Nasi Setengah Porsi

Jika Anda sedang atau hendak makan di luar apa saja Anda pikirkan? Mungkin mempertimbangkan menunya, mempertimbangkan anggaran makannya, atau mempertimbangkan lokasinya – karena kebetulan sedang mengajak seseorang yang istimewa?

Entahlah, salah satu dari itu bisa menjadi pertimbangan kita semua. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan makan di luar rumah, karena itu kebiasaan anak kost – kata orang-orang sih begitu juga. Terbiasa makan di warung biasa yang nyaris mirip gubuk dengan menu-menu sederhana wong ndeso. Tapi saya menyukai semua itu.

Pertama kali datang ke Jogja, saat itu saya baru mengenal yang namanya menu prasmanan, alias silakan ambil sendiri dari apa-apa yang dihidangkan sesuka Anda.

Saya terbengong-bengong pertama kali ketika diajak oleh kakak kelas saya, bak katak keluar tempurung – tapi masuk lagi ke tempurung yang lainnya, diibaratkan bagi orang Ndeso masuk Ndeso, sama saja cuma kaget karena beda kultur.

Di Bali ketika itu (maksudnya di Ndeso saya juga), tidak ada yang istilahnya prasmanan, jadi biasanya menu sudah disediakan sesuai porsinya dari yang jualan.

Entah karena berpikiran hemat atau sayang jika disia-siakan, biasanya orang makan dengan versi yang lebih jumbo. Toh harganya tidak jauh beda – mungkin demikian pikirnya termasuk juga pikiran orang Ndeso seperti saya.

Hingga 2 – 3 tahun kemudian, atau sekitar 2 –3 tahun yang lalu saya menyadari sesuatu yang keliru dengan pola makan saya (parah nih, a frog with slow motion thinking capability) dan saya pun mulai memikirkannya.

Apa benar saya perlu banyak asupan seperti ini. Saya bukanlah pekerja lapangan yang mengeluarkan banyak peluh karena mesti mengangkut beban berat ke sana kemari, atau pun bekerja dengan tenaga ekstra yang luar biasa. Saya berangkat ke mana-mana dengan dimanjakan oleh sepeda motor butut saya tak pernah mau saya jual – bahkan ketika mendapat dana untuk membeli yang baru, saya justru belikan notebook butut TM 6293.

Jadi jika saya makan berlebih ke mana semua itu pergi. Ups…, ternyata Tuan Timbangan menunjuk di antara 65 dan 70 kg, waduh, dengan berat badan seperti ini saya pun akan kesusahan sendiri. Saya memang bukan pemburu berat badan yang ideal, tapi saya ingin peduli pada kesehatan saya sendiri.

Setahun atau lebih yang lalu, saya mendapatkan kesempatan menjalani hidup sebagai semi bhikku/biksu di Brahmavihara Arama di daerah Singaraja – Bali selama beberapa hari. Makan sederhana di pagi hari, sama sederhananya di siang hari, dan tidak lagi makan besar di malam hari, cukup buah dan air putih saja. Walau satu hari pertama agak sulit, namun hari-hari berikutnya tidak begitu mengganggu lagi seingat saya.

Walau mungkin cara yang serupa sulit diterapkan kembali, namun ide yang memberikan efek sama saya coba sejak beberapa waktu belakangan ini – mungkin sudah berbulan-bulan – saya jika makan keluar, dan jika tempat makan itu memungkinkan, saya akan memesan separo dari porsi yang ada.

Saya merasa dengan separo dari porsi yang umum akan lebih ringan bagi tubuh saya, di satu sisi tubuh tidak perlu terlalu banyak energi untuk mencerna makanan itu sendiri dan saya tidak perlu terburu-buru untuk menghabiskan setengah porsi toh saya tetap punya waktu yang sama dengan satu porsi utuh, ini memberikan saya waktu untuk mengunyah makanan lebih baik – atau memang kebiasaan makan saya yang cepat itu buruk bagi diri saya sendiri. Di sisi lain saya tidak merasa kekurangan nutrisi, setidaknya saya tidak mengeluhkan hal-hal aneh bak orang yang kekurangan gizi – jika pun tubuh saya lemas, itu biasanya karena stres kerja ditambah poin saya yang amat minim dalam olah raga.

Diselingi dengan berpuasa pada waktu-waktu tertentu. Saya tidak memiliki jadwal tetap untuk berpuasa, tidak mengikuti aturan tertentu, tidak mengikuti kultur tertentu. Saya akan paham jika tubuh saya cukup bugar untuk berpuasa pada hari, dan pikiran saya cukup jernih untuk berpuasa pada saat yang sama, maka saya akan berpuasa tanpa beban apa pun.

