Konjungtivitis

Konjungtivitis (eng: conjunctivitis) adalah suatu bentuk inflamasi (peradangan) akut pada konjungtiva (lihat gambar) yang sebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, alergi, atau iritasi. Secara endemik ataupun epidemik, konjungtivitis dapat berhubungan dengan campak (measles) dan rhinofaringitis pada anak-anak. Tanpa adanya perawatan yang higienis dan efektif, infeksi bakteri sekunder dapat berkembang, mempengaruhi kornea (keratitis) dan dapat menyebabkan kebutaan pada perkembangannya kemudian.

Tanda Klinis

  • Tanda klinis semua jenis konjungtivitis meliputi: mata yang merah dan teriritasi. Visus (visual acuty) tidak terpengaruhi.
  • Tergantung penyebabnya:
    • Sekresi yang banyak dan purulen, kelopak mata melekat satu sama lain saat terbangun, saat onset merupakan bentuk infeksi unilateral: konjungtivitis bakterial.
    • Sekresi berair (serosa), tidak gatal: konjungtiviis viral.
    • Lakrimasi berlebihan, edema kelopak mata, gatal yang amat sangat: konjungtivitis alergika.
  • Pada area endemik, balikkan kedua kelopak mata atas untuk melihat tanda trachoma.
  • Curigai keratitis apabila pasien melaporkan nyeri berat (lebih daripada yang biasanya dikeluhkan pada konjungtivitis) dan fotofobia. Pemeriksaan flurosensi dapat berguna untuk memeriksa kemungkinkan adanya ulkus.
  • Selalu periksa ada tidaknya benda asing (daerah subkonjungtiva dan kornea), serta ambil setelah memberikan tetes mata anestetik oxybuprocaine 0,4% (maksimal 2 tetes). Jangan memberikan tetes mata botolan ke pasien.

Terapi

  • Konjungtivitis bakterial
    • Bersihkan mata dengan air yang telah dididihkan atau sodium klorida (larutan NaCl) 0,9% sebanyak 4 hingga 6 kali dalam satu hari.
    • Berikan salep (ointment) mata tetracycline 1% 2 kali/hari selama 7 hari pada kedua mata.
    • Jangan gunakan tetes mata atau salep yang mengandung kortikosteroid.
  • Konjungtivitis viral
    • Bersihkan mata dengan air yang telah dididihkan atau larutan sodium klorida 0,9% sebanyak 4 hingga 6 kali/hari.
    • Berikan antibiotik lokal jika terdapat suatu (risiko) infeksi bakteri sekunder.
  • Konjungtivitis alergika
    • Terapi lokal sebagaimana konjungtivitis viral.
    • Antihistamin selama 1 hingga 3 hari:
      • Promethazine PO:
      • Anak-anak 2 – 5 tahun: 5 – 15 mg 1 kali/hari atau dalam 2 dosis terbagi.
      • Anak-anak 5 – 10 tahun: 10 – 25 mg 1 kali/hari atau dalam 2 dosis terbagi.
      • Anak-anak di atas 10 tahun dan dewasa: 25 – 50 mg 1 kali/hari atau dalam 2 dosis terbagi.
      • atau dengan Chlorphenamine PO:
      • Anak-anak 2 hingga 5 tahun: 1 mg diulangi 4 hingga 6 kali sehari tanpa melebihi 6 mg/hari.
      • Anak-anak 6 hingga 12 tahun: 2 mg diulangi 4 hingga 6 kali sehari tanpa melebihi 12 mg/hari.
      • Dewasa: 4 mg diulangi 4 hingga 6 kali sehari tanpa melebihi 24 mg/hari.
  • Perhatikan jika ada benda asing, periksa status imunisasi tetanus.

Konjungtivitis neonatal

Konjungtivitis karena Neisseria gonorrhoaea dan/atau Chlamydia trachomatis pada anak baru lahir pada ibu yang terinfeksi.

Tanda Klinis

  • Konjungtivitis purulen dalam 28 hari pertama kehidupan.
  • Konjungtivitis gonococcal biasanya terjadi 2 hingga 7 hari pasca kelahiran. Infeksi terjadi bilateral dalam 50% kasus, sangat menular dan dapat dengan cepatnya mengarah ke lesi-lesi korneal dan kebutaan.
  • Konjungtivitis chlamydil biasanya terjadi pada 5 hingga 14 hari pasca kelahiran. Infeksi lebih umum unilateral.

Pencegahan

Secepatnya setelah persalinan:

  • Bersihkan kelopak mata dengan larutan sodium klorida 0,9% secara aseptik/steril.
  • Berikan salep (ointment) mata tetracycline 1% satu kali pada kedua mata.
    • Gagal hal tersebut, gunakan nitrat argentum (perak/silver) 1%: satu tetes pada kedua mata (nitrat argentum bersifat toksin, dan sulit disiapkan dan disimpan dalam bentuk solusio. Oleh karenanya tidak sesuai untuk kondisi terisolasi).

Catatan jika ada infeksi virus herpes simpleks pada saat persalinan:

  • Bersihkan kelopak mata dengan sodium klorida 0,9%
  • Berikan salep (ointment) mata aciclovir 3% satu kali pada kedua mata, lalu tunggu hingga 12 jam untuk memberikan salep mata tetracycline 1%.

Terapi

Pada tingkat lapangan

  • Terapi merupakan kegawatan, dan anak harus dirujuk. Ketika tidak dimungkinkan perujukan ke rumah sakit dengan segera, bersihkan dan berikan salep mata tetracycline 1% ke dua mata setiap jamnya, hingga terapi sistemik tersedia.

Pada tingkat rumah sakit

  • Jika memungkinkan, isolasi bayi baru lahir selama 24 hingga 48 jam.
  • Terapi pilihan adalah ceftriaxone IM: 50 mg/kg sebagai dosis tunggal (tanpa melebihi 125 mg) hanya jika mata terinfeksi. [Jika tidak dapat, gunakan spectinomycin IM: 25 mg/kg sebagai dosis tunggal, tidak melebihi 75 mg].
  • Bersihkan mata dengan larutan isotonis steril (sodium klorida 0,9% atau Ringer Lactate) untuk mencegah sekresi melekat (membentuk perlekatan), dan berikan salep mata tetracycline 1% 4 kali sehari.
  • Jika terapi sistemik tidak segera tersedia, berikan salep mata tetracycline pada kedua mata setiap jamnya hingga terapi tersedia.
  • Terapi juga Ibu dan pasangannya.
  • Jika terapi dengan ceftriaxone gagal, terapi untuk chlamydia: erythromycin PO: 50 mg/kg/hari dalam 2 atau 3 dosis terbagi selama 14 hari.

Sumber: Clinical Guidelines – Diagnosis & Treatment Manual 7th Edition 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.