Forensic in A Couple Week

Akhirnya kembali ke siklus tidur yang tenang, kurasa sementara ini tidak akan ada lagi telepon dadakan karena kapten tim forensik sudah dialihtugaskan ke “minggu” berikutnya. Namun walau hanya melewati dua minggu di bagian forensik, banyak hal yang dapat dikenang, tentu saja itu termasuk kesibukan dan lain-lainnya. Dalam kedokteran forensik terdapat beberapa hal yang begitu menonjol, pertama aspek medikolegal sehingga forensik juga dikenal sebagai ilmu kedokteran kehakiman (mungkin inilah bentuk perkembangan ilmu forensik pada awalnya di negara kita, sehingga disebutkan bahwa forensik didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempergunakan pengetahuan kedokteran untuk membantu menyelesaikan perkara peradilanSoetomo Tjokronegoro} dan setiap ilmu kedokteran yang menyangkut hukum dinamakan ilmu kedokteran kehakiman yang dalam bahasa luar sana disebut legal medicine ~ mohon koreksi jika salah). Dalam hal ini tentunya status kedokteran forensik di bidang hukum adalah membantu secara profesional dan ilmiah.

Aspek legal merupakan landasan hukum dalam setiap tindakan medis, demikian hal juga dalam kedokteran forensik. Sehingga jangan terkejut jika seorang mahasiswa kedokteran mempelajari kedokteran forensik maka akan ada tumpukan bahan mengenai KUHP, KUHAP, KUHPerdata, beberapa lembar peraturan pemerintah mengenai bedah mayat, sumpah dokter dan wajib simpan rahasia, lembar negara tentang visum et repertum, undang-undang negara, dan setumpuk landasan hukum lainnya. Dengan dapat berubahnya aturan pemerintah, maka apa yang dipelajari juga dapat berubah dari masa ke masa; sebagai contoh adalah peraturan tentang persetujuan tindakan kedokteran, saat ini berlaku Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor: 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran (untuk permenkes tersebut, saya sementara ini hanya memiliki berkas scan dari berkas tercetaknya, silakan unduh di Ziddu), pada BAB VIII Ketentuan Penutup Pasal 20 disebutkan “Pasal saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi“. Tentunya ketentuan ini berarti bahwa peraturan lama digantikan oleh peraturan baru, sehingga mahasiswa kedokteran akan berpatokan pada aturan yang baru dengan tidak mengesampingkan kesempatan untuk meninjau aturan yang lama. Setiap putusan dan tindakan kedokteran memiliki standarnya, walau bukan baku emas, karena rangkaian ilmu kedokteran ~ menurut saya pribadi ~ memiliki banyak kecenderungan pada aspek seni yang tak dapat dibakukan sebagai ilmunya yang selalu berkembang.


Bahwa terdapat aspek seni dalam forensik tepat di tengah ilmu itu sendiri tentunya bergantung pada kecenderungan masing-masing individu. Jika Anda pernah membaca-baca novel-novel detektif seperti Sherlock Holmes atau komik anak-anak seperti Detective Conan atau serial TV CSI, tentunya Anda sedikit banyak memiliki gambaran ~ walau tak utuh ~ sedikit banyaknya apa sih yang dikerjakan oleh tim forensik. Forensik menyimpan banyak ilmu dan seni yang berpilin menjadi tunggal, seperti tanatologi, yaitu cabang ilmu forensik kedokteran yang mempelajari kematian, perubahan-perubahan yang terjadi pasca kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tanatologi membantu tim forensik menentukan atau memperkirakan saat kematian, menentukan cara dan sebab kematian. Sehingga kita akan diajak menyelami tanda-tanda kematian, baik yang primer (tanda sistem respirasi, kardiovaskuler dan saraf pusat) atau pun yang sekunder seperti hilangnya gerakan (sel-sel), perubahan suhu tubuh (algor mortis), lebam jenazah (livor mortis), kaku jenzah (rigor mortis), pembusukan (dekomposisi), kerusakan jenazah (destruksi) dan lain sebagainya. Tentunya nanti juga ada seni penyelidikan di tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti dan sebagainya (mungkin ini tidak akan banyak terjamah oleh karena kita menggunakan sistem kontinental).

