Perokok Tidak Dilindungi JAMKESMAS?

Saya agak kaget ketika mendengar wacana bahwa perokok atau seseorang yang memiliki anggota keluarga perokok tidak akan dijamin melalui JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Kemudian saya melihat kembali di stasiun televisi (diskusi bersama menteri kesehatan RI), bahwa yang diisukan sebenarnya bukan JAMKESMAS namun JPGAKIN (sejenis JAMKESMAS tapi milik Pemkot Jakarta). Wacana ini hendak meniadakan bantuan sosial bagi masyarakat miskin yang merokok dan akan diejawantahkan ke dalam peraturan daerah.

Banyak pro dan kontra dalam masyarakat, namun kalau yang saya lihat dari apa yang ditampilkan dalam situs jejaring sosial twitter dan facebook di layar televisi, lebih banyak pro terhadap wacana ini. Mari kita simak sedikit pro dan kontra ini berikut.

Pertama jika orang itu tergolong orang miskin, maka ada kategori bahwa seorang perokok bukanlah termasuk dalam orang miskin. Jika ada yang bisa menyisihkan uang setiap harinya untuk merokok, banyak yang berpendapat bahwa mereka sebenarnya tidak miskin – karena bisa memenuhi kebutuhan hidup tersier (bukan hanya sekadar primer atau sekunder).

Kedua, rokok di mana pun dalam penelitian dunia kesehatan saya belum pernah menemukan kebaikannya bagi kesehatan. Justru sebaliknya rokok adalah sumber dari berbagai masalah kesehatan baik bagi si perokok sendiri atau pun bagi orang di sekitarnya. Masyarakat tahu benar akan hal ini. Lalu apa orang yang sengaja menimbulkan sakit pada dirinya layak diberikan bantuan untuk sehat? Seakan-akan ia telah menandatangani kontrak “saya rela jatuh miskin dan sakit asal saya bisa menghisap nikmatnya asap rokok”.

Ketiga, walau pajak rokok termasuk tinggi, namun bagaimana dengan kerugian negara akibat rokok. Apa para perokok berpikir bahwa pajak mereka bisa seperti premi asuransi jika nanti timbul masalah kesehatan yang dicurigai salah satu faktor penyebabnya adalah rokok? Jangan tanya saya – karena bukan ahli di bidang ini. Namun silakan merujuk pada artikel “Pajak Rokok vs Kerugian Negara Akibat Rokok.”

Saya tidak benci perokok, saya juga tidak ingin melakukan keberpihakan yang mengintimidasi pihak mana pun. Namun saya tahu bahwa rokok tidak pernah berakhir baik, kecuali mungkin bagi industri yang menyediakannya.

Jika Anda bertemu seseorang yang terbaring lemah di atas ranjang sebuah rumah sakit, napasnya terasa begitu berat dengan wajah yang pucat, Anda bisa melihat betapa susahnya ia bernapas – pada seharusnya menarik napas adalah salah satu hal yang terbebas yang bisa kita lakukan. Singkat cerita Anda tahu bahwa ia adalah seorang perokok berat, dan baru berhenti merokok setelah sakitnya memberat – mungkin sekitar 3- 4 hari yang lalu dia masih menghabiskan 5 batang rokok sehari sebagaimana yang ia bisa lakukan bahkan lebih dalam beberapa tahun belakangan ini. Ia tak punya sanak keluarga di sana, karena ia hanya warga biasa yang baru tinggal dua tahun dan bekerja sebagai buruh pasar. Kini ia terbaring tak berdaya, kadang Anda bisa menyaksikan petugas membantunya memasang selang oksigen untuk membantunya bernapas, Anda bisa melihat setiap pagi atau siang, ia amat kesusahan untuk menelan beberapa butir obat, bahkan ketika malam pun ia tak bisa beristirahat dengan tenang karena batuk dan rasa nyeri di dada yang begitu mengganggunya.

