Fakta Seputar Seks Oral

Zaman mungkin sudah berganti, dan beberapa hal yang dulu menjadi perbincangan tabu kini justru sering melejit ke tengah canda tawa pergaulan sehari-hari. Saya sering membaca bahkan di negeri yang paling terbuka pun saat ini, dulunya masalah-masalah seputar seksualitas dan hubungan suami istri adalah hal-hal yang sangat ditutup rapat. Tentu saja beberapa hal sama sekali tidak layak menjadi konsumsi publik, mengingat kasus video “itu” yang mencuat dua bulan terakhir di negeri ini.

Salah satu yang dikenal juga sebagai seks oral adalah bagian yang paling sering menjadi tanda tanya bagi banyak orang. Menurut survei pusat pengendalian penyakit (CDC) di Amerika tahun 2002, lebih dari separuh populasi remaja dan 90% dewasa (usia 22-44 tahun) pernah melakukan seks oral dengan lawan jenis. Di Indonesia? Entahlah, mungkin seseorang harus melakukan survei terlebih dahulu.

Seks oral bisa jadi menyenangkan dan bagian yang sehat dari hubungan orang dewasa (benarkah?). Tapi ada beberapa fakta yang mungkin mengejutkan kita, berikut adalah yang saya adaptasikan dari “4 Things You didn’t know about oral sex”.

Seks oral berhubungan dengan kanker tenggorokan

 

Beberapa ahli sependapat bahwa seseorang bisa terkena kanker tenggorokan dari seks oral. Namun bukan seks oral – yang tepatnya – menjadi penyebab kanker, namun HPV, yang bisa ditransmisikan dari orang ke orang ketika sedang berhubungan seks, termasuk seks oral.

Peneliti telah menemukan bahwa beberapa kanker orofaring (bagian tengah tenggorokan) dan tonsil-tonsil kemungkinan disebabkan oleh tipe HPV tertentu. HPV bersifat umum, namun ia tidak selalu menyebabkan kanker. Jika Anda tidak terpapar HPV selama seks oral, Anda tidak berada dalam risiko kanker.

Seks oral bisa jadi perekat dan pelonggar hubungan

 

Di antara orang dewasa, seks oral bisa menyebabkan stres pada beberapa pasangan namun juga bisa menggairahkan keintiman bagi yang lainnya. Stres pada aktivitas seks oral bisa jadi ditemukan pada mereka/pasangan yang memiliki perhatian lebih pada higienitas.

Beberapa faktor psikologis yang lebih kompleks juga bisa memicu stres jika seks oral dipaksakan dalam sebuah hubungan seksual.

Seks oral tidak terlindungi memang umum, namun memiliki risiko

 

Beberapa jenis penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV, herpes, sifilis, gonorrhea, HPV, dan hepatitis viral bisa ditularkan melalui seks oral. Ya, seks oral bukanlah seks – yang sepenuhnya – aman, walau dikategorikan seks yang lebih aman.

Risiko yang ada tergantung dari banyak hal yang berbeda, termasuk berapa banyak partner seks yang dimiliki seseorang, gender, dan jenis seks oral yang lebih sering dilakukan.

Menggunakan pelindung dapat menurunkan risiko tertular PMS, sebagaimana kutipan berikut:

Using barrier protection can reduce the risk of getting an STI. A barrier can be a condom covering the penis, or a plastic or latex “dental dam” placed over the vulva or anus. Instead of a prepackaged dental dam, a condom cut open to make a sheet is also an acceptable barrier.

Namun kebanyakan orang tidak menggunakan pelindung ketika melakukan seks oral. Mungkin karena mereka tidak tahu bahwa PMS dapat menular secara oral. Atau jika pun mereka tahu, mungkin mereka tidak terlalu mempertimbangkan risiko kesehatan yang ditimbulkan.

Seks oral umum di kalangan remaja Amerika

 

Oleh karena kebanyakan penelitian dilakukan di Amerika, maka banyak data menunjukkan bahwa seks oral cukup umum di kalangan remaja – di mana kebanyakan remaja pernah melalukan seks oral sebelum mereka pernah melakukan seks vaginal. Dan mereka tidak melihatnya sebagai sesuatu yang benar-benar berisiko. baik risiko sosial, emosional maupun masalah-masalah kesehatan (sebagaimana dipublikasikan dalam Pediatrics, 2005).

Ada sebuah survei yang melibatkan 425 anak kelas 9 (mungkin usia antara peralihan SMP dan SMA) diberikan pertanyaan mengapa ramaja di usia mereka melakukan seks oral. Fakta bahwa itu sedikit lebih berisiko dibandingkan seks per vaginal ternyata menempati urutan ke-5, dan berikut adalah alasan-alasan yang teratas:

  1. Mencari kesenangan;
  2. Meningkatkan hubungan (antar pasangan);
  3. Memperoleh popularitas;
  4. Rasa ingin tahu (penasaran).

Perbedaannya antara laki-laki dan perempuan adalah, perempuan menempatkan poin ke-2 (meningkatkan hubungan) sebagai alasan terbanyak – sedangkan remaja laki-laki menempatkan poin ke-1.

Hmm…, bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak mengetahui data-datanya. Namun inilah sisi lain dari seks oral yang tidak banyak terungkap.

Iklan

9 pemikiran pada “Fakta Seputar Seks Oral

  1. Pak Aldy,

    Kalau masalah boleh atau tidak, wah…, saya tidak punya kewenangan menentukan hal itu. Apalagi masalah halal & tidak halal.

    Mas Adi,

    Saya cantumkan kok sumbernya (paragraf ke-3, kalimat terakhir) :).

    Suka

  2. TuSuda

    Dalam masalah hubungan seksual dengan cara bagaimanapun, setiap personal tentu telah memperhatikan kondisi fisik yang sehat dan koridor norma yang benar, agar dampaknya bisa tertanggulangi dengan baik.

    Suka

  3. TuSuda,

    Demikianlah Dok, secara ringkasnya, tapi tentu saja kesadaran akan kesehatan seksual – entah mengapa – rasanya masih terkesan sedikit terabaikan oleh masyarakat (generasi muda?).

    Nandini,

    Karena individu-lah yang nantinya jadi penentu apakah sebuah norma akan tetap ada, atau tergantikan dengan nilai-nilai yang baru :).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.