Saya berdiri menatap sesuatu yang mulai pudar di kejauhan sana, dengan perlahan bayang-bayang semakin memanjang menyelimuti daratan yang adalah persawahan sederhana dengan batang-batang pada yang telah cukup berusia. Beraneka burung senja dalam kawanannya kembali ke pucuk-pucuk tertinggi di mana kehangatan angin masih mampu mengangkat sayap-sayap mereka, celoteh-celoteh dalam bahasa yang tak termuat dalam logika.

Tepat di kala sinar terakhir mencuat dengan cepat di batas cakrawala, melesat dan kemudian menghilang. Dalam keterdiaman ini, mungkin inilah sentuhan ringan ke dalam akar kehidupan, ke dalam relung terdalam, antara semua yang ada di luar sana dan di dalam diri saya, antara yang seluruhnya dan antara yang terpisahkan. Saya melihat yang tak pernah terlihat.

Rerumpunan yang terbentang jauh menepi hingga batas cakrawala, seakan menjadi cermin di bumi bagi langit yang menjingga. Ia membuka jalan bagi mereka yang ingin hadir dalam ketiadaan, mereka yang telah melihat waktu terhenti dan semua ruang menjadi kosong. Mungkin ia sebuah pintu, mungkin juga bukan.