Meditasi adalah Kehidupan

Dari Redaksi :

Di tengah-tengah berkecamuknya perpecahan dan peperangan di mana-mana yang sedang terjadi sekarang, kiranya pidato J. Krishnarnurti yang telah diucapkan pada tahun 1969, masih belum "basi" bila kami cetak ulang kembali sekarang, pada tahun 1978 (dan saat ini pada 2008 -.Haridiva). Semoga ada gunanya untuk direnungkan.

Ceramah & Diskusi di Brockwood 1969

Saya rasa seharusnya saya duduk di lantai, bersama anda sekalian, daripada di atas mimbar ini. Karena pertama-tama hendaknya dipahami bahwa kedudukan ini bukanlah berarti kewibawaan (otoritas). Saya duduk di sini tidak sebagai tukang khotbah dari kota Delphi, Yunani, yang meletakkan undang-undang atau berusaha meyakinkan kebenaran suatu sikap, perilaku atau pikiran tertentu. Tetapi karena kita berkumpul di sini dengan kesungguhan hati, dan dari jauh dengan susah payah, kita telah datang kemari. Maka kita perlu mencari tahu, mengapa manusia di seluruh dunia, hidup dalam pengasingan terpecah-belah oleh kepercayaan-kepercayaan, kesenangan-kesenangan, masalah-masalah dan cita-cita mereka yang tertentu. Kita mendapatkan mereka sebagai anggota dari berbagai-bagai golongan, komunis, sosialis, Kristen, Hindu dan Buddha, bahkan memisahkan diri dalam berbagai sekte, dengan dogma masing-masing.

Mengapa kita hidup dengan rasa mendua (dualitas), yang bertentangan satu sama lain, di semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan konflik dan perang? Hal mana telah menjadi pola tingkah laku manusia seluruh dunia, barangkali semenjak dulu kala. Dengan rasa memisahkan diri, orang membeda-bedakan kaum seniman, tentara, musikus, ilmuwan, pedagang dan apa yang dinamakan kaum agama. Dengan cara di atas, walaupun mereka berbicara tentang cinta dan perdamaian dunia, hal itu tidak akan terlaksana. Dengan cara memisahkan diri mereka pasti akan perang. Apakah peristiwa semacam ini akan berlangsung terus?

Sebagai manusia yang sungguh-sungguh prihatin, mungkinkah kita mencegahnya dengan hidup bersatu, tidak mendua? Tidak sekedar cita-cita atau teori, melainkan benar-benar menghayati hidup jasmani dan rohani. Mungkinkah anda dan saya, menghayati hidup tanpa dualitas, tidak dalam kata-kata saja melainkan juga dalam lubuk hati? Jika hal ini tidak mungkin maka pasti kita meneruskan peperangan, sambil memegang teguh pendapat, kepercayaan, dogma dan kesimpulan kita masing-masing. Dengan demikian tidak pernah ada komunikasi dan kontak yang sejati.

Dalam pertemuan ini, benar-benar kita dihadapkan dengan masalah di atas, tidak secara gagasan, melainkan secara aktual. Salah satu masalah yang besar adalah persatuan manusia, mungkinkah itu? Dapatkah seseorang seperti anda dan saya, menghayati hidup tanpa rasa mendua, dalam mana semua pendapat, kepercayaan dan kesimpulan tidak memecah-belah manusia, dan menimbulkan pertentangan. Jika pertanyaan tersebut, dengan sepenuh hati, kita ajukan kepada diri kita sendiri, bagaimanakah jawaban kita? Dapatkah kita bersama-sama meneliti secara bebas masalah ini sekarang?

