Reine de Requiem

When I was a child ~ a very young kid ~ I was very enthusiastic for any kind of mystery based stories.  Sherlock Holmes of Baker Street by Sir Arthur Conan Doyle is one of my favourite until this very day.

I was writing a novel back then, when I still on class 8 or 9 at school. My wild childless mind was arousing from the deepest darkness maze of imagination. Surely the manuscript was in Bahasa Indonesia (Indonesian language), even all the chapters. I thought I would never published, it would be treasured in my old map keeper.

This is one chapter I would share it with you. I share it as it is, so please do not ask for translation. Maybe you would love it.

Let the story begin…

 

=================oOo===============

 

Seandainya manusia dapat mematahkan selembar takdir yang menutupi ambisinya. Seandainya manusia mampu meneguk tetes kemenangan dari untaian kekalahannya. Mungkin ia dapat lebih tersenyum dan berpanjang umur.

Cimetière – quelques-uns où à Oud Heverlee

Seorang anak laki-laki sedang merunduk di hadapan salah satu gundukan dari yang banyak menghampar di sekitarnya. Jaket yang tebal dengan penutup kepala ditambah bunga salju yang berjatuhan membuatnya hampir tak terlihat dalam sekilas pandang, walau matahari belum terbenam pasti.

Sesaat ia menatap nisan di hadapannya, dan semakin serasa sesak dadanya. Bertuliskan dalam warna emas Avec tout l’honneur – Carlos Flamel – honorez membre de communauté de l’intelligence nationale.

Sesaat sunyi, sebelum getaran dari saku dalam jaketnya mengetuk kesadarannya kembali.

Div kamu di mana sekarang?”

Bukan di mana-mana, hanya mengunjungi seorang teman.”

Cepatlah kembali, ada sesuatu yang penting.”

Tiga jam kemudian, anak laki-laki tersebut terlihat turun dari sebuah limusin putih di salah satu bangunan sepanjang Rue Saint-Antoine Paris. Saat dia memasuki ruang utama – atau mungkin lebih layak disebut aula utama. Seorang gadis muda sebaya menyambutnya.

Hi Liz …” Anak laki-laki itu tampaknya hanya sekadar menyapa dan tak lebih.

Sudah berapa kali kukatakan, apa kamu tak bisa menyebut namaku saja .. tanpa disingkat? Akankah?”

Tapi anak laki-laki itu hanya tersenyum dan berjalan melewatinya. Tentu saja lawan bicaranya tak dapat menerima begitu saja.

Hei … aku memintamu kembali bukan tanpa alasan.”

Langkah kaki yang mulai menjauh pun terhenti, dan kini dia berpaling … tentu saja dia kemari bukan untuk sekadar datang.

Ikutlah denganku.”

Gadis itu membawanya menuju ke sebuah ruangan penuh dengan berbagai jenis buku yang tersusun dalam puluhan rak-rak berukuran sedang. Dari laci sebuah meja kerja, sebuah map merah besar dikeluarkan.

Sebenarnya aku tak ingin memperlihatkan ini, namun bagaimanapun juga kamu masih wakil resmi dari Britannia. Dan kewajibanku memang menyerahkan informasi ini.”

Anak laki-laki itu mulai membaca berlembar-lembar berkas di dalamnya. Semuanya mengenai data seorang agen muda berbakat – Carlos Flamel. Beberapa menit kemudian dia merapikannya kembali. Dan menatap si gadis.

Lalu …”

Lalu…? Div dengarlah, Flamel memang sahabatmu … dan terlebih lagi dia juga temanku. Walau aku tak bicara sebagai atasannya, namun dia seorang agen muda yang baik. Dia sudah memenuhi kewajibannya, negara menghargai semua itu. Dia tak gugur sia-sia. Setidaknya karenanya kami di sini berhasil menghentikan … kamu tahu sendiri.” Kini dia berusaha meyakinkan sahabatnya.

Sudah kukatakan juga … jangan mengganggu privasiku.”

Aku khawatir padamu, datang kemari dan berkata ingin melihat-lihat Notre-Dame, Panteon, Museum Picasso. Namun ternyata …” Tiba-tiba dia tertunduk, “Maaf aku hanya tak tahu mengapa kamu tertarik pada kasus ini, setiap saat akan selalu ada yang meninggal dalam tugas … hal itu wajar sebagai pemburu selayaknya kita Div.”

