The Light of Rain

Baru saja kami kembali ke rumah (kami suka menyebutkan apapun yang bisa digunakan sebagai tempat peristirahatan sebagai rumah), langit menjadi gelap dengan segera, awan-awan yang nampaknya mengikuti sang angin melangkah dengan semakin berat sehingga berhenti dan saling mendesak di atas atap yang melindungi kami.

Aku dan sahabatku (si kucing no. 1) baru saja kembali dari toko komputer (Els Notebook Center). Setelah mempertimbangkan banyak hal, satu-satunya yang dapat kulakukan saat ini untuk mendongkrak kinerja notebook tua-ku adalah meng-upgrade memorinya, dari semula 704 MB menjadi 1470 MB, untuk hal ini aku harus merogoh tabunganku sebesar empat ratus enam puluh ribu rupiah ~ yang mana membuatku mengurungkan niatku sementara untuk membeli shoulder rest buat biola-ku. Setidaknya setelah selesai pemasangan aku dapat melihat perubahan yang dihasilkan, untuk menuliskan posting ini dengan menggunakan Thunderbird ~ total memorinya yang digunakan adalah 604 MB sementara menggunakan Microsoft Outlook sebesar 664 MB, hal ini menjadi jawaban melambatnya sistem operasiku beberapa waktu yang lalu. Kini menggunakan program yang manapun tampaknya notebook tua ini tak mengalami kewalahan lagi. Namun sementara ini keputusanku menggunakan Mozilla Thunderbird sebagai pengelola surat elektronik belum berubah, kesederhanaan sistemnya membuatku selalu ingin mencoba, lagi pula aku suka menawarkan pada teman-temanku untuk menggunakan freeware dibandingkan shareware, jika nanti tidak menjelaskan bagaimana menggunakan email client seperti Thunderbird, pastilah akan terlihat sangat konyol. Seperti saat aku menyarankan penggunakan Ashampoo Burning Studio 6 (download di http://www.ashampoo.com) untuk mengganti banyak shareware/proprietary  tanpa lisensi untuk software sejenis yang dipakai oleh pengguna komputer seperti program Nero Burning Room yang sudah terkenal sejak dulu.

Beberapa saat setelah mengutak-atik dan melakukan penyesuaian, aku merasa cukup senang dengan kinerja notebook ECS 536-ku ini walau dengan prosesor berkecepatan ~1,6 GHz, cukup meringankan pikiranku jika melihat notebook ini terasa macet-macetan.

Tak lama kemudian, hujan mulai mengguyur setelah awan yang telah berkumpul lama serasa tak kuasa menahan bebannya lagi. Burung-burung yang semenjak tadi siang berlompatan di halaman rumah tampaknya sudah lama menghilang sejak beberapa saat yang lalu, perlindungan dari hujan teramat berarti bagi mereka. Siluet-siluet yang tak kentara di balik yang tak terjangkau oleh pandangan mata manusia, menjadi senyuman penuh misteri di atas sana. Hanya sedikit lompatan sinar senja yang terkadang berhasil menerobos melewati kumpulan yang mulai pudar secara teramat perlahan, mereka yang melesat dan terpantulkan oleh jutaan tetes yang terjatuh bebas dari langit yang kelabu. Setiap pantulan yang bergetar itu, menghasilkan jutaan gelombang yang indah, sebuah orkestra cahaya yangs sedang bermain di atas sana, mengingatkanku pada anak-anak yang bermain di saat hujan, seolah-olah yang mengguyur mereka bukan sekadar air yang turun oleh kebaikan alam, namun mereka berada dalam guyuran cahaya kebahagian dan keindahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.