Komunikasi dan relasi selalu jalan bersama. Kalau tidak ada komunikasi tidak ada pula relasi. Tidak hanya antara anda dan si pembicara, melainkan juga antara diri anda sendiri. Bila kita bertahan pada latar kata-kata (harfiah? Red.), yakni tingkat yang formil (resmi), maka komunikasi tetap dangkal, hingga tidak bisa meneliti sedalam-dalamnya. Tetapi untuk dapat berkomunikasi di luar batas kata-kata, memerlukan hilangnya rasa mendua, yang memisahkan diri kita, sebagai "aku" dan "kamu", "kami" dan "mereka", kaum Katolik dan kaum Protestan dan sebagainya." Maka agar kita dapat meneliti kemungkinan hidup tanpa memisahkan dan membedakan diri, hendaklah kita menyadari diri sendiri. Sebab keadaan dunia adalah sama dengan keadaan kita. Dunia tidaklah terpisah dari kita; masyarakat atau kelompok, tidaklah terpisah dari setiap orang. Kita adalah masyarakat dan dunia. Tapi walaupun kita menyatakan bahwa kita adalah dunia, benarkah kita menghayati hal itu?

Untuk meneliti masalah di atas, mau tidak mau kita harus menyadari struktur dan sifat diri kita sendiri. Tidak hanya sifat batin kita, melainkan juga sifat lahir kita, yang memisahkan diri sebagai orang Inggris atau orang Prancis. Pendapat-pendapat dan kesimpulan-kesimpulan apapun, menimbulkan perpecahan dan pengasingan, sama halnya dengan kepercayaan agama. Dipandang dari sudut lahiriah, duduk saya di atas mimbar ini, menimbulkan perbedaan. Di dalam batin pun terdapat bermacam-macam corak perbedaan dan pemisahan, yang inti asalnya dari si "aku" atau diri sendiri, yang dibentuk oleh pikiran. Maka dapatkah kita memahami, kemudian mengatasi, proses mengasingkan diri dari si "aku" ini, lahir dan batin. Saya kira inilah masalah yang lebih besar daripada masalah ekonomi. Karena walaupun di dalam negara maju dan makmur ini, dengan segala jaminan sosialnya, masih kita menemukan rakyatnya terpecah-belah dan terasing. Masing-masing berjalan dengan caranya sendiri, dan terbenam dalam persoalannya sendiri.

Maka dengan menyadari diri, lahir dan batin, dapatkah proses mengasingkan diri yang bertentangan ini, benar-benar dipecahkan? Ini memang sangat rumit; karena sifat pikiran itu sendiri ialah memecah-belah, membuat belahan yang berupa, sesuatu yang mengamati dan sesuatu yang diamati, yang mengalami dan yang dialami, yang menanggapi dan yang ditanggapi. Antara belahan itu terdapat ruang celah antar yang mengamati dan yang diamati. Pembelahan itu ditimbulkan oleh pikiran. Saya tidak mengatakan secara dogmatik (mutlak dipercaya saja), tapi setiap orang dapat mengamatinya, mencobanya dan mengajinya sendiri. Sebagaimana telah kita katakan, bahwa selama ada pemisahan tidak akan ada komunikasi. Dan apa yang kita anggap sebagai cinta pun, jika ia berasal dari pikiran atau terkurung oleh pikiran, ia akan memecah-belah.

Apabila kita menyadari akan semua hal ini, lantas apakah yang hendak kita lakukan, dan bagaimana kita melakukannya? Memang pikiran harus dikerjakan menurut akal yang sehat, bijaksana dan sempurna, namun tidak menimbulkan perpecahan. Bila ada cinta murni, di situ tidak terdapat pikiran yang memecah-belah, memisahkan dan membedakan. Maka bagaimanakah kita harus hidup dalam dunia yang sama sekali terpecah-belah, menjunjung tinggi perbedaan dan pemisahan? Bagaimanakah kita harus menghayati hidup yang selaras (harmoni) lahir dan batin?

