Bukannya Aku tak Setuju dengan Perjodohan

Perjodohan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di seluruh muka bumi dengan berbagai tradisi dan kebudayaannya. Di mana-mana kita bisa menemukan ini terjadi dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Dari jodoh-jodohan sederhana anak-anak sekolah, walau mungkin hanya beberapa yang serius – dan aku teringat betapa konyolnya kami ketika masa-masa itu di antara murid-murid yang berlarian di halaman sekolah. Perjodohan antar keluarga yang telah berkesepakatan. Atau pun mereka yang mencari pasangannya lewat biro jodoh. Bahkan beberapa waktu belakangan ini, biro jodoh juga masuk ke dalam tahap yang meluas, seperti melalui media televisi maupun internet.

Perjodohan mempertemukan banyak jiwa sehingga dapat berpasangan dan menghadirkan keharmonisan di muka bumi. Walau tentu tidak semua kisah berjalan sesuai dengan harapan baik salah satu maupun kedua pihak. Ada hal-hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan manusia.

Lalu, bagaimana dengan pendapatku sendiri?

Selama aku masih memiliki ego ini, kurasa aku akan selalu memandang dunia dalam dua hal yang berbeda. Ada yang baik ada yang buruk, ada menyedihkan ada yang membahagiakan. Ikatan emosi dan segala yang berbaur di dalamnya.

Orang bilang manusia hanya memiliki satu hati, dan itu begitu rapuh meski ia mampu menahan hujan badai kehidupan. Dan aku yang membawa hati ini dalam setiap langkahku, begitu mengenal apa-apa yang menjadikan berdegup kencang, yang menjadikannya tenggelam, atau pun menjadikannya berlari dengan begitu gigih.

Aku suka berjalan-jalan di tengah hutan kecil yang mulai bergeser batasnya oleh persawahan dari masyarakat kita yang agraris. Berjalan di bawah dedaunan yang rimbun dan di atas tumpukan dedaunan yang telah mengering setelah terjatuh dari dahannya. Dengan kicauan burung-burung yang menunggu para petani meninggalkan padi-padinya yang hijau, sehingga mereka dapat mencari makan tanpa ketakutan. Aku tidak tahu bagaimana alam menciptakan perjodohan di antara mereka, bagaimana burung-burung dan hewan-hewan lain menemukan pasangan mereka, bagaimana pohon-pohon tetap merindangkan dunia kecil ini walau mereka semakin menyempit.

Dalam hutan kecil yang tak seberapa itu, aku bisa menyentuh kesederhanaan dan keharmonisannya. Seakan mereka tak memaksa untuk selalu bersama, namun ketika bersama, mereka memberikan ketenteraman bagi sesamanya. Sementara di dunia ketika kulangkahkan kaki keluar dari keceriaan yang sunyi itu, aku menemukan hiruk pikuk dunia. Mereka yang memburu kebersamaan, mereka yang takut kesepian, sebagaimana diriku yang selalu bertanya pada hatiku, apakah ini jua yang menjadi cerminan asamu? Aku yang manusia ini bisa berkata tidak takut akan apapun, namun akankah ia berani menghadapi kesendirian?

Bayangku akan kehidupan bisa memudar dengan cepat. Ketika lari dari kesendirian ke dalam keramaian, tidak ada yang berubah, aku rindu pada kesahajaan yang tak merunduk oleh hasrat manusia akan kesempurnaan kehidupan. Mengapa menyeret waktu kita ke dalam kebersamaan ketika kita tak memahami maknanya. Mengapa takut kesepian menghampiri hidup yang sekejap ini, sehingga kita mengekang diri kita dalam kurungan dan memajang figur-figur yang membuat kita merasa aman di tembok-tembok yang telah menghapus nurani dari pandangan kita.

Kita telah memancang ketakutan dan air mata kita di bawah jeruji penolakan akan kesepian itu, dan menjadikan kita manusia yang buta dan tuli akan kesederhanaan kenyataan. Dan ketika tembok itu rubuh dan jeruji itu terhempas oleh suatu kehilangan, barulah orang membuka diri terhadap betapa ia tidak melihat dan mendengar suara kehidupan yang selama ini bersamanya.

Karenanya…

Aku tak dapat berlari begitu saja menuju kebersamaan ketika aku sadar waktu dan kesepian menjadi bayangku. Aku tak akan memburu diriku membangun benteng yang megah ketika kulihat sendiri aku serapuh debu yang akan dengan mudah terhempas oleh hembusan kesendirian.

Karenanya…

Aku bukannya tak setuju dengan perjodohan, namun aku ingin tetap memahami kehidupan ini. Sehingga siapa pun yang kan mendampingiku nanti, aku akan memahaminya karena ia adalah bagian dari kehidupanku. Aku menerimanya bukan karena aku lari dari kesendirian karena akulah kesepian itu, dan aku menerimanya karena ia jugalah bagian dari kehidupan ini yang sesungguhnya satu dan utuh, ya, karena hidup ini adalah kasih, dan kasih itu selalu menyatukan.

Iklan

2 Comments

    1. Hmmm…, bagaimana ya Bli, kalau sudah tiba dengan sendirinya, tidak ada yang bisa membendung perasaan itu untuk muncul ke permukaan.

      Kalau memang berjodoh mau dijodohkan orang lain atau diri sendiri, saya rasa pasti akan bertemu di kehidupan ini 🙂

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.