Sarasvati Puja

Demikianlah ilmu pengetahuan itu mengalir, sepanjang sungai sang waktu, arusnya tiadalah berbeda kehidupan itu sendiri. Seperti bunga yang kuntumnya meletup ketika musim menyapa, ia akan terlelap dan sirna ketika makna keindahan itu telah menyeruak memenuhi semesta.

Sebagaimana kisah yang lalu, hari ini akan diingat kembali sebagai saat dimana salah satu hal yang menjadi harta manusia dihargai. Ya, mengingat, setidaknya itulah yang dapat dilakukan manusia ini. Pengetahuan untuk mengenal berbagai hal, sebuah kemampuan untuk ‘membedakan’, hitam di antara putih, atau pun putih di antara hitam. Kita telah menapak begitu jauh dalam dunia ini dengan pengetahuan yang didapatkan dari generasi ke generasi. Membangun banyak hal, namun juga telah menghancurkan begitu banyak hal pula.

Orang-orang telah menyampaikan, seorang buta yang berjalan dengan mengayunkan pedang tajam akan merusak hal-hal di sekitarnya juga dirinya sendiri, namun jika orang yang dapat melihat  dan berjalan dengan baik tidak membawa perlindungan diri saat berkelana keluar masuk hutan yang liar, ia akan menemukan dirinya menjadi begitu kesulitan. Itulah sebuah paradigma lama yang dibebankan pada dunia ini, jika seseorang memiliki pengetahuan maka selayaknya ia menggenggam tuntunan. Ketika seseorang memiliki tuntutan, maka agar ia tetap dapat melangkah maju ia harus memiliki pengetahuan. Manusia merajut tuntutan dalam sebentuk kekuatan hati, keyakinan, norma, etika dan lain sebagainya, dan membangun ilmu dan teknologi sebagai perwujudan pengetahuan. Umat manusia telah berharap banyak dari apa yang mereka tata selama ini. Hal itu berkebalikan dengan fakta yang tampak saat ini, justru dengan semua modernisasi yang di alami manusia dan peradabannya, kehancurnya melanda bumi di mana-mana, rumah hidup yang tidak hanya milik manusia.

Hal ini sederhana, itulah sifat dasar pengetahuan, ‘membedakan’, saat pengetahuan itu mewujud sebagai Sarasvati ~ sang pengetahuan yang mengalir terus menerus dalam segenap kecemerlangannya, saat itulah ia digunakan sebagai bagian dari usaha manusia untuk bertahan hidup. Untuk mencari perlindungan, makan, dan sebagainya. Ketika manusia berusaha bertahan hidup dengan mekanisme ‘membedakan’ ini, ia akan melahirkan prioritas, dan ia akan memilih. Dan tak akan ada yang meyangkal bahwa pilihan ini perlu untuk bertahan hidup. Namun manusia suka mengejar segala hal di luar keperluan dasarnya, mencari kenyamanan dan menghindari rasa sakit. Seperti sekeping logam, suka dan duka selalu saling berkeseimbangan, namun terkadang manusia tak hendak melihat kenyataan ini, ia telah memilih dengan kemampuan membedakannya, ia memilih suka dibandingkan duka. Manusia mengetahui segala sesuatu yang berlebihan akan merusak keseimbangan, demikian juga saat pengetahuan digunakan secara berlebihan, bahkan ketika ia digunakan untuk menciptakan tuntunan bagi pemanfaat dirinya.

Seek the form and find the formless…, learn all and then forget all…” Ini adalah kata kebijaksanaan yang teramat tua dari sebuah daratan di bumi tengah. Mereka berkata ini mewakili Zen sejati, namun bukan itu yang kita permasalahankan saat ini, itu pun sebentuk pengetahuan, kata-kata akan menjadi hambar jika ia hanya sekadar pengetahuan. Meniti jalan-jalan kehidupan kembali, bersenandung bersama alam raya, melihat apa yang ada di balik segalanya. Tariklah sebuah napas dengan segenap perasaan, dan hembuskan … atau lebih tepatnya, lepaskan… lepaskan dari tahanan, biarkan mengalir…, lihatlah dengan segenap rasa dan jiwa, lihatlah kehidupan yang mengalir dalam rangkaian napas ini. Napas pun yang menjadi salah satu dasar kehidupan memiliki gerak alaminya, mengambil jika diperlukan dan melepas ketika sudah berkecukupan, namun keselurahan itu pun napas, pun kehidupan jua.