Pada saat kita mempunyai suatu rumus (formula) atau sistem, maka rumus atau sistem itu sendiri memecah-belah, sebagai sistem anda dan sistem saya. Jadi pertanyaan "bagaimana" tidak dapat diterapkan di sini. Pada saat saya

menanyakan pada diri sendiri "bagaimanakah saya harus hidup dengan penuh cinta kasih, dan bagaimanakah saya harus berlaku tanpa menimbulkan perpecahan?" Kata-kata "bagaimana" itu mengandung suatu metode atau sistem, yang berarti jika kita melakukan suatu perbuatan, kita akan mencapai suatu hasil tertentu. Dalam hal ini keadaan hidup harmonis dan tidak mendua. Maka kata-kata "bagaimana" itu melahirkan perpecahan, yaitu di satu pihak terdapat gagasan harmoni, suatu formula (rumus) atau ideologi yang kita anggap keselarasan hidup sebagai tujuan terakhir. Di pihak lain terdapat keadaan kita yang sebenarnya, yang melalui jalan "bagaimana" sebagai sarana untuk mencapai cita-cita kita. Dengan demikian kata-kata "bagaimana" itu, serta-merta melahirkan perpecahan antara "apa adanya" dan "apa yang dikehendaki".

Jikalau kita dapat membuang pertanyaan "bagaimana", yang mengandung metode dan sistem itu, maka gagasan atau cita-cita dari "apa yang dikehendaki" lenyap lama sekali. Yang tinggal hanyalah "apa adanya". "Apa adanya" itulah fakta cara hidup kita yang memecah-belah dan membeda-bedakan. Inilah keadaan yang sesungguh-sungguhnya. Mungkinkah, fakta ini diubah menjadi sesuatu yang tidak dualistik? Dapatkah kita melihat saja kebenaran hidup kita yang dualistik, memisahkan dan mengasingkan diri? Sekalipun kita menyatakan cinta kepada istri kita, toh kita memisahkan diri, karena ambisi, keserakahan dan iri hati kita, yang membangkitkan permusuhan dan kebencian. Demikianlah faktanya.

Sekarang dapatkah kita menanggapi fakta itu secara bulat, tidak mendua? Yaitu daripada memandang kenyataan itu sebagai sesuatu yang terpisah dari kita, maka dapatkah kita menanggapinya tanpa pemisahan? Dapatkah kita melihat, sebagai juru lihat, yang ingin mengubah apa yang dilihatnya? Dapatkah kita mengamati faktanya saja, tanpa pendapat, kesimpulan, prasangka, suka atau benci, kecewa dan putus asa? Amatilah saja, tanpa reaksi pikiran terhadap hal yang diamatinya. Saya rasa kesadaran yang benar adalah pengamatan yang peka semacam itu, sehingga seluruh jiwa kita yang amat bersyarat, dibebani berat dengan kesimpulan-kesimpulannya, gagasan-gagasannya, kesenangan-kesenangannya, benar-benar hening, namun waspada terhadap yang diamatinya. Saya rasa hal ini sudah jelas. Kita melihat apa yang sedang terjadi di dunia, perpecahan politik dan agama yang tak henti-hentinya, perang yang berlangsung sepanjang masa, tidak sekedar antara perseorangan, melainkan seluruh dunia. Sementara itu, kita ingin hidup dengan penuh damai, karena kita sadar bahwa konflik macam apapun tidak kreatif, tidak pula merupakan tanah subur untuk berkembangnya kebajikan.

Padahal dunia adalah satu badan dengan saya, saya adalah dunia. Saya telah membentuk dunia, dan dunia telah membentuk saya. Saya adalah bagian dari masyarakat, sedang masyarakat itu, sayalah yang membentuknya. Mungkinkah kita menghayati hidup tanpa proses mengasingkan diri di segala waktu. Oleh karena setelah hal di atas terjadi, barulah kita dapat hidup damai, tidak malas-malasan, tetapi waspada, penuh perhatian dan peka sekali.