Mungkin apa yang dialaminya sepenuhnya bukan karena salah si rokok yang selalu setia menemaninya. Namun kini, jaminan sosial yang membantunya mendapat pertolongan kesehatan di rumah sakit akan ditiadakan – karena dia seorang perokok.

Beberapa tahun ke belakang mungkin ia masih bisa berpuas dengan tegap sembari menghabiskan satu dua batang rokok sekaligus. Tapi kini ia lemah tak berdaya dan terancam tidak mendapatkan bantuan kesehatan kembali.

Saya percaya kesehatan adalah hak setiap warga negara. Namun beberapa hal menjadi begitu dilematis. Saya kadang tidak hendak melihat kehidupan secara pragmatis, karena beberapa hal dari kehidupan yang utuh mungkin akan terlewatkan.

Lalu bagaimana pendapat Anda?

Iklan

14 Comments

  1. sukurin lu. racun dalam rokok itu…
    baguslah tidak dijamin. harusnya dari dulu.
    aku nggak bisa komentar apa-apa soal rokok.
    eh, apa stakeholder inustri rokok juga merokok? kalau nggak, mereka jadi nggak punya integritas dalam bisnis rokok. sedangkan kalau make harusnya mereka mati dari dulu. gimana?
    mas, aku mengemis komentar sampeyan ke posting blogku yang lain yang nggak punya komentar ya?

    Suka

    Balas

    1. Wahyu Nurudin,

      Masyarakat bisnis dan industri selalu memperhitungkan untung-rugi dengan jeli, semakin baik kemampuan bisnisnya – semakin baik pula hitung-hitungannya. Kalau dia sadar dengan merokok suatu saat nanti dia bisa membayar ratusan juta rupiah untuk mengobati berbagai penyakit termasuk kanker, yang belum tentu juga dapat sembuh. Saya rasa mereka tidak akan dengan bodoh mengkonsumsinya karena pasti akan merugi berat, tapi kalau memproduksi dan menjual rokok memberikan keuntungan yang baik, bisa mendapat rumah yang bagus, bersih dan higienis, membeli makanan sehat tanpa masalah – mereka pasti akan memproduksi dan menjual lebih banyak lagi. Logikanya begitu.

      Iya, Wahyu, jika saya bisa (karena sambungan internet saya lambat banget) nanti saya akan berkunjung 🙂

      Tidak perlu tergesa-gesa untuk mendapatkan komentar di semua artikel blog. Kalau Wahyu melihat arsip blog saya ini. Maka 1 – 2 tahun pertama nge-blog malah tidak ada komentar sama sekali di tulisan saya, dari 10 tulisan kalau pun “beruntung” paling ada 1 yang ditanggapi 😀

      Namun nge-blog adalah hobi. Saya menulis sesuatu yang ingin saya tulis, walau tidak ada tanggapan – tak jadi masalah. Saya pikir narablog harus mencurahkan perhatian pada konten suatu blog, membuat ungkapan kita sendiri, menulisnya sendiri. Secara tidak langsung, nanti akan terasah dengan sendirinya, dan konten yang baik akan dengan sendirinya mendapat tanggapan yang baik 🙂

      Ada sih memang tips yang sering dibuat untuk mendapatkan pembaca yang banyak, mengundang banyak komentator. Tapi saya sendiri kadang harus kembali bertanya pada diri saya – apa itu yang sebenarnya saya inginkan dari nge-blog? Dan ternyata tidak, saya hanya suka menulis, saya pun menulis dan menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya atau apa yang menjadi tanggapan saya terhadap kondisi sekitar. Kalau beruntung ada yang tertarik dengan apa yang saya ungkapkan dan kemudian memberi tanggapan – ya, marilah kita berdiskusi dengan sehat.

      Ha ha, koq saya malah jadi curhat ya.

      Oh ya Wahyu, maaf sebelumnya, saya mengunjungi blog Wahyu koq agak berat ya (saya memakai koneksi CDMA upto 64 kbps), sepertinya banyak HTTP request dari pranala luar yang membandel buat dibuka dikoneksi lemot saya. Coba dicek dengan WebPageAnalyzer 😉

      Suka

      Balas

  2. Setuju… Kadang kita menghadapi dilema-dilema seperti ini. Masalah yang muncul karena banyaknya perokok dari kalangan menengah ke bawah. Saya pikir, mereka lebih harus kita kasihani. Budaya merokok memang sebuah ironi.

