Menyelami Catur Yoga dan Mahavakya

Ini adalah diskusi lama antara Jiddu Krishnamurti dan Svami Vankatesananda yang kuterjamahkan bebas beberapa tahun yang lalu. Terkadang aku suka mengutipnya kembali, dan membacanya kembali. Seperti masuk ke dalam kehidupan yang selalu baru.

Hari ke-1 Saanen, 25 Juli 1969 … Penyelidikan cermat Catur Yoga (Empat Jalan Hidup)

SVAMIJI: Krishnaji, saya datang sebagai pembicara dengan kerendahan hati pada seorang guru, tidak dalam pengertian pemujaan tokoh namun dalam pengertian yang sebenarnya, sebagai penghilang kegelapan kebodohan, yang merupakan makna kata guru. ‘Gu’ berarti kegelapan kebodohan dan ‘ru’ berarti sang penghilang, sang penghalau. Oleh karena itu guru adalah cahaya yang menghilangkan kegelapan kebodohan, dan Anda adalah cahaya itu bagi saya saat ini. Kita duduk di dalam tenda mendengarkan Anda, dan saya tak dapat membantu memvisualisasikan adegan yang serupa. Sebagai contoh, Buddha sedang mengarahkan para Bikhu, atau Vasishta sedang memberikan wejangan pada Rama di halaman kerajaan Dasaratha. Kita memiliki sedikit contoh guru-guru ini dalam Upanishad; pertama ada Varuna, sang guru, ia teramat mirip dengan Anda. Ia semata-mata menyampaikan pada para muridnya kata-kata ‘Tapasa Brahma… Tapo Brahmeti’. Apakah itu Brahman? Jangan tanyakan saya. Tapo Brahman, tapas, kesederhanaan (austerity= dengan keras) atau disiplin atau sebagaimana Anda sendiri sering sampaikan, ‘Temukanlah’. Dan murid itu sendiri menemukan sang kebenaran, meskipun melalui tahapan-tahapan. Yajnyavalkya dan Uddhalaka mengadopsi pendekatan yang lebih langsung. Yajnyavalkya mengintruksikan istrinya Maitreyi, menggunakan metode neti-neti. Anda tidak bisa mendeskripsikan Brahman secara positif, namun ketika Anda menghilangkan (eliminasi) semua yang lain, ia ada. Sebagaimana Anda katakan di hari yang lalu, cinta tidak dapat dilukiskan, ‘inilah ia’, namun hanya dengan mengeliminasi apa yang bukan cinta. Uddhalaka menggunakan beberapa perumpamaan (analogi) agar memungkinkan murid-muridnya melihat kebenaran dan kemudian memakunya dengan ungkapan ternama Tat-Twam-Asi. Dakshinamurti menginstruksikan murid-muridnya dengan kesunyian dan Chinmudra. Dikatakan bahwa Sanatkumaras mendatanginya untuk instruksi. Ketika saya membaca deskripsi akan apa Krishnamurti ketika ia masih pada usia muda, saya sering teringat hal itu. Para bijaksana tua ini datang padanya dan Dakshinamurti hanya tetap diam/hening dan menunjukkan Chinmudra dan para murid melihatnya serta tercerahkan. Sudah dipercaya bahwa seseorang tidak dapat melihat kebenaran tanpa bantuan, atau apapun yang Anda sebut untuk itu, dari seorang guru. Dengan jelas bahkan orang-orang yang secara rutin ke Saanen amat sangat tertolong dalam pencarian mereka. Kini, apakah menurut Anda mengenai peranan seorang guru, seorang pengajar, atau seorang yang membangkitkan?

KRISHNAJI: Tuan, jika Anda menggunakan kata guru dalam pengertian klasik, yang adalah penghilang kegelapan kebodohan, dapatkah orang lain, apapun adanya dia, tercerahkan maupun bodoh, sunguh-sungguh membantu melenyapkan kegelapan ini dalam diri seseorang? Anggaplah ‘A’ bodoh dan Anda adalah gurunya – guru dalam pengertian yang diterima, orang yang melenyapkan kegelapan dan orang yang membawa beban orang lain, orang yang menunjukkan – dapatkah seorang guru menolong orang lain? Atau lebih gamblang dapatkah sang guru melenyapkan kegelapan orang lain? – bukan secara teori namun secara aktual. Dapatkah Anda, jika Anda sang guru , dapatkah Anda melenyapkan kegelapan orang lain, untuk orang lain? Mengetahui bahwa ia tidaklah bahagia, kebingungan, tidak memiliki cukup materi otak, tidak memiliki cukup cinta, atau menderita, dapatkah Anda melenyapkan itu? Atau haruskah ia bekerja dengan sangat hebat pada dirinya? Anda boleh saja menunjukkan, ‘Lihatlah, pergilah melalui pintu itu,’ namun ia harus melakukan kerja seluruhnya dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, Anda bukanlah guru dalam pengertian yang diterima akan kata itu, jika Anda mengatakan bahwa orang lain tidak dapat membantu.

SVAMIJI: Ia hanyalah seperti ini: yang ‘jika’ dan ‘tapi’. Pintu itu di sana. Saya harus melaluinya. Namun ada kebodohan ini tentang di mana pintu berada. Anda, dengan menunjukkan, melenyapkan kegelapan itu.

KRISHNAJI: Namun saya harus melangkah ke sana. Tuan, Anda adalah sang guru dan Anda menunjukkan si pintu. Anda telah menunaikan tugas anda.

SVAMIJI: Jadi kegelapan kebodohan dihilangkan.

KRISHNAJI: Tidak, tugas anda usai dan kini bagi sayalah untuk berdiri, melangkah, dan melihat apa yang terlibat dalam melangkah. Saya harus melakukan semua itu.

SVAMIJI: Itu sempurna.

KRISHNAJI: Oleh karena itu Anda tidak melenyapkan kegelapan saya.

SVAMIJI: Maafkan saya. Kini saya tidak mengetahui bagaimana untuk keluar dari ruangan ini. Saya bodoh akan keberadaan sebuah pintu pada sebuah arah tertentu dan sang guru menghilangkan kegelapan akan kebodohan itu. Dan kemudian saya mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk keluar.

KRISHNAJI: Tuan, marilah kita jernihkan ini. Kebodohan adalah kurangnya pemahaman, atau kurangnya pemahaman akan diri seseorang, bukan diri yang besar atau diri yang kecil. Si pintu adalah ‘aku’ yang saya harus lewati. Ia tidak berada di luar ‘aku’. Ia bukanlah sebuah pintu nyata sebagaimana pintu yang dicat. Ialah sebuah pintu di dalam ‘aku’ ke mana saya harus pergi. Anda berkata, ‘Lakukan itu.’

SVAMIJI: Tepat sekali.

KRISHNAJI: Anda, sebagai seorang guru, telah usai. Anda tidaklah menjadi penting. Saya tidak meletakkan karangan bunga di sekitar kepala anda. Saya harus melakukan semua kerja, semua kerja. Anda tidak melenyapkan kegelapan kebodohan. Anda telah, lebih tepat, menunjukkan pada saya bahwa, “Andalah si pintu melalui yang Anda sendiri harus pergi melaluinya.”

SVAMIJI: Namun akankah Anda, Krishnaji, menerima bahwa penunjukan itu diperlukan?

KRISHNAJI: Ya, tentu saja. Saya menunjukkan, saya melakukannya. Kita semua melakukannya. Saya bertanya seseorang di jalan, “Dapatkah Anda memberitahukan saya jalan yang mana menuju Saanen”, dan ia memberitahukan saya; namun saya tidak akan menghabiskan waktu dan ketaatan serta cinta dan berkata, “Oh Tuhan, Anda adalah orang yang teragung.” Itu terlalu kekanak-kanakan.

SVAMIJI: Terima kasih Tuan. Secara dekat berhubungan pada apa itu sang guru, ada pertanyaan apa itu disiplin. Sang murid (disciple) adalah disiplin yang Anda definisikan sebagai belajar. Vedanta mengklasifikasikan para pencari menurut kualifikasi (kemampuan) mereka, atau kedewasaan mereka, dan meresepkan metode-metode pembelajaran yang cocok. Murid dengan persepsi tertajam diberikan instruksi dalam kesunyian, atau sebuah kata-kata pembuka yang membangkitkan seperti Tat-Twam-Asi. Ia disebut Uttamadhikari. Murid dengan kemampuan yang menengah diberikan perawatan yang lebih rumit/terperinci; ia disebut Madhyamadhikari. Yang paling tumpul dihibur dengan berbagai cerita, ritual, dan lain sebagainya, berharap agar lebih dewasa; ia disebut Adhmadhikari. Mungkin Anda akan mengomentari ini?

KRISHNAJI: Ya, yang di puncak, yang di tengah dan dasar. Itu mensyaratkan, Tuan, bahwa kita harus mengetahui apa yang kita maksud dengan kedewasaan.

SVAMIJI: Bolehkah saya menjelaskan itu? Anda berkata di hari yang lalu, “Seluruh dunia sedang terbakar, Anda harus menyadari keseriusannya.” Dan itu menghantam saya laksana sebuah halilintar – bahkan untuk meraih kebenaran itu. Namun di sana mungkin jutaan yang tidak peduli; mereka tidak tertarik. Merekalah yang akan kita sebut Adhama, yang terendah. Ada juga lain seperti para hippi dan lain sebagainya yang bermain dengannya, yang boleh jadi terhibur dengan cerita-cerita dan yang berkata, “Kita tidak bahagia,” atau yang mengatakan pada Anda, “Kami tahu masyarakat adalah sebuah kekacauan, kami akan minum LSD saja”, dan lain sebagainya. Dan di sana mungkin ada yang lain yang merespon pada ide itu, bahwa dunia sedang terbakar, dan itu dengan cepat terpercik pada mereka. Kita menemukan mereka di mana saja. Bagaimana orang menangani mereka?

Hippi: orang yang menolak komunitas (umumnya dengan berpakain beda);

LSD: Lysergsäure-Diäthylamid, senyawa yang menghasilkan delusi dan gangguan persepsi.

KRISHNAJI: Bagaimana menangani yang orang-orang yang teramat tidak dewasa, yang setengah dewasa, dan mereka yang mengira dirinya dewasa?

SVAMIJI: Tepat.

KRISHNAJI: Untuk melakukan itu, apakah yang kita maksudkan dengan kedewasaan? Apa yang menurut Anda dewasa itu? Apakah ia bergantung pada usia, waktu?

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Jadi kita dapat menyingkirkan itu. Waktu, usia bukanlah sebuah indikasi akan kedewasaan. Kemudian ada kedewasaan dari orang yang teramat terpelajar, orang yang sangat, mampu secara intelektual.

SVAMIJI: Tidak, ia bisa saja memutarbalikkan dan mengubah kata-kata.

KRISHNAJI: Jadi kita akan mempertimbangkan dia sebagai yang tidak dewasa. Siapa yang akan Anda pertimbangkan sebagai seorang dewasa, orang yang matang?

SVAMIJI: Manusia yang mampu mengamati.

KRISHNAJI: Tunggu. Dengan nyata orang yang pergi ke gereja, ke kuil, ke masjid bukanlah (dewasa); hal-hal yang jelas bukan. Jadi apa yang akan membuat seseorang dipertimbangkan sebagai seorang dewasa? Bukan intelektual, religius dan emosional, bukan yang bermain secara intelektual dan sejenis itu semua. Kita harus mengatakan, jika kita mengeliminasi semua itu, kedewasaan terdapat pada menjadi tidak egois (self-centred) – bukan ‘aku’ dahulu dan orang lain kemudian, atau emosi-emosiku lebih dahulu. Jadi kedewasaan mensyaratkan tiadanya sang ‘aku’.

SVAMIJI: Tiadanya fragmentasi (pemecah-belahan), menggunakan kata yang lebih baik.

KRISHNAJI: Sang ‘aku’ yang menciptakan fragmen-fragmen. Kini, bagaimana Anda akan berseru pada orang itu? Dan pada yang orang yang setengah orang serta setengah, ‘aku’ dan ‘bukan aku’, yang bermain-main dengan keduanya? Dan orang lain yang sepenuhnya ‘aku’, yang menikmati dirinya? Bagaimana Anda berseru pada ketiganya ini?

SVAMIJI: Bagaimana Anda membangunkan ketiganya ini dalam ucapan lain. Itulah masalahnya.

KRISHNAJI: Tunggu! Orang yang sepenuhnya ‘aku’, tidak ada keterjagaan dalam dirinya. Ia tidaklah tertarik. Ia bahkan tidak akan mendengarkan Anda. Ia akan mendengar Anda jika Anda menjanjikannya sesuatu, surga, neraka, ketakutan atau keuntungan lebih di dunia, lebih banyak uang; namun ia akan melakukan guna mendapatkan. Jadi manusia yang berharap mendapatkan, mencapai, tidaklah dewasa.

SVAMIJI: Sangat benar.

KRISHNAJI: Apakah itu Nirvana, Surga, Moksha, pencapaian, pencerahan, ia tidaklah dewasa. Kini, apa yang akan Anda lakukan dengan seorang yang seperti itu?

SVAMIJI: Menceritakan kisah padanya.

KRISHNAJI: Bukan, mengapa saya harus menceritakan kisah-kisah padanya, lebih bingunglah ia oleh kisah-kisah saya atau oleh kisah-kisah anda? Mengapa tak meninggalkannya sendiri? Ia tidak akan mendengarkan.

SVAMIJI: Itu kejam.

KRISHNAJI: Kejam pada bagian siapa? Ia tidak akan mendengarkan Anda. Marilah kita melihat kenyataan. Anda datang pada saya. Saya sang ‘aku’ total. Saya tidak beperhatian pada apapun kecuali ‘aku’, dan Anda berkata, “Lihat, Anda menciptakan sebuah kekacauan dunia, Anda menciptakan kesedihan bagi manusia”, dan ia berkata, mohon pergi saja. Buat sesuka Anda; kemas dalam kisah-kisah, tutupi dengan pil-pil atau pil-pil manis, namun ia tidak akan mengubah sang ‘aku’. Jika ya dia berubah, ia menjadi yang di tengah – sang ‘aku’ dan yang ‘bukan aku’. Ini disebut evolusi. Manusia yang paling bawah mencapai yang tengah.

SVAMIJI: Bagaimana?

