Sebuah Dialog Dengan Sang Diri

Malam ini seorang sahabat baik meminta saya mengirimkan terjemahan “A Dialogue with Oneself” oleh Jiddu Krishnamurti. Mungkin juga sudah cukup lama saya tidak lagi membuka lembar-lembar karya Jiddu Krishnamurti, namun saya menyimpannya dengan baik dalam beberapa map berkas khusus, sehingga saya dengan cepat dapat menemukannya kembali. Saya pun sudah mengirimkannya via surat elektronik.

Tulisan ini kembali dapat direnungkan dengan baik, lagi pula di daerah saya sedang dalam suasana Siwaratri, walau tidak begitu berhubungan mungkin, namun tulisan ini tetaplah inspiratif.

Saya menyadari bahwa cinta hadir jika di sana ada kecemburuan; cinta tidak dapat hadir ketika di situ ada keterikatan. Kini, apakah mungkin mungkin bagi saya untuk bebas dari kecemburuan dan keterikatan? Saya menyadari bahwa saya tidaklah mencinta. Itu adalah sebuah fakta. Saya tak hendak menipu diri saya sendiri; saya tak hendak berpura-pura pada istri saya bahwa saya mencintainya. Saya tidak tahu apa itu cinta. Namun saya tahu bahwa saya pencemburu dan saya tahu bahwa saya begitu terikat padanya dan di dalam keterikatan itu ada ketakutan, ada kecemburuan, ada kecemasan; di sana hadir suatu rasa kebergantungan. Saya tidak suka bergantung namun saya demikian karena saya kesepian; saya telah diperintah ini dan itu di kantor atau di pabrik dan saya pun tiba di rumah – saya ingin merasakan kehangatan dan kebersamaan, guna lolos dari diri saya. Kini saya bertanya pada diri saya? Bagaimana saya bisa lepas dari keterikatan ini? Saya menyampaikan hal ini hanya sebagai sebuah contoh.

Pada awalnya, saya hendak lari dari pertanyaan itu. Saya tidak tahu bagaimana jadinya akhir hubungan saya dengan sang istri. Ketika saya bebas darinya, hubungan saya dengannya dapat berubah. Dia mungkin terikat pada saya dan saya bisa jadi tidak terikat padanya atau pun pada wanita lainnya. Namun saya akan menyelidikinya. Sehingga saya tidak lari dari apa yang saya bayangkan sebagai konsekuensi dari bebas sepenuhnya akan berbagai ikatan. Saya tidak tahu apa itu cinta, namun saya melihat dengan begitu jelas, dengan begitu pasti, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa keterikatan pada istri saya berarti kecemburuan, rasa memiliki sendiri yang kuat, ketakutan, kecemasan dan saya hendak bebas dari semua itu. Sehingga saya mulai menyelidiki; saya mencari sebuah metode dan saya terjebak dalam sebuah sistem. Beberapa guru berkata, “Saya akan membantumu bebas, lakukan ini dan ini, praktekkan ini dan ini.” Saya menerima apa yang ia sampaikan karena saya melihat betapa pentingnya menjadi bebas dan dia menjanjikan jika saya melakukan apa yang ia katakan, saya akan mendapat imbalannya. Namun saya melihat bahwa dengan demikian saya mengejar hadiahnya, imbalannya. Saya melihat betapa konyolnya diri saya; ingin menjadi bebas namun terikat dengan suatu imbalan.

Saya tidak ingin terikat dan saya sampai saat ini masih menemukan diri saya terikat pada ide seseorang, atau buku-buku, kitab-kitab, atau metode-metode, yang akan menghadiahkan saya kebebasan akan keterikatan. Jadi saya berkata, “Lihat apa yang telah saya perbuat; berhati-hatilah, jangan sampai masuk perangkap itu.” Apakah itu seorang wanita, sebuah metode, atau suatu ide, itu masih merupakan keterikatan. Saya begitu awas saat ini karena saya telah mempelajari sesuatu; yang adalah, tidak menggantikan suatu keterikatan dengan keterikatan dalam bentuk yang lainnya.

