Menerima Siapa pun Yang Datang

Tuhan begitu penuh kasih sayang, sedemikian hingga dikatakan Beliau akan maju sepuluh langkah ke arahmu jika engkau maju selangkah menuju pada-Nya. Kisah kali ini saya petikkan dari cerita Ramayana. Anda tentu mengenal Wibhisana, adik dari raja agung Rahwana sang penguasa negeri Lanka. Whibisana digambarkan sebagai tokoh yang santun dan bijaksana, gambaran berbeda sekali dengan kakaknya Rahwana. Suatu ketika Whibisana bertanya pada Hanuman – putra Vayu, Dewa Angin – yang juga inkarnasi Mahadewa Siwa. Ketika itu ia hendak bergabung dengan pihak Rama dan balatentara Kiskenda yang sedang menyerang Lanka Pura guna membebaskan Dewi Sita.

Ia bertanya pada Putra Vayu, apakah jika ia datang pada Rama, Rama akan menerimanya dan melindunginya – mengingat ia adalah saudara dari musuh besar Rama, ia adalah saudara Raja Lanka yang merupakan wujud angkara murka di mana Rama telah bersumpah untuk menumpasnya. Ia merasa dirinya adalah bagian dari warga raksasa yang selama ini terkenal jahat, selalu membuat kekacauan di mana-mana, dan mengganggu pertapaan para mahaguru. Ia bahkan tidak begitu memahami Veda, Sastra atau pun ritual upacara wangsa Arya.

Hanuman menjawabnya, “Oh betapa bodohnya engkau ini! Apakah kau kira Ia hanya memperhatikan ketepatan ritual, kedudukan seseorang atau tingkat pendidikan? Jika demikian bagaimana mungkin Beliau dapat menerima aku yang seekor kera ini?”

Wibhisana pun yakin dengan jawaban Hanoman dan percaya ia akan diterima di sisi Rama. Dan Ia pun menghadap Rama di tenda utama di temani oleh Hanuman di mana di sana ada juga panglima-panglima perang dari balatentara Kiskenda.

Setelah mendengarkan apa yang disampaikan Wibhisana, Rama pun memandang sekeliling dan bertanya pada kera-kera yang ada di sana, apakah Ia boleh menerima menerima Whibisana di dalam kelompok mereka? Walau bisa dikatakan Rama tidak memerlukan kata-kata dari siapa pun, dan tidak ada kata-kata apa pun yang bisa mempengaruhinya, namun demikian Rama meminta persetujuan mereka dan berpura-pura belum mengambil keputusan, hanya agar mereka tidak merasa diabaikan.

Sugriwa – Raja para kera Kiskenda beteriak dengan lantang, bahwa ia sama sekali tidak setuju. Lalu Rama mengingatkan kembali Sugriwa, bahwa ia pun dulu datang pada Rama setelah meninggalkan kakaknya Subali.

Laksmana – adik yang selalu setia menemani Rama berkata, bahwa satu-satu yang layak bagi Wibhisana adalah dilemparkan kembali ke Lanka Pura ke tempat asalnya. Rama berakat, “Ya tentu saja, Aku memutuskan akan mengangkatnya sebagai Raja di Lanka setelah kematian Rahwana!”

Siapa pun yang datang pada Ilahi, akan diterima seketika itu juga tanpa syarat apa pun.

Ada seseorang yang berkata agar Rama tidak menjanjikan sebuah singgasana bagi Wibhisana, karena mungkin saja Rahwana gagal melawan Rama dan meminta ampunan akan kesalahannya. Rama menjawab, “Jika demikian, Aku akan memegang kedua tangan Bharata dan mohon agar Wibhisana dijadikan Raja Ayodhya, wilayah milik nenek moyang kita, dan kami berdua, Aku dan Bharata akan hidup di hutan dengan bahagia.”

Wilayah kasih Ilahi adalah wilayah kasih yang tanpa batas dan tanpa pusat, tidak ada jalan nalar pikiran manusia yang mampu menjangkaunya. Kita terlalu banyak memiliki syarat untuk sebentuk ke-Ilahi-an, sedangkan kesejatian itu sendiri begitu sederhana tanpa syarat, menerima dengan penuh keterbukaan.

