Go ‘Vege’ & Save The Earth

Hari ini baru memasuki tugas baru di bagian ICCU, dan akan berlangsung selama seminggu, ah… entah karena apa walau sudah berbekal berbagai hal tetap saja kami sekolompok merasa kurang, mungkin beginilah pola hidup deselerasi (saat semua orang sedang sibuk dengan kampanye akselerasi). Aku sempat bingung karena aku belum sempat memperbaiki stetoskop-ku yang masih rusak, karet sekat diafragma-nya putus. Tapi sepertinya aku belum menemukan toko yang memiliki stok untuk karet sekap bagi Littmann Classic II yang sudah sekitar 5 tahun menemaniku, sebagian besar dokter muda menggunakan sebuah stetoskop untuk sekali dan seumur hidup, tentunya jika itu tidak hilang atau rusak secara mengenaskan, bahkan tidak sedikit juga yang menggunakan stetoskop yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yah…, setidaknya begitulah pemandangan di sekitarku, tidak tahu jika di institusi yang lain.

Walau demikian bukan itu yang ingin kubahas untuk kali ini, bukan yang ingin kutuangkan di lembaran ini. Beberapa waktu yang lalu, dari sebuah milis langgananku, seorang rekan mempublikasikan artikel yang diambil dari sebuah blog, dan artikel atau tulisan ini kami sepakati sebagai suatu yang menarik. Artikel ini dapat dibaca di Dee’s Idea.

Tulisan ini memuat tentang data-data baru tanda alarm (peringatan) akan semakin cepatnya laju Global Warming (pemanasan global) dengan berbagai tanda-tanda alam (ini dapat juga dilihat pada widget Diary of A Planet di halaman blogger ini). Disampaikan bahwa bumi saat ini telah melewati kulminasi (titik balik) kemampuan mengolah gas karbon di atmosfer, itu berarti kita lebih dari separuh jalan mendekati kepunahan masal sebagaimana yang terjadi pada berjuta tahun lalu menurut berbagai penelitian. Namun sayangnya separuh jalan ini bukanlah separuh waktu lagi menuju kepunahan, namun sebuah laju/akselerasi yang tak seorang pun dapat bayangkan (nah buat lengkapnya, silakan lihat lansung ke sumber yang dirujuk). Mungkin kita yang beriklim tropis masih santai saja, padahal kita sendiri sudah merasakan kenaikan suhu bumi yang tidak wajar beberapa tahun belakangan ini. Namun tidak demikian halnya di negara-negara yang sudah dilanda serangan panas, saat begitu banyaknya (dan semakin bertambah) orang-orang yang dilarikan ke rumah sakit karena hal ini dan tidak tertolong lagi, mungkinkah kita sudah diambang batas toleransi dan daya adaptasi terhadap kenaikan suhu bumi? Dapatkah kita membayangkan jika suhu bumi menjadi dua kali saat ini? Ah… aku juga tidak, tapi bukan itu masalah kita, karena kita tak tahu dampak berikut dari pemanasan global secara nyata kecuali sederetan angka-angka dan hipotesa.

Tulisan itu juga memuat tentang sebuah langkah konkrit yang bisa dilakukan setiap orang untuk memperlambat laju pemanasan global. [# mengapa memperlambat? Dalam sepengetahuanku, ekh hmm… ^_^, pemanasan global dan kemudian zaman es (ice age) adalah siklus alami dari bumi ini… jadi kita tak secara teori tak bisa menghentikannya… alias hanya bisa memperlambat (walau sekarang kita mempercepatnya), zaman es berakhir, kehidupan mulai berkembang, spesies mulai beraneka ragam, hutan-hutan berkembang, kemudian mahluk hidup yang semakin kompleks, mulai bertambah jumlahnya, akhirnya jumlah karbon di atmosfer bertambah, dan mulailah pemanasan global, puncaknya adalah kepunahan masal hampir semua spesies di bumi #] Sebuah langkah yang bisa dilakukan oleh setiap orang, yaitu mengurangi bahkan secara dramatis menghentikan pola konsumsi daging, mengapa? Nah… lihat kembali blog yang dirujuk, di sana ada alasan yang panjang lebar, dan bisa berdiskusi juga dengan banyak orang yang berminat.

Wow…, sebenarnya bagiku sih ga masalah, aku tahu tubuhku lebih segar dengan pola makanan vegetarian, nutrisinya juga lengkap, tapi itu sulit diterapkan, bagaimana tidak, sayuran bagi anak kost-kostan adalah barang langka, apalagi menjelang malam, semua menu adalah masakan dari bahan hewani dan hanya secuil nabati, kecuali tempe dan tahu, ah… itu pun digoreng dengan ekstra kolesterol, pola hidup yang bikin sedih L. Kalau masyarakat desa mah ga usah ditanya, mereka makanannya memang 80% lebih berbahan nabati. Namun tetap, kusampaikan, walau ajakan ini telah didengungkan sejak begitu lama, vegetarian tidak akan pernah bisa diterapkan, karena dunia dihuni oleh pernak-pernik warna yang berbeda, jika seseorang mampu melihat bahwa ia makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan, maka mungkin ia bisa melihat keindahan di balik pola hidup vegetarian (dibalik pro dan kontra penggunaan terminologi vegetarian itu sendiri tentunya). Lagi pula banyak koq yang menerapkan pola hidup ini, bahkan juga para selebritis top dunia. Bahkan walau tidak semua terkadang beberapa daging yang kita konsumsi di rumah makan telah melalui berbagai kekejaman sebelum terhidang dalam baris menu, lalu bagaimana dengan ikan? Apakah anda berpikir ikan sepenuhnya ‘nyaman’ karena laut atau perairan memproduksi mereka secara berkelanjutan, sayangnya kini planet ini juga terancam kehilangan sebagian besar spesies yang menghuni perairan akibat eksploitasi manusia, mungkin sebuah situs bisa membantu anda mempertimbangkan, cobalah tengok fishinghurts. Well, adakah Anda seorang vegetarian diantara deretan nama para vegan seperti Pythagoras, Socrates, Dalai Lama, Paramahansa Yogananda, Konfusius, Lao Tzu, St. Francis of Assisi, Leo Nikolayevich, Zoroaster, Leonardo da Vinci, Voltaire, Albert Einstein, Steve Jobs, Henry Ford, Charles Darwin, Thomas Edison atau Sir Isaac Newton? Pesannya hanya satu cinta kasih, dan mungkin kita akan menyelematkan bumi… rumah kita ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.