KRISHNAJI: Dengan mengetuk. Mendorongnya, mengajarinya. Ada perang, kebencian; ia terhancurkan. Atau ia pergi ke sebuah gereja. Gereja adalah sebuah perangkap baginya. Itu tidak mencerahkannya, itu tak mengatakan, “Demi kebaikan Tuhan, dobraklah,” namun itu akan memberikannya apa yang ia inginkan – hiburan, apakah itu hiburan Jesus, atau hiburan Hindu, atau Buddhis, atau Muslim atau apapun itu – itu akan memberikannya hiburan, hanya dalam nama Tuhan. Jadi ia tetaplah ia dalam tingkatan yang sama, dengan sedikit modifikasi, sedikit polesan, budaya yang lebih baik, pakaian yang lebih baik, makan selayaknya, mempertimbangkan sedikit lebih, tidak terlalu banyak, dan lain-lainnya. Itulah apa yang terjadi. Ia mungkin menghiasi (seperti yang Anda katakan saat ini) delapan puluh persen dunia, mungkin lebih, sembilan puluh persen. Dan Anda memiliki biara-biara, kuil-kuil, masjid-masjid, tempat-tempat suci dan lain sebagainya.

SVAMIJI: Apa yang dapat Anda lakukan?

KRISHNAJI: Saya tak akan menambahkan ke dalamnya, saya tak akan menceritakannya kisah-kisah, saya tak akan menghiburnya, karena ada orang-orang lain yang telah menghiburnya.

SVAMIJI: Terima kasih.

KRISHNAJI: Jadi mengapa saya harus ikut kelompok itu? Maka ada yang di tengah, sang ‘aku’ dan yang ‘bukan aku’, yang melakukan reformasi sosial, sedikit kebaikan di sini dan di sana, namun selalu sang ‘aku’ yang beroperasi. Secara sosial, politik, religius, dalam semua jalan, sang ‘aku’ lah yang beroperasi. Namun sedikit lebih senyap, dengan sedikit lebih polesan. Kini padanya Anda dapat berbicara sedikit, katakan, “Lihatlah, sebuah reformasi sosial tepat pada tempatnya namun ia tak mengarahkanmu ke manapun,” dan lain seterusnya. Anda dapat berbicara padanya. Mungkin ia akan mendengarkan Anda. Yang lain tidak akan mendengarkan Anda sama sekali. Laki-laki ini akan mendengarkan Anda, menaruh sedikit perhatian dan berkata, baiklah, ini terlalu serius, ini memerlukan kerja terlalu banyak, dan tergelincir kembali ke dalam pola lamanya. Kita akan berbicara padanya dan meninggalkannya. Apa yang ingin dia lakukan terserah padanya. Kini, ada yang lain yang sedang keluar dari sang ‘aku’, yang melangkah keluar dari lingkaran sang ‘aku’. Di sana, Anda dapat berbicara dengannya. Ia akan menaruh perhatian pada Anda. Jadi orang berbicara pada ketiganya itu, tidak membedakan antara mereka yang dewasa dan mereka yang tidak dewasa. Kita akan berbicara pada ketiga kategori itu, si tiga tipe, dan menyerahkannya pada mereka.

SVAMIJI: Orang yang tidak tertarik, ia akan melangkah keluar.

KRISHNAJI: Ia akan melangkah keluar tenda, ia akan melangkah ke luar ruangan. Itu adalah urusannya. Ia pergi ke hiburan biaranya, sepak bola, atau apapun itu. Namun pada saat Anda berkata “Anda tidak dewasa dan saya akan mengajari Anda lebih banyak”, ia menjadi …

SVAMIJI: Terdorong.

KRISHNAJI: Benih racun selalu di sana. Tuan, jika tanah tepat, biji-bijian akan berakar. Namun berkata, ‘Anda dewasa, dan Anda tidak dewasa’, itu sepenuhnya keliru. Siapakah saya sehingga mengatakan seseorang bahwa ia tidak dewasa? Baginyalah untuk menemukan.

SVAMIJI: Tapi dapatkah seorang yang bodoh mengetahui bahwa ia seorang yang bodoh?

KRISHNAJI: Jika ia seorang yang bodoh ia bahkan tak akan mendengarkan Anda. Anda lihat, Tuan, kita memulai dengan ide menginginkan bantuan.

SVAMIJI: Itulah adanya kita yang menurut seluruh diskusi kita.

KRISHNAJI: Saya pikir pendekatan itu tidaklah valid, kecuali dalam dunia medis atau teknologi, itu penting. Saya bisa pergi ke dokter agar disembuhkan. Di sini, secara psikologis, jika saya tertidur, saya tidak akan mendengarkan Anda. Jika saya setengah terjaga, saya akan mendengarkan Anda sesuai keadaan kosong saya, sesuai keadaan jiwa saya. Oleh karena itu, seorang manusia yang berkata, “Saya sungguh-sungguh ingin tetap terjaga, tetap terjaga secara psikologis”, padanya Anda dapat berbicara. Jadi kita berbicara pada mereka semua.

SVAMIJI: Terima kasih. Itu menjernihkan sebuah kesalahpahaman yang besar. Ketika duduk sendiri, saya terefleksi oleh apa yang Anda sampaikan di hari sebelumnya. Saya tak dapat menahan perasaan yang serupa. “Ah, Sang Buddha berkata demikian juga”, atau “Vasishtha berkata demikian juga”, meski serta-merta saya berusaha keras untuk membelah pencitraan kata-kata untuk menemukan maknanya. Anda membantu kami menemukan maknanya, meski mungkin itu bukanlah tujuan anda. Demikian juga Vasishtha dan Sang Buddha. Orang-orang berdatangan kemari sebagaimana mereka datang ke sosok-sosok hebat itu. Mengapa? Apakah yang ada di sana dalam sifat manusia yang mencari, yang meraba-raba dan meraih demi sebuah tongkat penopang? Sekali lagi, dengan tidak menolong mereka mungkin sebuah kekejaman, namun menyuapi mereka mungkin jauh lebih kejam. Apa yang dilakukan oleh seseorang?

KRISHNAJI: Pertanyaan itu menjadi, mengapa orang-orang memerlukan tongkat penyangga?

SVAMIJI: Ya, dan apakah menolong mereka atau tidak.

KRISHNAJI: Itu dia: apakah Anda sebaiknya memberikan mereka tongkat-tongkat penyangga untuk bersandar. Dua pertanyaan terlibat. Mengapa orang-orang memerlukan tongkat penopang? Dan apakah Anda adalah orang yang memberikan mereka tongkat-tongkat itu?

SVAMIJI: Harus atau tak haruskah seseorang?

KRISHNAJI: Harus atau tak haruskah seseorang, dan apakah Anda mampu memberikan mereka bantuan? Dua pertanyaan itu terlibat. Mengapa orang-orang menginginkan tongkat penyangga, mengapa orang-orang ingin bergantung pada yang lain, apakah itu Yesus, Buddha, atau santo-santo kuno lainnya, mengapa?

SVAMIJI: Pertama-tama, ada sesuatu yang dicari. Mencari itu sendiri tampaknya baik.

KRISHNAJI: Demikiankah? Ataukah itu ketakutan mereka akan tidak mencapai sesuatu yang para santa, orang-orang hebat, telah tunjukkan? Atau ketakutan akan melakukan kesalahan, akan tidak menjadi bahagia, akan tidak mencapai pencerahan, pemahaman, atau apapun sebutannya?

SVAMIJI: Bolehkah saya mengutip sebuah ungkapan indah dari Bhagavad Gita? Krishna mengatakan: empat jenis orang datang padaku. Orang yang dalam tekanan; ia datang padaku demi lenyapnya tekanan. Kemudian ada orang yang merupakan orang yang ingin tahu; ia hanya ingin tahu apakah Tuhan ini, kebenaran, dan apakah ada surga dan neraka? Yang ketiga menginginkan sejumlah uang. Ia juga datang pada Tuhan dan berdoa agar mendapatkan lebih banyak uang, biarkan saya menjadi seorang jutawan, seorang multi jutawan. Dan Sang Gyani (Jnani), sang manusia bijaksana, juga datang. Semuanya baik, karena mereka semua, karena sesuatu atau lain hal, mencari Tuhan. Namun dari semua ini, saya pikir Gyani adalah yang terbaik. Jadi mencari boleh jadi berhubungan dengan semua alasan itu.

KRISHNAJI: Ya Tuan. Ada dua pertanyaan ini. Pertama-tama, mengapa kita mencari? Kemudian, mengapa kemanusiaan menuntut tongkat-tongkat penyangga? Kini, mengapa seseorang mencari, mengapa seseorang sama sekali harus mencari?

SVAMIJI: Mengapa seseorang harus mencari?

KRISHNAJI: Mengapa seseorang harus mencari dan sama sekali harus mencari?

SVAMIJI: Mengapa seseorang harus mencari? Karena seseorang menemukan sesuatu hilang.

KRISHNAJI: Yang berarti apa? Saya tidak bahagia dan saya ingin bahagia. Itulah sebentuk pencarian. Saya tidak tahu apakah itu pencerahan. Saya telah membaca mengenainya dalam buku-buku dan ia membuat saya tertarik dan saya mencarinya. Juga saya mencari pekerjaan yang lebih baik, karena ada lebih banyak uang, lebih banyak keuntungan, lebih menyenangkan dan seterusnya. Dalam semua hal ini ada mencari, mengejar, menginginkan. Saya dapat memahami seseorang yang menginginkan sebuah pekerjaan yang lebih baik, karena masyarakat begitu tersusun mengerikan, sebagaimana adanya, itu yang membuatnya mencari uang lebih banyak, sebuah pekerjaan yang lebih baik. Namun secara psikologis, secara batiniah, apa yang saya cari? Dan ketika saya menemukannya, dalam pencarian saya, bagaimana saya mengetahui bahwa yang saya temukan adalah benar?

SVAMIJI: Mungkin pencarian akan menyusut.

KRISHNAJI: Tunggu Tuan. Bagaimana saya tahu? Dalam pencarian saya, bagaimana saya tahu bahwa ini adalah yang sejati (sang kebenaran)? Bagaimana saya tahu? Dapatkah saya mengatakan “Inilah kebenaran”? Karenanya mengapa saya harus mencarinya? Jadi apa yang membuat saya mencari? Apa yang membuat seseorang mencari adalah pertanyaan yang jauh lebih fundamental daripada pencarian, dan berkata, “Inilah kebenaran.” Jika saya berkata, “Inilah kebenaran”, Saya pastilah telah mengetahuinya. Jika saya telah mengetahuinya, itu bukanlah kebenaran. Itu sesuatu yang mati, masa lampau, yang memberi tahu saya bahwa itulah kebenaran. Hal yang mati tak dapat memberitahukan saya apa itu kebenaran. Jadi mengapa saya mencari? Karena, secara mendalam saya tidaklah bahagia, secara mendalam saya bingung, secara mendalam ada penderitaan hebat pada saya dan saya ingin menemukan sebuah jalan keluar darinya. Anda datang sebagai sang guru, sebagai seorang manusia yang tercerahkan, atau sebagai seorang profesor dan berkata, ‘Lihat, inilah jalan keluarnya.’ Alasan dasar pencarian saya adalah pelolosan dari siksaan batin ini dan saya mengusulkan sebagai fakta bahwa saya dapat lolos, dan pencerahan itu ada di seberang sana, atau di dalam diri saya. Dapatkah saya lolos darinya? Saya tidak bisa dalam pengertian menghindarinya, menolaknya, lari darinya; ia di sana. Ke mana pun saya pergi, ia tetap di sana. Jadi apa yang harus saya lakukan guna menemukan dalam diri saya mengapa penderitaan tercipta, mengapa saya menderita. Kemudian, apakah itu pencarian? Bukan. Ketika saya ingin menemukan mengapa saya menderita, itu bukanlah pencarian. Bahkan bukanlah sebuah misi. Lebih seperti pergi ke dokter dan mengatakan saya sedang sakit perut, dan ia mengatakan Anda telah makan jenis makanan yang salah. Jadi Saya akan menghindari makanan yang keliru. Jika penyebab kesengsaraan saya ada dalam diri saya tidak dengan bermakna diciptakan oleh lingkungan di mana saya hidup, maka saya harus mengetahui bagaimana bebas darinya untuk diri saya. Anda boleh, sebagai sang guru, menunjukkan bahwa itu adalah si pintu, namun segera setelah Anda menunjukkan, tugas anda telah usai. Kemudian saya harus bekerja, maka saya harus menemukan apa yang harus dilakukan, bagaimana untuk hidup, bagaimana berpikir, bagaimana merasakan cara hidup ini di mana padanya tiada penderitaan.

SVAMIJI: Kemudian pada perpanjangan bantuan itu, penunjukan, dibenarkan.

KRISHNAJI: Bukan dibenarkan, namun Anda melakukannya dengan alami.

SVAMIJI: Anggaplah orang lain sedang tersesat di suatu tempat, bahwa ketika ia pergi ke sana, dalam langkahnya ia membentur meja ini …

KRISHNAJI: Ia harus belajar bahwa si meja ada di sana. Ia harus belajar bahwa ketika ia melangkah menuju pintu ada sebuah rintangan di jalan. Jika ia menyelidiki, ia akan mengetahui. Namun jika Anda datang dan berkata, “Di sanalah pintunya, di sana ada meja janganlah membenturnya”, Anda memperlakukannya seperti seorang anak mengarahkannya menuju pintu. Itu sama sekali tidak berarti.

SVAMIJI: Jadi bantuan yang banyak itu, penunjukan, apakah dibenarkan?

KRISHNAJI: tiap orang yang baik dengan sebuah hati yang baik akan berkata, lihatlah, jangan pergi ke sana, ada tebing yang curam di situ. Saya sekali bertemu seorang guru yang teramat ternama di India. Ia datang untuk bertemu saya. Dan itu tindakannya agak aneh. Di sana ada sebuah alas di atas lantai dan kami menyapanya dengan sopan, mempersilakannya duduk di atas alas. Ia dengan duduk di atas alas dengan tenang, mengambil posisi sang guru, meletakkan tongkatnya di hadapannya dan mulai mendiskusikan, dan ia berkata: kita memerlukan para guru karena kita mengetahui lebih baik daripada orang awam; mengapa ia harus menempuh semua bahaya seorang diri? Kami akan membantunya. Saat itu tidaklah mungkin berdiskusi dengannya karena ia mengasumsikan bahwa ia tahu dan orang lain berada dalam kebodohan. Setelah sepuluh menit berakhir ia pergi, lebih seperti jengkel.

