Writing is About the Feeling

Aku tak akan menyangkal, bahwa keindahan sebuah tulisan juga dipengaruhi oleh perasaan sang penulis. Pun seorang memiliki kegemaran menulis atau suatu bakat dalam bidang yang satu ini, namun walau isi tulisan mempaparkan ide-ide tetap saja akan terlukiskan sebuah kondisi perasaan si penulis. Selayaknya engkau jatuh cinta pada menulis, maka segenap hati akan tercurahkan pada setiap goresan. Walau banyak orang yang menulis untuk berbagai tujuan, walau dalam fungsinya dalam dunia kerja, pembelajaran, dan tugas. Namun sifat-sifat tulisan yang selalu dikejar oleh tenggat waktu, akan memiliki jiwa yang berbeda dengan tulisan yang berasal dari lubuk hati.

Tulisan tidak harus selalu memiliki sebuah tujuan, karena seni ini adalah sebuah seni yang mengungkapkan, sebagaimana seni musik atau pun seni lukis, terkadang sebuah tujuan akan muncul sepanjang perjalanan tulisan itu sendiri, ketika makna-makna akannya mulai bermunculan. Hakikat keindahan hati dalam mengungkapkan sesuatu tak dapat didiktekan oleh apapun juga, kita boleh saja membaca banyak buku di bidang sastra, Art of Writing hingga Writing for Dummies atau Rules in Writing and Publications (semua ini judul samaran belaka), tetap saja tulisan indah akan berasal dari ungkapan hati yang penuh keindahan. Tentu saja, membaca juga adalah sebuah seni, kita bisa memperoleh banyak hal darinya, dan salah satu yang berharga bagi mereka yang mencintai seni “mengungkapkan” menyebutnya sebagai “inspirasi”.

Bagaimana Anda dapat melentikan jari jemari anda ketika hati ini dipenuhi oleh kabut yang menutupi semua kecerahannya. Anda mungkin dapat menuliskan ribuan kata secara apik, namun saat memandangnya kembali, tiada kehidupan di dalamnya. Jika melihat hal ini, bukan berarti kita tak dapat menulis dalam perasaan yang galau, tulisan dapat menjadi bagian yang menyematkan keindahan dalam gelisahan-gelisahan yang tak kunjung menjadi terang. Dan jika beruntung, Anda mungkin akan menemukan gelisahan anda lenyap bersama goresan yang telah Anda ciptakan, seakan luka itu terpindahkan ke dalam media yang bisu, namun jika Anda menulis untuk menghilangkan kegelisahan Anda, ketika tujuan itu ada, mungkin Anda tak akan seberuntung itu. Biarkanlah mentari dan rembulan menyinari hati dan perasaan Anda, biarkan untaian embun yang dihembuskan angin ke dalam sanubari menyejukkan jiwa kita, biarkan jendela terbuka dan suka cita datang dan pergi, tidak mengejar atau menahan apapun, jika Anda berjodoh…, tulisan itu akan mengalir dengan sendirinya seakan bagian yang alami dari dalam diri ini.

Mengapa kita menulis, adakah sebuah alasan yang tersembunyi. Aku sendiri tak mampu menjawabnya, mengapa aku suka menulis, itu hanyalah sebuah bagian dari yang kusuka (mungkin karena itu banyak sahabat yang mengatakan jika aku lebih tepat di sastra dibandingkan di kedokteran). Seperti sebuah jiwa yang selalu hidup dan mengalir, tulisan akan datang dan pergi di dalam hati, tugas batin kita adalah memutuskan apakah tulisan itu akan tergoreskan pada lembaran-lembaran kehidupan ini, tak bisa kupejamkan mata hati dan membiarkan setiap yang tergores di dalamnya tanpa teramati. Ini seperti seorang yang sedang mencintai, tak ada alasan khusus, somehow one needs no reason to be in love. Jika engkau mencintainya, mungkin tak ada alasan yang cukup kuat untuk mengungkapkan semua itu, karena sepertinya itu telah menjadi sebuah bagian yang menyatu dengan kehidupan-mu, seperti sebuah kode gen yang terangkai dengan menakjubkan.