Anak laki-laki itu hanya terdiam, dan sahabatnya pun juga seperti kehabisan kata-kata. Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk. Si gadis pun mempersilakan masuk dalam bahasa yang sopan.

Seorang anak laki-laki lain memasuki ruangan, “Agent principal – Pour Sécurité d’Asie Nord – Nandha Airavatha – prêt pour service, Sir!

Nandha? Sedang apa kamu di sini?” Si gadis tampak keheranan.

Maaf Agen Lisa, saya tak dapat membicarakannya tanpa izin pimpinan tertinggi.”

Gadis itu langsung saja menatap sosok di sampingnya, “Apa yang kamu rencanakan Div?”

Akan kujelaskan setelah semuanya berkumpul.” Jawabnya tenang.

Begitulah kehidupan berjalan, selayaknya mereka yang menapak dalam hunian waktu. Tak akan pernah kembali ke tempat yang sama sekali sama. Dan bisikan pun akan berakhir dalam sekejap mata.

Seminggu yang lalu – Kediaman Keluarga Diva Nandha.

Sebuah telepon ditujukan pada putra kedua keluarga tersebut, sayangnya Div sedang tidak di tempat. Dan penelepon yang mengaku bernama Carlos Flamel hanya meninggalkan dua pesan “Sauvez le requiem de la reine perdu” dan “vous êtes mon seul espoir”.

Saat Div berusaha menghubungi kembali si penelepon yang merupakan sahabat lamanya. Dia hanya menemukan bahwa sahabatnya – Carlos Flamel telah terbunuh, dan itu terjadi dalam tiga menit setelah ia meninggalkan pesan.

Div hanya duduk di meja kerjanya, dan memandang Geo – kepala pelayan yang sedang menghidangkan teh di mejanya.

Kasus apa kali ini Div?”

Hanya seorang agen yang terbunuh.”

Tidak terlihat seperti itu.”

Carlos Flamel – Anggota kehormatan Biro Intelegensi Prancis, tewas dengan sebuah luka tembak,. Seorang melihatnya terjatuh dari dalam kabin perahu motor yang bergerak sedang di sepanjang sungai Oise daerah Gergny – Picardie. Dan tanpa kontrol, perahu itu tentunya …

Hem ….”

Ini semua yang kudapat dari Biro Intelegensi Prancis, ditembak dengan model Rifle 30-06 Remington dengan pompa.”

Well, jika demikian kalian harus menemukan barang buktinya.”

Ditemukan, dia ditembak dari arah jam 10 sejauh 370 meter.” Kembali Div meyakinkan dirinya dengan menatap beberapa halaman berkas disertai foto-foto dengan stempel “sécurité nationale” terbubuhi di atasnya.

Yang benar saja, saksi matanya pasti hebat sekali.” Geo terkaget, karena sepengetahuannya rifle adalah senjata sniper yang pasti akan sulit diketahui posisinya dengan segera.

Bukan masalah itu, tampaknya Rifle yang digunakan tidak dipasangi peredam sehingga suaranya terdengar jelas. Dengan demikian saksi mata dapat menunjukkan langsung tempatnya.”

Pelakunya …?” Rasa penasaran terpancar dari wajah laki-laki setengah baya itu.

Peluru yang digunakan telah dimodifikasi demikian juga dengan senapannya, diproduksi sebelum tahun 1964. Sepertinya sudah sering berpindah tangan. Selain itu menembak dengan satu tembakan tanpa peredam, memang jenius. Apalagi tanpa teropong pengintai.” Kini dia meyakinkan dirinya bahwa semua itu hampir tak mungkin dilakukan oleh assassin terlatih sekalipun tanpa pengalaman tinggi … atau mungkin suatu bakat yang sangat potensial.

Jangan – jangan, dia adalah assassin legendaris Roi de Requeim?” Wajah kebingungan Geo menunjukkan ia semakin tak mengerti.

Polisi dan agen pemerintah menduga demikian, namun seharusnya dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Namun tetap ada satu hal yang menarik.” Div m
eneguk teh hangat dari cangkir mungil di tangannya, seolah berusaha mencari sesuatu yang terlewatkan dalam analisisnya.

Kembali Div merenung dalam lamunannya yang terdalam. Beberapa petunjuk muncul begitu saja, dan dia mendapatkan gagasan menarik.

Geo tolong siapkan tiketku, penerbangan pertama besok ke Paris. Aku ingin melihat museum Picasso. Dan tolong hubungi sahabat-sahabat lamaku, katakan aku kangen bertemu mereka, aku ingin bertemu di tempat biasa.”