SVAMIJI: Itulah salah satu hal yang membuat Krishnaji terkenal di India! Kemudian, sementara Anda dengan tegas menunjukkan kesia-siaan belaka dari menerima rumusan dan dogma dengan butanya, Anda tidak akan meminta ringkasan penolakan mereka. Sementara tradisi dapat menjadi sebuah halangan yang mematikan, mungkinlah layak memahaminya dan asal mulanya; di sisi lain kita mungkin menghancurkan sebuah tradisi dan sebuah kejahatan yang setara mungkin timbul.

KRISHNAJI: Cukup tepat.

SVAMIJI: Oleh karena itu bolehkah saya menjelaskan beberapa kepercayaan tradisional bagi pengamatan cermat anda sedemikian hingga kita bisa menemukan di mana dan bagaimana apa yang Anda sebut ‘niat-niat baik’ terbelokan menuju neraka – cangkang yang memenjarakan kita? Setiap cabang Yoga menetapkan penggunaan disiplin-disiplinnya sendiri dalam pendirian tegas bahwa jika orang mengejar mereka dalam jiwa yang tepat, orang akan mampu mengakhiri kesengsaraan. Saya akan menyebutkan mereka untuk Anda komentari.

Karma Yoga: ia menuntut Dharma, atau sebuah kehidupan yang luhur, yang sering diperluas untuk menyertakan Varnashrama Dharma yang banyak disalahgunakan. Dikta (penyampaian) Krishna ‘Swadharme… Bhayavaha’, tampaknya memiliki indikasi bahwa jika seorang manusia dengan suka rela menyerahkan dirinya pada aturan-aturan tingkah laku tertentu, batinnya akan menjadi bebas mengamati dan belajar dengan bantuan dari Bhavanas tertentu. Akankah Anda mengomentari ini? Konsep Dharma atau aturan dan peraturan: ‘lakukan ini’, ‘itulah yang benar’, ‘itu salah….’

KRISHNAJI: Yang bermakna sungguh-sungguh, Anda meletakkan (menentukan) apa itu tingkah laku yang benar.

SVAMIJI: Dan saya dengan suka rela mengadopsinya.

KRISHNAJI: Ada seorang guru yang meletakkan apa itu kelakuan yang luhur, dan saya datang dan dengan suka rela, untuk menggunakan kata anda, menyukainya, menerimanya. Adakah sesuatu hal seperti penerimaan suka rela? Dan haruskah Anda menentukan apa itu tingkah laku yang benar, haruskah sang pengajar menentukan apa itu tingkah laku yang benar, yang berarti ia telah menetapkan pola, cetakan, keterkondisian? Anda mengikuti bahayanya? Ia telah menetapkan keterkondisian yang menghasilkan tingkah laku yang benar, yang akan menuntun orang menuju surga.

SVAMIJI: Itu salah satu aspeknya. Aspek lainnya yang saya lebih tertarik, adalah jika itu diterima, kemudian badan (aparatus) psikologis bebas untuk mengamati.

KRISHNAJI: Saya paham. Tidak Tuan. Mengapa saya harus menerimanya? Andalah sang guru. Anda menetapkan cara bertingkah laku. Bagaimana saya tahu bahwa Anda benar? Anda mungkin salah. Dan saya tidak akan menerima otoritas anda. Karena saya melihat otoritas para guru, otoritas para pendeta, otoritas biara, mereka semua telah gagal. Oleh karena itu, dengan seorang pengajar baru menetapkan sebuah hukum baru, saya akan berkata, “Ya Tuhan, Anda memainkan permainan yang sama; saya tidak menerimanya.” Namun jika saya dengan suka rela menerimanya, adakah hal yang disebut penerimaan suka rela itu, penerimaan bebas? Ataukah saya sudah terpengaruhi, karena Andalah sang guru, Andalah yang hebat, dan Anda menjanjikan saya sebuah imbalan pada akhirnya, secara tak sadar ataupun sadar, yang menuntun saya pada secara ‘suka rela’ menerimanya? Saya tidak menerimanya secara bebas. Jika saya bebas, saya tidak menerimanya sama sekali. Saya hidup. Saya hidup dengan benar.

SVAMIJI: Jadi keluhuran harus datang dari dalam?

KRISHNAJI: Pastinya, apa lainnya Tuan? Lihatlah apa yang berlangsung dalam pembelajaran tingkah laku. Mereka mengatakan keadaan-keadaan di luar, lingkungan, budaya, menghasilkan tipe-tipe tingkah laku tertentu. Demikianlah, jika saya hidup dalam sebuah lingkungan komunis dengan dominasinya, dengan ancaman-ancamannya, pengaruhnya, pergi ke kamp-kamp konsentrasi, semua itu akan membuat saya bertingkah laku dalam sebuah cara tertentu; saya mengenakan topeng, ketakutan, dan saya bertingkah dalam cara tertentu. Dalam sebuah masyarakat yang lebih banyak atau lebih sedikit bebas, di mana di sana tidak terdapat begitu banyak aturan, karena tak seorang pun percaya pada peraturan, di mana segala dipersilakan, di sanalah saya bermain.

SVAMIJI: Kini, yang manakah lebih dapat diterima dari titik pandang spiritual?

KRISHNAJI: Tak satu pun. Karena tingkah laku, kebajikan, bukanlah sesuatu yang dapat diolah oleh saya ataupun oleh masyarakat. Saya harus menemukan bagaimana untuk hidup dengan benar. Kebajikan adalah sesuatu yang bukan sebuah penerimaan pola-pola, atau mengikuti sebuah pola rutin yang kaku. Kebaikan bukanlah sesuatu yang rutin, tentu saja? Jika saya baik karena pengajar saya mengatakan bahwa saya baik, itu tidaklah berarti. Oleh karena itu tidak ada hal seperti penerimaan suka rela akan tingkah laku yang benar yang ditentukan oleh seorang guru, oleh seorang pengajar.

SVAMIJI: Orang harus menemukannya.

KRISHNAJI: Oleh karena itu saya harus mulai untuk menyelidiki. Saya mulai untuk melihat, untuk menemukan bagaimana hidup. Saya hanya bisa hidup ketika tiada ketakutan.

SVAMIJI: Mungkin saya harus menjelaskan ini. Menurut Sankara itu ditujukan hanya bagi yang rendah.

KRISHNAJI: Apa itu rendah dan tinggi? Yang dewasa dan yang tidak dewasa? Sankara atau XYZ berkata, “Tempatkan aturan bagi yang rendah dan bagi yang tinggi” dan mereka tidak melakukannya. Mereka membaca buku-buku Sankara, atau beberapa pundit membacanya untuk mereka, dan mereka berkata betapa bagus sekali itu dan pergi kembali serta hidup dalam kehidupan mereka sendiri. Inilah sebuah fakta yang nyata. Anda melihatnya di Italia. Mereka mendengarkan Sang Paus, dan tak seorang pun peduli jua – mereka mendengar dengan bersungguh-sungguh barang dua atau tiga menit dan kemudian berlanjut dengan kehidupan sehari-hari mereka; itu tak membuat perbedaan apapun. Itulah mengapa saya ingin bertanya, mengapa yang disebut Sankaras, para guru, menentukan hukum-hukum tentang apa itu tingkah laku.

SVAMIJI: Jika tidak mereka berpikir akan ada kekacauan (chaos).

KRISHNAJI: Ada kekacauan bagaimanapun juga. Ada kekacauan luar biasa. Di India mereka telah membaca Sankara dan semua para Guru selama sepuluh ribu, atau lima ribu tahun. Lihatlah mereka!

SVAMIJI: Mungkin, menurut mereka, alternatif tidaklah mungkin.

KRISHNAJI: Apa alternatifnya? Kebingungan? Dan itulah di mana mereka hidup. Mengapa tidak memahami kebingungan di mana mereka hidup daripada mempelajari Sankara? Jika mereka memahami kebingungan, mereka dapat mengubahnya.

SVAMIJI: Mungkin itu mengarahkan kita pada pertanyaan akan Bhavana ini di mana sedikit psikologis dilibatkan. Pada Sadhana Karma Yoga, Bhagavad Gita menentukan penggunaan di antara hal-hal lain sebuah Nimitta Bhavana. Bhavana secara tidak diragukan ada dan Nimitta Bhavana adalah menjadi sebuah instrumen tanpa ego dalam genggaman Tuhan atau Maha Keberadaan. Namun itu juga berarti sebuah sikap atau sebuah perasaan dalam harapan bahwa itu akan membantu seorang pemula mengamati dirinya dan Bhavana itu akan mengisi keberadaannya. Mungkin sangat diperlukan bagi orang-orang dengan sedikit pemahaman; mungkin itu akan secara permanen mengalihkan mereka dengan penipuan diri. Bagaimana kita akan membuat ini berhasil?

KRISHNAJI: Apa pertanyaan yang Anda ajukan Tuan?

SVAMIJI: Terdapat teknik Bhavana.

KRISHNAJI: Itu mensyaratkan sebuah sistem, sebuah metode, dengan latihan yang mana, Anda dengan akhirnya mencapai pencerahan. Anda berlatih dengan guna menuju Tuhan atau apapun itu. Pada saat Anda melatih sebuah metode, apa yang terjadi? Saya berlatih hari demi hari metode yang Anda tentukan. Apa yang terjadi pada saya?

SVAMIJI: Ada sebuah ungkapan terkenal, “Seperti yang engkau pikirkan demikianlah jadinya engkau”.

KRISHNAJI: Saya berpikir bahwa dengan latihan metode ini saya akan mencapai pencerahan. Jadi apa yang saya lakukan? Setiap hari saya melatihnya. Saya semakin menjadi mekanis.

SVAMIJI: Namun ada sebuah rasa.

KRISHNAJI: Rutinitas mekanis berjalan bersama perasaan yang ditambahkan, “Saya menyukainya”, “saya tidak menyukainya”, “ini membosankan” – Anda tahu, ada sebuah pertempuran yang sedang berlangsung. Jadi apapun yang saya latih, disiplin apapun, latihan apapun dalam pengertian yang diterima akan kata membuat batin saya semakin sempit, terbatas dan tumpul, dan Anda menjanjikan pada akhir itu, surga. Jadi Anda berkata, menjadi tumpul untuk mencapai surga. Saya mengatakannya seperti serdadu yang dilatih hari demi hari – berlatih, berlatih – hingga mereka bukan apa-apa kecuali instrumen dari perwira atau sersan komandannya. Berikan mereka sedikit inisiatif. Jadi saya sedang mempertanyakan seluruh pendekatan sistem dan metode menuju pencerahan. Bahkan dalam perpabrikan seorang manusia yang semata-mata memindahkan tombol-tombol atau menekannya di sini situ tidak menghasilkan sebanyak manusia yang bebas belajar sambil ia melangkah.

SVAMIJI: Jadi dapatkah Anda memasukan itu ke dalam Bhavana?

KRISHNAJI: Mengapa tidak?

SVAMIJI: Jadi itu berfungsi?

KRISHNAJI: Inilah jalan satu-satunya. Inilah Bhavana sejati: belajar sambil Anda melangkah. Oleh karena itu tiada metode. Oleh karena itu tetap terjaga. Belajar sambil Anda melangkah, oleh karena itu jadilah waspada sambil Anda melangkah. Jika saya berjalan dan saya memiliki sebuah sistem, sebuah metode berjalan, itulah semua yang saya perhatikan: saya tidak akan melihat burung-burung, pepohonan, cahaya yang sangat indah yang menerpa dedaunan, tak satu pun. Dan mengapa saya harus menerima sang guru yang memberikan saya metode, cara? Ia mungkin seaneh saya, dan ada guru-guru yang sangat aneh. Jadi saya menolak semua itu.

SVAMIJI: Permasalahannya sekali lagi pada ia yang pemula.

KRISHNAJI: Siapakah yang pemula? Orang yang belum dewasa?

SVAMIJI: Mungkin.

KRISHNAJI: Karena itu Anda memberikannya sebuah mainan agar ia bermain?

SVAMIJI: Untuk sedikit pembukaan.

KRISHNAJI: Ya sebuah mainan dan ia menikmati mainan itu. Ia berkata, saya berlatih di semua hari, dan batinnya tetap sangat kecil.

SVAMIJI: Mungkin itu jawaban Anda terhadap pertanyaan Bhakti Yoga ini juga. Sekali lagi, bagaimana pun juga mereka ingin orang-orang ini untuk menerobos.

KRISHNAJI: Saya tidak yakin sepenuhnya, Tuan.

SVAMIJI: Saya akan mendiskusikan Bhakti ini. Datang kepada Bhakti Yoga, sang Bhakta didorong untuk memuja Tuhan bahkan di kuil-kuil dan citra-citra, merasakan kehadiran Sang Ilahi di dalam diri. Dalam sejumlah mantra, diulangi lagi dan lagi, “Engkaulah yang meliputi segalanya … Engkaulah yang hadir di mana-mana”, dan lain sebagainya. Krishna meminta para pemuja agar melihat Tuhan dalam obyek-obyek alam dan kemudian sebagai yang “Semuanya”. Pada waktu yang sama melalui japa, atau pengulangan mantra dengan menghubungkan kesadaran akan maknanya, para pemuja diminta untuk merasakan bahwa kehadiran Ilahi di luar identik dengan kehadiran yang di dalam. Demikianlah individual menyadari kesatuannya dengan yang banyak. Adakah sesuatu yang secara fundamental salah dengan sistem tersebut?

KRISHNAJI: Oh! Ya, Tuan. Blok komunis tidak percaya Tuhan sama sekali. Mereka egois, mereka ketakutan, namun tidak ada Tuhan, tidak ada mantra, dan lain sebagainya. Yang lain tidak percaya pada satu pun dari itu, mantra, japa, pengulangan, namun ia berkata, “Saya ingin menemukan apa itu kebenaran. Saya ingin mengetahui jika Tuhan itu ada. Mungkin saja hal itu sama sekali tidak ada.” Dan Gita serta lainnya mengasumsikan itu ada. Mereka menyatakan bahwa Tuhan ada. Siapakah mereka mengatakan pada saya bahwa itu ada atau tiada, termasuk Krishna atau XYZ? Saya berkata mungkin itu keterkondisian anda sendiri; Anda lahir pada iklim khas itu dan dengan tradisi khas itu, dengan sikap khas itu dan Anda hanya percaya pada itu. Dan kemudian Anda menentukan aturan-aturan. Namun jika saya menolak semua otoritas, termasuk komunis, termasuk Barat dan Asiatik, semua otoritas, lalu di manakah saya? Maka saya harus mengetahui, karena saya tidak bahagia, saya menyedihkan.

