Antara Bahasa dan Sastra

Penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar memang tidak mudah, sebagaimana semalam saya dan narablog Dani Iswara berlomba membenahi tulisan lawas blog yang berisi kata ‘kesimpulan’ dan meralatnya dengan kata ‘simpulan’ – setelah berdiskusi dengan gelak tawa dan mencari beberapa rujukan yang menjelaskan hal ini – mana yang tepat antara penggunaan kata ‘simpulan’ atau ‘kesimpulan’.

Dari pandangan saya, rasanya kami tampak konyol. Namun itulah mungkin sedikit cerminan betapa bahasa Indonesia ternyata tidak sesederhana membalik telapak tangan untuk bisa diaplikasikan dengan tepat guna, baik dan benar. Namun daripada bahasa Indonesia yang tampak rumit, ternyata sastra Indonesia bisa dipandang memiliki kerumitan tersendiri. Apakah memang demikian?

Saya bukan orang sastra – pastinya – dan tidak memiliki pemahaman mendalam tentang sastra Indonesia. Namun saya rasa sastra Indonesia tidak begitu mendapatkan perhatian di negeri ini. Saya sedikit tidak sependapat jika mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di bangku sekolah digabung menjadi satu kesatuan – pun mereka memiliki dasar yang sama. Karena mungkin ini yang menyebabkan sastra Indonesia menjadi agak ‘terpinggirkan’.

Tentu saja hipotesis ini harus diuji terlebih dahulu. Misalnya dengan bertanya, selama 12 tahun di bangku sekolah – manakah yang lebih kita kuasai, bahasa atau sastra? Atau jika Anda diberikan satu buku mengenai Ejaan Yang Disempurnakan dan satu lagi buku mengenai Antologi Sastra Indonesia, yang manakah yang lebih mungkin untuk dimuat dalam buku pelajaran sekolah dalam bentuk sederhana? Ah, saya bukan pendidikan yang mengerti beban kurikulum lebih ke arah mana.

Menurut saya, sastra bisa menutupi kelemahan bahasa yang terkesan formal. Misalnya bahasa yang baik selalu menekankan penghindaran terciptanya makna yang ambigu pada sebuah baris pernyataan, sedangkan sebaliknya sastra bisa lepas dengan hadirnya multiinterpretasi yang tidak mengekang.

Sastra bisa memberikan, menghadirkan, memancing dan melahirkan celah-celah kreativitas dalam menulis dan mengungkapkan ide & pikiran. Sayangnya, ada banyak sekali rasanya beban, bagi dunia sastra di tanah air kita tercinta. Hal yang paling mudah diperhatikan adalah pengenalan sastra yang tidak mampu memancing minat para siswa atau pelajar, baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah lanjutan.

Bayangkan saja, baru masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba halaman buku teks sudah menunjukkan bab awal “pujangga lama”, kemudian dalam sejam siswa berkutat dengan tokoh dan karya sastra pujangga lama termasuk di dalamnya sejarah melayu, hikayat, syair dan kitab. Seminggu ke dapan sudah melompat ke sastra melayu lama, padahal pelajaran tentang syair, pantun, hikayat, dan gurindam minggu lalu masih lebih tipis daripada angin di dalam kepala para siswa, kecuali mungkin ada siswa yang memang penggemar Hamzah Fansuri atau Syamsuddin Pasai misalnya. Jika tidak mereka harus bersiap memasuki era 1870 – 1942 untuk sastra melayu lama, tapi jika pembabarannya menarik, mungkin akan ada yang menukan karya-karya menarik, seperti terjemahan “Mengelilingi Bumi dalam 80 Hari” yang termasuk dalam era ini.

Pasca itu, ternyata masih ada lagi riwayat seputar karya sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 1945, dan angkatan-angkatan selanjutnya. Bahkan sebelum seorang siswa berhasil menyentuh sebuah puisi hingga ke relung-relungnya, pohon kesadarannya sudah terbebani oleh tumpukan sejarah sastra yang luar biasa – hingga ia tak bisa melihat lagi di mana puncaknya.

Pada akhirnya, pelajaran sastra mesti bercampur aduk dengan pelajaran bahasa Indonesia bak “Deru Campur Debu” – sebuah karya Chairil Anwar – yang saling tumpang tindih. Bayangkan…! Ah, saya sendiri sudah menyerah untuk membayangkannya.