Saya bertanya pada diri saya, “Apa yang saya lakukan guna bebas dari keterikatan?” Apa yang menjadi motif saya ingin bebas dari keterikatan? Rasanya tidak bukan karena saya hendak mencapai suatu kondisi di mana di situ tiada keterikatan, tiada ketakutan dan tiada lain sebagainya? Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa motif memberikan arah, dan arahan itu mendikte kebebasan saya. Tidak hanya istri saya, tidak hanya ide – metode saya, namun motif saya juga menjadi sebuah keterikatan saya! Jadi saya adalah segala yang bergerak di ranah keterikatan – sang istri, si ide, dan motif guna mencapai sesuatu di masa depan. Terhadap semua ini saya terikat. Saya melihat adanya hal-hal yang luar biasa rumit; saya tidak menyadari bebas dari segala keterikatan termasuk akan hal-hal ini. Kini, saya melihat ini sejelas saya melihat sebuah peta jalan utama, jalan di pinggiran dan warga desa, saya melihatnya dengan begitu jelas. Lalu saya berkata pada diri saya, “Kini apakah mungkin bagi saya untuk bebas dari maha keterikatan yang saya miliki terhadap istri saya dan juga imbalan yang saya pikir saya akan mendapatkannya serta terhadap motif saya?” Pada semua ini saya terikat. Mengapa? Apakah ada yang kurang dalam diri saya? Apakah itu mengapa saya begitu amat kesepian dan karenanya mencari pelarian dari perasaan terisolasi ini dengan berpaling pada seorang wanita, suatu ide, sebuah motif; sebagaimana sepertinya saya harus berpegangan pada sesuatu? Saya melihat, jadi demikian adanya, saya kesepian dan saya lari melalui keterikatan terhadap sesuatu dari perasaan tersendiri yang luar biasa itu.

Jadi saya tertarik untuk memahami mengapa saya kesepian, karena saya melihat itulah sumber keterikatan saya. Bahwa kesendirian ini memaksa saya lari menuju menuju keterikatan pada ini dan itu, dan saya melihat selama saya sendiri maka kelanjutannya adalah hal ini. Apa yang dimaksud dengan sendiri? Bagaimana itu dapat hadir? Apakah itu merupakan insting, apakah ia diwariskan, ataukah diakibatkan oleh kegiatan sehari-hari saya? Jika itu karena sebuah insting, karena diwariskan, karena bagian dari lingkungan saya; maka saya tidak menyalahkan.

Namun karena saya tidak menerima ini begitu saja, saya mempertanyakannya dan tetap bersama pertanyaan itu. Saya mengamati dan saya tidak sedang mencoba untuk menemukan jawaban intelektual. Saya tidak sedang mencoba mengatakan pada kesendirian apa yang mesti ia lakukan, atau apakah ia sebenarnya; saya mengamatinya untuk memberitahukan saya. Di situ ada keawasan terhadap kesendirian guna mengungkapkan dirinya. Ia tak akan mengungkapkan dirinya jika saya lari, jika saya ketakutan; jika saya menolaknya. Jadi saya mengamatinya. Saya mengamatinya sedemikian hingga tidak ada pikiran yang mencampuri. Mengamati jauh lebih penting daripada hadirnya pikiran. Dan karena semua energi saya terkonsentrasi dengan pengamatan akan kesendirian itu, maka pikiran tidak muncul sama sekali. Batin sedang ditantang dan ia harus menjawabnya. Ditantang berarti berada dalam suatu krisis. Dalam suatu krisis Anda memiliki maha energi, dan energi itu tetap ada tanpa diusik oleh pikiran. Inilah sebuah tantangan yang mesti dijawab.