SVAMIJI: Namun saya mungkin saya bebas dari keterkondisian.

KRISHNAJI: Itu adalah urusan saya, menjadi bebas. Jikalau tidak saya tak dapat belajar. Jika saya tetap seorang Hindu hingga akhir hayat saya, habislah saya. Yang Katolik tetap seorang Katolik dan yang Komunis sama saja mati. Namun apakah itu mungkin – itulah pertanyaan sesungguhnya – menolak semua keterkondisian yang menerima otoritas? Dapatkah saya menolak semua otoritas dan berdiri sendiri untuk menemukan? Dan saya harus sendiri. Jika tidak, jika saya tak sendiri dalam pengertian lebih dalam akan kata itu, saya hanya mengulangi apa yang Sankara, Buddha, atau XYZ katakan. Apakah intinya itu, mengetahui dengan sangat baik bahwa pengulangan tidaklah nyata? Jadi, tidakkah saya harus – dewasa, atau tidak dewasa, ataupun setengah dewasa – tidakkah mereka semua harus belajar berdiri sendiri? Menyakitkan karena mereka berkata, “Tuhanku, bagaimana saya dapat berdiri sendiri?” – tanpa anak-anak, tanpa Tuhan, tanpa orang lain? Di sanalah ketakutan.

SVAMIJI: Apakah menurut Anda setiap orang dapat mengatasi ini?

KRISHNAJI: Mengapa tidak, Tuan? Jika Anda tidak bisa, maka Anda terperangkap di dalamnya. Kemudian tiada ada sejumlah Tuhan, dan mantra, dan siasat akan menolong Anda. Mereka mungkin menutupinya. Mereka mungkin membotolkannya. Mereka mungkin menekannya dan menempatkannya di lemari pendingin. Namun itu selalu di sana.

SVAMIJI: Kini ada metode lain, bagi yang berdiri sendiri: Raja Yoga. Para murid di sini sekali lagi diminta untuk mengolah kualitas-kualitas keluhuran tertentu yang, di satu tangan, menjadikannya warga yang baik dan di lain tangan, menghilangkan kemungkinan halangan-halangan psikologis. Sadhana ini, yang utamanya kesadaran pikiran yang meliputi ingatan, imajinasi dan tidur, tampaknya dekat dengan ajaran Anda sendiri. Asana dan Pranayama adalah alat pembantu, mungkin. dan bahkan Dhyana Yoga tidak bertujuan menimbulkan kesadaran-diri, yang dengan jelas bukanlah hasil akhir serangkaian tindakan. Krishna secara jelas mengatakan bahwa Yoga menjernihkan persepsi: ‘Atma Shuddhaye’. Apakah Anda menyetujui pendekatan ini? Tidak banyak bantuan dilibatkan di sini; bahkan Isvamijiara hanyalah ‘Purusha Visheshaha’. Ialah sebentuk guru, tak kasat mata dalam proses menyelami diri. Apakah Anda menyetujui proses ini: di sanalah metode duduk dalam meditasi ini dan mencoba menyelidiki lebih dalam dan lebih dalam lagi.

KRISHNAJI: Kini tunggu dulu. Orang harus melangkah ke pertanyaan meditasi.

SVAMIJI: Dan Patanjali mendefinisikan meditasi sebagai, “Tiadanya seluruh dunia ide atau ide luar apapun.” Itulah ‘Bhakti Sunyam’.

KRISHNAJI: Lihat, Tuan, saya tidak telah membaca apapun. Kini saya di sini: saya tak tahu apapun. Saya hanya tahu bahwa saya dalam kesedihan mendalam dan bahwa saya memiliki sebuah batin yang cukup baik. Saya tak memiliki otoritas – Sankara, Krishna, Patanjali, tak seorang pun – saya sepenuhnya sendiri. Saya harus menghadapi hidup saya dan saya harus menjadi seorang warga yang baik – tidak menurut komunis, kapitalis atau sosialis. Pewargaan yang baik bermakna tingkah laku, yang mana bukan satu hal di kantor dan lain hal di rumah. Pertama, saya ingin menemukan bagaimana menjadi bebas dari kesedihan ini. Kemudian menjadi bebas, saya akan menemukan jikakah ada yang disebut Tuhan itu atau apapun itu. Jadi bagaimana saya belajar agar menjadi bebas dari beban yang sangat besar ini? Itu adalah pertanyaan pertama saya. Saya hanya dapat memahaminya dalam hubungan dengan yang lain. Saya tak dapat duduk sendiri dan menggali ke dalam karena saya mungkin menyesatkannya; batin saya terlalu licik, berprasangka. Jadi, saya harus menemukannya dalam hubungan – dengan alam, dengan manusia – apakah ketakutan ini, kesedihan ini; hanya dalam hubungan, karena jika saya duduk sendiri saya dapat menipu diri saya dengan sangat baik. Namun dengan menjadi terjaga dalam hubungan, saya dapat menatapnya dengan segera.

SVAMIJI: Jika Anda waspada.

KRISHNAJI: Itulah intinya. Jika saya waspada, penuh perhatian, saya akan menemukan; dan itu tak menyita waktu.

SVAMIJI: Namun jika seseorang tidak?

KRISHNAJI: Oleh karena itu, masalahnya adalah menjadi terjaga, menjadi sadar, waspada. Adakah metode untuk itu? Ikuti itu, Tuan. Jika ada sebuah metode yang akan membantu saya menjadi sadar, saya akan mempraktekkannya; namun itukah kesadaran? Karena di dalamnya terlibat rutinitas, penerimaan otoritas, pengulangan, pengulangan, pengulangan, yang secara bertahap membuat kewaspadaan saya tumpul. Jadi saya menolak itu: latihan waspada. Saya katakan saya hanya bisa memahami kesedihan dalam hubungan dan pemahaman itu hadir hanya melalui kewaspadaan. Oleh karena itu, saya harus waspada. Saya waspada karena tuntutan saya untuk mengakhiri penderitaan. Karenanya saya harus jadi waspada. Jika saya lapar, saya ingin makanan dan saya mencari makanan. Dalam cara yang sama, saya ingin menemukan bebas yang amat hebat dari penderitaan dalam diri saya dan saya menemukannya melalui hubungan – bagaimana saya bersikap dengan Anda, bagaimana saya berbicara dengan orang-orang. Dalam proses hubungan itu, hal ini terungkapkan.

SVAMIJI: Dalam hubungan itu Anda sepanjang waktu sadar-diri, jika saya bisa mengatakan demikian.

KRISHNAJI: Ya saya sadar, waspada, mengamati.

SVAMIJI: Adakah itu begitu mudah bagi orang biasa?

KRISHNAJI: Ya, jika manusia bersungguh-sungguh dan berkata, “Saya ingin menemukan.” Manusia biasa, delapan puluh hingga sembilan puluh persen mereka, berkata, Saya tak sungguh-sungguh tertarik, apa yang sedang Anda bicarakan. Pergilah, saya ingin dihibur, oleh Gita, oleh biara, oleh Yesus, oleh Buddha. Saya ingin dihibur, sepak bola. Namun manusia yang bersungguh-sungguh, ia berkata, “Saya akan menemukan – Saya ingin melihat jika batin dapat bebas dari kesedihan.” Dan hanyalah mungkin menemukannya dalam hubungan. Saya tak dapat menciptakan kesedihan. Dalam hubungan kesedihan datang.

SVAMIJI: Kesedihan bersama di dalamnya.

KRISHNAJI: Alaminya, Tuan, ialah sebuah fenomena psikologis.

SVAMIJI: Anda tidak ingin manusia untuk duduk dan bermeditasi dan mencoba mempertajam?

KRISHNAJI: Jadi marilah kita kembali ke pertanyaan meditasi. Apakah meditasi itu? – bukan menurut apa yang Patanjali dan lainnya katakan karena mereka mungkin salah seluruhnya. Dan saya mungkin salah ketika saya berkata saya tahu bagaimana bermeditasi. Jadi saya harus menemukan, saya harus berkata, “Kini apakah meditasi itu?” Adakah meditasi itu duduk diam, berkonsentrasi, mengontrol pikiran?

SVAMIJI: Mengamati, mungkin.

KRISHNAJI: Anda dapat mengamati ketika Anda sedang berjalan.

SVAMIJI: Itu sulit.

KRISHNAJI: Anda mengamati selagi makan, ketika Anda sedang mendengarkan orang-orang, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakiti Anda, memuji Anda. Itu berarti, Anda harus jadi waspada sepanjang waktu – ketika Anda sedang melebih-lebihkan, ketika Anda sedang mengatakan setengah kebenaran. Anda mengikuti? Untuk mengamati, Anda memerlukan sebuah batin yang teramat diam. Itulah meditasi. Semuanya itu adalah meditasi.

SVAMIJI: Bagi saya tampak serupa meskipun Patanjali mengembangkan sebuah latihan untuk menenangkan batin, bukan di atas medan pertempuran kehidupan, namun memulainya ketika Anda sendiri dan kemudian meluaskannya kepada hubungan.

KRISHNAJI: Namun jika Anda lari dari pertempuran…

SVAMIJI: Hanya untuk sesaat…

KRISHNAJI: Jika Anda lari dari pertempuran Anda tidak memahami pertempuran. Pertempuran adalah Anda. Bagaimana mungkin Anda lolos dari diri anda? Anda dapat minum suatu obat, Anda dapat berpura-pura bahwa Anda telah lolos, Anda dapat mengulangi mantra-mantra, japa-japa dan melakukan segala hal yang serupa, namun pertempuran tetap berlangsung. Anda berkata, “pergilah darinya secara diam-diam dan kembali lagi padanya.” Itu adalah sebuah fragmentasi. Kita sedang memberi pesan: “Lihatlah peperangan di mana Anda terlibat di dalamnya; Anda terperangkap di dalamnya: Anda adalah itu.”

SVAMIJI: Itu mengarahkan kita ke disiplin terakhir: Engkau adalah itu.

KRISHNAJI: Anda adalah pertempuran.

SVAMIJI: Anda adalah itu, Anda adalah pertempuran, Anda adalah sang petarung, Anda melarikan diri darinya, Anda adalah segalanya. Itulah mungkin apa yang tersirat dalam Gnana (Jnana) Yoga. Menurut Gnana Yoga, pencari diminta membekali dirinya dengan empat hal: Viveka, mencari yang sejati dan melepaskan yang palsu; Vairagya, tidak mencari kesenangan; Shat Satsampath, yang berarti pada pengaruh menghidupkan sebuah kehidupan baik untuk pelatihan yoga ini; dan Mumukshutva, sebuah dedikasi total pada pencarian Sang Kebenaran. Para murid kemudian mendatangi seorang guru dan Shadana-nya terdiri dari Shravana (mendengarkan), Manana (refleksi) dan Nisyudhyajna (asimilasi), yang kita semua lakukan di sini. Sang guru mengadopsi berbagai cara untuk mencerahkan muridnya, yang biasanya menerapkan penyadaran akan yang Segalanya dan Sang Seluruh Keberadaan. Sankara melukiskan semua itu: “Yang Tak-terbatas itu sendiri nyata, dan dunia tidak nyata. Sang individu tidaklah berbeda dari yang maha tak terbatas,” jadi tiada fragmentasi di sini. Sankara mengatakan bahwa dunia adalah Maya di mana ia bermaksud bahwa tampilan-dunia bukanlah yang sejati, yang orang harus selidiki dan temukan. Upanisad-upanisad menyampaikan (envisage) Kebenaran sebagai berikut: kesadaran ialah yang tak terbatas. Akulah yang tak terbatas. Atau sayalah yang tak terbatas. Engkau adalah Itu, sang diri adalah Tak terbatas. Setiap sesuatunya adalah segalanya, dan segalanya adalah Tak terbatas. Yang Tak terbatas adalah Tak terbatas. Dan manifestasi aktifnya dalam kehidupan sehari-hari yang Krishna deskripsikan di dalam Gita: “Sang Yogi kemudian sadar bahwa tindakan, yang menggiatkan (doer) tindakan, instrumen-instrumen yang terlibat, dan obyek pada yang mana tindakan ditujukan, adalah seluruhnya satu utuhnya dan fregmentasi itu teratasi.”

Bagaimana Anda bereaksi terhadap metode Gnana (Jnana) Yoga ini? Pertama terdapat Sadhana Chaturdhyaya ini, di mana sang murid mempersiapkan dirinya. Lalu ia mendatangi sang guru dan duduk serta mendengarkan Kebenaran dari sang guru dan berefleksi atasnya serta mengasimilasi kebenaran, hingga ia menjadi satu dengannya; dan kebenaran biasanya diucapkan dalam khasanah rumusan-rumusan ini. Namun formula-formula ini yang kita ulangi selayaknya menjadi direalisasikan. Adakah ini mungkin memiliki validitas tertentu?

KRISHNAJI: Tuan, jika Anda tidak telah membaca satu pun dari ini – Patanjali, Sankara, Chan Upanishads, Raja Yoga, Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga, tak satu pun – apa yang hendak Anda lakukan?

SVAMIJI: Saya akan harus menemukan.

KRISHNAJI: Apa yang akan Anda lakukan?

SVAMIJI: Bergelut.

