Apa Yang Baru di Bhyllabus?

Mungkin yang sudah lama berkunjung kemari belum tahu tentang apa yang baru di Bhyllabus. Sejak perbaikan pada blog ini (sebagaimana yang saya tulis dalam “maintenence warning”) ada beberapa perubahan yang terjadi pada blog ini.

Pertama adalah perubahan tema dan navigasi. Jika dulu menggunakan tema ungu dengan cerah dan tulisan berbayang (tanda duka mendalam), sekarang Bhyllabus disandingkan dengan “The Erudite” dalam skema gelap yang elegan. Tentu Anda sudah tahu apa makna kata erudite bukan? Penerapan tema karya Matt Wiebe ini tentu juga berpengaruh pada navigasi blog.

Tema ini saya ambil untuk memfokuskan pada isi/konten blog. Karena yang terpenting bagi saya dalam sebuah blog adalah konten. Jadi segala hal yang bisa mereduksi fokus terhadap konten disingkirkan atau disembunyikan. Menu halaman di sembunyikan di atas judul konten, sedangkan bilah sisi disembunyikan di bagian bawah konten. Navigasi blog sepenuhnya di arahkan di atas dan di bawah tulisan, dan disembunyikan secara default.

Saya rasa pembaca tidak perlu melihat berapa banyak pengunjung blog ini, siapa penulis blog ini, iklan dan banner yang tumpang tindih di bilah sisi samping, mengapa pengunjung perlu tahu siapa yang memberi tanggapan terakhir kali, atau mana tulisan yang paling populer? Semuanya disingkirkan dari wilayah baca secara default, sehingga apa yang menjadi bermakna kemudian untuk diperhatikan adalah konten, karena itulah esensi sebuah blog.

Saya hanya mengembalikannya ke konsep awal saya menulis. Bhyllabus bukanlah etalase untuk memamerkan pernak-pernik yang menarik pengunjung agar terlihat wah atau apapun itu, walau selalu ada godaan untuk itu. Tapi pada akhirnya, seberapa tinggi pun keinginan untuk eksis, kesederhanaan adalah jiwa yang paling memikat dari kecintaan akan menulis. Jadi mari kita lihat wajah baru ini. Ini adalah tampilan sebuah halaman tulisan tunggal.

Bhyllabus on The Erudite

Di bagian paling atas adalah nama blog dan keterangan blog, latar putih tulisan gelap, tidak banyak corak.

Di bawahnya adalah bagian menu tersembunyi berisi halaman-halaman, klik “show menu” untuk memperlihatkan pranala ke halaman terkait. Jangan lupa, Bhyllabus juga kini menyediakan halaman untuk bertukar pranala (atau istilah kerennya tukeran link).

Konten blog di mulai dengan judul (semua dalam huruf kapital) tanpa self-linking ke artikel (why you bother for that, just kick that SEOers’ *ss!). Tapi tunggu dulu, di bagian atas judul untuk artikel tertentu kadang terdapat apa yang disebut sebagai epigraf, hanya saja saya tidak terlalu sering menambahkannya, apa Anda melihatnya di tulisan ini?

Terima kasih pada tipografi yang seksama, konten lumayan mudah terbaca walau dengan latar gelap (kecuali untuk pengguna Linux, mungkin tidak bisa demikian, ah…, itu sih memang masalah Linux-nya). Bagian blockquote yang menjorok ke dalam juga tampak indah, dan selain itu juga bisa saya tambahkan pullquote yang mungkin jarang Anda temukan di blog lain. Pullquote memberikan saya kemudahan untuk menampilkan tulisan yang penting ke sisi samping. Anda bisa menemukannya ada di samping.

Gambar (jika ada) akan dihosting di server blog jika gambar itu adalah gambar pribadi milik saya, namun saya membaginya ke Flirck® jika ada yang ingin menggunakannya. Seperti gambar di atas, maka kopi-nya akan langsung ada di Flirck® (terima kasih untuk pengaya Flickr Upload oleh Microsoft di Windows Live Writer). Namun jika itu gambar lain, gambar kecil, tidak terlalu penting, saya akan menempatkannya di server berbeda, tergantung kondisi, bisa di Photobucket®, ImageShack®, atau-pun Picasa® Web Album. Yah, karena jatah hosting saya juga kan punya batasannya.

Bagian berikutnya adalah pemberitahuan hak cipta tulisan yang telah dilindungi dengan tanda tangan digital oleh Digiprove. Tulisan saya mungkin tidak penting, dan saya lisensikan di bawah atribusi Creative Commons (CCA-NC-SA 3.0 Unported) dan bisa disadur dengan bebas. Apa artinya ini? Artinya saya tetap memegang hak cipta atas semua tulisan di blog ini, dan saya memberikan lisensinya pada siapa-pun untuk menyadur, mengutip dan lain sebagainya, namun tidak untuk kepentingan komersial selama memberikan lisensi yang sama juga.

My writing maybe not so good, even I never recommend anybody to give a trust on it. But I love my writing, just like a child, I shall not let anybody play his/her dirty hand on it. You may shared it for free to the entire globe, but if I found you sold my work, then shall we met by the court!

