Mencari Palangkiran

Hari Minggu kemarin ketika di tengah-tengah kegiatanku bersih-bersih kamar sebagaimana yang kuceritakan pada “Make Over The Room”, aku menerima telepon dari adik kelas yang baru saja mulai menetap di Yogyakarta gua menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.

Saat kuangkat dia berbicara sopan, menanyakan apakah aku sedang sibuk atau tidak. Sepertinya dia perlu bantuan, jadi kuminta agar dia tidak segan. Kemudian bertanya, apakah aku tahu di mana di Yogya seseorang bisa mendapatkan “Palangkiran”? (Baca pelangkiran, “e” seperti pada kata peta).

Hah…!? Aku pun terhenyak dan kaget, seumur-umur aku di Jogja tidak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Hah…, maklum kalau atheis jadi ga pedulian dengan detail-detail seperti itu. Aku memintanya segera menunggu dan bertanya pada tetangga sebelahnya. Dia tersentak sama kagetnya, dan bertanya untuk apa mencari yang gituan, aih…aih…, aku lupa ternyata dia tak kalah atheisnya dibandingkan diriku.

Dari pada membuat menunggu, aku bicara kembali pada adik kelas itu. Mungkin aku tahu beberapa tempat, namun tidak yakin apakah bisa ditemukan di tempat-tempat itu. Namun sepertinya adik kelas yang ini, tidak mudah putus asa, dia ingin mencoba mencarinya, namun karena belum tahu arah di Yogya, aku pun diminta tolong untuk mengantarnya. Setelah kusanggupi, ia pun berangkat menuju rumahku (baca: kost). Aku hanya bisa menduga beberapa tempat yang ada.

Segera setelah itu aku menuju kamar senior-ku di bangunan seberang, sudah dua kali dia menetap di Yogya, setidaknya tidak mungkin tahu. Aku pun bertanya padanya. Dia pun kaget mendengar aku menanyakannya, koq tumbennya aku mengurus hal-hal seperti itu, dia bilang membawa Palangkiran sendiri dari Bali, dan tidak tahu harus mencari ke mana.

Hah…, namun sepertinya aku tahu harus bertanya ke mana. Aku pun menelepon salah satu kolegaku yang ada di Bali. Kini gilirannya yang terkaget, seperti sebuah syok, mungkin aku adalah orang terakhir di planet yang mungkin meneleponnya dan menanyakan di mana bisa mencari Palangkiran. Dia bilang mengapa tidak menggunakan yang ia tinggalkan di kamarnya, wah…! Kini giliranku yang kaget, ngapain dia meninggalkan benda itu di kamarnya saat sudah tidak ditempati lagi, tanyaku padanya.

Namun dia memberiku beberapa refrensi seperti Warung Bu Komang dan Warung Dewata yang kebetulan memang tidak jauh dari Pura di Bangutapan. Lha, tapi itu semua kan nama rumah makan, ga salah apa. Ya, tapi dia bilang coba saja untuk ditemukan. Weleh-weleh, itu kan separuh mengitari Yogya, satu di lingkar Utara yang lain di lingkar Selatan.

Setelah adik kelas pada datang, aku mengantarnya ke Warung Bali di dekat Fakultas Kedokteran Gigi UGM, karena di sanalah tebakan pertama-ku tempat yang paling dekat yang mungkin ada. Ada angin baik berhembus, mereka sepertinya juga mendapatkan refrensi yang sama.

Kami pun menuju Warung Bali, seperti tidak aneh mereka tidak dapat menemukan lokasinya sendiri walau sudah mendapatkan refrensinya, bagaimana tidak, di depannya cukup sering menjadi tempat mojok bus-bus kota milik pemilik warung (begitulah yang kudengar).

Untungnya di sana ada dua buah yang tersisa, dan mereka pun mengambil keduanya. Pas sekali, aku sendiri lega tidak perlu berputar jauh untuk menemani mencari, karena kamarku menunggu untuk dibereskan.

Saat membayar mereka bertanya padaku, “Bli kalau mencari banten di mana ya?”
Gubrag…, sekali lagi aku syok berat. Di mana ya orang mencari banten? Aku tidak pernah berususan dengan yang kaya gituan. Dengan jujur aku minta maaf, aku tidak tahu hal yang seperti itu, biasanya kalau pun ada, dibuatkan oleh temen-temen yang lain (padahal itu pun jumlahnya masih bisa dihitung jari sebelah tangan selama enam tahun di Yogya).

Mereka terlihat kaget, kemudian menunjuk ke motorku, “Itu motor yang dari Bali kan Bli?”, aku mengiyakannya, “Kalau gitu ga pernah dibantenin…”
Gubrag lagi…, tiga kali syok dalam sehari. Ha ha, aku pun menjawab paling hanya kucuci saja. Ternyata sehari sebelumnya adalah Tumpek Landep, pantas saja mereka mencoba mencari banten untuk motor baru mereka.

Kemudian mereka bertanya padaku lagi, mungkin mereka sudah curiga, “Jangan-jangan Bli jarang ke Pura ya?”
Ziiinggg…., lengkap sudah catur panyupatan suksma hari ini pikirku, aku tertawa sembari menjawab, “Bukan jarang tapi memang tidak pernah.”

Mereka hanya senyum-senyum saja. Akhirnya selesai juga membantu orang mencari Palangkiran, ha ha, ada-ada saja hari ini. Saat aku pulang kuceritakan pada tetanggaku, dia pun tertawa terbahak-bahak.

Tag Technorati: {grup-tag}Palangkiran,Yogyakarta,Tumpek Landep,Warung.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.