KRISHNAJI: Yang Anda lakukan bagaimana pun juga. Apa yang hendak Anda lakukan? Di mana Anda hendak memulai? – mengetahui tak satu pun mengenai apa yang orang-orang lain telah sampaikan, termasuk apa yang para pimpinan komunis telah sampaikan – Marx, Engels, Lenin, Stalin. Saya tidak telah membaca apapun, saya juga tak ingin. Saya di sini, seorang manusia biasa. Di mana saya harus mulai? Saya harus bekerja, Karma Yoga, di sebuah kebun, sebagai seorang koki, di sebuah pabrik, sebuah kantor, saya harus bekerja. Dan juga ada istri dan anak-anak: saya cinta, saya benci, saya orang yang kecanduan seks, karena itu satu-satunya pelolosan yang ditawarkan pada saya dalam kehidupan. Saya di sini. Inilah peta hidup saya dan saya menanyakan diri saya tentang apa semua ini. Saya tak tahu apapun tentang Tuhan. Mereka bisa menciptakan, berpura-pura: saya memiliki sebuah horor kepura-puraan. Jika saya tidak tahu, saya tidaklah tahu. Saya tidak akan mengutip Sankara, Buddha, atau siapa pun. Jadi saya berkata: inilah di mana saya memulai. Dapatkah saya menimbulkan tatanan dalam hidup saya? – tatanan, tidak diciptakan oleh saya maupun oleh mereka, namun tatanan yang adalah kebajikan. Dapatkah saya menimbulkannya? Dan agar menjadi luhur harus tidak ada pertempuran, tiada konflik di dalam saya atau di luar. Oleh karena itu, harus tiada keagresifan, tiada kekerasan, tiada kebencian, tiada tindak antagonistik. Saya mulai dari sana. Dan saya menemukan saya takut. Saya harus bebas dari takut. Menjadi sadar (conscious) akannya adalah menjadi sadar (aware) akan semua ini, sadar akan di mana saya; dari sana saya akan bergerak, saya akan bekerja. Dan kemudian saya menemukan saya bisa saja sendiri – tidak memanggul semua beban ingatan, Sankara, Buddha, Marx, Engels. Anda mengikuti? Saya bisa jadi sendiri karena saya telah memahami tatanan dalam hidup saya; dan saya telah memahami tatanan karena saya telah menolak kekacauan, karena saya telah belajar tentang kekacauan. Kekacauan berarti konflik, penerimaan otoritas, penyetujuan, peniruan, semua itu. Itulah kekacauan, moralitas sosial adalah kekacauan. Karena itu saya akan membawa tatanan dalam diri saya; bukan diri saya sebagai seorang manusia yang menyedihkan yang ada di pelataran, namun sebagai seorang Manusia.

SVAMIJI: Bagaimana Anda menjelaskannya?

KRISHNAJI: Adalah seorang manusia yang akan melalui neraka ini. Setiap manusia akan melalui neraka ini. Jadi jika saya, sebagai seorang manusia, memahami ini, saya telah menemukan sesuatu yang semua manusia dapat temukan.

SVAMIJI: Namun bagaimana orang tahu bahwa ia tidak sedang menipu dirinya?

KRISHNAJI: sangat sederhana. Pertama, kerendahan hati: saya tidak ingin mencapai apapun.

SVAMIJI: Saya tak tahu jika Anda telah menemui orang-orang yang mengatakan, “Sayalah orang yang paling rendah hati di dunia.”

KRISHNAJI: Saya tahu. Itu semua terlalu konyol. Bukanlah tidak menghasratkan pencapaian.

SVAMIJI: Ketika seseorang di dalamnya, di dalam sup, bagaimana ia tahu?

KRISHNAJI: Tentu saja Anda akan tahu. Ketika hasrat Anda berkata, “Saya harus menjadi seperti Tuan Smith yang adalah sang perdana menteri, sang jendral, atau petugas eksekutif”, maka ada awal mula arogansi, kebanggaan, pencapaian. Saya tahu ketika saya ingin menjadi seperti pahlawan, ketika saya ingin menjadi seperti Sang Buddha, ketika saya ingin mencapai pencerahan, ketika hasrat berkata, “Jadilah sesuatu.” Hasrat menjadi sesuatu terdapat kesenangan yang banyak.

SVAMIJI: Namun masihkah kita terperangkap akar masalah pada semua ini?

KRISHNAJI: Tentu saja. ‘Aku’ adalah akar masalah. Egoisme (self-centredness) adalah akar masalah.

SVAMIJI: Namun apakah itu? Apa maksudnya itu?

KRISHNAJI: Keegoisan? Saya lebih penting dari Anda, rumah-ku, kepemilikan-ku, pencapaian-ku, ‘aku’ terlebih dahulu.

SVAMIJI: Namun para martir boleh jadi berkata, “Saya bukanlah apa-apa, saya dapat ditembak.” [martir= orang yang bersedia mati syahid/membela keyakinannya]

KRISHNAJI: Siapa? Tidak, mereka bukan. Mereka konyol untuk ditembak.

SVAMIJI: Mereka bisa jadi berkata mereka sepenuhnya tidak egois, tanpa aku.

KRISHNAJI: Tidak Tuan, saya tidak tertarik pada apa yang orang lain katakan.

SVAMIJI: Ia boleh jadi menyombongkan dirinya.

KRISHNAJI: Selama saya cukup jelas dalam diri saya, saya tidak sedang menipu diri saya. Saya dapat menipu diri saya pada saat saya memiliki sebuah ukuran. Ketika saya membandingkan diri saya dengan manusia dengan sebuah Rolls-Royce, atau dengan Sang Buddha, atau dengan Marx. Membandingkan diri saya dengan seseorang adalah permulaan ilusi. Ketika saya tidak membandingkan, mengapa saya harus, saya bergerak dari sana.

SVAMIJI: Untuk menjadi Sang Diri?

KRISHNAJI: Apapun saya; yang adalah: saya buruk, saya penuh amarah, penipuan, ketakutan, ini dan itu. Saya memulai dari sana dan melihat jika mungkin sama sekali bebas dari semua ini. Tanpa itu pemikiran saya tentang Tuhan seperti memikirkan tentang mendaki puncak-puncak itu, yang saya tak akan pernah.

SVAMIJI: Namun demikian Anda mengatakan sesuatu yang sangat menarik di hari yang lalu: individual dan kolektif adalah satu. Bagaimana bisa individual menyadari kesatuan itu dengan yang kolektif?

KRISHNAJI: Namun itu adalah sebuah fakta. Di sini saya hidup di Gstaad; seseorang hidup di India, ia memiliki masalah yang sama, kecemasan yang sama, ketakutan yang sama, hanya perbedaan ekspresi namun akar hal ini sama. Itu satu poin. Kedua, lingkungan telah menghasilkan keindividualistisan ini dan individualitas telah menciptakan lingkungan. Ketamakan saya telah menciptakan masyarakat busuk ini. Amarah saya, kebencian saya, fragmentasi hidup saya telah menciptakan negara dan seluruh kekacauan ini. Jadi saya adalah dunia, dunia adalah saya. Secara logis, intelektual, verbal, demikianlah ia.

SVAMIJI: Namun bagaimana seseorang dapat merasakannya?

KRISHNAJI: Itu datang hanya ketika Anda berubah. Ketika Anda berubah, Anda tidak lagi sebuah nasional. Anda tidak termasuk pada apapun.

SVAMIJI: Secara mental saya bisa katakan saya bukan seorang Hindu, atau saya bukan seorang India.

KRISHNAJI: Namun, Tuan, itu hanyalah sebuah trik. Anda harus merasakannya di dalam darah anda.

SVAMIJI: Mohon jelaskan apa itu maksudnya.

KRISHNAJI: Itu bermakna, Tuan, ketika Anda melihat bahaya nasionalisme, Anda keluar darinya. Ketika Anda melihat bahaya fragmentasi, Anda tidak lagi termasuk pada yang pecah. Kita tidak melihat bahayanya. Demikianlah.

Hari ke-2: Saanen, 26 Juli 1969 … Dapatkan orang mengalami yang tak terbatas.

SVAMIJI: Bersediakah Anda memaafkan saya, Krishnaji, jika saya membebankan diri saya pada Anda untuk sedikit lebih lama lagi? Kita sedang duduk di sini saling berdekatan satu sama lain dan menyelidiki, mendengarkan serta belajar. Demikian jua sang guru dan sang pencari, dan itu adalah asal mula (origin) yang mereka katakan dari Upanishad-Upanishad. Berbagai Upanishad ini mengandung apa yang dikenal sebagai Mahavakya-Mahavakya, Kata-kata Maha Mulia, yang mungkin memiliki pengaruh serupa terhadap sang pencari sebagaimana kata-kata anda terhadap saya saat ini. Dapatkah saya meminta Anda untuk menyampaikan apa yang Anda pikirkan tentang mereka, adakah mereka masih valid, atau apakah mereka memerlukan revisi atau pun pembaharuan?

Saya sampaikan apakah itu Mahavakya-Mahavakya: Prajnanam Brahma, atau sebagaimana ia biasanya diterjemahkan: kesadaran ialah tak terbatas, yang absolut, sang Kebenaran tertinggi. Aham Brahmasmi: Sayalah yang tak terhingga, atau Akulah ketidakterbatasan itu, karena ‘aku’ di sini tidak merujuk pada ego. Tat Tvam-asi: Engkau adalah itu. Ayam Atma Brahma: Sang diri adalah yang tak terbatas, atau individual adalah yang tak terbatas.

Inilah keempat Mahavakya yang digunakan oleh para guru zaman dahulu guna menyadarkan pesan pada sang murid, dan mereka juga duduk seperti kita, saling berhadapan, sang guru dan sang murid, sang guru dan sang pencari.

KRISHNAJI: Ya, apa pertanyaan-nya, Tuan?

SVAMIJI: Apa yang ada pikirkan tentang mereka? Apakah Mahavakya-Mahavakya ini valid sekarang? Apakah mereka memerlukan suatu revisi atau pembaharuan?

KRISHNAJI: Pengucapan-pengucapan ini, seperti “Akulah itu”, “Tat-Tvam-asi” dan hal lainnya, apakah itu?

SVAMIJI: Prajnanam Brahma, itu ialah: kesadaran adalah Brahman.

KRISHNAJI: Tidakkah di situ ada sebuah bahaya, Tuan, akan pengulangan sesuatu yang tak diketahui apa maknanya? “Akulah itu.” Apa maksud itu sesungguhnya?

SVAMIJI: Engkau adalah itu.

KRISHNAJI: Engkau adalah itu. Apakah maksudnya itu? Orang dapat berkata, Saya adalah sungai. Sungai itu yang memiliki banyak aliran di baliknya, bergerak, tak beristirahat, mendorong terus dan terus, selama berabad-abad. Saya dapat mengatakan, “Sayalah sungai itu.” Itu akan sama validnya seperti, “Akulah Brahman.”

SVAMIJI: Ya, Ya.

KRISHNAJI: Mengapa kita berkata, “Aku adalah itu”? dan bukannya sungai, atau orang miskin, atau manusia yang tak memiliki kapasitas, tanpa kecerdasan, tumpul, dan keadaan tumpul ini ditimbulkan oleh hereditas, oleh kemiskinan, oleh degradasi, semua itu! Mengapa kita tidak berkata, “Saya itu juga”? Kenapa kita selalu melekat pada sesuatu yang kita anggap menjadi yang tertinggi?

SVAMIJI: ‘Itu’, mungkin, hanya berarti itu yang tak terkondisi: Yo Vai Bhuma Tatsukham. Itu yang tak terkondisi.

KRISHNAJI: Tak terkondisi, ya.

SVAMIJI: Jadi, karena ada di dalam kita keterdesakan guna menghancurkan semua keterkondisian ini, kita mencari yang tak terkondisi.

KRISHNAJI: Dapatkah sebuah batin yang terkondisi, dapatkah sebuah batin yang kecil, menyedihkan, sempit, sedang hidup di atas hiburan-hiburan superfisial, dapat untuk mengetahui atau mengerti, atau memahami, atau merasakan, atau mengamati yang tak terkondisi?

SVAMIJI: Tidak. Namun ia dapat membuat dirinya tak terkondisi.

KRISHNAJI: Itulah segalanya yang dapat ia lakukan.

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Bukan berkata, “Di sanalah yang tak terkondisi, saya akan memikirkan mengenainya”, atau “Akulah itu”. Poin saya adalah, jika saya boleh menunjukkan, mengapakah kita selalu mengasosiasikan diri kita dengan apa yang kita pikir adalah yang tertinggi, dan bukan apa yang kita pikir adalah yang terendah?

SVAMIJI: Mungkin dalam Brahman tiada pembagian antara yang tertinggi dan yang terendah, itu yang tak terkondisi.

KRISHNAJI: Itulah poinnya. Ketika Anda berkata, “Akulah itu”, atau “Engkau adalah itu”, ada sebuah pernyataan dari yang seharusnya fakta …

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: … yang bisa jadi bukanlah sebuah fakta sama sekali.

SVAMIJI: Mungkin saya harus menjelaskan di sini sekali lagi bahwa sang guru mengucapkan Mahavakya-Mahavakya dipercaya telah memiliki sebuah pengalaman langsung akan itu.

KRISHNAJI: Kini, jika ia memiliki pengalaman akan itu, bisakah ia memindahkan (convey) itu ke orang lain?

SVAMIJI: (tertawa)

KRISHNAJI: Dan juga, Tuan, pertanyaan juga timbul, dapatkah orang sunguh-sungguh mengalami sesuatu yang tak dapat teralami? Kita menggunakan kata ‘pengalaman’ dengan begitu mudahnya – ‘menyadari’, ‘mengalami’, ‘memperoleh’, ‘kesadaran diri’, semua hal-hal ini – dapatkah orang sungguh-sungguh mengalami perasaan ekstase yang tertinggi? Marilah kita menggunakan itu untuk kini, kata itu. Dapatkah orang mengalaminya? Tunggu Tuan, tunggu.

Seperti Anda katakan, yang tak terbatas, dapatkah orang mengalami yang tak terbatas? Ini sungguh-sungguh sebuah pertanyaan fundamental, tidak hanya di sini namun dalam kehidupan. Kita dapat mengalami sesuatu yang sudah kita ketahui. Saya mengalami sedang bertemu Anda. Itulah sebuah pengalaman, bertemu Anda, atau Anda bertemu saya, atau saya bertemu X. Dan ketika saya bertemu Anda di kesempatan mendatang saya mengenali Anda bukan? Saya berkata, “Ya, saya bertemu dia di Gstaad.” Jadi ada di dalam pengalaman, faktor pengenalan.

SVAMIJI: Ya. Itu adalah pengalaman obyektif.

KRISHNAJI: Jika saya tidak pernah bertemu Anda saya tidak akan mengalami, saya akan pergi begitu saja, Anda akan melewati saya begitu saja. Ada dalam semua mengalami, sebuah faktor pengenalan, bukankah demikian?

SVAMIJI: Mungkin saja.

KRISHNAJI: Jikalau tidak itu bukanlah sebuah pengalaman? Saya bertemu Anda – apakah itu sebuah pengalaman?

SVAMIJI: Pengalaman obyektif.

KRISHNAJI: Ia dapat menjadi sebuah pengalaman kan? Saya bertemu Anda untuk pertama kalinya. Lalu apa yang terjadi pada pertemuan pertama dua orang ini? Apa yang terjadi?

SVAMIJI: Sebuah kesan, kesan suka.