Dengan jalan apa hendak kita lakukan, dalam kehidupan sehari-hari yang bebas dari perpecahan? Yaitu kita ingin berlaku, berbicara dengan kata-kata, yang tidak menimbulkan perpecahan antara anda dan saya. Sudah barang tentu hal itu hanya mungkin dengan kesadaran total, kepekaan penuh terhadap kejadian di dalam lahir dan batin. Yaitu cara kita berbicara, berikut kata-kata yang kita pakai, sikap dan tingkah laku yang kita peragakan. Kesadaran demikian itu memerlukan banyak energi (daya kekuatan). Punyakah kita energi itu? Kita mengerti bahwa banyak energi dibutuhkan untuk waspada, sadar dan peka. Untuk memahami kehidupan yang bertentangan, mendua, memecah-belah, membutuhkan banyak energi. Bagaimana energi ini bisa didatangkan? Walaupun kita tahu bahwa kita memboroskan energi dalam percakapan yang tidak berguna, dalam melayangkan macam-macam gambar pikiran, mengenai seks dan lainnya. Kita juga memboroskan energi dalam ambisi dan persaingan, yang menjadi sifat hidup dualistik dan latar dasar bentuk masyarakat.

Maka dapatkah jiwa dan batin kita, yakni si "aku", menyadari semua hal ini setara total? Inilah sungguh-sungguh meditasi, kalau saya boleh memakai kata-kata ini agak ragu-ragu, yaitu batin kita menyadari dirinya sendiri tanpa melahirkan subyek yang melihat ke dalam. Hal mana hanya mungkin terjadi, apabila tak terdapat ideologi dan tak terdapat keinginan mencapai hasil, yang berarti tidak ada jangka waktu. Jangka waktu dalam perkembangan (evolusi) timbul bila terdapat dualitas dari "apa adanya" dan "apa yang dikehendaki ".

Dan semua usaha dengan susah payah untuk mencapai keadaan yang dikehendaki adalah pemborosan tenaga (energi) yang besar. Dapatkah kita melihat dan menyadari saja, bahwa pikiran kita juga tidak bisa memahami dan mengatasinya? Oleh karena pikiran itu dapat mengatasi keadaan yang ada, dengan merencanakan gagasan bagaimana ia seharusnya, dan mengharapkan tercapainya gagasan itu. Akan tetapi untuk menaklukkan "apa adanya", membutuhkan jangka waktu, setindak demi setindak, lambat laun, setiap hari. Jelaslah jalan pikiran itu sendiri, menimbulkan perpecahan dan pemisahan. Saya rasa, apa yang dapat dilakukan oleh pikiran, ialah mengawasi saja dan menyadari sepenuhnya, tanpa ingin menaklukkannya. Tiada lain kita harus menyadari saja proses dualistik ini yang berlangsung terus-menerus. Misalnya timbul kebencian, marah atau ambisi, sadarilah saja jangan coba mengubahnya.

Begitu lekas kita mencoba untuk mengubahnya. Begitu lekas kita mencoba untuk mengubahnya, muncullah si "aku" yang ingin mengubah. Tetapi bila kita dapat mengamati kebencian atau ketakutan, tanpa ada yang mengamati, maka seluruh rasa perpecahan, jangka waktu dan usaha mencapai hasil, lenyap sama sekali. Kemudian kita bisa hidup dalam alam rohani dan jasmani, tanpa perpecahan yang bertentangan.

Marilah kita teliti hal ini dalam acara tanya jawab.

Penanya : Jika anda ingin hidup damai dalam diri sendiri, namun anda merasa sebagai anggota masyarakat, Anda bertanggung jawab atas apa yang tengah terjadi di dunia kini; bagaimanakah anda dapat hidup damai atau bahagia, dengan menyaksikan hal-hal yang menyayat hati mengenai kejadian yang sedang terjadi itu?

