.

Tentang hal ini ada banyak literatur yang bersedia untuk menjelaskannya secara sederhana maupun mendetail, buku-buku, refrensi, maupun artikel-artikel lepas. Khusus untuk bagian anatta (no-self), saya bisa menyarankan sebuah buku yang cukup unik untuk dibaca, tentunya saya tidak sedang mengaikatkannya dengan keseluruhan ini, sebuah buku dengan judul “The Experience of No-Self” oleh Bernadette Roberts.

Dan bagi mereka yang merayakannya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2552, Lepaskanlah kebahagian Bagi Seluruh Semesta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.