    Suka

    Balas

    1. Charles,

      Saya sependapat Pak, jika anak usia 5 tahun sudah mulai merokok setelah melihat iklan rokok di televisi – kita menjadi prihatin.

      Mungkin tidak ada yang menegur jika di sekitarnya juga adalah lingkungan perokok. Mungkin ini ironinya.

      Suka

      Balas

    1. Suzan,

      Jika cara ini bisa menghentikan kebiasaan buruk itu, mungkin memang tepat dilaksakan. Tapi aplikasinya di lapangan pasti sangat sulit.

      Bagaimana kita bisa tahu kalau di perokok atau ada keluarganya yang perokok. Entahlah nanti, kita lihat saja apa Pemkot Jakarta akan jadi pelopor di bidang ini.

      Suka

      Balas

  3. Gimana ya, saya sih sebenarnya setuju juga dengan hal ini. Tapi tetap harus ada sosialisasi dulu, sehingga rakyat yang kurang mampu bisa mengetahui bahwa jika mereka sakit dan mereka perokok maka mereka tidak akan dibantu.

    Suka

    Balas

    1. Bli Wira,

      Nah, jadinya agak sulit juga kan?

      Mungkin hal itu yang menyebabkan menteri kesehatan belum menerapkan ini pada sistem nasional. Baru wacana di pemkot Jakarta.

      Kalau diterapkan di skala nasional mungkin akan ada revolusi kesehatan.

      Suka

      Balas

  4. Memang kasihan melihat orang-orang yang terbaring sakit akibat kecanduan rokok. Tapi itu memang resiko yang harus mereka tanggung akibat keputusan yang mereka buat, layaknya Hukum Karma.
    Mengenai JPGAKIN yg tidak melayani perokok, saya kira ulasan Anda di atas sudah mendukung keputusan tersebut 🙂

    Suka

    Balas

    1. Adiarta,

      Dalam diri saya pun ada pro dan kontra, jadi saya harus menuangkan kembali, mengapa saya setuju dan mengapa saya sulit untuk setuju. Jika tidak saya mungkin kesulitan melihat apa yang sebenarnya menjadi pendapat saya dalam suatu masalah ketika ada masih ada pro dan kontra itu.

      Saya bisa menemukan lebih banyak alasan lagi untuk pro terhadap wacana ini.

      Namun di dalam diri saya ada yang berkata, ini bukanlah jalan yang paling tepat dan baik bagi semua orang. Dan ilustrasi tersebut menggambarkan bagian dari diri saya yang mempertanyakan apa yang mungkin memberatkan saya untuk setuju akan wacana ini.

      Suka

      Balas

  5. kalo ideku sih mas, merokok udah kayak budaya, identik sama macho, harusnya, orang2 potensial perokok&yang sudah merokok, itu dikasih edukasi dulu, minimal sama gencarnya dengan iklannya, gak cuman sekedar tulisan sebaris “merokok dapat…”.Nah, kalo udah bertahun dikasih gambaran masih aja begitu, baru ancam jamsostek cabut..

    Suka

    Balas

    1. Wigati,

      Saya percaya, mereka yang merokok karena menganggap itu bagian dari budaya hidup pasti mengerti benar risiko buruk merokok.

      Saya sendiri masih kebingungan, kira-kira edukasi apa yang bisa disampaikan agar masyarakat tidak hanya sekadar tahu dan paham bahaya merokok – yang tidak hanya buruk baginya, namun juga bagi orang lain.

      Kita memerlukan social awareness yang kuat dalam hal ini, namun masalahnya masih banyak orang yang hidup dengan rokok, hidup dari industri dan perdagangan rokok, masih banyak orang yang tidak peduli dengan para perokok. Dan mereka adalah bagian dari kita sendiri.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.