Apa yang ingin kau tunjukkan?

Ada yang telah mewarisiku banyak kisah unik dunia, dan kini saatnya bagiku untuk membaginya bagi kita semua. Ambillah apa yang kau perlukan dan jangan khawatir, keberadaan ini telah membuatnya cukup banyak untuk kita bagi bersama.

Ada seorang pelajar muda akan hal-hal vedic dengan amat teliti, ia amat terkenal di antara para pelajar saat itu. Ia menguasai dengan baik isi sebagian besar kitab dan sutra suci, dan bagaimana menginterpretasikan apa yang tertulis sesuai dengan pendapat para ahli saat itu. Di masa itu, seorang pelajar yang mampu dengan baik dalam hal ini biasanya akan terpilih mewakili asramanya untuk menghadiri diskusi-diskusi atau debat-debat filsafat di berbagai daerah. Ia pun cukup memberikan nama selama ini pada tempatnya belajar. Kebanyakan orang memujinya dan mengatakan betapa anugerah telah diberikan pada pemuda ini karena telah memahami banyak hal yang begitu mendalam, orang terkadang berkumpul di dekatnya hanya untuk mendengarkannya mengutip Gita, Purana atau pun Tantra dengan indahnya.

Setelah penguasa setempat menganugerahi asramanya sebagai Veda Vidya Vahana karena menghasilkan pelajar-pelajar terbaik di bidang keagamaan, maka para pengasuh asrama sepakat mengadakan acara tanda mata, dengan mengundang berbagai pelajar dari pelbagai daerah. Ada rasa kebanggaan dan kesenangan luar biasa dalam diri para penghuni asrama, karena dengan ini mereka berarti telah menempatkan diri sebagai salah satu sekolah filsafat terbaik di seantero negeri.

Puncak acara direncanakan sebagai ajang tukar pandang akan pemahaman sutra-sutra yang rumit dipahami kaum awam. Sehingga pemandangan yang ada, bukan hanya para petugas yang sibuk ke sana-sini, namun para pelajar yang sibuk membuka-buka halaman sutra yang sudah lapuk, mencoba mengisi beberapa surat yang mungkin akan melekat sehingga pada acara puncak nanti tidak membuat malu asrama mereka, karena bagaimana pun yang diundang adalah para pelajar dari asrama-asrama yang sering menjadi lawan “debat” mereka.

Singkat cerita, pada sebuah balairung yang cukup megah, para tuan rumah dan para undangan duduk bersila dalam sebuah lingkaran yang besar.

Hadirin sekalian, terima kasih telah hadir di tempat kami yang tak seberapa ini.” Pengasuh tertua membuka keheningan di antara matahari yang sesaat lagi hendak terbenam di sela-sela perbukitan. “Saudara sekalian tentu sudah tak asing dengan saudara muda kita berikut ini, saya tak perlu lagi memperkenalkannya, namun saat ini ada yang hendak ia bagi kita semua, dan itu…

“Maaf Pak jika saya menyela…” Seorang di antara kerumunan mengacungkan tangannya. “Begini…” lanjutnya setelah pengasuh memberikan tanda kesempatan baginya, “Saya telah dua hari di sini, saya telah memperhatikan asrama ini dengan seksama.” Ia kemudian mengarahkan tangannya pada si pemuda yang menjadi tokoh sentral kegiatan itu, “Saudara ini, selama saya di sini tak pernah sekali pun saya lihat menyentuh sutra atau pun kitab suci, tak seperti saudara-saudaranya yang lain. Saya sebagai seorang guru di asrama saya, sungguh tak paham, apakah Saudara merasa telah begitu memahami semua sutra sehingga tak menyentuh mereka lagi. Padahal saya dengar sebelumnya Saudara adalah pelajar yang sangat taat dalam ritual dan sastra, namun dari apa yang telah saya perhatikan, saya hampir merasa kecewa datang hari ini. Walau murid-murid saya yang ikut serta mungkin tak secerdas saudara, namun mereka begitu menghargai sutra dan sastra-sastra suci seakan itu bagian dari hidup mereka.”