Maka kemudian, hanya mereka yang berminat tentang sastra saja mungkin yang akan berkumpul dalam sebuah kelompok tertentu, entah dalam “bengkel sastra” atau “teater siswa” yang khas. Mungkin memang dunia pendidikan hanya sekadar pengenal saja, sedangkan untuk mendobrak gairah sastra dalam dunia pendidikan diperlukan lebih dari sekadar kurikulum standar.

Untuk menimbulkan gairah dalam dunia sastra, seseorang harus tertarik terlebih dahulu, dan guna menghadirkan ketertarikan maka barulah minat & gairah dapat berkembang. Namun saya rasa justru inilah bagian yang sulit, maksud saya – apakah harus dilakukan suatu promosi sastra agar orang-orang tertarik, atau mengampanyekan kembali sastra Indonesia. Apa bisa? Sementara generasi muda mungkin lebih tertarik dengan budaya ‘al4y’ yang lebih populer.

Ada banyak buku yang mengulas awal mula sastra, jenis sastra, dan berbagai teori sastra. Termasuk setapak yang akan membukakan pintu ke ranah kritik sastra, sebut saja sebagai contoh ‘Mozaik Sastra Indonesia’ oleh Faiz Manshur, atau ‘Kritik Sastra Indonesia Modern’ oleh Rachmat Djoko Pradopo. Pustaka-pustaka tentang sastra menyenangkan untuk dibaca – namun tentunya hanya bagi yang telah memiliki minat, bagi yang tidak bergairah bisa jadi kebalikannya. Anak muda zaman sekarang mungkin lebih baik memilih update facebook status ratusan kali dibandingkan membaca karya sastra sekali.

Walau bahasa sastra lebih fleksibel dibandingkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun tetap saja kurang menarik minat banyak orang. Mungkin karena bahasa sastra tidak dianggap ‘gaul’, ‘nge-trend’ atau lain sebagainya, atau mungkin justru malah menjadi sesuatu yang pelik, terlalu rumit, atau bahasa tingkat tinggi yang tidak cocok bagi mereka.

Rasanya corak stereotype terhadap dunia sastra ini mesti dipudarkan terlebih dahulu, dan paradigma kental tentang pengajaran sastra yang standar berdasarkan kurikulum mungkin perlu dikaji ulang. Sastra sesuatu yang bebas, dan diperlukan kebebasan yang luar biasa untuk mampu mencintai sastra itu sendiri. Maka mungkin langkah awal yang baik untuk memasuki dunia sastra adalah membuang semua ilmu tentang sastra itu sendiri.

Saya salut dengan apa yang telah diupayakan balai sastra selama ini, melalui bengkel sastra untuk memperkenalkan dunia sastra kepada para pelajar. Keterlibatan sastrawan lokal dan nasional juga memberikan sentuhan yang berbeda, melihat & menyentuh sastra dari sudut pandang mereka yang sudah biasa bersanding dengan sastra dalam kesehariannya.

Seperti memperkenalkan keindahan sebuah tarian, jika saya yang sama sekali tidak bisa menari justru hanya berjingkrak aneh di depan seseorang dan mengatakan bahwa itu adalah tarian, bisa jadi ia malah antipati pada tarian. Namun jika ada yang bisa membawakan tarian dengan luwes dan indah, mungkin pandangannya terhadap tarian akan berubah sepenuhnya, dan mulai menyukai dunia tari.

Itulah mengapa, menurut hemat saya, sastra akan lebih ‘menggugah’ jika diperkenalkan langsung oleh mereka yang telah lama bergulat di dalamnya. Karena sastra bukan hanya sesuatu yang berbalut kaidah, namun juga tersimpul rapi di dalamnya setiap asa, cita & rasa. Sehingga demikianlah sebuah karya sastra dapat disebut sebagai karya seni.

Bahasa & sastra akan saling mengisi dalam perkembangannya kemudian, jika seseorang telah menemukan minat dan kesukaannya pada dunia sastra. Karena pada bagian yang ini, tidak ada sesuatu yang bisa dipaksakan lebih banyak lagi.

Iklan

11 Comments

  1. Sebenernya memang lebih bebas berekspresi di sastranya. Namun untuk sebuah karya sastra yang baik, bahasa indonesianya harus dikuasi banget. *pengalaman selama 2 tahun SMA 😀

    Suka

    Balas

    1. Asri,

      Saya rasa itu akan alami, jika berkemampuan sastra baik, bahasa Indonesia-nya pun akan baik, walau tidak hubungan ini belum tentu terjadi sebaliknya :).

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.