Denda atau Ghi

Terkisahlah pada suatu ketika ada seorang pedagang ghi (minyak goreng) yang diseret ke pengadilan dengan tuduhan menjual minyak goreng yang dipalsukan. Menurut para saksi minyak goreng yang dijual si pedagang berbau amat menyengat setelah dibuka dari botolnya dan beberapa orang yang menggunakannya mengalami gangguan kesehatan.

Pengadilan menemukan bukti dan penyampaian dari para saksi yang tidak bisa dibantah lagi oleh pedagang tersebut. Ia pun dinyatakan bersalah telah menjual barang yang merugikan banyak orang dan bersalah atas penipuan.

Pengadilan memberikan si pedagang ini pilihan hukuman, apakah ia sendiri harus merasakan penipuannya sendiri dengan menghabiskan semua minyak goreng yang dijualnya, atau dia dihukum dengan menerima 20 kali cambukan, atau dia harus membayar denda sebesar seratus keping uang perak.

Tentu dalam hitungan dagangnya, ia memilih hukuman yang pertama. Ia tidak perlu merasakan sakit akibat cambukan, ia tidak perlu membayar denda dan masih bisa menyimpan keuntungan dari penipuannya. Akal bulusnya pun membuatnya menyampaikan bahwa ia memilih hukuman pertama.

Namun belum separuh minyak itu dihabiskan, si pedagang ini mulai merasa mual, dan memuntahkan kembali minyak yang diteguknya. Ia merasa tidak kuat menghabiskannya. Tubuhnya merasa sama sekali tidak nyaman. Ia gagal melaksanakan hukumannya yang pertama, kini ia harus memilih di antara cambukan dan denda.

Si pedagang ini tak hendak rugi. Ia merasa masih sanggup menahan 20 kali cambukan, ia mungkin berbisik pada dirinya bahwa penderitaan itu tak akan lebih dari beberapa menit saja. Dua puluh cambukan akan cepat berlalu, dibandingkan ia menderita harus melanjutkan minum minyak palsunya sendiri yang ia tidak yakin lagi bisa menghabiskannya, apalagi dengan segara.

Sayangnya, belum selusin cemeti bersarang di tubuhnya. Si pedagang sudah menyerah terhadap perih dan sakit yang tidak terkira, ia bahkan nyaris tidak dapat berdiri. Rasanya seluruh tubuhnya serasa hancur. Ia kini sadar tidak lagi bisa bertahan, maka ia menyerah. Si pedagang memilih membayar denda saja, sehingga ia dapat segera pulang dan menghindari penderitaan lebih lanjut lagi. Ia merasa sudah sangat menderita hari ini, bahkan keuntungan dari penipuannya telah lenyap, itu pun tak akan mampu menutupi penderitaannya.

Ia menyesal, seandainya saja ia memilih membayar denda sedari awal mungkin ia tak perlu melihat dan merasakan dirinya dalam kondisi yang mengenaskan seperti ini. Namun ia terlalu rakus dan percaya bisa melewati berbagai hukuman dan masih menyimpan keuntungan.

Atau mungkin juga pengadilan yang bijak dan cerdik, menyiapkan hukuman dengan menimbang karakter si penjahat, memberikan hukuman yang penjahat itu sendiri akan pilih untuk menerima semuanya dengan suka rela dengan akibat yang paling buruk yang bisa ia rasakan.

Adaptasi dari Chinna Katha III.25

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Iklan

6 pemikiran pada “Denda atau Ghi

  1. Agung Pushandaka

    Kalau pengadilan di Indonesia lain lagi. Hakim menyediakan hukuman yang diinginkan si penjahat. Terutama kalau penjahatnya adalah penjahat kelas atas.

    Suka

  2. @TuSuda,
    Orang tahu serakah bisa membawa petaka, tapi kok masih saja tetap dilakukan ya Dok?

    @Asop,
    He he, kadang kita juga bisa seperti itu.

    @Pak Aldy,
    Dia lupa sedikit memikirkannya, karena penilaiannya dikaburkan oleh keuntungan materi, yah, mau gimana lagi Pak :).

    @-iuef-,
    Iya, lengkap, sesuai dengan yang dimintanya sendiri.

    @Mas Pushandaka,
    Kadang guyonan seperti itu lucu tapi menyayat hati ya Bli Gung, soalnya kejadiannya bisa ditemukan nyata di sekitar kita. Walau mungkin sulit dibuktikan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.