Demikian halnya pengetahuan, apa yang hendak kita genggam sesungguhnya? Pengetahuan telah menjalankan fungsinya dengan baik, memberikan manusia kesempatan bertahan hidup dan belajar secara berkesinambungan. namun rangkaian kehidupan sebuah keutuhan yang luar biasa, membedakan bukanlah cara yang tepat untuk menyelaminya. Ketika ada si baik dan si buruk, kita telah terpisah; ketika ada aku dan dirimu, atau ikatan dan ada penolakan; dengan membedakan kita hidup namun dalam kotak-kotak kecil yang tak mengenal apapun kecuali yang berbeda itu sendiri. Ketika pengetahuan itu telah berfungsi, lepaskanlah…, lepaskan…, hal ini kan menantang kita semua untuk melihat tanpa mengetahui, the formless form of all.

Namun tentunya batin kecil kita akan berbisik, ya…, akankah kita begitu bodoh melepaskan sesuatu yang  menyokong kehidupan kita selama ini? Tidak salah juga, itulah gerak batin yang dikenal sebagai pikiran, fungsinya memang untuk mempertahankan kelangsungan hidup kita, jika ada yang cukup gila untuk mati, tentu orang-orang akan berkata pastilah pikirannya sudah tak berfungsi dengan baik. Anda akan ragu, karena dihadapan Anda penuh akan ketidakpastian, dan kembimbangan gerak dari yang pasti menuju tak pasti inilah yang dikenal sebagai ketakutan. Inilah bentuk-bentuk yang ada dalam diri setiap orang. Ketika kita mencari yang berbentuk, inilah yang dapat kita temukan, karena kita masih menggunakan jangkauan sang pengetahuan, yang selalu membedakan, sehingga menghasilkan bentuk.

Ketika kita mencari makna kehidupan, dan menemukan segala bentuk ini, berarti kita belum melepaskan keterikatan pada pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah ‘aku’. “Mereka yang memandang dirinya dan menemukan sebentuk kecemerlangan vidya, mereka sedang berada dalam gelapnya kabut avidya, inilah jeratan sang waktu dan sang aku”. Kata itu benar-benar sederhana, selusuri semua pengetahuan, dan lepaskanlah, biarkan ia berakhir. Mengapa engkau menahannya? Ini hanya bisa, ketika manusia telah melihat betapa semua yang ia tahan itu sia-sia, atau ketika manusia menemukan, bahwa dengan ketika pengetahuan itu sirna di sana ia bisa melihat sesuatu yang sesungguhnya, the formless, the unknown, the life. Tidak ada yang bisa dipaksakan di dunia ini, tidak pada yang tak berwujud, akan ada waktunya buah yang ranum terlepas dari tangkai yang menahanya, bahkan ketika tak ada usaha untuk melepasnya dari tangkai, dan buah itulah yang membawa biji akan siap untuk kehidupan yang sesungguhnya setelah kematiannya.

Sarasvati memberikan pengetahuan kepada umat manusia, mereka yang mengingatnya mengenal dalam kata kuno pengetahuan itu sebagai “Veda”, dan inti yang terucap dari begitu banyak bait syair yang indah adalah “Vedanta”, yang bermakna berakhirnya Veda…, akhir sang pengetahuan…, atau ketika pengetahuan mati, seindah kata ketika sang ‘aku’ mati, yang beberapa ribu tahun kemudian dalam bahasa Pali dikenal sebagai Nibbana.

 

Selamat Hari Raya Sarasvati.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sarasvati Puja

  1. Ping-balik: Mahavidya Sarasvati – The Path of Charming Stillness « Bhyllabus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.