Kromatografi untuk Malaria

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. Beberapa daerah di Indonesia masih merupakan kantong-kantong malaria. Penegakan diagnosis pada pasien malaria selain melalui penemuan gejala-gejala klinis malaria yang umum melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, juga melalui pemeriksaan penunjang seperti:

1. Pemeriksaan tetes darah untuk malaria: tetesan preparat darah tebal dan tetesan darah tipis. (Gold Standard)

2. Tes antigen: P-F test (Rapid Test dengan metode ICT).

3. Tes serologi.

4. Pemeriksaan PCR.

Permasalahan yang hendak dikaji:

Penegakkan diagnosis malaria dapat dilakukan jika pada tersangka penderita ditemukan parasit malaria. Pemeriksaan ICT (Immunochromatographic test) malaria menggunakan pendeteksian adanya antigen malaria. Seberapakah spesifisitas dan sensitivitas pemeriksaan ICT malaria?

Pengkajian Masalah:

Pada laporan WHO tentang New Perspectives: Malaria Diagnosis 1999, tes diagnosa cepat (Rapid Diganostic Test – RPD) dalam hal ini termasuk dengan metode ICT harus menyediakan hasil setidaknya seakurat hasil-hasil yang diberikan oleh pemeriksaan mikrokospis yang dilakukan oleh seorang teknisi menengah (rata-rata) dalam kondisi-kondisi lapangan yang umum. Maka dari itu RDT diharuskan mencapai karakteristik teknis yang spesifik sebagai berikut:

1. Sensitivitas:

Sensitivitas merupakan isu yang paling kritikal, oleh karena hasil negatif-palsu dapat menyebabkan tidak adanya medikasi pada sebuah penyakit yang meliki potensi yang fatal. RDT harus dapat mendeteksi keempat spesies parasit malaria yang menginfeksi manusia, dan setidaknya mampu membedakan P. falciparum dari spesies lainnya. Keseluruhan sensitivitas (menggunakan mikroskopi seorang ahli sebagai standar emas) seharusnya di atas 95%. Densitas parasit di atas 100 parasit aseksual per mikroliter darah harus dapat dideteksi secara tepat, dengan sensitivitas mendekati 100%.

2. Spesifitas:

Spesifitas setidaknya 90% bagi semua spesies malaria.

Secara umum ICT memiliki tiga target antigen yang dapat dideteksi, yaitu: (1) parasite lacatate dehydrogenase (pLDH) yang merupakan enzim glikolitik pada Plasmodium sp., yang dihasilkan pada tahap seksual dan aseksual parasit, beberapa tes menyertakan antibodi untuk P. vivax-specific pLDH; (2) histidine rich protein 2 (HRP-2, hanya ditemukan pada P. falciparum) yang merupakan protein larut air yang dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit P. falciparum dan diekspresikan pada membran eritrosit; dan (3) aldolase (antigen pan-malarial, ditemukan pada semua spesies malaria).

Penelusuran kembali oleh Allen Cheng dan David Bell pada presisi RPD untuk malaria melalui 145 studi yang diidentifikasi melalui PubMed, WHO dan review lainnya, menunjukkan bahwa RPD memiliki jenjang sensitivitas yang lebar, mulai dari rendah hingga 100%, sedangkan spesifitas secara umum baik hampir di semua studi. Diakui bahwa terdapat kesulitan dalam membandingkan antara satu studi dan lainnya oleh karena berbagai kemungkinan seperti perbedaan manufaktur peralatan tes, kemungkinan variasi geografis pada antigen malaria, kondisi lingkungan, pembedaan baku emas (PCR atau mikroskopis).

Pada uji diagnostik plasmodium malaria menggunakan metode imunokromatografi diperbandingkan dengan pemeriksaan mikrokospis (Ima Arum, dkk 2005), menunjukkan bahwa ICT memiliki sensitivitas 100%, spesifitas 96,7%, nilai prediksi positif 83,2% dan nilai prediksi negatif sebesar 100%. Disebutkan juga bahwa Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Walkedan Playford6 dengan menggunakan ICT p.f/p.v dan diperoleh sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 97% dan 90%; sedangkan yang menggunakan perangkat alat (kit) OptiMal, Walker mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 85% dan 96%. Humar dkk yang menguji Para sight F menemukan sensitivitas 88% dan spesifisitas 97%. Di Maesod Thailand, Chansuda Wongsrichanalai, Iraeema, Arevalo dkk menggunakan uji Now® ICT pf/pv dan menemukan sensitivitas dan spesifisitas untuk P. falciparum masing-masing 100% dan 96,2%; sensitivitas dan spesifisitas untuk P. vivax adalah 87,3% dan 97,7%. Farces, Zhong dkk menguji Binax Now® ICT dibandingkan dengan PCR dan menemukan sensitivitas 94% untuk P. falciparum dan 84% untuk panmalaria; sedangkan spesifisitas 99% ditemukan untuk P. falciparum maupun panmalaria. Penelitian Tjitra dkk , dengan menggunakan ICT pf dan pv didapatkan sensitivitas 95%, spesifisitas 89,6%, nilai prediksi positif 96,2% dan nilai prediksi negatif 88,1%. Agustini dan Widayanti pada penelitian yang menggunakan NOW® ICT pf/pv diperoleh sensitivitas 97%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100% dan nilai prediksi negatif 88,6%.

Simpulan:

Dari berbagai penelitian dapatkan berbagai nilai sensitivitas dan spesifitas yang berbeda pada berbagai produk serta penggunaan metode ICT. Namun secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan ICT meliki sensitivitas dan spesifitas yang dapat memenuhi kriteria teknis yang diharuskan oleh WHO, walau terdapat beberapa ketidaksesuaian pada beberapa penelitian. ICT dapat membantu menegakkan diagnosis malaria secara cepat, dan sangat bermanfaat pada daerah-daerah endemik dimana ketersediaan baku emas masih minim (misal tidak tersedianya petugas lapangan yang ahli dalam pemeriksaan hapusan dari tepi), namun harus tetap diperhatikan cost- effective dari pengadopsian metode ini pada suatu lingkungan kerja.

Daftar Pustaka

Harijanto, P.N. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Sub Tropik Infeksi – Sub Malaria. Pusat Penerbitan, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 1754 s.d. 1766.

WHO. 1999. New Perspectives: Malaria Diagnosis. Report of A Joint WHO/ USAID Informal Consultantion 25-27 October 1999. World Health Organization. Geneva.

Ima Arum L, dkk. 2005. Uji Diagnostik Plasmodium Malaria Menggunakan Metode Imunokromatografi Diperbandingkan Dengan Pemeriksaan Mikroskopis. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3, July 2006: 118-122.

Allen Cheng, David Bell. 2006. What is The Precision of Rapid Diagnostic Tests for Malaria. International Child Health Review Collaboration.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.