Maaf Saya Datang Menutup Mata

Lega rasanya jika punya akses internet cepat jika banyak memiliki aktivitas di dunia maya yang lumayan bikin lompat ke berbagai halaman. Sayangnya, sebagaimana telah dikeluhkan sejak zaman dulu di negeri ini, maka infrakstruktur internetnya dapat dibilang ketinggalan – dan terserah masing-masing orang mau berargumentasi apapun tentang masalah ini.

Saya hanya tidak ingin terganggu dengan kecepatan akses yang tidak mumpuni ini. Dan memang saya juga tidak memiliki keinginan untuk mengganti ke kecepatan akses yang lebih tangguh – karena setangguh apapun layanan dari ISP saat ini, ya, masing-masing akan menemukan kelemahannya. Sehingga saya mengambil jalan tengah.

Saya lebih sering berselancar di dunia maya dengan menggunakan “mata tertutup” – alias mode “disable images”, salah satu cara untuk mempercepat akses ke sebuah website atau halaman di internet – termasuk blog. Jadi semua unsur gambar akan dipangkas dan dimatikan di peramban, sehingga yang tampak hanya unsur teks saja – alias tulisan saja.

Jadi mohon maaf, bagi teman-teman yang sudah cantik-cantik mendesain blognya, saya tidak bisa melihat desain itu, karena pada akhirnya saya juga hanya membaca teks saja. Bagi yang memasukkan banyak foto ke dalam tulisannya saya juga tidak bisa melihatnya, namun jika Anda menempatkan teks alternatif untuk gambar, mungkin saya masih tidak begitu kehilangan informsi tentang gambar atau foto yang dipajang di blog. Bagi yang meletakkan CAPTCHA sebagai sistem pengaman, ya mungkin saya belum berjodoh untuk ikut memberikan masukkan pada tulisan teman-teman.

Ah…, beginilah kehidupan fakir bandwidth, tapi saya bisa mengakses banyak halaman dengan lebih mudah. Walau pada akhirnya, saya juga tidak bisa membaca terlalu sering.

Iklan

30 Comments

  1. Mas Is,

    Memang enaknya sih begitu Mas Is, hanya saja kelamaan nunggu dan duduk, nanti badan saya bisa pegal-pegal :lol:.

    Pak Aldy,

    Walau jaringannya EVDO, kecepatannya kan masih up to 153 kbps dan turun ke 64 kbps setelah 500 MB transfer data. Jadi begitulah nasib yang menggunakan paketan.

    Bli Artha,

    Sesuaikan dengan selera saja Bli, daripada nanti menulis blognya ndak ikhlas :D.

    Dhika,

    Silakan :).

    Bli Dani,

    Maaf, besok dah saya coba, kalau Green Gecko yang baru sudah keluar. Rencananya Fx saya baru sentuh lagi di Linux, sementara di Windows menggunakan Opera saja.

    Oh ketahuan ya untuk artikel terakhir. Saya tidak memasang elemen read more kok pada beberapa artikel yang saya tulis belakangan ini. Masalah sederhana, saya sering lupa membuatnya :D.

    Ah, masa sih pengguna setia warnet?

    Suka

    Balas

  2. Cahya,

    ekstensi ImgLikeOpera untuk Fx yang baru ternyata masih dikembangkan. Klik kanan di gambar–load image.

    Saya tidak bisa menutup mata untuk 'homepage' blog ini. Untuk 'posting' terakhir yang muncul paling atas, dengan pemotongan/'excerpt' ala 'read more' blogspot yang lama. Visualnya nampak ringkasan, tapi sebetulnya pengguna mengunduh konten penuhnya termasuk gambar/multimedia. Hanya saja disembunyikan via skrip.

    Pak Aldy,

    saya masih pengguna setia warnet. Koneksi IM2 di kamar saya sering putus. Kecuali subuh.

