Bagaimana Amarah Memberikan Rasa Sakit di Dada

Jika Anda tahu bahwa amarah yang berulang atau sering dirasakan bisa meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan, akankah Anda tetap meluapkan emosi anda dengan berteriak dan menghantam atau membanting barang-barang ketika Anda beradu argumentasi atau mendapati peralatan kantor macet di saat-saat genting atau hari-hari yang membuat stres?

Sudah waktunya yang berkepala panas untuk didinginkan. Para peneliti dan dokter jantung memiliki kekhawatiran yang serupa pada tipe-tipe karakter semakin mudah marah, negatif, mudah tersinggung, mudah mengamuk. Dan ini adalah tentang orang-orang dengan amarah yang tinggi dan kerap kali muncul.

Ketika orang bicara marah pada level tinggi, mungkin inilah yang menjadi masalah. Karena pandangan umum, marah pada tingkat sedang tidak terlalu mengkhawatirkan, bahkan sedikit mengekspresikan amarah merupakan kewajaran yang bisa membantu kita tetap sehat. Karena kita memiliki fungsi untuk memberitahukan pada orang bagaimana emosi kita saat itu, termasuk jika kita sedang marah. Tapi orang-orang yang marah dengan berteriak keras, melemparkan benda-benda, membanting pintu, akan sangat mungkin berisiko terkena penyakit jantung.

Efek Fisiologis Kemarahan Pada Jantung

Bagaimana tepatnya amarah memberikan kontribusi dalam lahirnya penyakit jantung mungkin tidak secara pasti dapat diketahui saat ini, tapi kita tahu bahwa amarah menghasilkan efek langsung pada jantung dan arteri. emosi seperti kemarahan dan kekerasan dengan spontan mengaktifkan mekanisme “fight or flight” – melawan atau lari, di mana hormon-hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, mempercepat denyut jantung dan pernapasan, serta memberikan Anda ledakan energi seketika. Tekanan darah meningkat beserta dengan menyempitnya pembuluh darah anda.

Respons stres ini diaktifkan bagi Anda untuk menghadapi situasi yang darurat, tapi jika diaktifkan berulang kali atau terlalu sering bisa jadi berbahaya bagi Anda sendiri. Karena saat Anda marah, salah satu peneliti berkata bahwa kadar adrenalin dan kortisol yang tinggi bersifat kardiotoksik – menyebabkan jantung dan sistem kardiovaskular mengalami “keausan”. Amarah yang sering bisa mempercepat proses aterosklerosis, di mana plak lemak mulai menempel di dinding arteri. Jantung memompa lebih keras, pembuluh darah menyempit dan tekanan darah melonjak, serta meningkatkan kadar glukosa/gula darah dan terdapat lebih banyak glubola/gelembung lemak di dalam pembuluh darah. Semua hal ini, sebagaimana dipercaya para ilmuwan, dapat memberikan kontribusi bagi kerusakan dinding pembuluh darah.

Dan kemarahan mungkin bukan satu-satunya penyebab. Kecemasan dan depresi juga memberikan kontribusi yang buruk pada kesehatan jantung.

Menurut temuan dan analisis dari 44 penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam Journal of the American College of Cardiology, terdapat bukti yang mendukung hubungan antara emosi dan penyakit jantung. Untuk lebih spesifik, kemarahan dan sikap permusuhan secara signifikan lebih terkait dengan masalah penyakit jantung pada awalnya pada orang sehat, serta dengan hasil yang lebih buruk pada pasien yang telah didiagnosis dengan penyakit jantung.

Penelitian yang sama juga memperlihatkan bahwa marah dan pemusuhan yang kronis pada orang dewasa yang sebelumnya tidak memiliki riwayat permasalahan jantung bisa jadi 19% lebih mungkin mengidap penyakit jantung di kemudian hari dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih tenang. Para peneliti juga menemukan bahwa efek amarah ini lebih buruk pada jantung laki-laki dari pada wanita. Di antara pasien yang telah terdiagnosis penyakit jantung ada 24% kemungkinan prognosis yang lebih buruk pada pasien yang memiliki karakter amarah yang kronis ini.

Melihat temuan-temuan ini, maka dokter-dokter kini sudah mempertimbangkan amarah sebagai faktor risiko penyakit jantung yang bisa dimodifikasi, sebagaimana orang-orang bisa menurunkan kadar kolesterol dan atau tekanan darah mereka. Penyakit jantung saat ini mungkin memiliki pengobatan yang sangat maju, namun mencegahnya adalah hal yang cukup sulit di antara masyarakat dengan karakteristik yang beragam. Menurut penelitinya:

A change of mind can lead to a change of heart

Menangani Amarah

Apakah Anda memiliki emosi yang mudah meledak dengan amarah? Konseling dan manajemen amarah bisa membantu Anda dalam jangka panjang, namun apa yang Anda dapat lakukan dalam tempo yang singkat?