Ah….” Pemuda itu menghelas napas dengan panjang, “Guruji, maafkan saya jika sikap saya mengecewakan Anda…, lalu katakanlah dari pandangan Anda bagaimana saya selayaknya.

Saudara seharusnya lebih giat mendalami sastra suci, menjadi teladan bagi yang lain, kelak menjadi sosok yang suci dengan tuntunan sastra, dan membantu umat banyak menuju jalan yang lebih baik, bahkan…, menuju pencerahan jika Saudara muda dapat mencapainya….

Dan bagaimana Guruji menjalani hal itu…?

Banyak hal…, sesuai dengan tuntunan sastra, sebagai contoh kecil, semalam kami membaca Gita sebagaimana biasanya dan menyerapi makna-makna baik di dalamnya.” Dan murid-muridnya saling mengangguk tanda membenarkan pernyataan sang guru.

Sang pemuda berdiri dan berjalan menuju altar di sisi balairung, “Selama ini saya pun berpendapat sama dengan Guruji, pendapat yang lahir dengan membaca berbagai sutra dan sastra…” Ia mengambil Bhagavad Gita yang cukup tebal dan tampak berat dari altar, kemudian berjalan mendekati sang guru yang duduk di barisan terdepan. “Saya tidak menyadari betapa gelapnya mata yang tertutup oleh keindahan sastra dan sutra suci…, setiap mereka yang mempelajari sastra telah memperlihatkan keindahannya pada kita semua, dan kita telah mencintai hal itu begitu mendalam, dan gerak yang indah ini terkadang membutakan….” Kini ia berdiri tepat di hadapan sang guru, dan tersenyum dengan ramah.

Apakah maksud Saudara muda Anda berbeda paham…, dan sastra telah keliru…?

Saya tak berkata demikian Guruji, karena tiada yang hitam dan juga tiada yang putih…

Sang Guru berdiri dan tampak marah, “Apakah Saudara muda sedang bermain kata-kata denganku…?” Nadanya menjadi sangat tinggi, setelah melihat si pelajar hanya tersenyum saja.

Sekejap kemudian, kumpulan halaman Gita yang besar mendarat tepat di wajah sang guru, membuatnya terhuyung ke belakang dan merasakan perih di hidungnya yang meneteskan darah. Ia menjadi amat murka, “Apa yang kau lakukan!” Geramnya sembari mencengkeram kerah baju sang pelajar.

Si pelajar hanya tersenyum, “Ah Guruji…, saya baru saja memperlihatkan Brahman Sang Nirgunam dari dalam Gita ini?” Jawabnya pelan.

Sementara suasana pertemuan menjadi penuh kasak-kusuk, si guru semakin marah karena merasa dipermainkan, “Mana ada yang seperti itu, kamu sengaja menghina ya!

“Jika yang seperti itu tidak ada, jika yang seperti ini tidak ada, lalu dari manakah asal murka Anda Guruji?” Dia tersenyum geli, “Jika Gita memang dapat menuntun ke manakah Anda telah sampai saat ini? Adakah Gita yang menuntun ataukah kecenderungan ini Guruji?

 

Kisah ini mengawali perjalanan sang pelajar menuju dunia luas. Ia dikeluarkan dari asrama karena sikapnya yang tidak sopan, tak banyak yang memahami mengapa ia berubah drastis. Ia bukan lagi sang pelajar, namun sang pengelana, ia oleh cerita rakyat dikenal sebagai Master Odo tentunya ia lebih banyak tak dikenal, namun ialah yang menjadi si guru dan sahabat sang petapa muda yang kuceritakan sebelumnya. Sajak-sajaknya lumayan banyak digemari… “Apa yang ingin kau tunjukkan…, ketika engkau tak memahami apapun…, ketika telunjukmu menuju kekosongan berselubung surga dan neraka…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.