Jika saya melihat kembali acara-acara di televisi seperti wisata kuliner dan yang sejenis. Orang bisa makan dalam porsi besar. Saya rasa, walau belakangan ini saya terbiasa dengan “nasi setengah porsi”, saya masih sanggup menghabiskan lebih dari satu porsi besar makanan berbagai hidangan tanpa keluhan bermakna bagi pencernaan saya. Para penjual makanan (nasi) tampaknya bersaing, untuk memberikan harga kompetitif dengan porsi nasi yang paling banyak yang dapat ditawarkan bagi pembelinya, dan ini ternyata cukup efektif untuk menarik langganan. Tidak jarang saya mendengarkan teman-teman saya berkata, bahwa di sana (tempat berjualan nasi) porsinya lebih banyak, mari kita ke sana saja. Saya sendiri masih sering kali perlu mengingatkan diri saya dan mempertanyakan, “apakah saya perlu nasi sebanyak itu, hei – lihatlah porsi yang besar itu, apa tubuh ini benar-benar memerlukannya?”.

Ketika saya bisa memutuskan dengan baik, maka saya cukup puas dan amat bahagia hanya dengan “nasi setengah porsi saja”.

Di luar itu, saya juga membayangkan. Jika saya bisa mengurangi porsi makan tanpa ada kendala apa-apa selama ini, apakah orang lain juga bisa? Maksudnya, saya bukanlah ahli gizi yang berkompetensi dalam memaparkan hal ini. Jika Anda ingin tahu sebenarnya beberapa banyak kebutuhan nutrisi Anda per harinya, apakah Anda makan berkecukupan atau berlebihan, Anda bisa berkonsultasi dengan seorang ahli gizi.

Yang saya bayangkan, adalah negeri ini, selama ini masih abu-abu dalam swasembada pangan. Apa kita masih mengimpor beras dari luar? Atau kini sudah jadi pengekspor? Jika kita bisa berhemat, mungkin beban yang meluas ini bisa kita kurangi bersama.

Kita makan untuk hidup, dan saya rasa bukan sebaliknya.

Iklan

29 Comments

  1. Suci,

    Oh…, memangnya bakal sebingung apa, sepertinya sekarang jadi 75 kg deh, ha ha, becanda, rasanya masih seperti dulu, hanya saja beratnya memang nambah dari beban stres yang berlebih :lol:.

    Nonton film kok setengah, kasihan sutradaranya dong nanti ;).

    Suka

    Balas

  2. what??? kmu 65-70?? spertinya bakla pangling klo ngeliat..

    pantesan Hokben pun ditolak… tp pnolakan yg baik buat kantongku… bsok mo bikin yg judulnya "nonton stengah film" gak??

    Suka

    Balas

    1. Bli Wira,

      Teburu-buru makan juga memberikan beban berlebih pada sistem pencernaan lho – he he, tapi sekarang zaman edan di mana semua orang (kelihatan) super sibuk, saya pun juga sering kali dibuat bekejar-kejaran 😀

      Suka

      Balas

  3. Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
    bicara nasi setenggah porsi, menurutku tetap laper 😆 maklum aja aktifitas kerjaku memang sangat memerlukan asupan makanan yang banyak. anehnya habit ku sehari-hari kalo pas hari kerja jarang sekali sarapan nasi, paling segelas kopi sambil ditemani beberapa gorengan / camilan.

    Suka

    Balas

    1. Pak Sugeng,

      Kalau memang Pak Sugeng terasa segitu keperluannya, ya, segitulah yang terbaik 🙂

      Tapi sarapan lho Pak, kalau boleh saya menyarankan. Kopi kan agak “keras” untuk lambung yang kosong.

      Suka

      Balas

  4. Ntar kalau sudah berkeluarga baru tahu nikmatnya makan dirumah mas Cahya.
    Saya selalu membiasakan diri, sekenyang apapun saya makan diluar ( katakanlah habis makan dengan relasi ), saya pulang tetap makan.
    Nikmatnya makan bersama keluarga.

    Suka

    Balas

    1. Pak Aldy,

      Kalau saya pas pulang, saya juga suka masakan buatan Ibu, walau – ini rahasia lho – saya lebih suka masakan buatan Bapak, karena Bapak lebih trampil dalam mengolah makanan 😀 – Kalau Pak Aldy bagaimana ya?