Nah, agar tidak terjadi pembajakan karya cipta yang sia-sia. Saya menyediakan (sesuatu yang tidak penting) sebuah solusi. Di bawah notifikasi hak cipta dan lisensi, saya tempatkan ikon pemasok RSS yang disediakan oleh oleh layanan FeedCat. Layangkan kursor ke atas ikon itu (javascript mungkin perlu aktif), dan Anda akan mendapatkan banyak menu, mulai dari berlangganan pasokan RSS, berlangganan berita berkala melalui surel, mencetak tulisan saya, membaginya ke halaman favorit anda, atau membaginya melalui jejaring sosial. Jadi setelah tersedia begitu banyak opsi untuk berbagi, perlukah ada pembajakan konten? Jangan buang-buang waktu anda untuk membajak tulisan bodoh yang tak bermakna di sini.

Setelah itu terdapat berbagai artikel atau tulisan yang terkait, ini bisa membantu Anda menghabiskan waktu untuk membaca tulisan bodoh saya yang lainnya, tapi sungguhkah Anda perlu melakukan itu?

Di bawah adalah sistem komentar. Sederhana dan tanpa sistem komentar bergalur (threading comment), semakin banyak orang yang menyadari kekurangan dan ketidaksesuaian sistem galur komentar, dan betapa sistem ini mengganggu – maka saya memutuskan tidak lagi menerapkannya di Bhyllabus. Dan sistem komentar tunggal ini sesuai dengan sistem langgan komentar yang saya sediakan di blog ini.

Yang saya tambahkan juga adalah layanan ComLuv (terima kasih untuk Andy yang sudah menciptakannya, dan ramah setiap kali membantu saya) untuk narablog pembaca yang memberikan tanggapan. Saya sendiri menganggapnya tidak esensial untuk ada pada sebuah blog, dan pastinya para pasukan pembela validitas W3C akan menghindari pengaya ini. Tapi saya sering terpaksa menghapus komentar yang menambahkan URI tulisan terakhirnya di kolom komentar, karena memang sudah kebijakan blog ini demikian (silakan baca kembali halaman help dan halaman terms). Jadi saya tambahkan saja pengaya ini. Namun karena saya masuk ke bagian uji coba beta plugin, jadi mungkin ada beberapa masalah yang timbul.

Sistem komentar sementara ini dilindungi dengan dua mesin antispam, akismet dan antispam bee. Saya awalnya hanya ingin menggunakan antispam bee saja tanpa akismet, namun ternyata mesin ini lebih sadis dari wp-spamfree, komentar admin pun bisa ditendang tanpa pandang ampun. Dan saya menerima beberapa protes untuk ini. Saya menurunkan tingkat keamanan antispam bee dan menambal celah yang mungkin muncul dengan akismet, sehingga prinsipnya sekarang tidak lagi “kill them all”, but “give a mercy”, ha ha…. Jadi sementara wp-spamfree belum ada perkembangannya setelah dikeluarkan dari plugin resmi terdaftar wordpress. Maka ini adalah sistem pengaman sementara yang saya gunakan.

Navigasi ada setelah tulisan blog, setelahnya adalah bilah samping yang disembunyikan secara aslinya. Anda bisa menemukan apa yang umumnya ditemukan pada sidebar di situ.

Jadi masih adakah masukan yang lainnya?

Iklan

27 pemikiran pada “Apa Yang Baru di Bhyllabus?

  1. Bli Dani, saya sepakat kalau satu-satunya yang membatasi Linux adalah kemampuan penggunanya 🙂

    Tapi kalau default font-nya memang ndak pas dengan selera saya, masa saya paksakan bilang kalau itu lebih bagus dari yang pas dengan selera saya?

    Kalau boleh saya jujur pada masalah selera dan membuat pas, ya "Linux's default font" memang ndak ramah buat baca blog ini, dan itu adalah masalah.

    Saya akan ambil kata Bli Dani, kalau itu masalah, ya diperbaiki, disesuaikan di Linux-nya, kecuali jika saya bilang sebaliknya itu bukan masalah, dan berbohong pada diri saya, ya seumur hidup saya ndak akan ngapa-ngapain dan memandang kusam blog ini lewat Linux kan jadinya 😉

    He he, ini memang fokus ke konten, kalau menurut Bli Dani kurang ramah, mungkin yang fokus ke pengunjung ya? Ah…, saya fokus ke konten bukan pengunjung lho Bli :p

    Suka

  2. Cahya, Iskandaria,

    Terkait setelan huruf, jah..kok Linux-nya yang disalahkan? Semuanya tergantung kemampuan penggunanya! Mau dibuat apa mesin Linux/Windows/Mac/BSD/Open Solaris-nya. Jika memakai huruf proprietari, ya sesuaikan saja! Tidak perlu menyalahkan siapa pun!