Saya memulai dengan percakapan dengan diri saya. Saya bertanya pada diri saya apakah hal aneh ini yang disebut cinta; setiap orang membicarakannya, menulis tentangnya – semua puisi romantis, gambar-gambar, seks, dan segala yang terkait dengannya? Saya bertanya: Adakah yang disebut cinta itu? Saya melihat bahwa ia tidak hadir ketika ada kecemburuan, kebencian, ketakutan. Jadi saya tidak lagi berfokus pada cinta; saya memperhatikan akan “apa itu”, ketakutan saya, keterikatan saya.  Mengapa saya terikat? Saya melihat bahwa salah satu alasannya – saya tidak berkata itu alasan keseluruhannya – bahwa saya sedemikian putus asa dengan kesendirian saya, terasing. Semakin bertambah usia saya, semakin terasing saya jadinya. Jadi saya mengamatinya. Ini adalah tantangan guna menemukan, oleh karenanya ini sebuah tantangan maka seluruh energi hadir guna merespons. Itu sederhana. Jika di sana ada kekacauan, suatu bencana atau apapun, itu adalah tantangan dan saya memiliki energi guna berhadapan dengannya. Saya tak perlu bertanya, “Bagaimana saya memperoleh energi ini?” Ketika rumah kebakaran, saya memiliki energi untuk bergerak; energi yang luar biasa. Saya tidak akan duduk dulu dan berkata, “Baiklah, saya harus memperoleh energi ini.”, dan kemudian menunggu; maka seluruh rumah akan terbakar habis sebelum saya selesai berpikir.

Jadi di situ hadir energi luar biasa guna menjawab pertanyaan ini: Mengapa kesendirian dapat hadir? Saya telah menolak semua ide, anggapan dan teori bahwa hal ini diwariskan, atau bahwa hal ini merupakan insting. Semua itu tidak berarti apa-apa bagi saya. Kesendirianlah “apa itu”. Mengapa di situ kesendirian ini yang pada setiap manusia, jika ia sadar sepenuhnya, melaluinya, di permukaan atau di dalamnya? Mengapa ia hadir? Apakah batin mengerjakan sesuatu yang membuatnya hadir? Saya telah menolak teori sebagai insting dan warisan, dan saya bertanya: apakah batin, otak itu sendiri, menghadirkan kesendirian ini, keterasingan sepenuhnya ini? Di kantor saya mengasingkan diri saya karena saya ingin menjadi eksekutif kelas atas, karena pikiran bekerja sepanjang waktu guna mengasingkan dirinya. Saya melihat bahwa pikiran bekerja sepanjang waktu untuk membuat dirinya lebih superior, batin mengarahkan dirinya pada keterasingan ini.

Jadi permasalahannya adalah: mengapa batin melakukan ini? Apakah memang alaminya pikiran bekerja untuk dirinya? Apakah memang alaminya pikiran menciptakan keterasingan ini? Pendidikan menciptakan keterasingan ini; ia memberikan saya karier tertentu, keahlian tertentu dan sebagaimana lainnya, keterasingan. Pikiran, karena terpecah-pecah, karena terbatasi dan terikat oleh waktu, menciptakan keterasingan ini. Dalam keterbatasan itu, ia menemukan keamanan dan berkata, “Saya memiliki karier istimewa dalam hidup saya, saya seorang profesor, saya aman sepenuhnya.” Jadi yang menjadi perhatian saya kemudian, mengapa batin melakukan itu? Apakah ini merupakan sifat alaminya? Apa pun yang dilakukan batin pastilah terbatas. Kini masalahnya adalah, dapatkah pikiran menyadari apapun yang ia kerjakan adalah terbatas, berfragmentasi, dan karenanya terasing serta apa pun yang ia kerjakan maka itulah jadinya? Ini merupakan titik yang sangat penting: dapatkah batin menyadari keterbatasannya sendiri? Atau saya yang berkata padanya bahwa ia terbatas? Ini, saya melihatnya, begitu penting untuk dipahami. Ini adalah esensi sejati dari permasalahannya. Jika pikiran menyadari dengan sendirinya bahwa ia terbatas maka di situ tidak akan ada perlawanan, tiada konflik, ia berkata “akulah itu.” Namun jika saya yang memberitahukannya bahwa ia terbatas maka saya menjadi terpisah dari keterbatasan. Dan saya berjuang untuk mengatasi keterbatasan, dan di situ hadir konflik dan kekerasan, bukan cinta.

