Jualan Nasi pun Perlu Profesionalisme

Ini bukan masalah tentang perdagangan skala besar, dengan banyak cabang di mana-mana. Namun tentang masyarakat biasa yang membuka warung-warung sederhana di pinggir jalan atau gang-gang.

Saya sudah lama tinggal di Yogyakarta. Kehidupan di sini lumayan masih sederhana, dan jauh dari gedung-gedung dengan berbagai sentuhan kemewahan modernisasi sebagaimana di kota-kota besar. Segala sesuatunya masih cukup terjangkau di sini, setidaknya untuk hidup akan lebih murah daripada di wilayah lain, namun saya tidak tahu mengenai lapangan kerja.

Malam itu saya sudah mulai agak kelaparan, saya berpikir untuk segera mencari makan. Saya biasanya memilih menu yang memiliki sayuran hijau, namun di Yogja lumayan sulit mencari menu dengan sayuran setelah matahari terbenam. Biasanya lebih banyak warung tenda yang buka dengan menu lauk hewani yang digoreng atau dibakar, unsur nabatinya pun hanya berupa tahu tempe dan lalapan. Padahal sayuran hijau adalah salah satu alasanku memilih rumah makan.

Namun ada yang menyediakan nasi dengan sayuran di malam hari, biasanya adalah warung burjo. Anehkah, tidak juga. Karena beberapa tahun belakangan ini warung burjo mengadakan revolusi di dalam hidangannya, tidak lagi sekadar bubur ketan hitam dan bubur kajang hijau bersantan.

Saya pun mendatangi salah satu warung terdekat, dan segera memesan nasi sayur, saya lihat mereka masih memiliki banyak porsi sayurnya.

Salah satu pedagang mengambil piring dan membuka tempat penghangat nasinya. Dia terbengong beberapa saat, seakan berpikir sesuatu, kemudian dia membuka sebuah panci di atas kompor gas yang menyala, aku bisa melihat nasi yang sedang ditanak. Dia kembali terdiam cukup lama sebelum kemudian menghampiri saya kembali.

Maaf Mas, nasinya belum matang, tadi gas-nya sempat habis…” bla… bla… bla…, dan masih panjang lagi. Namun satu hal yang jelas, itu tidak memberikanku keterangan atau solusi yang bermakna.

Saya teringat saat mengikuti seminar pembuatan proposal oleh Safir Senduk di Semarang yang diadakan oleh CIMSA. Kita tidak perlu menambahkan rencana anggaran dan pengeluaran serta rincian panitia acara pada proposal sponsoral, karena hal-hal itu tidak memberikan kejelasan yang bermakna bagi pihak sponsor, justru yang menjadi perhatian lebih banyak adalah apa keuntungan yang bisa didapatkan pihak sponsor dai acara kita, itulah yang perlu ditekankan.

Kembali ke ceritaku semula. Jualan juga adalah sebuah profesi, dan setiap profesi memiliki profesionalismenya masing-masing. Ini bukanlah hal yang rumit, profesionalisme bukanlah hal yang mesti digali hingga harus sekolah setinggi langit saya kira. Namun kecintaan kita akan suatu profesi akan melahirkan profesionalisme itu sendiri.

Alangkah lebih baik jika penyampaiannya menjadi seperti ini, “Maaf Mas, nasinya sedang ditanak, mungkin akan matang sekitar 15 menit lagi, apakah Mas mau menunggu nasinya matang, atau ingin mencoba menu lain?”

Kekuatan kata-kata yang sederhana adalah bagian dari profesionalisme, jangan sampai di negeri ini hanya restoran besar yang bisa menyajikan profesionalismenya dengan begitu hangat dan menawan, warung-warung masyarakat pun mesti bisa menampilkan hal yang setara bahkan lebih. Lha, katanya bangsa kita bangsa yang pandai beramah tamah.

Saya tidak suka melihat warung makan kecil yang memprotes restoran besar karena kehilangan pelanggan. Perbaiki dulu apa yang ada pada diri kita sebelum kita melemparkan kesalahan pada orang lain. Atau mungkin warung makan kecil yang bersikap tak acuh dengan pelanggan, karena berpikir profesionalisme itu mesti dibayar besar di meja makan antik berkarpet merah dengan menu mahal nan mewah.

Justru saya memberikan penghargaan lebih pada warung kecil yang merakyat, dengan keramahan rakyat, karena itulah profesionalisme yang merakyat. Saya katakan bahwa keramahtamahan itu tidak bisa dibeli walau bisa dijajakan, itu adalah nilai luar biasa yang tidak bisa diganggu gugat, itu adalah profesionalisme yang menggugah nurani dan memikat hati.

Iklan

2 pemikiran pada “Jualan Nasi pun Perlu Profesionalisme

  1. Benar sekali Bli Wira, profesi di Indonesia memang seperti yang Bli Wira sampaikan. Makanya ada yang istilah pendidikan profesi – CMIIW.

    Namun saya seringkali mendengar dialog-dialog sederhana, seperti

    Sir, what are you profession?” Bapak itu kemudian menjawab, “I am a scluptor” – Mungkin pertanyaannya bermaksud, apa mata pencaharian Anda, tapi tidak sopan rasanya bertanya “What are you earn for living” atau pun “What are work on?” Saya juga kadang bingung, mengapa justru dalam tatanan formal orang lebih suka mengatakan “profession“. Tapi nyatanya pematung tidak selalu butuh sekolah.

    Saya terkadang mengalami kesulitan tata bahasa. Terima kasih sudah Bli Wira koreksi 🙂

    Suka

  2. sebelumnya mohon maaf, saya sebenarnya setuju dengan isi tulisan ini, dimana setiap pekerjaan dibutuhkan keseriusan dan teknik tersendiri untuk memuaskan konsumen. Tapi saya kurang setuju kalau menyebut jualan nasi dalam tulisan ini disebut sebagai profesi, jualan nasi itu pekerjaan, karena ada perbedaan mendasar antara profesi dan pekerjaan (kebetulan saya ngajar mata kuliah etika profesi, hehehe).

    menurut teorinya, suatu pekerjaan dapat disebut profesi apabila dalam pekerjaan itu dibutuhkan latar belakang pendidikan tertentu, keahlian yang up to date serta adanya organisasi profesi. contoh profesi : dokter, guru, dll.

    btw, sory kepanjangn dan sok kritis, heehe… lagi niat komen 🙂
    .-= wira´s last blog ..Ganti Theme Blog WordPress =-.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.