Pemburu Batu Pulasan Laut

Liburan yang lalu saya ketika mengantar ibu untuk melihat kegiatan posyandu terpadu (dalam hal ini melibatkan kesehatan ibu hamil, anak dan manula), mungkin acara itu berakhir dengan baik, saya juga sempat “tanpa sengaja” mendengar bahwa pemda tidak sedikit memberikan anggaran agar acara ini dapat terselenggara dengan baik. Ada acara balita sehat, pemeriksaan rutin ibu hamil, dan senam manula, serta pengadaan makanan bergizi yang dilakukan pihak puskesmas dibantu oleh ibu-ibu anggota PKK. Lokasinya berada di Desa Cukcukan, yang merupakan salah satu desa tepian pantai di Kecamatan Gianyar. Yang aneh, mungkin karena tidak terbiasa mendengar, adalah sebuah celetuk yang tak sengaja tertangkap oleh pendengaran saya. Karena acara ini merupakan rangkaian penutupan, para manula tampak tertawa senang ketika salah satu dari mereka berkata, “Yah…, sekarang bisa mencari batu lagi”.

Saat itu saya belum memahami, apakah yang mereka perbincangkan, hingga hari di mana saya mengantarkan ibu ke acara perpisahan akhir tahun Dinkes Kab. Gianyar di Pantai Masceti, bersebelahan dengan lokasi desa yang saya sampaikan sebelumnya. Pagi itu antara pukul 8 dan 9, saya bersiap dengan Kodak EasyShare di tangan, sesuai dengan instruksi untuk mengambil setiap momen yang unik dan menarik. Langkah kaki saya tak sengaja membawa menuju pinggiran pantai yang lebih rendah dari batasan yang telah ditinggikan dengan bentangan tembok beton (abrasi di daerah ini juga cukup terkenal ganas). Aku cukup terkejut melihat jejeran manusia usia setengah baya ke atas saling tumpang tindih bayangannya di hantam mentari pagi, sepanjang pantai yang tak cukup panjang itu, puluhan dari mereka berjongkok seakan seperti anak-anak yang sedang asyik bermain-main dengan pasir.

Tampak tangan-tangan yang telah cekatan mengambil batu-batu hitam oval mengkilap dengan cepat dan memasukkannya ke ember-ember sedang, bergerak perlahan dalam hembusan angin yang tak kenal henti, membawa serta bulir air yang telah pecah oleh ombak yang menghempaskannya ke pinggiran pantai. Tampaknya mereka mengumpulkan batu-batu itu untuk dijual, karena batu-batu yang telah rapi itu oleh penghalusan secara alami di antara arus ombak dan pasir bisa berarti tambahan ekonomi bagi keluarga. Aku melihat tampaknya mereka begitu tenggelam tidak oleh lautan, namun oleh apa yang diberikan lautan sehingga mereka dapat hidup, bukan dari apa yang hidup di lautan, namun bentuk kehidupan yang lebih diam dan lebih terbentuklah yang diberikan.

Hmm…, aku berpikir…, mungkin daripada senam setiap pagi, aku kini mengerti jika mereka lebih menyukai mencari batu pulasan laut ini, karena mereka dapat hidup olehnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s