Menyusui, Ikterus dan Taurin

Apa Anda merasa judul ini aneh? Ya, terus terang saya juga merasakan hal yang sama. Beberapa waktu yang lalu saya menerima surat elektronik sebagai tanggapan atas tulisan saya yang (mungkin) berjudul “Hiperbilirubinemia Neonatal” yang saya tulis sekadar mengisi luang sembari membaca buku saku pediatri pada Oktober tahun lalu.

Surat yang saya terima ini menanyakan relasi antara Taurin yang terdapat dalam ASI dan kaitannya dengan konjugasi bilirubin. Saya termenung agak lama, rasa-rasanya pernah mendengar hal ini, apa saya melewatkan bab-bab tertentu dalam pelajaran biokimia? Saya tidak ahli dalam biokimia, mungkin salah satu pelajaran mendasar yang paling rendah penguasaannya bagi saya. Namun mari kita mencoba mencari tahu bersama, kurang lebihnya mohon koreksi kembali.

Jadi mari kita mulai dari Taurin sebagai permulaan.

Taurin adalah sejenis asam amino kondisional (dibentuk oleh tubuh sendiri), terdapat dalam jumlah besar pada jantung, otak, retina dan keping darah. Diperlukan dalam membangun protein-protein dan membantu fotoreseptor, yang mana membantu fungsi mata. Ia juga membantu motilitas sperma, aktivitas keping darah dan aktivitas insulin. Beberapa keuntungan taurin adalah membantu regulasi sistem saraf, pembentukan empedu, menurunkan tekanan darah, terapi untuk hepatitis, fibrosis kistik, hipertensi, gagal jantung kongestif.

Ada lebih banyak penggunaan taurin lainnya semisal pada bidang kesehatan mental, bagi penyakit ayan, autism, ADHD. Bagi kebanyakan orang, jumlah taurin yang mencukupi sudah disiapkan oleh tubuh itu sendiri. Seseorang mungkin perlu tambahan taurin pada masa-masa seperti kelelahan fisik, sakit atau perlukaan serius.

Orang-orang yang mendapat asupan intravena, infan/bayi yang tidak memperoleh ASI atau hanya dengan susu formula, mereka memerlukan tambahan suplementasi taurin atau asupan taurin dari produk olahan susu. Infan yang tidak mendapat ASI, memerlukan suplementasi taurin oleh karena susu sapi tidak menyediakan taurin dan tubuh mereka belum cukup berkembang untuk menghasilkan taurin.

Kemudian mari kita mengenal ulang ikterus atau jaundice pada bayi.

Jaundice disebabkan oleh penumpukan bilirubin di dalam darah, suatu pigmen kuning yang dihasilkan dari pemecahan sel-sel darah merah yang sudah tua. Memang wajar bagi sel darah merah untuk hancur pada waktunya, namun pembentukan bilirubin tidak biasanya menyebabkan ikterus karena hati mematobilismenya dan mengeluarkannya melalui usus. Pada bayi yang baru lahir, sering kali menjadi jaundice dalam beberapa hari awal ditemukan, oleh karena pada masa itu enzim hati yang berfungsi mematabolisme bilirubin masih belum sempurna.

Lebih mendetail tentang hal ini, silakan baca kembali artikel “Hiperbilirubinemia Neonatal” di atas, atau pada artikel “Ikterus Neonatorum” pada situs klikdokter.com.

Lalu apa kaitannya taurin dan konjugasi bilirubin?

Sejujurnya saya masih sulit menjelaskan hal ini, karena bagaimana mekanisme pastinya saya juga belum mengetahui.

Maaf, terkadang saya sendiri tersenyum geli pada diri saya sendiri karena menjelaskan mekanisme konjugasi bilirubin yang normal pun masih agak terbata-bata, apalagi yang satu ini. Dan ini memperlihatkan betapa masih banyak hal yang perlu saya pelajari.

Pertama saya agak ragu, apakah yang terkonjugasi dengan taurin adalah bilirubin? Karena dalam teori disebutkan bahwa bilirubin di dalam hati dikonjugasikan dengan asam glukoronat sehingga menghasilkan bilirubin terkonjugasi yang larut air.

Dalam kasus jaundice berkepanjangan saya justru menemukan bahwa yang berkonjugasi dengan taurin adalah asam empedu.

Dari jurnal tertua yang bisa saya temukan, sekitar Oktober 1985 yang berjudul “Alterations of serum bile acid profile in breast-fed infants with prolonged jaundice” oleh Yamada M dan rekan-rekan, disebutkan sebagai berikut:

Serum bile acid conjugates in breast-fed infants with prolonged jaundice were analyzed by a newly developed procedure using high-performance liquid chromatography with fluorescence labeling. Major bile acids were cholate and chenodeoxycholate conjugates. Some of the breast-fed jaundiced infants had high levels of serum bile acid conjugates (greater than 25 mumol/L), but the mean levels of individual bile acid conjugates found in jaundiced breastfed infants were not significantly different from those in breast-fed infants without jaundice. The glycine- to taurine-conjugated bile acid ratio in breast-fed jaundiced infants was significantly lower than in breast-fed nonjaundiced infants or bottle-fed nonjaundiced infants. In breast-fed infants, the portion of taurine-conjugated bile acids increased in proportion to serum bilirubin levels. These findings suggest that alteration in conjugated bile acid patterns of breast milk jaundice is related to an increased enterohepatic circulation of bile acids as well as bilirubin in infants fed on breast milk that contains high amounts of taurine.