    Suka

    Balas

  3. @ Aldy,

    saya bukan menggunakan telkomsel flash, tapi telkomsel unlimited. Beda loh dengan flash. Modemnya aja beda. Jaringan yang saya dapat di Pontianak masih 3G. Belum 3.5G 🙂

    Suka

    Balas

  4. Untunglah saya yang menggunakan koneksi unlimited dari telkomsel 🙂 Biaya per bulannya flat. Tapi saya menggunakan modem 3G. Untuk membuka web/blog yang agak berat masih cukup lah. Jadi saya jarang sekali menonaktifkan gambar.

    Suka

    Balas

  5. @Mas Iskandar,
    Sebenarnya mas Cahya dan Bli Dani nggak fakir-fakir amat, mas Cahya ( nggak panggil Bli ) kan di Yogyakarta, banyak area hotspot bahkan sudah menggunakan koneksi EVDO Mobile.
    Bli Dani menggunakan IM2 yang menurut saya malah lebih baik dari Flash Unlimited. Saya juga menggunakannya Mas, dapat signal Full GPRS.

    Suka

    Balas

  6. @Mas Agung,
    Kok bisa, tapi kemarin saya lariin motornya Bli Dani juga ndak bawa STNK kok 😀 [OOT]

    @Lea,
    Ndak ganti alamat surel kan? Sepertinya Gravatar yang lain baik-baik saja [OOT].

    @Bli Dani,
    Yah, itulah nasib peraban komunitas Bli, ketika komunitas yang mengembangkan sayap tertentunya tidak lagi “berkontribusi”, pengembangan itu pun hilang.
    Tapi saya tidak mencari cacha images Bli, dan juga tidak sesederhana disable images – karena di Fx juga ada ekstensi Web Developer yang bisa mematikan unsur gambar (dan memilih antara gambar di luar situs atau di dalam situs). Tapi Opera menawarkan bisa membuka dan menutup gambar tertentu sesuai kebutuhan, jadi tidak perlu memanfaatkan cache yang notabene memberatkan RAM – CMIIW.
    Saya belum menemukan setelan ala NoScript di Opera, kalau yang memblok konten secara manual sih ada 😀 – nanti saya coba telusuri lagi Bli. Trims.
    [OOT] Saya bukan penggemar Opera, saya suka semua peramban dari golongan 5 besar (ndak sempat lirik turunannya yang lain). Saya menggunakan, yang menyediakan yang saya perlukan dan paling sederhana bagi saya 🙂

    Suka

    Balas

  7. Di Firefox sebenarnya ada ekstensi sejenis cache images di Opera. Namanya ImgLikeOpera. Sayang, tidak diperbarui lagi untuk Fx 3+. 😦

    Opera sepertinya juga punya setelan ala NoScript, tapi pakai cara manual. Coba Googling jika memang pengguna setia Opera! 😛

    Suka

    Balas

  8. yowislah ndak masyalah..pasrah saya,ndak ada gravatarpun yang penting isi konten dan bisa komen,toh cahyapun ndak bisa liat gambar saya ini..hehehe 😛

    Suka

    Balas

  9. Mas Cahya,
    [OOT]
    saya punya pengalaman tidak baik ketika pergi ke mall, STNK motor di bawa temen pulang, jadi marah2 via telephone sambil nungguin dia kembali 😦

    Suka

    Balas

  10. @Mas Rismaka,
    Saya memang menggunakan Opera sebagai standar di PC saya – karena fitur disable image-nya bagus, dan bisa membuka dan mematikan gambar tertentu saja pada sebuah situs.
    Sayangnya dengan mode “gambar tersimpan” di Opera, ruang diperlukan untuk menjalan Opera sendiri jadi lebih besar di memori (cache memerlukan RAM lebih besar – CMIIW) di satu sisi menghemat bandwidth tapi di sisi lain memberatkan sistem kita. Jadi saya cenderung masih memilih “disable images” 🙂
    Mematikan “script” sebagaimana fitur ekstensi “noscript” di Firefox saya pilihan yang bagus, tapi Opera tidak memiliki fitur tersebut rasanya 😦

    @Lea Ramdhani,
    Kayanya sengsara itu rasanya tetap sengsara deh 😀
    Gravatar tidak ada dalam kuasa saya, masa ilang? (He he, maaf saya juga ndak pernah lihat gambarnya) – monggo dicek di en.gravatar.com jika bermasalah 😉