Butir-butir kebenaran itu tersembunyi dalam indahnya embun pagi, dia tersembunyi di antara rumput dan ilalang. Keindahannya dijaga oleh siang, dan dipersembahkan oleh malam. Temukan wujudnya saat mentari mulai bersinar.

Kediaman Lisa – Rue Saint-Antoine Paris.

Lisa masih tampak kesal memandang dua sahabatnya asyik bercakap-cakap. Tampaknya mereka menyembunyikan sesuatu. Dia pun berdiri dan memandangi tajam kedua orang itu.

Aku tahu kalian merencanakan sesuatu, sebaiknya kalian segera beri tahu. Atau kubuat kalian menyesal, walau dengan kekebalan politik kalian di negara ini.” Dia terlihat tidak sedikit pun menahan emosinya.

Tidak baik memojokkan mereka seperti itu sahabatku, tidak demikian cara tuan rumah memperlakukan tamunya.” Sebuah suara lembut dari bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka lebar.

Lisa sempat terkejut melihat kedatangan dua sahabatnya lagi Christine dan Ani. Tentunya kedatangan dua agen berpengaruh di benua Selatan dan Baru ini bukanlah hal kebetulan jika dikatakan reuni sahabat lama.

Karena kita semua sudah berkumpul, akan kujelaskan situasinya. Namun sebelumnya silakan semuanya duduk.” Div berkata dengan diplomatisnya, seakan dia memang tepat sebagai pimpinan kelompok.

Pertama aku minta maaf pada Lisa, kedatanganku kemari memang untuk mengunjungi tempat menarik, namun itu tidak kesemuanya.”

Baiklah … aku mendengarkan.” Saat ini Lisa hanya mengetahui, jika Div mengumpulkan lima anggota kehormatan liga pemburu muda di tempatnya, maka sesuatu yang mendesak pastilah sedang memerlukan perhatian.

Terima kasih. Christine … bagaimana statusmu.”

Aku sudah menyebarkan orang-orang di sekitar sana. Tak akan ada yang dapat lolos dari pengamatan

Nandha …?”

Aku siap.”

Ani …?”

Aku sudah berbicara pada departemen luar negeri semuanya beres.”

Baiklah … kalau begitu Lisa, kuminta kamu membantu kami masuk. Kita datang sebagai siswa seni dari New York, dan kamu adalah pemandu kami. Kita akan masuk pukul 12 siang tepat sesuai protokol. Menurut informasi yang kudapatkan, di Museum Picasso saat ini tersimpan sebuah skrip orisinil dari Les Demoiselles d’Avignon karya Picasso.”

Karena kita siswa seni biasa, meminjamnya akan sulit. Makanya aku telah meminta bantuan departemen luar negeri dan kepala asosiasi museum internasional untuk memberikan surat permohonan. Kuharap dengan itu jalan kita dapat dipermudah” Ani menambahkan.

Dan kode yang tertinggal di dalamnya harus dapat kita pecahkan dalam 24 jam sebelum kita harus mengembalikannya kembali.” Lanjut Nandha.

Lisa hanya menghela napas, “Sepertinya aku tak akan mendapatkan penjelasan sebelum membantu kalian masuk. Baiklah … aku akan bersiap.”

Bagus kita masih punya waktu 60 menit sebelum operasi ini di mulai. Kuharap semuanya berlangsung baik.”

Ruangan pun dikosongkan, hanya meninggalkan tanda tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Peperangan tak lebih layaknya dadu yang dilemparkan, hanya saja dia dilempar oleh dua tangan dari orang yang berbeda. Sentuhan jari di udara dapat merubah arah angin, walau tak pasti ke mana.

Sementara itu di sebuah ruangan berkelas di Grand Hôtel Jeanne d’Arc – 3 Rue de Jarente. Beberapa orang sedang melakukan aktivitas yang tidak mirip sebagai tamu hotel, ruangan itu lebih mirip seperti mobile interagency base yang sedang trendi belakangan ini.

Mereka akan segera bergerak.” Kata salah seorang yang menggunakan headset.

Dasar anak-anak, mereka pikir diri mereka hebat. Bahkan mereka sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakan mereka sudah dalam genggaman.” Tampak seorang pria separuh baya dengan kacamata bulat sedang duduk di balkon dengan menghisap cerutu.

Apa yang akan kita lakukan.”

Kita akan ikuti permainan mereka …, Nina bersiagalah di tempat aku ingin kamu mengeksekusi anak yang membawa skrip itu.”