Jadi apakah pikiran menyadari dengan sendirinya bahwa dirinya terbatas? Saya harus mencari tahu. Saya sedang ditantang. Karena saya tertantang saya memiliki energi yang luar biasa. Sampaikanlah dengan cara lain: “Apakah kesadaran menyadari bahwa isinya adalah dirinya sendiri?” Dan karenanya saya berkata, “Ya, demikianlah ia”. Apakah Anda melihat perbedaan antara keduanya? Yang terakhir, diciptakan oleh pikiran, ia ditanam oleh sang “aku”. Jika saya menanamkan sesuatu pada pikiran maka di sana hadir konflik. Seperti pemerintahan tirani yang memaksakan sesuatu pada seseorang, namun di sini, pemerintahan itu adalah apa yang saya telah ciptakan.

Jadi saya menanyakan diri saya: sudahkah pikiran menyadari keterbatasannya sendiri? Atau ia berpura-pura menjadi sesuatu yang luar biasa, terhormat, suci? – yang merupakan omong kosong karena pikiran didasarkan pada ingatan. Saya melihat bahwa harus ada kejernihan tentang poin ini: bahwa di situ tidak ada pengaruh luar yang menanamkan pada pikiran dan berkata bahwa ia terbatas. Maka, karena tidak ada paksaan maka tidak ada konflik; ia menyadari dengan begitu sederhana bahwa dirinya terbatas; ia menyadari apapun yang ia kerjakan – apakah memuja Tuhan dan sebagainya – adalah terbatas, dangkal, menyedihkan – bahkan walau itu telah menciptakan berbagai rumah ibadah yang megah dan luar biasa guna pemujaan.

Jadi di situ telah ada di dalam percakapan dengan diri saya penemuan bahwa kesendirian diciptakan oleh pikiran. Pikiran kini telah menyadari dengan sendirinya akan dirinya yang terbatas dan tidak mampu mengatasi permasalahan kesendirian ini. Oleh karena ia tidak dapat memecahkan masalah kesendirian, apakah kesendirian itu ada? Pikiran telah menciptakan rasa kesendirian ini, kekosongan ini, karena ia terbatas, terpecah-pecah, terbagi, ketika ia menyadari ini, kesendirian tiada, karenanya di situ ada kebebasan dari keterikatan. Saya tidak melakukan apa pun; saya telah mengamati keterikatan ini, apa yang terjadi di dalamnya, keserakahan, ketakutan, kesendirian, semua itu dan dengan merunutnya, mengamatinya, bukan menganalisanya, namun hanya melihat dan melihat, maka di situ ada penemuan bahwa pikiran lah yang menghasilkan semua ini. Pikiran karena ia terpecah, telah menciptakan keterikatan ini. Ketika ia menyadari hal ini, keterikatan memudar. Di sana tidak ada daya upaya yang dibuat sama sekali. Karena saat ada upaya – konflik muncul kembali.

Dalam cinta tiada keterikatan; jika di sana ada keterikatan maka di sana tiada cinta. Di sana telah ada penghilangan faktor utama melalui negasi apa yang bukan itu, melalui negasi keterikatan. Saya memahami apa makna semua itu dalam kehidupan keseharian saya: tidak ada kenangan akan apapun akan istri saya, kekasih saya, atau tetangga saya yang dilakukan untuk menyakiti saya; tidak ada keterikatan akan gambaran apa pun yang dibentuk pikiran mengenai dia; bagaimana ia telah membohongi saya, bagaimana ia telah memberikan saya kehangatan, bagaimana saya telah mengalami kepuasan seksual, semua hal-hal berbeda yang gerak pikiran menjadikannya gambaran; keterikatan akan gambaran-gambaran tersebut telah lenyap.

Dan di sana ada faktor lain: haruskah saya melalui semua langkah-langkah itu satu per satu? Ataukah segalanya berakhir? Haruskah saya berjalan melaluinya, haruskah saya menyelidiki – sebagaimana saya telah menyelidiki keterikatan – ketakutan, kesenangan dan hasrat kenyamanan? Saya melihat bahwa saya tidak harus melalui semua penyelidikan akan berbagai faktor ini; Sekali pandang saya melihatnya, saya telah mendapatkannya.