    @Mas Agung,
    Setiap orang memiliki pilihannya sendiri dalam melindungi blog/situs mereka dari spam – IMHO. Dan CAPTCHA yang ampuh saya kira salah satu solusi yang masih cukup baik saat ini ditengah semakin canggihnya teknologi OCR dan “bot attack”. Ada kalanya sistem antispam biasa gagal dengan serangan spam dari komputer, dan CAPTCHA bisa membantu mencegah bencana yang mungkin timbul.
    Pun saya setuju bahwa CAPTCHA terasa sedikit merepotkan – seperti menyerahkan STNK pada petugas parkir saat kita sudah memegang karcis kendaraan kita sendiri. Tapi beberapa orang menemukannya sebagai perlindungan yang efektif. Saya pun jika ada serangan spam terlalu banyak, akan mengaktifkan kembali CAPTCHA, walau hanya dalam hitungan jam hingga serangan mereda.

    @Matahari,
    Tidak semua orang berselancar dengan mematikan fitur gambar, kalau akses baik, biasanya cukup dengan ekstensi adblock di masing-masing peramban sudah cukup 🙂

    @Mbak Vicky,
    Saya menemukan CAPTCHA bermasalah dengan pengguna peramban mobile, atau mereka yang mengakses blog/situs dari ponsel cerdas mereka. Standar seperti reCAPTHCA seringkali memberikan kata kunci yang lebih panjang daripada lebar layar ponsel (dan sayangnya dibisa digeser samping), sehingga orang tidak bisa membaca seluruh susunan CAPTHCA.
    Jadi benturannya mungkin pada aksesibilitas sebuah situs web pada perangkat bergerak seperti ponsel cerdas. Kalau dengan peramban di PC saya rasa tidak banyak bermasalah 🙂

    @Bli Wira,
    Tapi kadang teks saja bisa membuat bosan lho Bli, itulah mengapa komik lebih disukai anak-anak hingga dewasa daripada buku teks pelajaran tanpa gambar 😀

    @Pak Aldy,
    Kalau suatu saat nanti saya bisa mendapatkan akses yang bagus, saya rasa bisa lebih baik lagi. Tapi kalau melihat negeri ini masih harus mengembangkan lebih banyak hal untuk menjadikan teknologi informasi lebih terjangkau bagi masyarakat luas, maka sementara ini saya jadi fakir saja dulu 🙂

    Suka

    Balas

  11. oh gitu caranya 😀 maaf saya kuang tau banyak tentang masalah ini. Tapi lumayan, akhir-akhir ini saya juga hampir gak pernah masukin gambar ke tulisan di blog 😆

    Suka

    Balas

  12. @Mas Cahya,
    CAPTCHA kayaknya ndak enak menurut saya pribadi lho 🙂
    Mendingan kalau bisa pasang fitur pratayang saja, mengurangi salah ketik saat berkomentar, seperti di Textpattern-nya mas ardianzz

    @Mas Rismaka,
    Ya niat ndak niat sih, sebenarnya jika saya ingin sekali berkomentar ya terpaksa nyalain fitur gambar sebentar 🙂

    Suka

    Balas

  13. Kalau alasannya adalah hemat badwidth, kenapa tidak mematikan javascript saja mas? Karena kebanyakan javascript (jquery) yang diunduh (misal dari google library) itu jauh lebih besar dibanding hanya gambar di blog.

    Kalau buka blog saya makin hemat donk mas? jadi ga perlu disable image lagi 😀

    Suka

    Balas

  14. @Mas Cahya,

    Kalau selancar sambil nutup mata, enaknya pake peramban opera, karena ada fitur cache image, jadi hanya perlu membuka blog satu kali dengan gambar dihidupkan, setelah itu gambar boleh dibunuh 😀

    @Mas agung,

    Niat banget mas, kalau saya begitu nemu yang ada captcha-nya langsung saya tutup tuh, ga akan buka lagi, sampe yg empunya blog lepas tuh captcha 😆