Banyak hal lain yang walau singkat namun cukup tentunya. Salah satu hasil dari setiap tindakan medis adalah catatan medis yang merupakan rahasia kedokteran, terdapat beberapa aturan yang secara fundamental menjamin kerahasiaan suatu catatan medis seorang pasien yang menjadi haknya, dan legalitas serta tata caranya dalam pendokumentasian serta penyimpanannya. Dan penyampaiannya dalam bentuk visum et repertum pun untuk kepentingan hukum memiliki aturan tersendiri. Hal inilah yang benar-benar harus dipahami oleh seorang dokter dalam konteks legalitas dan kerahasiaan data medis. Sementara ilmu-ilmu kedokteran yang menunjang hal ini merupakan aplikasi dari seluruh ilmu kedokteran yang ada, karena di sinilah pengkodean dari dunia medis ke dunia non-medis dilakukan, artinya secara hukum haruslah jelas apa yang disampaikan ke hadapan hukum sesuai apa yang diminta dan apa yang telah dikerjakan.

Kesan-kesan saya selama di forensik sungguh banyak, seperti pada awal tulisan ini, mulai dari tidur yang tidak tenang… mengapa? Forensik tidak seperti bagian Mata atau THT, di mana poliklinik disediakan bagi mereka yang membutuhkan sesuai jadwal, namun setiap kejadian yang menyebabkan kematian dan memerlukan pemeriksaan forensik bisa terjadi setiap saat. Hmm…, jadi teringat cerita para senior dulu bahwa mereka bisa dipanggil tengah malam atau dini hari untuk mengerjakan otopsi. Karenanya aku menjadi agak gelisah juga, namun sampai stase ini berakhir nampaknya belum ada kasus yang memerlukan penangan seperti itu.

Beberapa hal menjadi perhatian saya selama di forensik adalah budaya kita atau paradigma masyarakat tentang kedokteran forensik itu sendiri. Sebagai contoh, jika ada sebuah kasus kematian (yang tidak diketahui penyebab pastinya), maka biasanya pihak keluarga yang telah merelakan hal ini tidak berharap tim forensik melakukan bedah mayat guna memeriksa sebab atau cara kematian si korban, biarkanlah jenazah dalam keadaan utuh pinta mereka. Sehingga dengan tidak dilakukannya otopsi (pemeriksaan dalam) sebab dan cara kematian tak akan pernah diketahui, tak pernah tahu (semisalnya) apakah korban meninggal tenggelam ataukah meninggal duluan sebelum tenggelam sebagaimana ketika ditemukan di perairan oleh saksi, dan sehingga pihak penyidik mungkin tak akan kesulitan menduga faktor-faktor kecelakaan ataukah kesengajaan (pidana). Karena bagaimana pun tim forensik hanya akan melaporkan apa adanya. Nah sehingga ketika suatu saat kemudian dicurigai bahwa penyebab kematian tidak sewajar pendapat dahulu, maka sebab dan cara kematian akan semakin sulit ditentukan, apalagi jika harus bongkar makam (ekhsumasi ~ KUHP pasal 135 & 136) wah tambah sulit lagi dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari pada otopsi di saat korban ditemukan. Yah…, inilah sedikit banyak kepelikan di negeri kita, namun sebagai dokter adalah profesionalitas yang pegangan dalam setiap situasi.


Setidaknya masih ada bekal seperti tanatologi, antropologi, odontologi, toksikologi, parasitologi walau nanti belum tentu menjangkau secanggih DNA fingger print, namun bekal-bekal mendasar cukup membantu menunjang tugas yang berhubungan dengan legal medicine dalam keseharian seorang dokter. 😉

Iklan

2 thoughts on “Forensic in A Couple Week

  1. Yupzzz…lagi belajar modul biomol…ada kedokteran forensik…disuruh nyari ttg aspek medikolegal, STR dan CODIS 13…Truz…uhmmm…banyak deh…thanks atas infonya… 🙂 🙂

    Suka

  2. Sama-sama, kalau ada info baru bagi-bagi juga 😀 Terkadang makalah tentang forensik sulit didapat di internet, namun banyak ada pada textbook (apalagi yang tebel-tebel dan berbahasa asing di perpustakaan kedokteran)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s