102 Tahun Kebangkitan Nasional

Hari ini aku mengantarkan ibu untuk apel pagi dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional. Aku tak akan protes, walau entah mengapa aku hanya merasa ini sesuatu yang hanya sekadar rutinitas. Itu-itu saja, tanpa ada sesuatu yang baru sebagai pendobrak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sementara saat kembali ke rumah, siaran televisi pun penuh dengan isu-isu hangat seputar pembaharuan untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Mungkin menjadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai sebuah lecutan energi semangat, maka banyak pihak berharap kita akan menuju sebuah negeri yang lebih baik lagi.

Tapi jika kita sebagai sebuah bangsa merefleksikan kembali diri kita sebagai suatu bangsa yang utuh dan merdeka. Lalu apa yang akan tampak dalam bayangan cerminan kita?

Apakah sebuah negeri yang dihuni oleh bangsa yang cinta kekerasan tapi berkata cinta damai, cobalah lihat mulai dari kenakalan remaja, geng motor, preman yang suka memalak, penghakiman masa pada orang yang dicurigai melakukan santet, kekerasan pada anak dan dalam keluarga, hingga anggota dewan yang suka beradu mulut hingga beradu tinju dan disaksikan oleh rakyat yang diwakilkannya?

Apakah akan kita saksikan bangsa yang tidak acuh pada sejarahnya atau tidak belajar dari masa yang telah menghantarkannya pada kekinian. Suara-suara yang katanya masih bisa dibeli saat pemilihan, dan kemudian mengeluh karena pimpinannya tidak mendengarkan suara mereka. Perjudian yang semakin gesit menghindari hukum, dan konon juga bisa bercengkrama dengan hukum hingga perjudiannya merambah ke ranah politik. Rakyat kecil tetap tertekan, dan yang harta dan kekuasaan konon bisa tetap melaju dengan mangatasnamakan suara rakyat.

Ataukah kita akan berubah dengan menggunakan momen ini sebagai pelontar raksasa bangsa yang besar ini?

Kita sendiri yang memiliki jawabannya, tidak perlu dikabarkan, tidak perlu disiarkan, tidak perlu diperbincangkan, diperdebatkan, disidangkan, apalagi dikomersialkan. Silakan ambil langkah nyata kita sebagai suatu bangsa yang memiliki jati diri.

Perubahan atau tidak, quo vadis perubahan itu, semuanya ada pada bangsa ini. Saya mungkin terlalu lelah dengan hiruk pikuk panggung banyak pihak banyak bintang di negeri ini, karena saya lebih suka semangat dan kesunyian kampung pedesaan yang lebih sederhana.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-102.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | http://www.legawa.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.