    Suka

    Balas

  15. Kalau ketemu sistem pengaman CAPTCHA saya biasanya bermurah hati akan menyalakan fitur gambar sebentar untuk menuliskan komentar (yah pelitnya jangan keterlaluan lah) 🙂

    Suka

    Balas

  16. @Mas Pushandaka,
    Kalau dial-up masih bisa melayani hingga kecepatan 56 kbps sih masih oke Mas, saya saja dengan kuota hingga kecepatan 256 kbps bisa membuka banyak situs “berat” dengan mudah.
    Tapi kalau mau berhemat dengan jatah 500 MB, ya gambar terkpaksa dimatikan, kalau tidak, rasanya tidak mungkin bisa blogwalking dengan leluasa. Tapi kalau blognya terlalu berat, mungkin tidak akan saya kunjungi lagi.
    Dulu pernah saya tulis di “Alasan Saya Tidak Berkunjung ke Blog itu Lagi“.

    @Mas Agung,
    Untungnya tidak semua blog menggunakan fitur CAPTCHA, tapi saya sebenarnya suka kok blog yang pakai fitur CAPTCHA – jadi tertantang buat mengisinya 😀 – apa enaknya blog ini juga ditambahkan CAPTCHA ya?

    Suka

    Balas

  17. Saya sih masih bisa menikmati apa yang tersaji di layar komputer/laptop saya. Selama ini saya ndak terlalu mengalami masalah dalam menikmati dunia maya. Iya sih, koneksi internetnya ndak ngebut banget, tapi ndak lelet banget juga. Masih bisa ditoleransilah.. 🙂

    Suka

    Balas

  18. @Bli Dani, kalau Intense Debate rasanya memang seperti itu & sudah jadi sikap yang diambil pihak automattic.

    @Bli Budiastawa, bukannya ilmunya yang tinggi Bli, tapi pelitnya yang keterlaluan. Maklum jatah saya hanya 500 MB per bulan dengan MOBI, jadi mesti mesti berhemat 🙂

    @Panah Hujan, Ya saya sudah selang-seling kok. Pas baca komik daring gambarnya ndak mungkin kan saya matikan 😆

    Suka

    Balas

  19. Hmm.. jadi menutup mata itu artinya mengabaikan image saat brselancar ya?

    Berjalan sambil menutup mata itu berarti ilmuya sudah tinggi lho, Dok. Udah gak perlu melihat lagi kan 🙂

    Suka

    Balas

  20. Gravatar hitam putih saya? [Ajian Ngeles mode on] Ah itu kan hanya dekoratif, toh tulisan nama saya sudah ada di identitas pengomentar. 😛

    Di blogspot bisa. Karena saya sering memakai cara itu. Kecuali karakter antispamnya expired dan harus refresh captcha.

    Yang lebih sulit itu (hingga saat ini) ya menekan tombol submit di sistem komentarnya IntenseDebate saat disable image! 😦

    Suka

    Balas

  21. Bli Dani,

    Sebelum 'protes' dengan latar gelap tulisan, sebaiknya Gravatar yang berlatar gelap itu diperbarui dulu :p – itu kan tetap tidak bisa dibaca walau menggunakan ekstensi Readability atau-pun Safari Reader 😆

    Memang kodenya ndak berubah ya disalin-tempel seperti itu. Tapi masalah beberapa CAPTCHA (e.g milik Blogspot) saya menemukan kesulitan, karena dengan disable images justru tidak bisa membuka CAPTCHA itu sendiri (script tidak dijalankan?). Hmm…, banyak tab terdengar seperti pemborosan resources (mode pelit ON).

    Saya tidak mengeluh, hanya meminta maaf sambil menikmati jalan-jalan ala tutup mata 😀

    Suka

    Balas

  22. Dengan latar gelap inipun, saya ikut menutup mata. Membaca via ekstensi Readability di Firefox.

    Untuk captcha, kan bisa semacam klik kanan, Copy Image Location, paste di tab baru. 🙂

    Mari berhenti mengeluh dan siasati menikmati konten Web di sisi pengguna [ikrar fakir bandwidth].

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.