Manuskrip Yang Tak Pernah Usai

Menulis terkadang menjadi tempatku berteduh dari terik kelelahan, dan tempatku bernaung dari kemelut yang membuat setiap jejak kehidupan berkabut. Menulis jika tidak tersisihkan oleh aktivitasku yang lain akan menjadi pendamping bagiku, ketika suka aku menulis, ketika gelisah aku menulis, ya…, walau menulis hal-hal yang sama berulang kali, dalam bahasa-bahasa dan majas yang serupa.

Aku masih teringat, ketika awal itu aku memulai manuskrip yang sampai kini masih kukerjakan, mungkin ada sepuluh atau sebelas tahun yang lalu. Ketika itu teknologi komputer banyak menyentuh kampung dan desa kami yang di pinggiran, kami yang tersentuh oleh kehidupan sastra umumnya hanya sekadar menggores ini itu dalam buku harian yang kumal, dan aku masih ingat buku harian pertama yang kubeli dari sebuah toko kecil di pasar kecamatan. Buku itu tipis, sebagaimana yang anak-anak sekolah dasar miliki saat itu walau dalam sampul yang cukup kokoh. Di sanalah aku mulai menulis, dan itu jauh kembali ke dua belas atau tiga belas tahun yang lalu, ketika jemariku mulai cukup lincah untuk membuat banyak goresan, dan tidak lagi sekadar mencoret-coret dinding rumah dengan pena atau pensil. Aku mulai mengumpulkan ide-ide dengan berbagai kisah yang kudapatkan, beberapa berasimilasi dengan berbagai cerita modern dan dongeng klasik, terkadang waktu pagi ketika bersama para siswa lain menyapu halaman sekolah, aku suka mendapatkan beberapa ide baru, mungkin dari ide-ide dasar itulah aku secara tak sengaja membangun manuskrip yang saat ini tetap kukerjakan. Aku mendapatkan banyak tokoh, namun terlalu banyak rangkaian cerita, terkadang jika kubayangkan kembali saat ini, aku seperti sedang menciptakan dunia-dunia paralel dengan kemungkinan yang tak terbatas. Anak-anak mungkin belum banyak mendapatkan ide-ide dari luar, sehingga ia memiliki lebih dari cukup ruang di dalam dirinya untuk berkreasi tanpa batas, tak seperti mereka yang semakin tumbuh besar, ruang itu telah banyak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak terlalu bermakna.

Perlu sekitar tiga hingga empat tahun, sebelum aku mendapat sebuah mesin tik yang kecil di meja belajarku. Dan di sanalah aku memulai menulis manuskripku, yang terjaring dari ide-ide yang telah kutuangkan dalam buku kecilku. Aku ingat betapa riangnya hatiku, saat mulai mengetik kata demi kata, kalimat dan dialog yang silih berganti, paragraf demi paragraf, aku sangat menikmatinya, terkadang tersenyum sendiri melihat kekocakan yang ada, atau tertegun dalam kesedihan cerita yang kususun sendiri. Menulis seperti tentang membagi sebagian rasa dan kehidupan dalam lembaran yang bisu, sehingga ia bisa bersuara dan menyampaikan apa yang mungkin tak mampu kusampaikan. Siang sepulang sekolah aku pun langsung berada di hadapan mesin tik kecilku, aku tak ingin memupus cerita yang berkesinambungan, terkadang mengerjakannya hingga larut malam. Dan dalam waktu kurang dari empat bulan, aku telah menyelesaikan manuskrip itu ~ walau dalam bentuk yang kasar ~ setebal kurang lebih tujuh puluh halaman, aku senang sekali, hingga membacanya berulang kali menilik kembali adakah yang kurang atau salah pengejaannya. Ah… seandainya saja beberapa kopiannya masih ada yang tersisa, entahlah…, terakhir aku ingat membawanya ke kota ini, di mana aku tinggal sekarang, kurasa aku telah menitipkannya pada salah seorang anggota bengkel sastra di kota ini, ah iya… aku ingat, Si Maria Zaitun … ha… ha…, aku ingat sekali karena saat bengkel sastra di wilayahku dulu… aku mendapat peran sebagai Yesus… dalam sebuah drama yang diambil dari karya sastra WS. Rendra.

Kini dengan bantuan teknologi yang diperbaharui, aku menyusun ulang kembali manuskrip lamaku yang tercecer dalam pasang surut ingatanku. Kurasa mungkin akan ada sembilan bagian, dan yang baru dapat kukumpulkan kembali ada tiga bagian. Ya, ini akan berlanjut terus, karena manuskrip ini akan selalu ditulis hingga kisahnya berakhir, walau seorang penulis telah memperkirakan akhir kisahnya, tetap saja sang penulis tak akan pernah tahu akhir kisah si manuskrip, itulah mengapa sebuah manuskrip sesungguhnya tak pernah usai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.