    Cahya,

    jika memang fokus ke konten, sepertinya bertentangan dengan latar gelap teks terangnya. Kecuali semacam galeri foto/seni gambar. 😛

    Suka

  3. Mas Is, tema ini sebenarnya berlatar cerah dengan huruf yang gelap, tapi saya balikkan, pingin sesuatu yang baru.

    Satu kelemahan Linux adalah fonta-nya yang tidak ramah, maksudnya karena terbiasa dimanja di Windows dengan fonta yang indah 😆

    Ada sih, cuma ndak tahu persis saya Mas Is, dulu pernah dibilang sama Bli Dani, kalau kita bisa menyalin berkas fonta Windows ke Linux seperti kita menambahkan jenis fonta ke Windows itu lho. Terus disetel jika tidak salah ada menu khusus fonta (coba cek di: http://waroeng-ubuntu.blogspot.com/2010/05/yang-h…. Kalau untuk peramban Operanya mungkin perlu setelan sendiri di Ubuntu (https://help.ubuntu.com/community/OperaBrowser)… yah tanya-tanya Om Google lah 🙂

    Suka

  4. iskandaria

    Hmm, kayaknya saya perlu lebih menyesuaikan diri untuk menyimak konten berlatar gelap. Tapi saya belum mengetes tampilannya pada linux. Maklum, saya hari ini baru saja menginstall linux ubuntu. Tapi berhubung tampilannya masih kurang nyaman (font kebesaran) dan secara umum tamplan web malah membesar juga, saya gunakan dulu Windows XP untuk browsing.

    Mas Cahya tahu nggak cara memperkecil font dan tampilan web di linux? {OOT} mode on nih 🙂

    Suka

  5. Sama-sama Pak Huang (ups), itu sudah kebiasaan saya kalau memanggil teman yang berprofesi sebagai pendidik atau pengajar, saya ndak melihat usianya kok Pak 🙂

    Suka

  6. Mas Is, ini juga saya coba di OpenSUSE, memang ndak senyaman Windows tapi masih bisa dibaca kan 😀

    Saya belum lihat blog Mas Is, kalau pakai Linux 🙂

    Suka

  7. Planet Reath (namanya diganti terus :p), kebetulan ini dirancang untuk mesin peramban webkit, jadi pengguna iPad bisa mengakses dengan nyaman :lol (padahal yang punya blog ndak punya iPad).

    Pullquote juga rasanya akan jarang digunakan, karena harus nulis kode yang lagi di dalam tulisan asli.

    Suka

  8. iskandaria

    Tes..tes..tes (dari Linux Ubuntu 10.04) 🙂

    Ternyata tampilan blog ini lumayan nyaman Mas ketika saya coba pake Ubuntu. Kalo blog saya sendiri malah gak bagus tuh tampilannya. Font Verdana jadi berubah aneh 😦

    Ternyata memang kelemahan LInux ya kalo begitu. Makasih buat link referensinya. Saya mau utak-atik si Ubuntu dulu.

    Suka

  9. Pak Huang, saya subcribe via surel Pak, kalau di RSS nanti terlalu berat untuk semua blog yang saya ikuti.

    Semoga Ibu cepat baikan ya Pak, saya turut doakan.

    Suka

  10. - H -

    sedang ada masalah dalam jangka waktu itu mas 🙂

    ibu saya sedang sakit dan pekerjaan kantor saya banyakan saya tunda dulu. huff..

    Suka

  11. - H -

    mas cahya bisa saja,, saya sambut pujiannya semoga memberi manfaat majalah tersebut.. 😀

    eh pro picnya mirip vidi aldiano 😀

    Suka

  12. Ha ha, Pak Aldy, malah yang itu kebalikannya sepertinya 😆
    Bli Dani belum tahu saya kalau hari ini, terakhir bertemu pas Waisak kemarin buat kopdar 🙂

    Suka

  13. Asik, hebat euy, penjelasan yang lengkap sekali. 🙂

    Mungkin ini bisa dijadikan sticky post? ^__^

    Dan saya memang lebih suka theme yang gelap, lebih enak buat mata, saya rasa. Mata gak cepet capek. 🙂

    Suka

  14. Mas Agung, tenang saja, theme sebenarnya aslinya terang benderang, tapi saya saja yang suka menggelapkannya 🙂

    Sesekali-lah berpindah aliran 😆

    Suka

  15. capek jalan-jalan ke sana kemari, mampir deh.. eh ada yang baru.. btw warna hitam tuh identik dengan misterius, semisterius pemilik blognya.. so pas deh dengan juragan
    ^ _ ^

    Suka

  16. @Asop, stciky post di mana? Itu tergantung tema sendiri kan, mendukung atau tidak.
    Kalau tema gelap memang standarnya begitu, berkesan teduh. Blogmu pakai gelap-gelapan juga kan 😀

    @Monda, salam kenal juga Bu. Kalau dilihat dari perambannya Nokia (browsing lewat handphone), mungkin tema “The Erudite” di blog ini tidak akan tampak karena diambil alih oleh tema khusus peramban mobile “The Carrington”, karena lebih ramah untuk orang yang berkunjung dengan ponselnya ke blog ini 🙂
    Saya juga lihat blog Bu Monda, pakai tema Bueno dari WooThemes yang baru-baru ini disediakan wordpress kan Bu? Itu juga salah satu tema favorit saya, sayangnya kalau di WordPress.com tidak bisa dikustomisasi lebih banyak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.