Krishnamurti : Tiada lain saya harus mengubah diri sendiri. Saya harus benar-benar mengubah diri saya sendiri seluruhnya. Mungkinkah itu? Selama saya menganggap diri saya sebagai seorang Inggris, Hindu, atau sebagai anggota suatu golongan atau umat agama tertentu, atau selama saya menyetujui suatu kepercayaan, kesimpulan atau ideologi, maka saya akan terus membantu kekacauan dan kegilaan yang terjadi di sekeliling saya. Dari itu, dapatkah saya melepaskan konklusi-konklusi, prasangka-prasangka, kepercayaan-kepercayaan dan dogma-dogma tanpa usaha? Apabila saya berusaha, saya segera kembali pada kehidupan yang dualistik. Maka dapatkah jiwa dan raga saya benar-benar tidak lagi menjadi seorang Hindu? Mungkinkah saya melenyapkan rasa-rasa bersaing, menilai hidup menurut tingkatan, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, yang lebih pintar, lebih kaya, atau lebih cemerlang? Sebelum hal-hal itu dilakukan, saya masih termasuk bagian dari kekacauan dunia ini. Pengubahan semacam itu, bukanlah soal waktu, melainkan harus terjadi dengan segera sekarang. Kalau saya memutuskan untuk mengubah perlahan-lahan, jatuhlah saya ke dalam perangkap perpecahan lagi. Jadi apakah batin kita mampu mengamati fakta, bahwa kita ini suka bersaing, mengejar kepuasan berikut segala kekecewaan, ketakutan dan putus asa. Apakah kita dapat menanggapinya sebagai sesuatu yang benar-benar berbahaya? Pada waktu kita melihat sesuatu yang sangat berbahaya, kita lantas bertindak. Misalnya menghadapi jurang yang curam, kita tidak berkata "Saya akan bertindak perlahan-lahan dan memikirkannya dulu", tapi kita lantas menghindari jurang itu. Apakah kita juga sungguh-sungguh melihat bahaya dari perpecahan, yaitu anda tergolong pada kaum yang satu, sementara saya tergolong pada kaum yang lain. Masing-masing mempunyai kepercayaan, kesukaan, kesusahan dan persoalan sendiri. Sepanjang keadaan terpecah-belah ini berlangsung, pasti hidup kita dalam kekacauan. Maka masalahnya ialah, mungkinkah diadakan pengubahan total yang benar-benar, di tengah kita hidup dalam dunia yang gila, menyedihkan dan mengecewakan, hanya kadang-kadang saja kita merasa girang melihat keindahan awan dan bunga.

Penanya : Meminta kita untuk menyadari dengan tenang pada "apa adanya" rasanya terlampau berat, barangkali di luar kesanggupan kita untuk bertahan dalam satu jangka waktu, tanpa keinginan melarikan diri.

Krishnamurti : Bila kita tidak menghadapi sesuatu, kita harus meninggalkannya sebentar. Barangkali kita melihat terlalu banyak implikasi (kaitannya) dari keadaan yang ada sehingga kita tak dapat mencurahkan perhatian penuh terus menerus. Dan sekali-sekali kita memerlukan istirahat, dengan rasa acuh tak acuh. Bukankah demikian halnya? Jika kita tidak tahan menghadapi sesuatu, kita harus meninggalkannya sebentar untuk beristirahat. Namun dalam istirahat itu, perhatikanlah acuh tak acuh kita itu. Misalnya kita cemburu, yakni kejadian yang umum, kita menaruh perhatian penuh untuk menelitinya. Sehingga menemukan kaitan-kaitannya berupa kebencian, ketakutan, keinginan memiliki dan menguasai, mengurung diri, kesepian dan berasa terpencil: Dan kita melihatnya tidak secara mendua (dualistik). Bila kita mencurahkan penuh perhatian, kita akan benar-benar memahami seluruhnya sehingga tidak perlu beristirahat. Oleh karena kita mengerti benar bahaya seluruhnya, dengan sendirinya kita meninggalkannya. Kecuali bila kita tidak mencurahkan seluruh perhatian kita, maka kita merasa jemu dan berkata : "Saya harus istirahat dari urusan yang buruk ini", lalu melarikan diri. Dalam melarikan diri, tidak terdapat perhatian, maka kita menyarankan, hendaknya kita sadar atas hilangnya perhatian itu, yang merupakan acuh-tak-acuh. Tinggalkanlah soal cemburuan kita, dan sadarilah sisa acuh tak acuh itu, tatkala kita melarikan diri. Sehingga acuh tak acuh itu menjadi perhatian yang mempertajam mata batin kita. ****

Adaptasi dari: YKI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.