Eksitasi Belajar

Kehidupan adalah bagian dari proses belajar, demikian beberapa ungkapan kuno dari berbagai belahan dunia berkata. Setiap langkah manusia menemukan sesuatu yang baru, dan dari sanalah kita belajar. Belajar mungkin menjadi sesuatu yang bersifat universal dibandingkan dengan konotasi yang dilekatkan oleh dunia pendidikan formal saat ini.

Sekarang telah dibentuk dalam tatanan kehidupan kita, berbagai institusi pendidikan, baik yang formal maupun non-formal, namun segenap itu pun bertujuan serupa yaitu menambahkan pengetahuan dan mungkin dengan keterampilan ke dalam diri kita.

Di Indonesia mungkin, kita kan mendapati anak-anak berseragam putih merah bergerak hampir setiap paginya memasuki sekolah dasar, demikian pula yang berseragam putih biru atau putih abu, dan seragam-seragam lainnya. Inilah sebuah bentuk akomodasi yang menciptakan dunia pendidikan saat ini.

Kita memiliki sebuah sistem yang selalu kita perbaharui, selalu kita tinjau, bersama dari masyarakat kecil hingga para pejabat pemerintahan, bahwasanya proses pemelajaran di negeri ini berjalan dengan baik. Kita ingin menunjukkan kemajuan itu, sedemikian hingga kita mampu mewujudkan sebuah masyarakat yang utuh, sejahtera dan damai dengan dasar pendidikan yang kita bangun.

Di sisi lain dunia pendidikan, ada mereka yang menjadi subyek dari semua proses ini, mereka dikenal sebagai pelajar ~ tak peduli apapun tingkatannya ~ yang adalah pusat dari dunia pendidikan itu sendiri. Yang setiap hari bangun pagi untuk bergegas ke institusi pendidikan ~ apakah itu sekolah, laboratorium, lapangan ~ dan mengikuti semua kegiatan yang telah tercantum dalam sebentuk kurikulum. Terkadang diiringi dengan dendang yang telah lama dilantunkan dari generasi ke generasi mereka bergerak ke dalam apa yang telah kita saksikan selama ini.

Tak bisa dipungkiri untuk dinyatakan kembali, bahwa kita adalah atau setiaknya pernah menjadi bagian dari mereka. Namun pertanyaan yang selalu sama selama ini, sejauh manakah pendidikan menjadi bermakna untuk dijalani? Tentu hal ini dipandang dari sisi mereka yang menjalaninya, Anda dan saya. Apakah pendidikan kemudian hanya menjadi sebuah rutinitas, di mana aplikasinya sesuai dengan hukum input dan output? Ataukah pendidikan dapat menjadi sebuah bagian dari kehidupan yang utuh, yang memiliki kreativitas dengan kecerdasan yang luar biasa?

Tentu dengan membuka lembar-lembar alasan yang klasik kita akan menemukan bahwa dalam kerangkan pendidikan sebuah dasar diberikan agar si subyek dapat mengembangkan sesuai dengan potensinya masing-masing. Sebuah kata bijak dari negeri sang naga berkata, berikanlah ia ikan maka ia dapat hidup, berikanlah ia kail maka ia bisa mencari penghidupan, ajarilah ia menciptakan apa yang kauberikan itu maka ia akan menciptakan penghidupannya. Aku sendiri tidak yakin memahami makna kebijaksanaan itu, namun bagi kitalah untuk mencari tahu, apakah kita selama ini telah berada dalam dunia pendidikan yang sesuai.

Ketika berhadapan dengan suatu masalah, maka subyek akan menggunakan sumber daya yang ia miliki untuk menanggulangi masalah tersebut. Adakalanya sumber daya yang terbatas akan membuatnya menjadi kreatif dalam menemukan sumber daya baru atau mengolah sumber daya yang ia miliki sedemikian hingga dapat membantunya menanggulangi masalah yang ada. Pertanyaan yang kemudian muncul adakah, dapatkah dia?

Terkang kita mungkin akan menemukan, ah… tidak, saya menyerah, saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan hal ini. Atau di sisi lain kita mungkin menyaksikan, hmm… bagaimana jika begini, ini tidak susah kan? Bahkan ada hal-hal yang jarang kita dapati seperti, coba saya lihat, kalau demikian ini belum bisa diselesaikan, mari kita coba cara lain.., ah…, sepertinya saya bisa menyelesaikan ini, coba beri saya lebih banyak waktu.

Dalam setiap kondisi manusia memiliki sistem ingatan, kemampuan dan berbagai sumber daya lain guna memecahkan suatu masalah. Jika ia bisa, maka ia bisa, jika tidak ia dapat menyerah atau berusaha mencari solusi walau dalam ketidaktahuannya. Bagi mereka yang telah bisa, maka pendidikan akan bermakna berbeda, namun marilah kita kini menilik ke arah sebuah kondisi di mana kita menjadi “tidak mampu”.

Teach me and let me know” adalah sebuah ungkapan lama, ketika subyek menjadi “tidak mampu” dan ingin menemukan sebuah jawaban segera. Dan kurasa demikianlah mengapa pendidikan diciptakan.

Namun tidak semua subyek menjadi tertarik dalam hal ini. Seakan berkata, tolong jangan sibukkan diri anda untuk mengajari saya apa yang sama sekali tidak membuat saya tertarik. Mungkin kita akan prihatin mendengarnya, karena ternyata tidak semua orang tertarik untuk belajar. Dulu di saat pendidikan mahal dan sulit dijangkau, orang mungkin begitu menghargainya, namun kita ketika pendidikan walau tidak menjadi murah, namun relatif lebih mudah dijangkau kita menjadi lebih tidak memedulikannya, seakan ini sekadar rutinitas yang menjemukan…, orang menjadi jenuh di dalam pendidikan.

Pernahkah dulu ada sebuah perasaan yang bersorak ketika Anda menemukan sebuah persamaan atau rumusan (formula) baru dalam matematika, fisika atau pun kimia. Pernahkah ada sebuah semangat yang luar biasa ketika Anda bekerja tuk menyelesaikan semua tugas-tugas rumah yang bertumpuk, dan sebua perasaan lega yang luar biasa saat menyelesaikannya, atau perasaan tak sabaran untuk membabarkannya di depan kelas esok harinya. Pernahkah ada perasaan yang takjub luar biasa, atau gairah untuk menyelami lebih jauh berbagai ruang di bumi atau alam semesta ketika semua itu dibisikkan oleh para pemberi pengajaran pada Anda?

Adakah Anda pernah merasakan eksitasi-eksitasi seperti itu?

Mengapa kita belajar, mengapa kita menciptakan dan mengikuti sistem pendidikan, mengapa kita bisa jenuh atau pun penuh luapan eksitasi dalam belajar, adakah kemudian semua yang kita jalani bermakna?

Semua jawaban kembali pada masing-masing dari subyek yang melakoni dunia pendidikan. Tidak ada sebuah jawaban yang absolut, namun memahami makna suatu suka cita dalam belajar akan menciptakan sesuatu yang sungguh berbeda daripada belajar hanya sekadar rutinitas atau jalan pintas menuju penghidupan yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.