Dalam abstrak jurnal ini – tentu dengan mengingat bahwa di sini masih dalam ranah ikterus yang berkepanjangan pada bayi yang mendapat ASI – terdapat temuan yang menduga alterasi (pergeseran) dalam pola konjugasi asam empedu.

Satu-satu ranah di mana taurin berkonjugasi dengan bilirubin saya hanya temukan pada ditaurobilirubin yang terjadi pada Seriola quinqueradiata (sejenis ikan di perairan Jepang). Tentu hal ini sudah di luar pembahasan kita, namun bagi yang tertarik silakan melihat jurnal “Occurrence of ditaurobilirubin, bilirubin conjugated with two moles of taurine, in the gallbladder bile of yellowtail, Seriola quinqueradiata".

Lalu adakah fungsi lain taurin yang bisa membantu mekanisme konjugasi bilirubin?

Saya melongok pada jurnal lain oleh Cooke RJ dan kolega pada tahun 1984 yang berjudul, “Effect of taurine supplementation on hepatic function during short-term parenteral nutrition in the premature infant.”

To evaluate the potential role of taurine deficiency in the pathogenesis of parenteral nutrition-induced cholestasis, 20 premature (less than 34 weeks AGA) infants were randomized to receive parenteral nutrition with and without taurine (10.8 mg/kg/day) during the first 10 days of life. Birth weight, gestational age, and protein and caloric intake were similar in both groups. Plasma taurine levels and hepatic function were assessed before the study began (3 +/- 1 days of age), at 5 +/- 1 days of age, and at 9 +/- 1 days of age. Although plasma taurine levels were significantly greater at 5 +/- 1 and 9 +/- 1 days of age (p = 0.009) in the group receiving supplementation, no differential effect on hepatocellular function could be detected during this short period of time. A decrease in plasma ammonia (p = 0.001), alanine aminotransferase (ALT) (p = 0.036), gamma-glutamyltranspeptidase (GGTP) (p = 0.05), 5′-nucleotidase (5’N) (p = 0.001), and bile salt concentrations was noted in both groups, indicating the rapid maturation of hepatic function even in the presence of parenteral nutrition during the first 10 days of life.

Dijelaskan dalam abstrak jurnal tersebut bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada fungsi hepatoseluler yang diperoleh antara mereka yang mendapat suplementasi taurin dengan yang tidak. Dalam hal ini maturasi fungsi hepatal (termasuk di dalamnya kemampuan menkonjugasi bilirubin) tidak terkait secara bermakna dengan taurin.

Dan beberapa sumber lain yang saya buka serta telusuri, saya tidak bisa menemukan hubungan langsung antara konjugasi bilirubin dengan keberadaan taurin. Sehingga sebagai simpulan sementara saya, tidak ada efek langsung antara taurin guna membantu konjugasi bilirubin. Namun taurin memang berperan dalam konjugasi asam empedu, dan nantinya membentuk garam-garam empedu.

Pun saya bingung dan bertanya-tanya, oke… apakah kita sekarang sedang membicarakan tentang bilirubin (pigmen empedu) ataukah bile acid (asam empedu)?

Beberapa sumber lain yang bisa menjadi rujukan untuk menyusui dan taurin adalah “Taurine and Breastfeeding” serta “Taurine Side Effects”.

Satu-satunya sumber yang saya temukan tentang hal ini justru dari dua blog berbahasa Indonesia berjudul “Satuan Acara Penyuluhan (SAP) ASI Eksklusif” dan “ASI Eksklusif”.  Namun di sana pun saya tidak bisa melacak referensinya.

Akhirnya saya tahu kapan harus mengangkat bendera putih sembari bertahan sejenak pada simpulan saya sebelumnya.

Ketika surat elektronik itu tiba dengan pertanyaan,

saya pernah membaca pada asi terdapat komposisi yang dapat membantu proses konjugasi bilirubin yaitu pada komponen protein : asam amino taurin. tapi pembahasan tentang mekanismenya kok tidak ada ya?

Maka saya harus berbesar hati menyatakan, maaf untuk pernyataan tersebut saya memang tidak tahu bagaimana mekanismenya.

Mungkin jika kita berjodoh dengan pembaca yang lebih memahami hal ini, beliau akan memberikan penjelasan melalui kolom komentar 🙂

Iklan

3 Comments

    1. Ovie,

      Sebenarnya saya sendiri merasa tulisan ini tidak menjawab apa pun. Jadi masih jauh dari yang bisa diharapkan.

      Namun terima kasih kembali atas apresiasinya.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.