Jadi, melalui negasi akan apa-apa yang bukan cinta, maka apa yang tersisa setelahnya adalah cinta. Saya tidak harus bertanya apa itu cinta. Saya tidak harus berlari mengejarnya. Jika saya mengejarnya, itu bukanlah cinta, itu adalah hadiah/imbalan. Jadi saya harus bernegasi, saya harus berakhir, dalam penyelidikan itu, dengan perlahan, dengan hati-hati, tanpa distorsi, tanpa ilusi, segala sesuatunya yang bukan itu, maka itu adalah yang sebaliknya.

http://viewer.docstoc.com/v2/
Sebuah Dialog Dengan Sang Diri

Iklan

7 pemikiran pada “Sebuah Dialog Dengan Sang Diri

  1. dinda27

    Artikel yang bagus. Sy sampai merinding membacanya.Rupanya sy lebih nyaman dg artikel seperti ini tinimbang yg berkaitan dg ke-ilmu-an semisal ulasan tentang komputer. Sampai capai membaca dan berusaha mengerti, tetap saja nil.Membaca tulisan ini, hati bergejolak.Ada yg luput dari pengamatan banyak orang, selama sy 'menyelami' dunia 'ini'.Ketika ada seseorang yg kesepian, rapuh, mudah putus asa, hingga melakukan bunuh diri … lantas ramai2 masyarakat awam melabelkannya sebagai kurang iman-kurang sabar-kurang rasa bersyukur dll.kalau boleh sy ungkap …Dimasa tumbuh kembang seorang anak, bila dia mengalami ancaman, siksaan, ketakutan (dari orang tua tiri) dan itu berlangsung hingga remaja. Adakah rasa aman terayomi dimilikinya? Sementara untuk menjalani kehidupan sebesar apapun hambatannya, dibutuhkan jiwa yg stabil.Perasaan terlindungi yg terbentuk sejak masa kecil hingga dewasa inilah yg akan membentuk ketahanan jiwanya. Tidak akan ada keinginan untuk bunuh diri seberat apapun kesulitan hidup yang dihadapinya.Bila setelah masa remajanya dan kemudian menjalani kehidupan selanjutnya, ternyata tak lebih baik dari masa lalu-nya, bila kegagalan demi kegagalan tak mampu dihindarinya karena faktor diluar diri, semisal mendapatkan pasangan hidup yg tidak baik …. Faktor usia juga penting diperhatikan. Space bertahan semakin sempit, mencapai usia tertentu, terlebih bila kelelahan bertahan telah terkuras untuk dua masa lalunya ..Ada seorang sahabat sy dg kondisi demikian, kelelahan yg terbesar saat dia harus menjalani perpindahan agama dan tetap eksis, perjuangannya bertahan dan diisolir sekian masa bukan hal yg mudah dilalui. Sy pun berpikir bila keimanan kita dibalik paksa, kemudian kita ditinggalkan dg sangat menyakitkan oleh pasangan hidup yg mensyaratkan point agama tsb … ?Mengurai historical memang seolah berlindung dibalik masa lalu. Tapi dari sanalah terjadinya sebab akibat. Bukan sebagai excuse, ini adalah realita yg dihadapi pribadi2 yg terhambat dan mengalami kelelahan bathin… Bersyukurlah bagi kita yg mampu bertahan sebagai sosok yg tangguh. Sama seperti sahabat sy yg pernah berada dalam posisi seolah tangguh dalam kurun waktu, saat usianya masih 'belum banyak'.Mohon maaf bila komentar ini tidak nyambung sama sekali.Salam hangat tuk Cahya. Terimakasih telah berbagi. Izin link ya …

    Suka

    1. Mbak Dinda,Justru saya jadi merinding jika Mbak bilang lebih nyaman membaca artikel seperti ini. K (Krishnamurti), sering kali lebih sulit dipahami oleh orang kebanyakan.Saya melihat setiap orang hampir memiliki masalah yang serupa, walau dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana yang Mbak uraikan.Dan saya rasa, setiap orang mestilah menemukan jawaban yang tepat bagi dirinya, atau dia tidak pernah tahu sama sekali apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.Salam hangat kembali, dan berbagi selalu terbuka di blog ini 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.