KRISHNAJI: sebuah kesan suka atau tak suka, seperti, “Ia adalah seorang yang sangat cerdas,” atau “Ia seorang yang bodoh”, atau “Ia seharusnya seperti ini atau itu”. itu semua didasarkan pada latar belakang penilaian saya, pada nilai-nilai saya, pada prasangka-prasangka saya, suka dan tak suka, pada bias-bias saya, pada keterkondisian saya, latar belakang. Latar belakang itu bertemu Anda dan menilai Anda. Penilaian, evaluasi, adalah apa yang kita sebut pengalaman.

SVAMIJI: Namun tidakkah ada, Krishnaji, lain …

KRISHNAJI: Tunggu, Tuan, biarkan saya selesaikan ini. Pengalaman bagaimana pun juga respon terhadap sebuah tantangan, tidak-kah demikian? Reaksi terhadap sebuah tantangan. Saya bertemu Anda dan saya bereaksi. Jika saya tidak bereaksi sama sekali, dengan segala rasa suka, tak suka, prasangka, apa yang terjadi?

SVAMIJI: Ya?

KRISHNAJI: Apa yang akan terjadi dalam sebuah hubungan di mana orang – Anda, mungkin – tidak memiliki prasangka, reaksi; Anda hidup dalam keadaan yang amat berbeda dan Anda bertemu saya. Lalu apa yang terjadi?

SVAMIJI: Kedamaian.

KRISHNAJI: Saya harus mengenali kedamaian itu pada Anda, kualitas itu pada Anda, jikalau tidak saya hanya akan melewati Anda begitu saja. Jadi ketika kita berkata, “Mengalami yang tertinggi”, dapatkah batin, yang terkondisi, yang menyangka-nyangka, ketakutan, mengalami yang tertinggi?

SVAMIJI: Pastinya tidak.

KRISHNAJI: Pastinya tidak. Dan ketakutan, prasangka, loncatan kesenangan, kebodohan ialah entitas yang berkata, “Saya akan mengalami yang tertinggi.” Ketika kebodohan itu, ketakutan, kecemasan, keterkondisian itu berakhir, adakah mengalami yang tertinggi sama sekali?

SVAMIJI: Mengalami ‘itu’.

KRISHNAJI: Bukan, saya tidak sudah membuat diri saya jelas. Jika entitas, yang ialah ketakutan, kecemasan, rasa salah dan semua sisanya itu, jika entitas itu telah melarutkan dirinya dari ketakutan dan lain sebaginya, apakah yang di sana untuk dialami?

SVAMIJI: Kini pertanyaan indah itu sesungguhnya telah dilontarkan dalam begitu banyak kata, oleh guru yang lainnya. Ia menanyakan pertanyaan yang sama: Vijnataram Are Kena Vijaniyat: “Andalah yang mengetahui (knower), bagaimana bisa Anda mengetahui yang mengetahui?” “Andalah pengalaman-pengalaman!”

Namun ada satu saran yang diberikan Vedanta dan itu adalah: kita telah sangat jauh membicarakan mengenai sebuah pengalaman obyektif: Paroksanabhuti. Tidakkah di situ pengalaman yang lainnya? Bukan aku bertemu X Y Z, namun rasa ‘akulah’, yang bukan karena saya bertemu hasrat di suatu tempat, atau karena saya bersinggungan dengan hasrat di tempat lainnya. Saya bahkan tak pergi dan bertanya pada seorang dokter atau seseorang untuk menandai/menyatakan ‘akulah’ itu. Namun di situlah perasaan ini, di situlah pengetahuan ini, ‘akulah’. Pengalaman ini tampaknya menjadi beda seluruhnya dari pengalaman obyektif.

KRISHNAJI: Tuan, apakah tujuan dari pengalaman?

SVAMIJI: Tepatnya apa yang telah Anda katakan: melepaskan ketakutan-ketakutan, dan melepaskan semua kerumitan, semua keterkondisian. Untuk melihat apa saya, dalam kebenaran, ketika saya tidak terkondisi.

KRISHNAJI: Tidak, Tuan. Saya maksudkan: Saya tumpul.

SVAMIJI: Apakah saya tumpul?

KRISHNAJI: Saya tumpul; dan karena saya melihat Anda, atau XYZ, yang sangat pandai, sangat cerah, sangat cerdas…

SVAMIJI: … ada pembandingan.

KRISHNAJI: Pembandingan: melalui membandingkan, saya menemukan diri saya bahwa saya sangat tumpul. Dan saya berkata, “Ya, saya tumpul, apa yang saya harus lakukan?”, dan hanya tetap dalam ketumpulan saya. Kehidupan menghampiri, sebuah insiden terjadi, yang mengguncang saya. Saya terbangun untuk sesaat dan bergelut, bergelut agar tak menjadi tumpul, menjadi sedikit lebih cerdas, dan seterusnya. Jadi pengalaman secara umum memiliki signifikansi membangunkan Anda, memberikan Anda sebuah tantangan terhadapnya Anda harus merespons. Baik Anda meresponsnya secara adekuat (cukup baik) atau pun inadekuat. Jika itu tidak berkecukupan (inadekuat), respons kemudian menjadi sebuah medium dari sakit, pergulatan, pertempuran, perselisihan, Anda tahu. Namun jika Anda meresponsnya dengan adekuat, itulah sepenuhnya, Andalah tantangan. Andalah tantangan, bukan yang ditantang, namun Andalah itu. Karenanya Anda tidak memerlukan tantangkan sama sekali, jika Anda secara adekuat merespons sepanjang waktu terhadap segala hal.

SVAMIJI: Itu begitu indah, namun (tertawa) bagaimana orang bisa sampai di sana?

KRISHNAJI: Ah, tunggu, Tuan. Marilah kita lihat keperluan akan pengalaman sama sekali. Saya pikir ini sungguhlah luar biasa, jika Anda dapat menyelaminya. Mengapa manusia menuntut tak hanya pengalaman obyektif, yang orang dapat pahami – dalam perjalanan ke bulan mereka telah mengumpulkan banyak informasi, banyak data, banyak…

SVAMIJI: … bebatuan.

KRISHNAJI: Pengalaman seperti itu adalah mungkin perlu, karena pengetahuan lebih lanjutnya, pengetahuan faktual, hal-hal obyektif. Kini terpisah dari jenis pengalaman itu, adakah keperluan demi pengalaman sama sekali?

SVAMIJI: Secara subyektif?

KRISHNAJI: Ya. Saya tidak suka menggunakan ‘subyektif’ dan ‘obyektif’. Adakah keperluan akan pengalaman sama sekali? Kita telah berkata: pengalaman adalah respons terhadap sebuah tantangan. Saya menantang Anda, saya bertanya, ‘Mengapa?’ Anda bisa jadi meresponsnya, dan berkata, “Ya, sangat benar, saya bersama Anda.” Mengapa? Namun pada saat ada sejenis resistansi terhadap pertanyaan itu, ‘Mengapa?’, Anda telah meresponsnya dengan tidak adekuat. Dan oleh karena itu ada konflik di antara kita, antara tantangan dan respons. Kita, itulah satu hal. Kini ada sebuah hasrat untuk mengalami, marilah kita katakan Tuhan, sesuatu yang supra (supreme), yang tertinggi – kebahagiaan tertinggi, ekstase tertinggi, bliss, sensasi kedamaian, apapun yang Anda suka. Dapatkah batin mengalaminya sama sekali?

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Lalu apa yang mengalaminya?

SVAMIJI: Apakah Anda ingin kami menyelidiki apakah batin itu?

KRISHNAJI: Tidak.

SVAMIJI: Apakah ‘aku’ itu?

KRISHNAJI: Bukan! Mengapakah ‘aku’, saya atau Anda, atau mereka atau kita, menuntut pengalaman? – itulah poin saya – menuntut pengalaman akan yang tertinggi, yang menjanjikan kebahagiaan, atau ekstase, kegembiraan atau kedamaian?

SVAMIJI: Pastinya karena dalam keadaan saat ini kita merasakan tidak berkecukupan.

KRISHNAJI: Itu dia, itulah semuanya.

SVAMIJI: Benar.

KRISHNAJI: Berada dalam sebuah keadaan di mana tiada kedamaian, kita ingin mengalami sebuah keadaan yang damai absolut, permanen, abadi.

SVAMIJI: Tidaklah begitu banyak di mana saya gelisah, dan ada sebuah keadaan damai; saya ingin tahu apakah perasaan ini, “saya gelisah”. Apakah ‘aku’ gelisah, ataukah ‘aku’ tumpul? Apakah saya tumpul, ataukah ketumpulan hanya sebuah kondisi yang saya dapat hilangkan?

KRISHNAJI: Kini siapakah entitas yang menghilangkannya?

SVAMIJI: Bangun. Sang ‘aku’ bangun.

KRISHNAJI: Tidak, Tuan. Itulah kesulitannya. Marilah kita selesaikan ini dahulu. Saya tidak bahagia, tidak senang, dimuat dengan duka cita. Dan saya ingin mengalami sesuatu yang tak memiliki duka cita. Itulah ketagihan saya. Saya memiliki sebuah idealis, sebuah prinsip, sebuah akhir, yang dengan bergulat menujunya saya akan pada akhirnya mendapatkannya. Itulah kecanduan saya. Saya ingin mengalami itu dan bertahan pada pengalaman itu. Itulah apa yang umat manusia inginkan – terpisah dari apa si pintar katakan, si pintar bungkus.

SVAMIJI: Ya, ya; dan itulah mungkin alasan mengapa guru besar India Selatan lainnya berkata: Asai Arumin Asai Arumin Isanodayinum Asai Arumin. Itu sungguhlah sangat baik.

KRISHNAJI: Apakah itu?

SVAMIJI: Ia berkata, “Tebanglah semua candu-candu ini. Bahkan ketagihan untuk menjadi satu dengan Tuhan, tebanglah itu.”

KRISHNAJI: Ya, saya paham. Kini tunggulah sebentar. Jika saya, jika batin dapat membebaskan dirinya dari agonia ini, maka apakah perlunya meminta untuk sebuah pengalaman akan yang tertinggi/supra? Tidak akan ada.

SVAMIJI: Tidak. Pastinya.

KRISHNAJI: Ia tak lagi terperangkap dalam keterkondisiannya sendiri. Oleh karena itu ia sesuatu yang lain; ia hidup dalam sebuah dimensi yang berbeda. Oleh karena itu, hasrat guna mengalami yang tertinggi secara esensial keliru.

SVAMIJI: Jika ia adalah sebuah hasrat.

KRISHNAJI: Apapun itu! Bagaimana bisa saya tahu yang tertinggi? Karena para guru telah membicarakannya? Saya tidak menerima para guru. Mereka mungkin terperangkap dalam ilusi, mereka mungkin berbicara omong kosong ataupun yang masuk akal. Saya tak tahu; saya tak tertarik. Saya menemukan bahwa selama batin dalam sebuah keadaan takut, ia ingin lolos darinya, dan ia memproyeksikan sebuah ide akan yang supra, dan ingin mengalami itu. namun jika ia bebaskan dirinya dari agonianya sendiri, maka ia seluruhnya dalam sebuah keadaan yang berbeda. Ia bahkan tidak meminta untuk pengalaman karena ia ada pada sebuah tingkat yang berbeda.

SVAMIJI: Tepat, tepat.

KRISHNAJI: Kini, mengapa para guru, menurut apa yang telah Anda katakan, berkata, “Anda harus mengalami itu, Anda harus menjadi itu, Anda harus menyadari itu”?

SVAMIJI: Mereka tidak berkata, “Anda harus”.

KRISHNAJI: Buat itu seperti apapun yang Anda suka. Mengapa mereka harus mengatakan semua hal ini? Tidakkah akan lebih baik untuk mengatakan, “Lihatlah kemari, sahabat-sahabatku, lepaskan ketakutanmu. Lepaskan kebencian buasmu, lepaskan kekanak-kanakanmu, dan ketika engkau telah melakukan itu…”

SVAMIJI: … tiada ada lagi yang tersisa.

KRISHNAJI: Tidak ada lagi. Anda akan mengetahui keindahannya. Maka Anda tak perlu bertanya.

SVAMIJI: Fantastis, fantastis!

KRISHNAJI: Anda lihat, Tuan, cara yang lain hanyalah sebuah keadaan kepura-puraan; ia mengarahkan pada kepura-puraan. Saya sedang mencari Tuhan, namun saya sepanjang waktu menendangi orang-orang. (Tertawa).

SVAMIJI: Ya, itu mungkin menjadi kepura-puraan.

KRISHNAJI: Itu adalah (kepura-puraan).

SVAMIJI: Itu mengarahkan saya menuju pertanyaan yang terakhir dan mungkin sangat kurang ajar (impertinent).

KRISHNAJI: Tidak, Tuan, tidak ada kekurangajaran.

SVAMIJI: Saya tidak sedang memuji Anda, tidak juga sedang menghina Anda, Krishnaji, ketika saya berkata adalah sebuah pengalaman agung untuk duduk di dekat Anda dan berbicara dengan Anda seperti ini. Pesan anda mulia, dan Anda telah (dan masih) berbicara selama lebih dari empat puluh tahun akan hal-hal yang Anda telah pertimbangkan sangat penting untuk manusia. Kini tiga buah pertanyaan. Apakah Anda pikir seorang manusia dapat mengomunikasikannya pada manusia lainnya? Pertanyaan nomor satu. Apakah Anda pikir bahwa orang-orang dapat menyampaikannya ke masih orang-orang? Jika demikian, bagaimana?

KRISHNAJI: Mengomunikasikan apa, Tuan?

SVAMIJI: Pesan ini, yang Anda telah dedikasikan hidup anda padanya. Apa yang hendak Anda sebut baginya? Anda boleh menyebutnya pesan.

KRISHNAJI: Ya, sebut ia apapun yang Anda suka, itu tak masalah. Apakah saya, orang yang sedang berbicara, apakah ia membawa sebuah pesan, memberitahukan Anda sebuah pesan?

SVAMIJI: Tidak. Anda boleh menyebutnya sebuah pembangkitan (awakening), sebuah mempertanyakan.

KRISHNAJI: Bukan, bukan. Saya sedang meminta, Tuan. Hanya lihatlah ia (just look at it).

SVAMIJI: Saya rasa kami merasa demikian, para pendengar.

KRISHNAJI: Apa yang ia sedang katakan? Ia berkata, “Lihatlah, lihat diri anda.”

SVAMIJI: Tepat.