      Suka

      Balas

    1. M Mursyid PW,

      Yah, itu joke sejak zaman Jepang dulu. Tapi kadang karena orang di Indonesia porsi makannya lebih besar dari orang Jepang (yang kalau di film-film kita lihat mereka hanya makan semangkok kecil nasi), tentu saja orang Indonesia memerlukan systemic dynamic action (energi untuk mencerna makanan) yang wajar membuat kita berkeringat lebih banyak, apalagi kalau memang suasana sekitar sedang gerah 🙂

      Suka

      Balas

  5. kupikir – pikir aku sering jajan, makan terus, hampir dipastikan selalu ada roti didalam tas, aku gak bisa makan banyak tapi mesti sedikit – sedikit dan sering, (porsi kecil tapi terus menerus hihihi) sama aja ya makan banyak (karena punya maag kronis)

    tapi aku setuju koq kita makan untuk hidup bukan hidup untuk makan 😀

    Suka

    Balas

    1. Suzan,

      Jika tidak salah disarankan dalam beberapa buku pola diet, semisal buku “Food Combining”, makanan dan pola makanan memang sebisanya diatur mandiri sesuai kebutuhan. Makan dalam porsi sedikit dan lebih sering, akan lebih baik daripada makan dalam porsi besar sekaligus tapi dalam waktu yang berjauhan. Apalagi jika punya gejala maag (dispepsia) kronis.

      Suka

      Balas

    1. Artha,

      Kadang justru setengah porsi malah belum puas lho Bli 😀 – karena sesaat setelah menghabiskan setengah porsi pasti masih terasa agak lapar – seringnya demikian. Saya kadang menunggu 5 – 15 menit lagi untuk melihat, apakah saya benar-benar masih lapar (kadang respons tubuh untuk bilang pada kita bahwa makanan yang masuk sudah cukup datang terlambat), jika 15 menit lagi saya masih lapar, berarti makannya memang kurang, jika tidak nanti akan merasa puas sendiri 🙂

      Kalau menurut hemat saya, baiknya sih setelah jeda 30 menit dan masih lapar, bisa ditambahkan dengan buah-buahan segar, rasanya lebih sehat. Tapi anak kost jarang inget beli buah, terlalu pelit untuk kantongnya sendiri :p

      Suka

      Balas

  6. Salut dan kagum dgn cara pikir dan pola hidupmu, sobat.. Terutama tentang puasanya, tanpa beban dan apa adanya.. Ini menarik sekali buat saya.. Kalau memang setengah porsi sudah cukup, kenapa harus ambil satu porsi penuh..bahkan lebih.. Mantab sekali tulisannya..
    Salam hangat.. Salam damai selalu..

    Suka

    Balas

    1. Hary4n4,

      Yang namanya berpuasa di tengah jalan kadang tergiur juga. “wah…, abang bakso lewat.” begitu misalnya. Porsi makan saya mungkin yang memang kecil, jadi kadang membuat saya malah tidak terbiasa dengan porsi besar yang umumnya ditawarkan oleh pelbagai rumah makan atau warung.

      Suka

      Balas

    1. darahbiroe,

      Demikianlah yang sebenarnya saya tujukan, kalau sebaiknya setiap orang menyesuaikan dengan porsinya yang unik, bukan dengan porsi si penjual. Karena kita-lah yang benar-benar mengerti kebutuhan kita.

      Nanti jika ada kesempatan, saya akan berkunjung balik 😉

      Suka

      Balas

  7. bentuk tulisan yang sederhana dikemas dengan apik. masalah ini juga sempat aku lupakan karena kurang perhatiannya sama diri sendiri.

    @______@

    Suka

    Balas

    1. H,

      Nah apa kurang perhatian pada diri sendiri karena terlalu banyak mencurahkan perhatian pada orang-orang di sekitar Pak? Mungkin saja nanti pada gilirannya perhatian akan datang melimpah dari sekitar 🙂

      Suka

      Balas

  8. kalau saya jujur ngga akan pernah bisa memesan nasi setengah porsi. orang satu porsi saja itungannya sudah setengah porsi reguler saya, apalagi setengah porsi, paling cuma 2-3 suap saja buat saya. hehe…

    Suka

    Balas

    1. Mas Hielmy,

      Wah, jika begitu boleh nih kapan-kapan acara buka puasa ditraktir Mas Hielmy, pasti dicarikan rumah makan dengan porsi ekstra jumbo – maklum anak kost 🙂

      Tapi jika bicara tentang porsi, setiap orang punya punya porsi uniknya masing-masing. Kalau satu porsinya pedagang, berarti sekitar dua porsi bagi saya dan setengah porsi bagi Mas Hielmy, sehatnya ya dikembalikan pada satu porsi kita masing-masing, jika itu cukup dan sehat bagi kita, maka itulah yang terbaik.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.