Tiada Jembatan antara Cinta?

Mereka mengatakan bahwa dunia dihiasi oleh bermacam hal yang indah, dikaruniai dengan pelbagai sumber kehidupan, dan manusia telah bermandikan cahaya yang berwarna-warni dari pelangi kehidupan itu sendiri, sedemikian hingga dalam perjalanannya, ia mampu mengungkap apa itu cinta.

Namun di antara banyak kisah, banyak yang terlepas dan menimbulkan relung yang terlalu dalam dan lebar dalam jangkauan keterbatasan yang diciptakan oleh manusia sendiri untuk sesuatu yang mereka sebut meraih cinta…, demikianlah sehingga sesuatu harus dibangun di antara dua cinta …, untuk menjembatinya.

Namun adakah jembatan ini sesungguhnya?

Love Bridge

Dunia di mana kita tinggal dipenuhi oleh berbagai warna, dan warna-warna ini merupakan gradasi yang saling menyeimbangkan. Ya, gradasi adalah perbedaan dalam kata lainnya (yang sungguh lebih sering digunakan, dan aku pun tak begitu menyukainya). Dengan kata lain, dunia di mana kita tinggal penuh dengan berbagai perbedaan.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca tulisan dengan judul unik “Cinta di antara Dua Tuhan”, yang mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak apa yang terjadi di sekeliling kita. Terkadang cinta bukanlah hanya sekadar hubungan di antara dua insan. Pun mungkin demikian adanya, aku tak hendak membenarkan paradigma yang mana pun, karena setiap sudut pandang akan memiliki bintik butanya masing-masing.

Warna-warna ini…, perbedaan-perbedaan ini…, kemudian memberikan apa yang dikenal sebagai jarak di antara dua hal, di antara dua sikap, di antara dua perasaan. Si kaya dan si miskin, si baik dan si buruk, si punya dan si tiada…, antara agama, pendidikan, dan lain sebagainya, manusia telah mendirikan di antara rumah-rumah tinggalnya, sekat yang lebih tinggi dari pada langkah angin kebebasan tuk masuk ke dalam jendela hatinya. Dan sekat ini, tembok ini yang juga telah menghalangi mentari membagi kehangatan ke dalam rumah-rumah kecil yang menyedihkan dan lembab oleh kecurigaan serta penolakan.

Bagi mereka yang “merasa” terpisahkan, seakan jarak tercipta begitu jauhnya walau tangan saling menggenggam. Mereka melihat cerminan sendiri dalam dua warna yang berbeda, dan semburat di antaranya adalah garis kelam yang seakan tak hendak sedia untuk menyatukan. Untuk sesaat atau selamanya, yang tampak adalah sebuah ruang keputusasaan. Dan tak ada yang pernah tahu, akankah mereka membangun sebuah jembatan di lembah yang mereka sendiri belum tentu mampu tuk pahami.

Manusia menebarkan banyak hal di muka bumi, dan mengingatkan sesamanya, betapa indah warna-warna yang ada di sekeliling mereka. Mereka telah menulis banyak kisah, mengukir banyak simbol, menyanyikan berbagai pujian tentang segala maha karya ini. Sayang dan teramat sayang, mereka bernyanyi sembari membangun pagar yang lebih tinggi, dan ketika mereka kembali menulis dan mengukir kisah-kisah itu, mereka pun bertanya, “Mengapa engkau dan aku tetap terpisah?”

Dan sahabat, kau pun kini mungkin tahu mengapa manusia selalu berusaha membangun jembatan antara cinta. Ya, karena pertanyaan sederhana itu, “mengapa kita terpisah?”

Seandainya dua insan tidak terpisah, adakah jembatan itu nyata. Bukankah cinta adalah satu adanya, bukankah cinta adalah semua yang bisa menyatukan perbedaan, jika demikian jembatan apa yang engkau bangun melebihi cinta itu sendiri? Adakah itu hanya angan dan imajinasimu? Ah…, aku pun tak mengerti. Namun tetaplah melangkah ke mana hati membawamu pergi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.