KRISHNAJI: Tak ada lagi.

SVAMIJI: Tak ada lagi yang penting.

KRISHNAJI: Tak ada lagi yang penting. Lihat pada diri anda. Amati diri anda. Masuklah ke dalam diri anda, karena dalam keadaan ini sebagaimana kita, kita akan menciptakan sebuah dunia yang mengerikan. Anda boleh pergi ke bulan, Anda boleh pergi lebih jauh, ke Venus, Mars dan sisanya, namun Anda akan selalu membawa diri anda ke sana. Rubahlah diri anda terlebih dahulu! Rubahlah diri anda – bukan pertama – rubah diri anda. Oleh karena itu untuk berubah, lihat pada diri anda, masuk ke dalam diri anda, amati, dengarkan, pelajari. Itu bukanlah sebuah pesan. Anda dapat melakukannya jika Anda inginkan.

SVAMIJI: Namun seseorang harus memberitahukan…

KRISHNAJI: Saya sedang memberitahukan Anda. Saya berkata, “Lihatlah, lihatlah pohon yang menakjubkan ini; lihatlah bunga Afrika yang indah ini.”

SVAMIJI: Sampai Anda mengatakan itu, Saya belumlah melihatnya.

KRISHNAJI: Ah! Mengapa?

SVAMIJI: (tertawa)

KRISHNAJI: Mengapa? Ia di sana, sekitar Anda.

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Mengapa Anda tidak melihat?

SVAMIJI: Akan mungkin ada seribu jawaban.

KRISHNAJI: Bukan, bukan. Saya meminta Anda agar melihat bunga itu. Oleh permintaan saya pada Anda untuk melihat bunga itu, apakah Anda melihat bunga itu?

SVAMIJI: Saya memiliki kesempatan, ya.

KRISHNAJI: Bukan. Apakah Anda sungguh-sungguh melihat bunga itu karena seorang lain meminta Anda agar melihat bunga itu?

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Tidak, Anda tak bisa. Hanya seperti itu. Saya berkata pada Anda, “Anda lapar.” Apakah Anda lapar karena saya mengatakannya?

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Anda tahu ketika Anda lapar. Kini Anda tahu ketika Anda sedang lapar namun masih saja Anda ingin seseorang agar memberitahukan Anda untuk melihat bunga.

SVAMIJI: Saya mungkin tahu ketika saya sedang lapar, namun tidakkah ibu yang memberi tahu saya di manakah makanan berada.

KRISHNAJI: Tidak, tidak. Kita tidak sedang membicarakan tentang di mana makanan berada, namun kita sedang mengatakan ‘rasa lapar’. Anda tahu ketika Anda lapar. Namun mengapakah seseorang harus memberitahukan Anda untuk melihat sebuah bunga?

SVAMIJI: Karena saya tidak sedang lapar untuk melihat bunga.

KRISHNAJI: Mengapa tidak?

SVAMIJI: Saya terpuaskan tentang sesuatu yang lain.

KRISHNAJI: Bukan. Mengapa Anda tidak melihat bunga itu? Mengapa? Saya pikir pertama-tama alam tidak memiliki nilai sama sekali bagi kebanyakan dari kita. Kita berkata, “Baiklah, saya dapat melihat pepohonan kapan pun saya inginkan.” Itu adalah satu hal. Juga, kita terlalu terpusat pada kehawatiran-kekhawatiran kita sendiri, harapan-harapan kita sendiri, hasrat-hasrat serta pengalaman-pengalaman kita sendiri, di mana kita mengunci diri kita sendiri dalam sebuah kerangkeng pemikiran kita sendiri; dan kita tidak melihat melampaui itu. Ia berkata, “Jangan lakukan itu. Lihatlah semuanya dan dengan melihat semuanya Anda akan menemukan kerangkeng anda.” Itu saja.

SVAMIJI: Tidakkah itu sebuah pesan?

KRISHNAJI: Itu bukanlah pesan dalam pengertian…

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Tidaklah penting apa sebutannya – sebut itu sebuah pesan. Baiklah. Saya memberitahukan Anda. Anda bermain-main dengannya, atau mengambilnya secara serius. Dan jika itu sangat serius bagi Anda, Anda alaminya memberitahukan itu pada orang lain. Anda tidak perlu mengatakan, “Saya akan membuat propaganda tentang itu.”

SVAMIJI: Tidak, tidak.

KRISHNAJI: Anda akan berkata, “Lihatlah keindahan bunga-bunga itu.”

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Anda mengatakan itu. Dan orang tidak mendengarkan Anda. Ia berkata, “Apa yang sedang Anda bicarakan, saya ingin segelas wiski”. Dan di sanalah ia – berakhir! Jadi apakah propaganda perlu?

SVAMIJI: Penyebaran, Tuan.

KRISHNAJI: Ya, penyebaran, …., menyebarkan. Untuk menimbulkan, untuk mengolah.

SVAMIJI: Pengolah diperlukan.

KRISHNAJI: Semua pertanyaan-pertanyaan ini lebih ke … Apa yang Anda katakan, Tuan?

SVAMIJI: Saya tidak tahu.

KRISHNAJI: Apa yang sedang kita bicarakan? Apakah itu yang sedang kita bicarakan?

SVAMIJI: Ya. Kita sedang membicarakan mengenai pembicaraan selama empat puluh tahun ini.

KRISHNAJI: Lebih dari empat puluh tahun.

SVAMIJI: Ya, jutaan orang telah berbicara selama berabad-abad, membuang …”

KRISHNAJI: Selama empat puluh lima tahu kita telah berbicara, ya. Kita telah menyebarkan…

SVAMIJI: Atau sesuatu yang teramat penting, yang saya yakin Anda pertimbangkan teramat penting.

KRISHNAJI: Jikalau tidak, saya tak akan berbicara.

SVAMIJI: Tepat. Saya harap Anda akan memaafkan saya untuk semua kekurangajaran ini. Saya telah membaca beberapa buku yang Anda telah publikasikan, namun pengalaman ini akan sedang duduk dan berbicara pada Anda…

KRISHNAJI: … berbeda dari sedang membaca sebuah buku.

SVAMIJI: Sepenuhnya, sepenuhnya, berbeda!

KRISHNAJI: Saya setuju.

SVAMIJI: Semalam saya membaca salah satu dan ada sebuah makna sedikit lebih. Bagaimana orang menimbulkan itu?

KRISHNAJI: Baiklah,Tuan. Anda adalah seorang yang serius, dan orang lain menjadi serius di sanalah sebuah kontak, di sanalah sebuah hubungan, di sanalah hadir bersama-sama dalam kesungguhan. Namun jika Anda tidak serius, Anda hanya akan berkata, “Baiklah, sangat menyenangkan berbicara mengenai semua ini, namun apa maknanya semua ini?” dan melangkah pergi.

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Pastinya, Tuan, dengan segala jenis hubungan yang memiliki makna pastilah ada sebuah pertemuan pada tingkat yang sama, pada waktu yang sama, dengan kekuatan (intensitas) yang sama, jikalau tidak tidak ada komunikasi, tidak ada hubungan. Dan mungkin itulah apa yang terjadi ketika kita sedang duduk bersama-sama di sini. Karena orang merasakan keterdesakan (urgency) akan sesuatu dan intensitasnya, ada sebuah hubungan terbentuk yang amat berbeda dari membaca sebuah buku.

SVAMIJI: Sebuah buku tidak memiliki kehidupan.

KRISHNAJI: Kata-kata tercetak tidak memiliki kehidupan, namun Anda dapat memberikan hidup pada kata yang tercetak jika Anda bersungguh-sungguh.

SVAMIJI: Jadi bagaimana itu melangkah dari situ?

KRISHNAJI: Dari situ Anda katakan, apakah mungkin guna membawa ke orang lain kualitas keterdesakan ini, kualitas intensitas ini, dan tindakan yang selalu berada dalam kekinian.

SVAMIJI: Sunguh-sungguh kini?

KRISHNAJI: Ya, tidak esok atau kemarin.

SVAMIJI: Tindakan, yang berarti pengamatan pada tingkat yang sama.

KRISHNAJI: Dan selalulah berfungsi – melihat dan bertindak, melihat, bertindak, melihat, bertindak.

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Bagaimana ini terjadi? Pertama-tama, Tuan, sangat sedikit orang-orang, sebagaimana kita katakan kemarin, sekitar sembilan puluh lima persen tidaklah tertarik pada semua ini.

SVAMIJI: Lebih lima persen!

KRISHNAJI: Lebih lima persen dibandingkan kemarin. Sangat tepat! Kebanyakan dari mereka tidaklah tertarik. Mereka bermain dengan itu. Sangat, sangat sedikit orang-orang yang bersungguh-sungguh. Sembilan puluh lima persen berkata, “Baiklah, jika Anda sedang menghibur tidaklah mengapa, namun jika Anda tidak, Anda tidak diterima” – hiburan, menurut ide mereka akan hiburan. Kemudian apa yang akan Anda lakukan? Mengetahui hanya ada sangat-sangat sedikit orang di dunia yang sungguh-sungguh dengan nekat bersungguh-sungguh, apa yang akan Anda lakukan? Anda berbicara pada mereka, dan Anda berbicara pada mereka yang ingin dihibur. Namun tidak peduli apakah mereka mendengarkan atau tidak.

SVAMIJI: Terima kasih. Terima kasih.

KRISHNAJI: Tidak juga. Saya tidak mengatakan, pada orang-orang yang memerlukan tongkat-tongkat, menawarkan tongkat!

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Tidak juga pada orang-orang yang menginginkan kenyamanan, sebuah jalan raya pelarian – ‘pergilah ke tempat lain.’

SVAMIJI: Ke Hotel Istana!

KRISHNAJI: Saya pikir, Tuan, itulah apa yang mungkin terjadi dalam semua agama-agama ini, semua yang disebut guru-guru. Mereka telah berkata, “Saya harus menolong orang ini, orang itu, dan orang yang lainnya lagi.”

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Yang bodoh, yang semi-bodoh, yang sangat cerdas. Masing-masing pasti memiliki bentuk khas makanannya. Mereka tidak pernah mengatakan, “Baiklah, saya tidak beperhatian. Saya hanya menawarkan bunga, biarkan mereka menciumnya, biarkan mereka menghancurkannya, biarkan mereka memasaknya, biarkan mereka merobeknya kecil-kecil. Saya tak memiliki urusan dengan itu.”

SVAMIJI: Baik, mereka mengagungkan sikap lain itu, idalis Sang Bodhisattva.

KRISHNAJI: Sekali lagi, idealis Sang Bodhisattva – tidakkah itu sebuah penemuan harapan putus asa kita sendiri, hasrat untuk sejenis pelipur lara? Sang Bodhisattva Maitreya, ide bahwa Dia telah melepaskan (relinquished) yang terutama (ultimate) dalam kehidupan, pencerahan, dan sedang menunggu untuk semua kemanusiaan, atau bagian kemanusiaan…

SVAMIJI: Terima kasih.

KRISHNAJI: Apakah Vedanta yang sesungguhnya?

SVAMIJI: Kata itu bermakna, ‘Akhir dari Veda-Veda’.

KRISHNAJI: Ya, Vedanta, akhir dari Veda-Veda.

SVAMIJI: Kata.

KRISHNAJI: Tuan, ia hanya itu! Akhir dari Veda-Veda.

SVAMIJI: Bukan dalam tata cara dari ‘henti penuh’ (Full stop).

KRISHNAJI: Saya sedang katakan itu adalah akhir dari semua pengetahuan.

SVAMIJI: Tujuannya.

KRISHNAJI: Veda adalah apa yang telah mereka perbincangkan.

SVAMIJI: Pengetahuan.

KRISHNAJI: Pengetahuan, itu bermakna akhir pengetahuan.

SVAMIJI: Amat benar, teramat benar. Ya, akhir pengetahuan; di mana pengetahuan tidak berarti lagi (bukan masalah lagi).

KRISHNAJI: Oleh karena itu, tinggalkan ia.

SVAMIJI: Ya.

KRISHNAJI: Mengapa memulai dari situ untuk melukiskan apa yang bukan itu?

SVAMIJI: Karena saya telah sedang duduk dan mendengarkan Anda, saya telah memikirkan guru lain yang dikisahkan telah pergi ke guru yang lebih hebat/mulia. Dan ia berkata, “Lihatlah batin saya tidak bisa beristirahat; mohon beri tahu saya apa yang harus saya lakukan.” Dan orang yang lebih tua berkata, “Berikan saya sebuah daftar akan apa yang telah Anda ketahui, sehingga saya bisa memulai dari situ.” Ia menjawab, “Oh, itu akan memakan waktu yang lama, karena saya memiliki semua rumusan, semua sastra, semua itu.” Sang guru menjawab, “Namun itu hanya seperangkat kata-kata. Semua kata-kata itu ada di dalam kamus, itu tak berarti apapun. Kini apa yang Anda tahu?” Ia berkata, “Itu semua yang saya tahu. Saya tidak tahu yang lainnya.”

KRISHNAJI: Vedanta, seperti yang ia katakan, berarti akhir pengetahuan.

SVAMIJI: Ya, ia begitu indah, saya tak pernah memikirkannya sebelum ini: akhir pengetahuan.

KRISHNAJI: Bebas dari pengetahuan.

SVAMIJI: Ya tentu saja.

KRISHNAJI: Lalu mengapa tidak mereka tetap pada itu?

SVAMIJI: Pernyataan/pendirian mereka adalah bahwa Anda harus melewatinya dengan tujuan guna keluar darinya.

KRISHNAJI: Melewati apa?

SVAMIJI: Melalui semua pengetahuan, semua kotoran ini, dan kemudian membuangnya. Parivedya Lokan Lokajitan Brahmano Nirvedamayat. Demikianlah, “Setelah mengamati semua hal-hal ini dan menemukan bahwa mereka tak berguna bagimu, maka engkau harus melangkah keluar darinya.”

KRISHNAJI: Tunggu sebentar, Tuan. Lalu mengapa saya harus memperolehnya? Jika Vedanta berarti akhir dari pengetahuan, yang kata itu sendiri berarti, akhir dari Veda-Veda, yang adalah pengetahuan, lalu mengapa saya harus melalui semua proses memperoleh pengetahuan yang begitu menyita tenaga, dan kemudian membuangnya?

SVAMIJI: Jikalau tidak Anda tidak akan berada pada Vedanta. Akhir dari pengetahuan adalah, dengan memperoleh pengetahuan ini, hingga menuju akhirnya.