Baiklah … tapi aku perlu rifle baru.”

Jangan khawatirkan itu. Aku akan menggabungkan diri di antara mereka. Tembaklah anak yang kuberikan tanda.” Orang yang tampaknya seperti pimpinan operasi itu membenahi jasnya dan dasi yang ia kenakan. “Kita harus mendapatkan apa pun yang mereka cari, karena mungkin itu kunci satu-satunya untuk menyelesaikan masalah kita.”

Kemudian dia berdiri dan mengenakan jasnya. Layaknya seorang kolektor benda seni, dia dan beberapa orangnya meninggalkan hotel itu.

Picasso Hôtel de Juigne Salé – 5 Rue de Thorigny

Setelah percakapan selama sejam dengan manajer, akhirnya Div mendapatkan izin meminjam skrip tersebut selama sehari. Dia dan yang lainnya pun segera meninggalkan museum tersebut.

Saat keluar dari pintu utama seseorang asing tampak menyapanya. “Ah … rupanya kalian adalah siswa dari Sekolah Seni Internasional Lennon yang termasyhur.” Kata orang tersebut sambil menunjukkan ke arah tulisan “Lennon – International School of Art” di jaket yang anak-anak tersebut kenakan.

Anda tahu tentang sekolah kami?” Tanyanya.

Ya … tentu saja, setahun sekali aku berkunjung ke sana. Salah satu keponakanku juga ada di sana.” Dia termenung sebentar, “Apa kalian ke sini untuk melihat-lihat lukisan?”

Sama sekali tidak, kami ke mari untuk meminjam skrip Les Demoiselles d’Avignon yang asli.” Dengan tenangnya Div menyampaikan maksud mereka, walau yang lain tampak keheranan.

Mungkin karena seharusnya hal ini dirahasiakan, namun tak ada yang memprotes, karena selain dapat menambah kecurigaan, sikap Div yang tetap waspada membuat mereka yakin.

Benarkah … itu karya besar Picasso pada 1907. Yang kutahu lukisan itu sekarang tersimpan di Museum of Modern Art – NY.”

Ya … tentu saja.”

Bolehkah aku melihat skrip itu, sebentar saja.”

Mereka berlima saling pandang, “Baiklah tapi hanya sebentar karena kami harus segera kembali, okay?”

Lawan bicaranya hanya mengangguk dan tersenyum.

Div pun mengeluarkan skrip itu dari koper kecilnya.

Aha ….” Kata orang asing itu sambil menjentikkan jarinya ke udara.

Pada saat bersamaan, sebuah peluru rifle sunyi menembus atap udara kota yang ramai itu. Begitu memburu untuk mendapatkan sasarannya.

Dalam hitungan milidetik peluru itu menghujam tepat di arah bahu sasarannya, sang korban jatuh tersungkur.

Orang-orang sekitar mengalihkan pandangannya ke arah yang sama, namun bayang-bayang sejumlah orang-orang berpakaian serba hitam segera menutupi daerah kejadian dengan cepat. Beberapa mobil pribadi segera meluncur dari tempat itu.

Salah satunya adalah sebuah limusin putih dengan tanda bendera kedutaan Inggris, melesat cepat meninggalkan Rue de Thorigny menuju Rue Sainte-Anastase kemudian membelok ke Rue du Turenne, dan akhirnya menuju Rue Saint-Claude sebelum mobil mewah itu melaju pelan di Grand Boulevard.

Tampak seorang wanita berpenampilan mirip orang Rusia sedang berusaha menenangkan dirinya di dalamnya. Berkali-kali berusaha menelan sesuatu yang sebena
rnya tak ada kecuali kegugupan.

Maaf membuat Anda terkejut Madame Nina, tapi kami memang harus melakukan ini dengan cepat.” Kata seorang gadis berambut pirang.

Siapa sebenarnya kalian?”

Maafkan kami belum memperkenalkan diri, saya Div pimpinan operasi ini … maksudnya … saya sahabat putra Anda – Carlos Flamel.”

Carlos …? Bagaimana keadaannya saat ini.” Terbata-bata dalam kegugupan, wanita itu menyadari ia tidak dikelilingi oleh anak-anak biasa.

Div bergiliran menatap sahabatnya, dengan tenang dia berkata, “Bersabarlah madame, tunggu sebentar hingga kita sampai di tujuan.” Dia berhenti sejenak, “Namun sebelum itu ada sesuatu yang secara pribadi ingin saya tanyakan. Jika Anda tidak berkeberatan tentunya.”

