Kebahagiaan

Apa yang mengalir sepanjang sungai waktu adalah seluruh wujud gerak kehidupan, terkadang tidak semuanya dapat kita lihat dengan pikiran yang juga turut selalu bergerak dengan polanya sendiri. Itu sebuah cerita tentang seorang petapa muda yang sedang duduk di bawah pohon Boddhi yang unik di pinggiran Yamuna. Ia melepas pandang pada sungai yang mengalir harmonis di hadapannya, kebetulan saat itu sang arus cukup dapat dikatakan ramah. Tatapannya lembut namun kuat sebagaimana mata-mata petapa yang bersungguh-sungguh di setiap saatnya. Beberapa cerita mengatakan bahwa saat itu seluruh aliran Yamuna di hadapannya mengalir di dalam dirinya.

Namun dalam kehidupan ini, tidak semua dari kita adalah petapa, namun mungkin masing-masing dari kita memiliki sebuah tempat kesunyian dalam hidup kita. Tidak semua dari kita tinggal di pinggiran Yamuna, namun mungkin masing-masing kita pernah keluar dari arus kehidupan hanya untuk sekadar memberi perhatian pada sang kehidupan.

Ini bukanlah tentang kesepian atau kehidupan, ini bukanlah tentang pengamatan, karena tanpa hidup bagaimana dapat ada kehidupan. Apa yang dikejar manusia begitu jauh sehingga arus itu menjadi tak teperhatikan. Bukan hulu dari masa depan yang perlu dikejar karena semuanya akan datang ke hadapan pandangan ini, bukan apa yang terhanyut ke hilir membuatmu berlarian berkejar-kejaran, karena semuanya telah lewat dari pandangan. Kita tak perlu menjadi petapa untuk memperhatikan apa yang mengalir di hadapan kita, dan menjadikan diri kita petapa bukanlah berarti membuat kita berhenti melongok penuh harap atau cemas ke hulu, atau berkejar-kejar penuh harap ke hilir. Dapat kesibukan yang seperti itu membuat kita mendapat apa yang mendasari semuanya?

Ya…, kebahagiaan adalah apa yang diharapkan manusia. Itulah dasar yang mendalam dari semua kegiatan manusia. Namun kita telah bergerak melampaui semua dasar yang mendasar dari kehidupan, kita telah mencari sesuatu yang lebih. Namun apakah yang lebih itu? Si petapa hanya duduk dengan diam, dan kemudian menatapku perlahan sebelum menjawab, “Di sini hanya ada ini, tak ada yang lain, ‘hanya ini’, yang lebih mungkin hanya engkau, jika demikian dan jika ini hanya ini, maka engkau tak ada di sini”. Aku tersenyum kecil, ya … kehidupan adalah semua ini, apa yang lebih apa yang kurang, hanya kitalah yang menambahkan, sesuatu yang ditambahkan bukanlah ini. Aku sekarang melihat Yamuna yang mengalir di dalam diri Sang Petapa. Aku pun berpamit dan pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.