Kenali dengan cepat tanda-tanda bahwa sesaat lagi Anda akan marah dan pindahkan kerangka pikir anda akan bisa membantu. Jika di lain kesempatan nanti Anda merasakan marah akan muncul – detak jantung menjadi semakin kencang – coba gunakan salah satu pernyataan koping berikut untuk menimbulkan perubahan cepat dalam kerangka pikir Anda:

  • Aku tak dapat mencapai apapun dengan menyalahkan orang lain, bahkan meski merekalah yang sebenarnya bertanggung jawab. Aku akan coba dari sudut lain.”
  • Apakah hal ini akan tetap menjadi soal esok hari, sebulan lagi atau setahun lagi?”
  • Jika aku masih marah esok hari tentang hal ini, biar kutangani esok saja. Namun kini, sebaiknya aku mendinginkan kepalaku dulu.”
  • Marah tidak sama dengan menunjukkan bahwa aku sebenarnya peduli.”

 

Diadaptasi dari: “How Anger Hurts Your Heart”.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Iklan

14 pemikiran pada “Bagaimana Amarah Memberikan Rasa Sakit di Dada

  1. dinda27

    Ops balik lagi,
    sy punya bingkisan jenaka.
    tidak juga perlu dipajang.
    ga’ ngeh ya waktu anjangsana tadi pagi?
    ada disini: my Daddy
    salam 🙂

    Suka

    1. Mbak Dinda,

      Oh ya, saya baru ngeh kalau ada gambarnya, he he, maklum saya biasanya blogwalking sambil mematikan fungsi gambar (disable image) agar bisa membuka halaman blog lebih ringan di internet saya yang lambat ini.

      Jadi saya jarang melihat kalau ada gambar atau video pada sebuah postingan blog.

      Terima kasih, gambarnya jenaka 😀

      Suka

  2. dinda27

    Ju2r ada tanya besar saat baca artikel ini.
    Ntah, cara sy mencerna penjelasan atau adakah yg salah hingga salah kaprah.
    Dg contoh yg teralami seorang kerabat dekat, akan lebih mudah menjelaskannya:
    * A pendiam, cenderung menjauh sekaligus mencoba meredam ketika menghadapi hal tak nyaman. Hingga dititik luber, & yg terjadi adalah fatal. Kalau jantung berdebar, da2 sesak & sakit adalah biasa. Ketika A ‘terselamatkan’, akhirnya disarankan seorang dokter spesialist dibidangnya (sungkan menyebut gamblang) yg terkemuka kala itu dari RS terkemuka juga: luapkan saja kemarahan yg ada. kalau perlu banting piring, lempar barang di dinding. sy juga terpana oleh sarannya.
    * A selalu mencoba meredam, menyimpan hingga hati mendingin, cenderung menjauh bila melampoi batas emosi. Akhirnya mencoba melupakannya. Tapi yg terjadi, seperti bom waktu.
    … ada yg tak seimbang rupanya pada diri A?

    Suka

    1. Mbak Dinda,

      Saya rasa tidak ada yang salah dengan nasihat dokter itu.

      Dilihat kembali, apakah dia ekstrover (terbuka) ataukah introver (tertutup).

      Kalau dari contoh Mbak Dinda, si A kemungkinan orang yang bersikap introver. Jika ada masalah cenderung dipendam (saya juga mirip demikian), tidak diceritakan pada orang lain.

      Bagusnya dia tidak menimbulkan masalah bagi orang lain, tapi pertimbangannya apakah si A memiliki manajemen emosi yang baik.

      Biasanya perasaan gundah, buruk sangka, benci, marah, yang tidak terluapkan ke luar akan mengendap. Jika baik, endapan itu akan hilang secara perlahan kalau orangnya mampu melihat makna di balik setiap hal yang terjadi, – semisal mengapa harus tetap membawa beban amarah? Kalau tidak berguna ya dibuang saja – selesai sudah masalah.

      Namun, ada yang tidak bisa. Ini masalah kedewasaan pola pikir dan karakter. Mereka yang introver namun tidak bisa menerima situasi biasanya mengendapkan emosi dan bukannya menghilang justru malah menumpuk. Dan suatu saat “tempat tampung” emosi bisa “meledak” karena picuan tertentu.

      Nah, daripada terjadi “supernova” bukankah lebih baik ledakan kembang api yang kecil saja?

      Makanya orang introver disarankan untuk lebih bisa meluapkan emosinya. Pertama karena bisa membantu membuat beban perasaannya lebih lega, kedua ia bisa memberikan sinyal kepada lingkungan secara tidak langsung bahwa ia mungkin perlu bantuan dan perhatian.

      Lebih banyak bisa dilihat pada penjelasan tentang Extraversion and Introversion 🙂

      Suka

  3. suzan

    tapi katanya lebih baik menyalurkan marah tersebut, maksudnya kalo mo marah ya marah daripada disimpen, justru kemarahan yang disimpan bisa berbahaya
    biasanya sih kalo marah suzan malah nangis hihihihihi -_______-

    Suka

    1. Yah, boleh diluapkan, tapi diluapkan dengan tenang dan senyum gimana? Tapi semua emosi yang berlebih juga kurang sehat, ga tahu sih dengan acara tertawa bersama 😀

      Suka

  4. Agung Pushandaka

    Saya pernah baca sebuah kutipan dalam kitab Mahabharata, bahwa “orang yang ndak pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat beribadah selama seratus tahun”

    Yang saya rasakan setelah marah adalah capek. Kalau marah agak besar, malah terkadang jadi sakit kepala.
    .-= Agung Pushandaka´s last blog ..Mengenal Lambang Negara =-.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.