 

Adaptasi dari Chinna Katha I.18

Iklan

22 Comments

  1. baik dan buruk selalu hadir di dalam setiap mahluk hidup, menjaga pikiran lebih penting dari apapun yang kita terima baik buruk maupun baik.

    Suka

    Balas

    1. Bli Wira,

      Wibhisana memang berkhianat pada kakaknya yang seorang raja, dan berarti pada masa itu berkhianat pada negaranya.

      Tapi kadang hidup adalah tentang pilihan, ada banyak pilihan – Wibhisana mengikuti kata hatinya, namun sebagai konsekuensi ia akan menyandang sebutan pengkhianat. Dan jika ada yang kemudian tidak suka padanya itu adalah suatu kewajaran bukan? 🙂

      Bahkan katanya Tuhan-pun tidak bisa memuaskan seluruh dunia, karena manusia menginginkan terlalu banyak hal yang saling bertentangan.

      Suka

      Balas

  2. Saya termasuk orang yang tidak begitu paham tentang filsafat, apalagi filsafat ketuhanan.
    Tapi dari cerita yg Anda sampaikan, sedikitnya saya menangkap bahwa Dia akan menerima dengan bijaksana siapapun yang ingin mengabdikan diri kepada-Nya.
    Tirulah sikap bijaksana dan welas asih dari seorang Rama, dan rendah hati dari seorang Wibhisana!

    Suka

    Balas

    1. bayuputra,

      Cerita Mahabharata menyebar dari anak benua India ke nusantara tentu melalui berbagai wilayah dan asimilasi budaya.

      Walau inti ceritanya tidak berubah, sedikit banyaknya adalah perbedaan. Semisal setelah masuk jadi pewayangan di nusantara, ada penambahan tokoh “punakawan” seperti tokoh Semar dan kawan-kawan – tentu tokoh-tokoh ini tidak ada dalam kisah aslinya di negeri India sana 🙂

      Suka

      Balas

    1. Suzan,

      Buku “Quantum Iklhas” memang bagus, saya hanya sempat mencuri baca sedikit-dikit saja dari teman kost di sebelah. Tapi walau sedikit, buku itu tetap “worthed” untuk jadi koleksi 😉

      Suka

      Balas

  3. wah cerita mahabarata … mengingatkan cerita wayang yang sering saya liat di DVD Bapak saya…. heeee….
    Salam Kenal mas dari saya di Kalimantan Tengah….

    Suka

    Balas

    1. bayuputra,

      Salam kenal juga Pak…,

      Kalau boleh ralat sedikit, ini masih masuk kisah Ramayana. Sedangkan Mahabharata memuat kisah keluarga/wansa Bharata.

      Tapi memang yang lebih lumrah dikenal di pewayangan adalah kisah Mahabharata 🙂

      Suka

      Balas

    1. H,

      Ini kisah klasik dari kitab Ithiasa, dan masih terangkum dalam kisah Ramayana, jadi ceritanya umum. Kalau ada yang pernah menceritakan ulang di tempat lain, pasti tidak akan jauh berbeda.

      Saya sendiri mengutip dan mengadaptasinya dari Chinna Katha 🙂

      Suka

      Balas

  4. yupz bener banget kasih tuhan emmang tanpa batas dan gk bisa diukur dengan apapun

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihh 😀

    Suka

    Balas

    1. darahbiroe,

      Terima kasih, saya sudah berkunjung balik, artikelnya banyak yang menarik, saya sempat baca satu dua. Tapi bingung kalau mau komentar apa – rerata di luar lapang yang sering saya temui sehari-hari…

      Tapi blognya bagus koq 🙂

      Suka

      Balas

  5. Kemuliaan dari Yang Maha Pencipta tidak memiliki banyak persyaratan, tidak perlu fit and proper test, Ke-Ilahi-an pada dasarnya tidak memiliki persyaratan apapun, tinggal terpulang kepada masing-masing pribadi saja untuk menterjemahkannya secara bijak.

    Suka

    Balas

    1. Setiap orang memilih jalannya masing-masing…

      Ada yang menetapkan banyak syarat, ada yang sebaliknya. Tapi kadang saya sendiri mesti merenung kembali akan banyak hal.

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.