Saya … sama sekali tidak keberatan.” Katanya dengan tergugup.

Apakah benar sebelum Anda menikah dengan Billy Flamel, nama Anda adalah Nina Stenkofic … dan Anda adalah putri tunggal Morei Stenkofic?”

Wanita itu terlihat sangat kaget, dia selalu menyimpan rahasia ini. Tak ada seorang pun yang seharusnya tahu kecuali dia dan kedua almarhum orang tuanya. “Div, jika kukatakan ‘ya’ apakah kamu akan menyerahkanku ke polisi?”

Madame Nina, kami tak bermaksud demikian. Monsieur Stenkofic adalah masa lalu dari kita semua. Apa yang terpenting saat ini adalah menuju masa depan.”

Mobil itu akhirnya berhenti di Rue du Fauconnier di sebuah taman kecil Square de I’Ave Maria.

Nah Madame kita telah tiba, mari …” Div dengan sopan membukakan pintu.

Wanita itu menurut saja, dan alangkah terkejutnya dia melihat dua sosok yang menunggu di taman itu. Seorang laki-laki agak gemuk namun rapi, dan seorang anak kecil yang sangat dikenalkan.

Bill … Carlos …?” ucapnya dengan setengah membisik. Dan berlari memeluk dua orang tersebut.

Dari kejauhan Div dan yang lainnya menyaksikan pemandangan mengharukan itu.

Christine mendekati Div, “Bukankah nama yang kamu sebutkan tadi – Morei Stenkofic adalah assassin dan sniper legendaris itu?”

Benarkah?” Kembali anak itu memasang wajah bodohnya.

Tentu saja kawan, tapi bagaimana kamu bisa tahu dia putrinya?” tanya Nandha keheranan.

Ya … tambah lagi bagaimana bisa kamu menyembunyikan semua itu dari kami?” Lisa mengulangi kejengkelannya tadi pagi, hanya saja kali ini bukanlah sandiwara. Setidaknya dia sudah sedikit lega rumahnya bebas dari hama – setelah terpaksa pura-pura tidak tahu bahwa belasan alat penyadap telah terpasang di kediamannya oleh mereka yang mereka perangi.

Apakah itu penting, … setidaknya lihatlah mereka … begitu bahagia.” Div menunjuk ke arah orang-orang yang mereka bantu. “Mari kita ke sana dan memberi selamat.”

Sementara Div berjalan menjauh, Ani mendekati Christine. “Kakak, apa belum juga memberi tahu Div bahwa kalian bertunangan?”

Biar saja … dia akan tahu jika sudah waktunya, aku ingin memperolehnya karena cinta dan perasaan … bukan karena ikatan yang dibuat.” Wajah Christine memerah … dia bisa melihat seandainya masa depan begitu berbahagia layaknya orang-orang tersebut.

Jika demikian sebaiknya kamu berhati-hati. Maksudku, … Div itu dapat dikatakan mengerikan … kematian palsu, penelusuran sejarah kejahatan, perencanaan penangkapan di tengah keramaian, bahkan pembebasan sandera yang akan menembak mati dirinya. Mungkin dia akan tahu tentang pertunangan itu cepat atau lambat walau kita berempat tutup mulut.” Lisa menghela napas panjang.

Nandha yang kemudian menatap langit, “Benar sekali, Div sahabat baik kita. Kita sangat mengenalnya, mungkin dia terlihat cerdas … memang sih dia cerdas atau bijaksana. Namun bagaimanapun juga, perasaannya juga terlalu peka … aku tak dapat membayangkan bagaimana jika dia tahu tentang kebenaran yang disembunyikan oleh kita semua.”

Kita akan khawatirkan itu kemudian, aku percaya … jika dia memang sahabatku. Kata maaf tak akan diperlukan.” Christine tersenyum dan berjalan menuju Div.

Ketiga anak yang tersisa saling pandang, dan menghela napas panjang. Seakan mereka ingin mengatakan bahwa anak yang satu ini terlalu percaya diri.

Wanita tadi menyambut Div dan teman-temannya dengan wajah gembira. “Maafkan kami yang telah merepotkan kalian. Saya sama sekali tak menyangka, kalian bukan anak-anak biasa.”

Sama sekali tidak Madame, justru semua ini berkat kecerdasan putra Anda. Rekaman Requiem yang dari latarnya teleponnya telah disisipkan pesan suara yang cerdik.” Div tersenyum pada Carlos.

