Ubi Bakar Cilembu

Sekitar seminggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Plaza Ambarukmo, kebetulan karena diminta mencari sejenis sayuran impor yang jika tidak salah bernama Gobo – katanya sih diimpor dari Jepang. Saya berjalan ke tempat di mana berbagai sayuran bisa ditemukan, nah ternyata setelah dicari ke mana-mana ternyata tidak ada. Rupanya di sini sayuran ini tidak dikenal sama sekali, apa hanya di Bali saja kebetulan terkenal ya? Jadi aku mengurungkan niatku membeli sayuran yang konon katanya punya sifat anti kanker ini.

Saya berjalan-jalan di sekitar tempat sayur dan buah, masa bayar parkir mahal-mahal pulang dengan tangan kosong? Ini sih sebenarnya pemikiran orang pelit yang tidak bagus dicontoh.

Tertarik melihat sesuatu yang beruap di kejauhan, saya mendekat. Saya melihat ubi-ubi yang bertumpuk dengan dengan diberi keterangan “Ubi Bakar Cilembu”. Karena tertarik, diputuskan untuk membeli beberapa batang.

Sampai di rumah, aku mencoba satu. Hmm…, rasanya gurih dan manis sangat alami. Seperti berisi madu (atau apa memang ditambahkan madu?) di dalamnya pun empuk dan nikmat sekali saat masih hangat.

Beberapa saat kemudian, yang tersisa mulai dingin. Aku pun tak tahan mencicipinya lagi, wah…, bahkan ketika sudah dingin pun masih enak. Dan akhirnya ubi-ubi itu habis, padahal belum sempat kuambil gambarnya untuk diabadikan di blog, malah sudah masuk perut semua.

Makanan lokal memang masih menang bersaing dengan makanan impor kalau di lidahku, he he

Iklan

42 respons untuk ‘Ubi Bakar Cilembu

  1. Sheilla berkata:

    Aku juga suka ubi bakar cilembu, apalagi kalo makannya pas lagi dingin2 di Puncak minumnya teh tawar hangat ^ ^’

    Suka

  2. sudira berkata:

    badah bli…
    kuda a kilo ne ditu? dini ada ne ngadep, di gatsu timur. amun sing pelih ajinne 8 atau 16 ribu a kilo. doeng…… rasa lokal harga impor untuk sebuah “sela”

    Suka

    • Cahya berkata:

      Sudir,

      Its about 749.00 rupiahs per 100 grams in a hot plate 🙂

      Btw, you shouldn’t turn a wordpress.com blog into commercial site since its prohibited by the TOS :p

      Suka

  3. hanif IM berkata:

    berapa harganya mas per kilo? ntar saya coba deh ke amplas. hehe… menarik nih, mengetahui bosennya di mall amplas kalau gak ada duit. hahaha.

    Suka

  4. p0et berkata:

    wah. ngomongin ubi, jd pengen mkan nasi ‘sela’ 😀 terakhir kali makan skitar 6 bln yg lalu, waktu nganter kkak penelitian di pantai lebih. hehe. . btw, kalo sekilo = 1000 gram, brarti 7500 -an ya bli ? sekilo isi brapa potong? 😀

    Suka

  5. Lilah haryoko berkata:

    Yuhuu…emang nikmat disantap hangat-hangat, pake teh hangat juga pas ujan lg, kl dimadiun ada byk di karfur tp mahal, yg murah staynya dpn pasar sepoor…mantab..

    Suka

    • Cahya berkata:

      Lilah haryoko,

      Iya Bu, benar juga sih, untuk ukuran ubi lumayan mahal, saya tidak tahu kalau di pasar bisa dapat murah – maklum jarang beli ubi 😀 (jarang ke pasar pula)

      Suka

  6. Khatulistiwa berkata:

    wah…berarti saya termasuk orang yang merugi ya. soalnya belum pernah nyobain ubi ini..hmm..boleh dicoba neh

    Suka

  7. social media berkata:

    Wah saya juga baru balik dari puncak beberapa saat yang lalu, dan ubi cilembu gak boleh ketinggalan di boyong ke JKT,,,

    emang rasanya mantab banget, mo dingin mo panas kek,,,bahkan saya pernah simpan di kulkas beberapa hari, dan coba saya makan dingin2…rasanya masih aja nikmat…

    ini ubi kabarnya gak di kasih madu di tengahnya,,,,tapi emang ubinya manis seperti madu…..

    Suka

  8. iskandaria berkata:

    Waduh, baca cerita di atas saya kok jadi ngiler ya. Ngebayangin betapa gurihnya ubi bakar. Kalo menurut bahasa daerah saya (melayu) bandong bakar 🙂

    Suka

  9. Decy berkata:

    aku belum pernah makan ubi bakar cilembu,

    yg aku bayangkan saat membaca postingan ini , adalah ubi2 rebus hangat yg sangat nikmat rasanya heheee..

    Suka

  10. TuSuda berkata:

    Wahh sayang sekali…sudah keburu habis, karena saking enaknya lupa dokumentasinya. Ubi itu tergolong singkong (ubi kayu) ataukah ubi jalar (ketela rambat)?. Siapa tau bisa dibudidayakan di Kendari. Kalau di Kendari terkenal dengan hidangan sop ubinya (singkong rebus dicampur bumbu kuah ayam)…ehhm, uenaak tenan.

    Suka

    • Cahya berkata:

      TuSuda,

      Wah, kalau masalah taksonominya saya angkat tangan dah Dok 🙂 – saya tidak tahu apa hasilnya akan tetap bagus kalau dibudidayakan di luar, coba-coba saja-lah Dok, tapi yang memenangkan konsumen kan tetap cita rasa akhirnya 😀

      Suka

  11. kikakirana berkata:

    waduwh maz cahya.. bikin pengen aja..
    kalo dari ceritanya sich keliatannya enak banged itu ubinya,,.
    apalagi QK juga comment ini pas lapar..
    makan dlu ah…

    HIDUP!!! ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s