Apa yang dapat kita lakukan? Menulislah jika kita menyukainya, mengikuti aliran perasaan yang tak akan pernah terduga, kehidupan penuh akan kejutan, oleh karenanya perasaan dan cinta yang hidup pun selalu penuh kejutan, jangan terlalu berusaha memperkirakan kemana goresanmu kan berlari, biarkan ia bekejeran dengan sang waktu, dan engkau akan menemukan ketika waktu terhenti, telah terpercikan keindahan yang menjadi cerminan hatimu. Buanglah ketakutan yang sia-sia, jangan takut tulisanmu tak akan disukai oleh lain, apa yang mereka ketahui tentang dirimu, jika engkau cukup jatuh kuat untuk jatuh cinta dengan segenap hatimu, mengapa mesti ada ketakutan…. bukankah ketakutan akan menimbulkan keraguan, dan keraguan akan mematikan langkah-langkah yang telah menapak dengan anggun dalam lembaran yang selalu baru.

Menulislah dengan hati dan perasaan… karena selama ini kita terlalu sibuk menulis untuk sebuah tujuan tertentu, kini menulislah sebagaimana gerak dalam hatimu, dan biarkan dunia melihat kita adanya melalui rangkaian kata-kata yang berbulir dalam suka cita.

--  Cahya Legawa on Haridiva's Spring Pages of June
Iklan

2 pemikiran pada “Writing is About the Feeling

  1. Haridivanandha

    He he…, saya suka menaruh feed di blog dari pada via email, sehingga saya bisa lihat dari yang paling terupdate dari masing-masing blog.Saya tipe orang yang malas kalau banyak yang harus diklik, seingga jarang saya ambil feed per kategori, kecuali untuk CME miliknya eMed&MedScape…, yang sedikit saja tidak terbaca apalagi yang banyak…Saya juga asal nulis koq (itulah tulisan para blogger sebaiknya tidak dijadikan referensi ilmiah ~ terutama tulisan di blog ini)…, he he.., sebenarnya blog ini cuma buat latihan pada awalnya, sehingga sangat tidak ramah bandwidth saat membukannya (banyak script yang me-load image dan flash yang ga karuan), iklan yang ga mutu, namun semua itu saya gunakan untuk latihan membangun sebuah halaman web, selain saya juga sempat latihan utak-atik Joomla, walau ga sempat meneruskan latihannya… (ga bakat mungkin).Iya, benar sekali kata Bli Dani, sekarang banyak blog yang menulis tentang kesehatan, ha ha…, masa mau nambahin lagi (terkadang demikian saya berpikir), belum lagi untuk topik yang sama Blog A dan B belum tentu isinya sinkron (kasihan yang baca kalau dari kalangan non medis).Nulis panjang-panjang? Ga juga, di blog lain tulisan saya pendek-pendek koq, ini cuma buat nyaingin banner yang di samping saja biar ikut panjang ( he he, ga lucu kan kalau tulisannya pendek terus halamannya jadi panjang karena banner samping yang panjang, mungkin Bli Dani sudah sadar akan hal ini sehingga halamannya sudah tidak memiliki banner samping)…He he.., oke deh…, nanti saya jawab dalam bentuk postingan… CITO deh ^_^ (sekarang mesti ngejar Anestesiologi dan Reanimasi dulu)

    Suka

  2. Dani Iswara

    jah..saya baru sadar ada feed saya disini..Cahya bisa subscribe per kategori aja kok..ada alamatnya di halaman kategori..saya suka asal nulisnya..pengen browsing/nulis kedokteran, eh halaman sumbernya banyak yg ngga aksesibel kalo saya disable image, javascript, dll, jadilah saya nyemplung ke web standards..toh dah banyak sejawat yg nulis topik kesehatan, saya coba ngisi ceruk lainnya aja..saya ngga kebayang Cahya bisa nulis panjang-2 gini..pertanyaan saya (boleh dijawab sbg posting berikutnya..kapan aja):1) bacaan bertopik apa yg paling mempengaruhi Cahya ampe bisa nulis panjang-2 dan bagus (kata-2nya itu lho..) spt sekarang?2) nulis langsung di editor teks blogspot lalu simpan sbg draft kl blm tuntas? atau nulis di editor teks offline dl? atau di kertas mungkin..3) pernah menulis spontan lalu publish di blogspot tanpa banyak diedit ulang?4) pernah nulis di media cetak?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.