KRISHNAJI: Mengapa saya harus memperolehnya?

SVAMIJI: Baik, sehingga ia bisa diakhiri.

KRISHNAJI: Bukan, tidak. Mengapa saya harus memperolehnya? Mengapa saya sebaiknya tidak, dari teramat awal, melihat apa pengetahuan itu dan membuangnya?

SVAMIJI: Melihat apa itu pengetahuan?

KRISHNAJI: Dan membuang, membuang semua itu: tidak pernah mengumpulkan. Vedanta bermakna akhir dari pengumpulan pengetahuan.

SVAMIJI: Itulah ia. Itu benar.

KRISHNAJI: Lalu mengapa saya harus mengumpulkan?

SVAMIJI: Melaluinya, mungkin.

KRISHNAJI: Melalui? Mengapa saya harus? Pengetahuan: Saya tahu api membakar. Saya tahu ketika saya lapar saya harus makan. Saya tahu saya tidak seharusnya memukul Anda; saya tidak memukul Anda, oleh karena itu saya tidak memukul Anda. Saya tidak melalui proses memukul Anda, mendapatkan pengetahuan yang saya akan sakit lagi. Jadi tiap hari saya membuangnya. Saya membebaskan diri saya dari apa yang saya telah pelajari, setiap menit. Jadi setiap menit adalah akhir dari pengetahuan.

SVAMIJI: Ya, benar.

KRISHNAJI: Kini jika Anda dan saya menerima itu, itu adalah sebuah fakta, itulah satu-satu cara untuk hidup, jikalau tidak Anda tak bisa hidup. Lalu mengapa mereka telah mengatakan, “Engkau harus lalui semua pengetahuan, melalui semua ini”? Mengapa mereka tidak memberitahukan saya, “Lihatlah sahabatku, sebagaimana engkau hidup dari hari ke hari mengumpulkan pengetahuan, mengakhiri ia tiap hari”? – bukan Vedanta

SVAMIJI: Tidak, tidak.

KRISHNAJI: Hidupkan ia!

SVAMIJI: Amat benar. Sekali lagi pembagian ini, klasifikasi ini.

KRISHNAJI: Itu hanya demikian. Kita kembali lagi.

SVAMIJI: Kembali lagi.

KRISHNAJI: Kita kembali lagi pada sebuah fragmen, perpecahan kehidupan.

SVAMIJI: Ya. Tapi saya terlalu tumpul, saya tak bisa mencapai itu; jadi saya lebih baik memperoleh semua ini.

KRISHNAJI: Ya, dan kemudian membuangnya.

SVAMIJI: Dalam riwayat religius atau spiritual India, telah ada guru-guru yang terlahirkan guru-guru: Sang Ramana Maharishi, Sang Shuka Maharishi, dan lainnya. Baik, mereka telah diizinkan untuk membuang pengetahuan bahkan sebelum memperolehnya. Dan dalam kasus-kasus mereka tentunya, argumen biasa adalah bahwa mereka telah menyelesaikan semuanya…

KRISHNAJI: Dalam kehidupan-kehidupan mereka yang lampau.

SVAMIJI: … dalam kehidupan-kehidupan mereka yang lampau.

KRISHNAJI: Hanya demikianlah itu, Tuan. Tidak, Tuan, terpisah dari memperoleh pengetahuan dan akhir pengetahuan, apa yang katakan Vedanta?

SVAMIJI: Vedanta melukiskan hubungan antara individual dan Kosmik.

KRISHNAJI: Sang Abadi.

SVAMIJI: Kosmik, atau yang Tak-terhingga, atau apapun itu. Ia memulai dengan baik: Isavasyam Idam Sarvam Yat Kimcha Jagatyam Jagat: “Hingga seluruh alam semesta diliputi oleh yang satu…”

KRISHNAJI: Yang satu itu.

SVAMIJI: … dan seterusnya. Dan kemudian kebanyakan ini, sebuah dialog antara seorang master dan muridnya.

KRISHNAJI: Tuan, tidakkah itu luar biasa, bahwa selalu ada di India guru dan murid ini, guru dan murid?

SVAMIJI: Ya, Guru.

KRISHNAJI: Namun mereka tak pernah berkata, “Engkau adalah sang guru sebagaimana juga sang murid.”

SVAMIJI: Terkadang mereka katakan itu.

KRISHNAJI: Namun selalu dengan keragu-raguan, dengan kekhawatiran. Namun mengapa? Fakta adalah, Andalah sang guru dan Andalah sang murid. Jikalau tidak Anda tersesat, jika Anda bergantung pada orang lain. Itulah faktor seseorang. Dan juga saya hendak menanyakan mengapa, dalam lagu-lagu, dalam literatur Hindu, mereka memuji keindahan alam, pepohonan, bunga-bunga, sungai-sungai, burung-burung. Mengapakah kebanyakan orang di India tidak memiliki perasaan untuk semua itu?

SVAMIJI: Karena mereka mati?

KRISHNAJI: Mengapa? Dan hingga kini mereka berbincang mengenai keindahan, literatur, kutipan Sanskrit, dan Sanskrit itu sendiri adalah bahasa paling indah. Mereka telah kehilangannya.

SVAMIJI: Mereka tak memiliki perasaan untuk…

KRISHNAJI: Mengapa? Dan mengapa mereka tidak memiliki perasaan untuk orang miskin.

SVAMIJI: Ya, itulah tragedi terburuk dari semuanya.

KRISHNAJI: Saya tahu. Kejorokan, kotoran.

SVAMIJI: Dan surga tahu dari mana mereka mendapatkan ide ini karena ia tak ditemukan dalam tulisan manapun. Itu berarti kita sedang mengulangi tulisan-tulisan tanpa menyadari makna mereka.

KRISHNAJI: Demikianlah.

SVAMIJI: Bahkan Krishna berkata: Ishwara Sarvabhutanam Hriddesserjuna isthati, “Aku duduk dalam hati seluruh keberadaan.” Tak seorang pun peduli akan hati seluruh keberadaan. Apakah yang menurut Anda penyebabnya? Mereka mengulangnya setiap hari, setiap pagi mereka diminta mengulang sebuah bab Bhagavad Gita.

KRISHNAJI: Setiap pagi mereka melakukan Puja dan pengulangan hal-hal.

SVAMIJI: Kini mengapa mereka telah kehilangan maknanya? Pastinya maha-makna telah diletakkan ke dalam kata-kata itu oleh para penyusun. Kita bahkan diminta untuk mengulangi mereka setiap hari dengan tujuan bahwa kita tetap…

KRISHNAJI: Hidup (alive).

SVAMIJI: Menjaga mereka hidup. Kapan dan bagaimana saya membunuh sang semangat/jiwa (spirit)? Bagaimana itu mungkin? Dan alaminya, bagaimana mencegahnya?

KRISHNAJI: Apa yang menurut Anda penyebabnya, Tuan? Bukan(kah), Anda mengenal India lebih baik.

SVAMIJI: Saya terkejut akannya.

KRISHNAJI: Mengapa Anda pikir itu terjadi? Apakah (karena) populasi berlebihan?

SVAMIJI: Bukan, populasi berlebih adalah sebuah hasil, bukan penyebab.

KRISHNAJI: Ya. Apakah karena mereka telah menerima tradisi ini, otoritas ini?

SVAMIJI: Namun tradisi mengatakan sesuatu yang baik.

KRISHNAJI: Namun mereka telah menerimanya, oleh karena itu mereka tak pernah mempertanyakannya. Tuan, Saya telah menjumpai M.A dan B.A di India, yang telah menerima gelar, mereka cerdik, berotak, namun mereka tak akan tahu bagaimana meletakkan sebuah bunga di atas sebuah meja. Mereka tak tahu apapun kecuali mengingat, mengingat, pengolahan ingatan. Tidakkah itu salah satu penyebab?

SVAMIJI: Mungkin. Mengingat belaka.

KRISHNAJI: Mengingat semuanya.

SVAMIJI: Tanpa berpikir. Mengapa manusia menolak untuk berpikir?

KRISHNAJI: Oh, itu berbeda: kemalasan, ketakutan, menginginkan selalu menjejaki jalur tradisional sedemikian hingga ia tidak salah.

SVAMIJI: Namun kita telah membuang tradisi yang mereka katakan tidak pas bagi kita.

KRISHNAJI: Tentu saja. Namun kita menemukan sebuah tradisi baru yang cocok bagi kita, dan karena itu menjaga kita aman.

SVAMIJI: Kita tidak pernah merasakan bahwa tradisi yang sehat adalah sebuah tradisi yang baik guna dijaga.

KRISHNAJI: Buang semua tradisi! Mulai! Marilah kita menemukan, Tuan, apakah guru-guru ini, telah sungguh-sungguh menolong orang-orang. Sudahkah Marx sungguh-sungguh menolong orang?

SVAMIJI: Tidak.

KRISHNAJI: Mereka telah memaksakan ide-ide mereka di atas mereka.

SVAMIJI: Dan yang lain telah menggunakan ide-ide yang sama.

KRISHNAJI: Oleh karena itu saya menanyakan semua hal ini, karena mereka tidak sungguh-sungguh beperhatian pada kebahagiaan orang-orang.

SVAMIJI: Meski mereka mengatakan demikian.

KRISHNAJI: Jika Marxis dan seluruh pimpinan Soviet itu sungguh-sungguh tertarik pada orang-orang – orang-orang – maka tidak akan ada kamp-kamp konsentrasi. Seharusnya di sana ada kebebasan. Seharusnya di sana tidak ada ukuran-ukuran yang bersifat menindas.

SVAMIJI: Namun saya rasa mereka berpikir, kita harus mengurung yang gila-gila.

KRISHNAJI: Itu dia. Yang gila adalah seorang manusia yang mempertanyakan otoritas-otoritas saya. Otoritas Soviet, otoritas apapun itu.

SVAMIJI: Aturan kemarin bisa jadi kegilaan hari ini.

KRISHNAJI: Itu selalu terjadi, itu tak terelakkan, itulah mengapa saya bertanya, apa tidakkah penting membuat manusia, seorang umat manusia, menyadari bahwa ialah yang semata-mata bertanggung jawab.

SVAMIJI: Tiap orang.

KRISHNAJI: Pasti! Untuk apa yang ia lakukan, apa yang ia pikirkan, bagaimana ia bertindak. Jikalau tidak kita berakhir dalam mengingat ini, dan kebutaan yang lengkap ini.

SVAMIJI: Itulah pesan anda. Dan bagaimana menancapkannya?

KRISHNAJI: Dengan menancapkannya setiap hari (tertawa). Dan menancapkannya ke dalam diri orang. Karena manusia begitu ingin sekali untuk meletakkan tanggung jawabnya pada yang lain. Angkatan bersenjata adalah pelolosan teraman, karena saya diberitahukan apa yang harus dilakukan. Saya tidak memiliki tanggung jawab apapun. Semuanya telah mereka tetapkan, apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya pikirkan, bagaimana saya harus bertindak, bagaimana seharusnya saya membawa senjata, bagaimana seharusnya saya menembak – dan selesai! Mereka menyediakan saya makanan, markas peristirahatan, dan untuk seks Anda dapat pergi ke pedesaan. Itulah akhirnya. Dan anehnya mereka berbicara tentang Karma.

SVAMIJI: Itulah Karma. Prarabdha Karma.

KRISHNAJI: Mereka menuntut (insist) pada Karma.

SVAMIJI: Itulah Karma. Saya seorang Brahmin, dan saya tahu apa yang terjadi. Kita bermain dengan Karma dan kemudian ia datang kembali pada kita.

KRISHNAJI: Bermain malapetaka saat ini di India.

SVAMIJI: Kita bermain dengan ide Karma dan kita berkata: itu adalah Karma anda, Anda harus menderita. Karma saya baik dan saya pun dipisahkan dari semua itu; sayalah sang penguasa tanah. Dan kini mereka telah berada dalam kedudukan yang lebih baik (turn the table).

KRISHNAJI: Tepat.

SVAMIJI: Saya ditanya seseorang yang adalah seorang vegetarian – ia seorang vegetarian yang fanatik – seseorang bertanya, “Apakah vegetarianisme murni dengan abosolut penting untuk latihan yoga?” saya berkata, “Tidak begitu penting. Marilah kita bicarakan tentang sesuatu yang lain.” Dan ia terkejut. Ia kembali pada saya dan berkata, “Bagaimana bisa Anda mengatakan itu? Anda tak dapat mengatakan bahwa vegetarianisme termasuk nilai sekunder. Anda harus mengatakan ia termasuk nilai primer.” Saya menjawab, “Maafkan saya. Saya mengatakan sesuatu, namun itu bukanlah masalah.” Saya lalu menanyakannya, “Apakah Anda percaya pada perang, pasukan pertahanan, mempertahankan negara anda dan sebagainya?” “Ya,” ia menjawab, “jikalau tidak bagaimana bisa kita hidup – kita harus demikian.” Saya menyahut, “Jika saya menyebut Anda seorang kanibal, bagaimana Anda bereaksi terhadap itu? Manusia ini membunuh hewan kecil untuk mempertahankan hidupnya, namun Anda bersedia membunuh orang-orang untuk mempertahankan milik anda. Seperti seorang kanibal.” Ia tidak menyukai itu – namun saya pikir ia melihat poinnya kemudian.

KRISHNAJI: Bagus.

SVAMIJI: Ialah begitu fantastis. Orang-orang tidak ingin berpikir. Dan saya mengandaikan bersama Anda, Krishnaji, jika Anda mengatakan kebenaran, Anda menjadi sangat tidak disukai. Seorang pendeta berkata: Apriyasya Tu Pathyasya Vakta Shrota Na Vidyate. Sangat indah! “Orang-orang menyukai mendengar hal-hal yang menyenangkan; enak untuk dikatakan dan sedap untuk didengar.” Jika Anda mengatakan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan, bahkan jika itulah kebenaran, orang tidak ingin mengatakan dan orang tidak ingin mendengarnya.

Iklan

2 pemikiran pada “Menyelami Catur Yoga dan Mahavakya

    1. Bli Pande,

      Hmm…, kalau askimet bilang ini bukan spam, tapi (daging) ham kalau tidak salah 😀

      Monggo Bli, memang kepanjangan, saya lupa menambahkan pranala unduhannya. Saya dulu sudah menaruhnya di Docstoc, monggo bisa diunduh, karena dibaca di sini memang kepanjangan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.