Bhatara pun Berani Disuap

Nang Olog duduk termenung di depan rumah tuanya, di atas meja dari kayu jati yang mulai kusam dan dekil oleh usia berserakan berbagai kertas dengan tulisan yang bermacam-macam termasuk banyak foto yang tercetak di sela-selanya. Dia bingung tujuh keliling, apa yang hendak dilakukannya beberapa hari mendatang. Seandainya dia bukan salah satu tokoh Padharman (pe-dharma-an ~ kelompok masyarakat berdasarkan silsilah leluhur) dia pastilah tak akan banyak mendapat hal-hal yang tidak jelas ini.
Sejak seminggu yang lalu, ia sibuk sibuk menyiapkan piodalan ( ~ upacara keagamaan untuk hari jadi) pura padharmannya, hingga beberapa sepasang atau lebih orang datang dengan pakaian setelan satu sama lainnya mencarinya, mereka bertanya pada awalnya tentang pura tersebut dan mengklarifikasi bahwa itulah memang pura yang sedang mereka cari. Tentu saja Nang Olog agak bingung, tidak biasanya ada orang rapi-rapi mau datang ke tengah tegalan yang kumuh nan berlumpur di musim hujan seperti saat ini.
Wenten napi nggih Pak?” Tanya Nang Olog dengan penasaran. (~ ada apa yang Pak?)
Tan wenten punapi napi Pak, titiang wantah mariki makta punia anggen ngawangun penyengker ring pura” Kata mereka dengan sopan (~ tidak ada apa-apa Pak, saya hanya kemari membawa sumbangan untuk membangun pagar pelindung pura ini)
Akhirnya, Nang Olog mulai bisa bercakap-cakap dengan mereka. Tampaknya mereka begitu tertarik untuk ikut serta membantu umat memperbaiki tempat persembahyangan milik Nang Olog serta warga lain yang menjadi pangempon (pa-ngempu-an ~ kelompok masyarakat yang menjadi pengikut) pura itu. Di akhir kata, mereka pun berpamitan, namun sebelumnya mereka menyerahkan segepok kertas-kertas persegi, katanya untuk warga pengompon pura, sehingga kalau warga berpapasan dengan mereka bisa saling mengenal di masa mendatang sekaligus membina hubungan baik.
Sesampainya di rumah, Nang Olog yang membuka lembar-lembar itu, isinya semua adalah pamflet dengan foto seseorang yang tidak dia kenal. Tulisannya, “Ngiring nyame Bali sareng sinamian, ngiring iraga sareng sami ngajegan budaya lan agame sareng titiang“… “Carane sing jek sukeh, contreng niki ring pemilune sane jagi rawuh” (Saudara Bali sekalian, mari kita semua menjaga dan melangsungkan kebaikan budaya dan agama bersama saya… caranya tidaklah sulit, pilihlah ini saat pemilu mendatang). Memang seperti dugaan Nang Olog, tadinya dia mau menolak, namun tidak baik menurut norma masyarakat menolak sebuah sumbangan, namun kini ia sadar secara tidak langsung jadi juru kampanye partai tertentu, nah…, masakah pamfletnya tidak disebar? Tak hanya sampai di situ, terkadang beberapa orang datang lagi dari partai yang lain, di lain kesempatan di lain hari dengan cara-cara yang serupa, atau sekadar mengganti amplop dengan berbagai benda jadi yang bisa digunakan di pura. Atau ada yang datang mengaku bagian pangempon yang tinggal di luar daerah, dan meminta bantuan untuk dipilih dengan janji akan memperhatikan pemugaran pura yang sedang berlangsung nantinya jika terpilih.
Sekarang malah banyak sekali pamflet itu di tempat tinggalnya, besok akan ada sangkep warga, Nang Olog sedang mempertimbangkan apa sebaiknya disampaikannya besok…? Lamunannya melayang jauh…, sampai ia dikagetkan oleh tepukan tangan di pundaknya…
Wei…, ngudiang bengong…!!?” (Hei… mengapa bengong?)
Yeh…, Pan Godogan…., mai negak malu… jek tumben malali mai” (Oh… Pak Godogan, mari duduklah dahulu, kok tumben main kemari)
Sing kenken, tepuk nyamae mecik pelengan, kel depang to?” (Bukan kenapa, melihat saudara tampak kebingungan, masa mau didiamkan?”)