Ah … tidak juga. Akukan belajar cara itu darimu Div.” Carlos membungkukkan diri di hadapan sahabatnya sebagai tanda terima kasih. “Sebenarnya aku sempat bingung harus menghubungi siapa dalam waktu sesingkat itu, namun Cuma kamu yang bisa kupercaya untuk masalah sepelik ini sahabat.”

Div pun hanya membungkuk dan tersenyum.

Bagaimana kami dapat berterima kasih?” Pria gemuk yang tak lain adalah ayah Carlos.

Well Monsieur Flamel, kami senang dapat membantu sahabat kami Carlos. Namun bagaimanapun juga kami profesional, pembiayaan atas semua operasi ini tetap dibebankan pada klien.”

Kami akan membayarnya.”

Anda tak dapat menggantikan empat ratus ribu dolar Monsieur, tapi ada yang dapat Anda lakukan untuk kami.”

Billy agak pucat, dia sama sekali tak menyangka bahwa akan ada tagihan sebesar itu. Namun dia tetap berusaha untuk tenang.

Apa itu Div?”

Begini Carlos, kamu tahukan bahwa Keluarga Airavatha memiliki sebuah jaringan restoran di seluruh dunia. Nah … besok akan dibuka cabang baru daerah Steen River – Alberta Canada. Dia ingin keluarga kalian mengelolanya, karena dia belum menemukan orang yang tepat.”

Mereka semua pun tertawa … Div hanya tersenyum. Dia tahu bahwa semuanya seperti panggung sandiwara … dan tentunya hadirin akan mengharapkan akhir yang selayaknya.

Sebuah kisah yang dibentangkan di atas pilar-pilar yang rapuh, tiupan angin akan menggoyangkan arah ceritanya. Bagaikan Bunga perdu yang mekar di taman liar, hanya tertutupi tumpukan dedaunan yang mengering.

Namun bunga yang mencapai sentuhan pertama mentari, sungguhlah langka dan tak akan selalu ada di putaran waktu yang sama.

Malam itu Div mengetuk pintu kamar Christine.

Jika kamu tak ada kesibukan, bagaimana jika kuminta menemaniku makan malam … di Eiffel?”

Christine hanya tersenyum, dia menggenggam tangan sahabatnya. Dan mereka pun pergi.

Sementara di balkon atas. “Bagaiamana ini?” Nandha menatap kosong, “Kita bertiga ditinggal begitu saja.”

Bagaimana kalau kita juga makan malam di sana?”

Mereka saling pandang, dan tersenyum. Seolah malaikat kemenangan menari-nari di sekitar kepala mereka. Lagi pula mereka telah melihat memo yang ditinggalkan Div di meja kerja kamar menginap Christine.

Sebenarnya siapa di antara kita bertiga yang tahu ini sandi apa?” Nandha penasaran menatap kertas memo itu, namun dua sahabatnya yang lain hanya tersenyum-senyum saja.

Fine

A part of Novel “Not the Last” by

Iklan

6 pemikiran pada “Reine de Requiem

  1. Dian

    setiap masa kecil selalu memiliki kebebasan imajinasi yang luar biasa. seharusnya kita pelihara kebebasan imajinasi itu sampai tua ya, biar punya karya-karya besar

    Suka

    1. Dian,

      Namun yang paling berharga kadang melihat lagi suatu ketika nanti apa yang bisa kita kerjakan di waktu kecil menjadi seperti harta karun dalam perjalanan hidup kita, hal-hal yang membahagiakan.

      Suka

  2. citromduro

    salam kenal aja
    bahasanya banyak macam jadi baca yang ngerti aja tidak kesemuanya dibaca soalnya tidak adapa jawaban kalau baca yang tidak dimengerti

    Suka

  3. Cahya

    Mbak Hidayanti,

    Terima kasih, dulu sewaktu sekolah saya sering sakit (walau sekarang masih), jadi punya banyak waktu luang untuk bolos dan menulis.

    Tapi sekarang sudah semakin sibuk (sebenarnya sih makin malas 😀 ), jadi yah hanya bisa membuka lembar-lembar lama kembali.

    Salam kenal Mbak.
    .-= Cahya´s last blog ..Reine de Requiem =-.

    Suka

  4. hidayanti

    :yes:
    nice story … masa kecil ku tak kuhabiskan untuk membaca novel seperti ini.. jadi story ini aku rasa menjadi novel yang baru 😀 hehehe makasih ya… gud job

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.