Parlemen Daring

Dalam ensiklopedia bebas ‘wikipedia’ berbahasa Inggris, kata parlemen yang diambil dari bahasa Inggris parliament, yang dijelaskan sebagai berikut:

A parliament is a legislature, especially in those countries whose system of government is based on the Westminster system modeled after that of the United Kingdom. The name is derived from the French parlement, the action of parler (to speak): a parlement is a discussion. The term came to mean a meeting at which such a discussion took place. It acquired its modern meaning as it came to be used for the body of people (in an institutional sense) who would meet to discuss matters of state.

Sidang Abad Pertengahan

Meskipun terapan parlemen modern saat ini dimodelkan dari sistem legislatif di Kerajaan Inggris, kata parlemen sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘berbicara’. Pun juga tidak banyak yang mengenal bahwa sistem menyerupai parlemen sudah ada sejak zaman India kuno, dalam teks-teks Veda, perkumpulan menyerupai parlemen dikenal sebagai Shaba dan Samiti. Di nusantara istilah shaba juga dikenal umum, dan lebih mendekati pada makna kata “pertemuan”. Parlemen kita menggunakan istilah Shaba Paripurna [shaba= pertemuan; pari = lingkaran; purna=penuh/akhir], yang bermakna pertemuan ketika semua tugas berakhir, atau pertemuan dalam rangka mengakhiri lingkaran tugas. Di Bali istilah shaba juga dikenal untuk menyebutkan kata rapat.

Parlemen menjalankan fungsi legislatif pada suatu pemerintahan atau kelompok masyarakat. Mereka merupakan kelompok tugas khusus yang berkumpul di tempat khusus guna membahas permasalahan negara dan hubungannya dengan rakyat, dapat dikatakan mereka adalah orang-orang yang menjadi perwakilan bagi kelompoknya atau masyarakat secara umum dalam tatanan bernegara. Karenanya di negara kita juga di sebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Sedangkan daring mungkin belum banyak yang mengenal istilah ini, bukan istilah baku memang. Daring merupakan kepanjangan dari “dalam jaringan”, yang dalam bahasa Inggris-nya kita sering gunakan sehari-hari sebagai kata online. Ya, saya hanya sekadar ingin membahasakannya ke dalam Bahasa Indonesia, walau tentu lebih banyak orang saat ini lebih memilih tetap bertahan pada istilah lama. Tapi bukan itu fokus bahasan kita saat ini.

Sebelumnya marilah kita kembali ke beberapa topik hangat yang melanda negeri ini dalam beberapa waktu ke belakang mengenai konflik di antara dua lembaga negara yang berfungsi sebagai penegak hukum antara KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan POLRI (Polisi Republik Indonesia). Sebagaimana yang saya tuliskan sebelumnya pada Cicak Vs Buaya: Antara Politisasi dan Realita Negeriku, belumlah jelas dan tegas secara hukum siapa-siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa-siapa yang benar. Dan banyak pihak yang semakin tidak puas dengan semakin lamanya kasus ini terselesaikan.

Namun tampaknya rakyat di mana-mana telah secara dominan menyuarakan dukungan yang sama. Dukungan-dukungan ini datang secara daring di dunia maya, baik melalui jejaring sosial berupa situs perkawanan seperti facebook, maupun situs weblog seperti twitter. Marilah kita singkirkan dahulu praduga dan berbagai kekhawatiran politisasi keadaan, atau ada yang hendak memancing di air keruh.

Sebagian besar masyarakat melalui internet telah memberikan dukungan pada KPK untuk terus berjuang melawan korupsi di Indonesia, dan berada di pihak KPK dalam kisruh kali ini. Suara mereka telah mengalir di dunia maya. Namun beberapa hal yang mengejutkan tampaknya terjadi, parlemen yang menjadi perwakilan rakyat justru bersuara sebaliknya.

Ini di luar pihak mana yang benar mana yang salah. Terkadang suara kita mungkin tidak didengarkan, ah…, aku sih sering kali melihat demonstrasi rakyat kepada anggota dewan rakyat agar aspirasi mereka didengar, namun tidak sering itu terwujud. Mungkin semua suara yang disuarakan masyarakat di dunia maya tidak cukup mewakili seluruh apresiasi rakyat Indonesia? Yah…, itu tak akan pernah kuketahui.

Atau justru sebaliknya, suara-suara ini adalah suara rakyat yang sesungguhnya yang menjadi suatu pandangan umum di mana bukan lagi masalah benar dan salah, namun itulah harapan rakyat kita? Dan menjadikan dunia maya sebentuk lembaga legislatif yang tak kasat mata? Mungkin inilah yang akan membentuk parlemen daring. di mana masyarakat bisa bersatu dan bersuara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s