Kemudian Nang Olog menjelaskan rentetan cerita dan keadaan yang dihadapinya…

Beh…, Ci mula jelema lengeh…, sing nawang ken awak pelih?” (Bah…, kamu emang bloon…, ga tahu dirimu salah?)
Nawang…” (tahu..)
Sing nyadar masa iba pelih?” (Tidakkah sadar merasa diri salah?)
Masa san…” (Sangat merasa dong)
Suba je’ keto, adi nu masih jemak pipis anake?” (Sudah demikian, koq masih kamu kantongin duit orang…?)
Yeh…, nak mapunia to De, sing beneh masih raga nolak, pelih dadine” (Wah…, itu kan sumbangan De, ga bener juga kalau saya nolak, salah jadinya)
Wei…, Nang Olog, Ci mula lengeh apa kenken? Beneh tidong pelih boya, jek liu san paminehane kanti buka keto, engkenang Ci sing setres“… “Dingeh jani malu sep, lamen jani baang Ci betara jak pitara Ci suape, dong suba ya…, men nyak luung bhatara jak pitara Ci-ne ngingetan ento Ci suba pelih da biin keto, sing kenken, men sing Ci maan pawisik keto, beh…, bisa kayang piodalane ben cepok sate kebo tagihe anggo caru di pura” (Hei…, Nang Olog, kamu itu emang bego atau gimana sih? Benar bukan salah juga tidak, kok banyak betul yang kamu timang sebegitunya, gimana kamu tidak stress… Sekarang dengarkan dulu sebentar, kalau sekarang kamu biarkan dewa dan leluhurmu disuap, yah mau gimana lagi…, kalau mau baik dewa dan leluhurmu mengingatkan bahwa kamu sudah salah dan jangan begitu lagi, itu tak mengapa, namun jika kamu ga dengar bisikan seperti itu, bah…, bisa jadi saat upacara yang akan datang dimintai sate kebo untuk sesaji di pura)
Menyadari apa yang disampaikan Pan Godogan, Nang Olog pun terperanjak, namun apa daya…, nasi sudah menjadi bubur.
Suud setress, buin mani centangin suba onyangan to, pang pragat gaene…” Kata Pan Godongan sambil tertawa….

Terkadang kita menjadi lupa, dan menjadi tumpul akan hal-hal yang sederhana, kita mempertimbangkan terlalu banyak hal, baik dan buruk, benar dan salah. Kita mempertimbangkan dari segala pengetahuan, rasa dan akal kita akan tindakan dan perbuatan yang kita putuskan dan laksanakan setiap harinya. Alangkah baiknya jika kita mampu melihat dengan begitu jelas, dengan seketika, bahwa sebuah tindakan membawa bahaya yang luar biasa, bahaya yang mengorupsi kita, ketika tindakan lahir dari kejelasan seperti ini seakan sejelas daya hidup untuk hidup seutuhnya itu sendiri, maka pertimbangan baik dan buruk tidak akan tampak lagi dengan segala gangguannya.

Iklan

4 pemikiran pada “Bhatara pun Berani Disuap

  1. gustulank

    jika kita bisa menghitam putihkan semua hal, hidup gak akan seru.. :p nah, abu-abu itulah tempat pergulatan baik dan buruk. bukan kah selalu ada hal baik dalam hal buruk dan begitu juga sebaliknya. hahaha.. saya malah bingung sendiri.. blognya bagus, dan salam kenal.

    Suka

  2. Haridivanandha

    Salam kenal juga, sesama <>nyama saking BBC<>Ya…, bingung pun tanda kehidupan (syukurlah kita masih hidup hidup). Hitam itu indah, putih juga indah, abu-abu juga indah…, selama kita hidup dengan penuh keindahan ya… semuanya akan jadi indah.Seperti “logo”-nya Tao, seputih apapun selalu ada titik hitam, dan sehitam apa pun selalu ada titik putih. Namun terlepas dari benar atau salahnya hal itu, jika itu fakta yang kita sadari mungkin kita akan menemukan keindahan dengan tidak berusaha memungkirinya…Salam bingung juga ^_^

    Suka

  3. A.A. Ngurah Agung

    Saya ga habis pikir, apa politik itu tidak ada rules nya kah??? katanya etika dan moral juga dikedepankan. Huh…..*marah-marah ceritanya….

    Suka

  4. Haridivanandha

    Pak Agung, demikian tampaknya kondisi <>manyama braya<> ketika hal-hal yang menggiurkan tiba, tidak sungkan-sungkan membuat <>nyama braya<> pada tidak nyaman…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.