Mencintai atau Dicintai Tuhan

Abu ben Adhem melihat sesuatu yang bercahaya gilang gemilang di kamarnya ketika ia pulang. Dilihatnya ada sosok malaikat yang tampak sedang asyik mencatat sesuatu. Ia memberanikan diri dan bertanya dengan amat sopan, apakah yang sedang ditulisnya dengan amat asyik. Malaikat itu menjawab, ia mencatat nama orang-orang yang mencintai Tuhan.

Abu adalah orang baik yang suka menolong orang yang miskin, memberikan makan dan rumahnya pada orang yang lapar dan tidak memiliki tempat tinggal. Ia selalu berusaha menghapus air mata dari wajah orang-orang yang sedih.

Ia tidak memiliki bentuk kesetian khusus pada Tuhan atau wujud Tuhan yang tertentu. Ia mencintai semua orang yang menganut agama apapun, asal mereka baik. Ia menghargai hati yang lapang dan penguasaan akan diri sendiri.

Malaikat itu berkata, “Tidak, namamu tidak ada di sini.”

Keesokan harinya, rumah Abu kembali diterangi oleh cahaya gemilang yang sama, dan di pusat cahaya tersebut dilihatnya kembali malaikat yang sama, sedang mencatat sesuatu. Namun tampaknya ia membuat catatan yang berbeda sekarang.

Abu bertanya, apakah yang dicatat dalam daftar itu. Malaikat menjawab, “Saya mencatat nama-nama mereka yang dicintai Tuhan.”

Dengan bimbang dan sedikit memberanikan diri, Abu bertanya apakah namanya ada dalam daftar itu. Malaikat itu menunjukkan jarinya pada daftar pertama, dan berkata, “Lihat! Namamu ada di urutan awal.”

Ya, cintailah sesamamu, dan itu adalah cara terbaik mendatangkan rahmat Tuhan.

Adaptasi dari Chinna Katha III hal. 60

Abou Ben Adhem (may his tribe increase!)
Awoke one night from a deep dream of peace,
And saw, within the moonlight in his room,
Making it rich, and like a lily in bloom,
An Angel writing in a book of gold:

Exceeding peace had made Ben Adhem bold,
And to the Presence in the room he said,
"What writest thou?" The Vision raised its head,
And with a look made of all sweet accord
Answered, "The names of those who love the Lord."

"And is mine one?" said Abou. "Nay, not so,"
Replied the Angel. Abou spoke more low,
But cheerily still; and said, "I pray thee, then,
Write me as one who loves his fellow men."

The Angel wrote, and vanished. The next night
It came again with a great wakening light,
And showed the names whom love of God had blessed,
And, lo! Ben Adhem’s name led all the rest!

A poem by James Leight Hunt

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Iklan

6 pemikiran pada “Mencintai atau Dicintai Tuhan

  1. Saya jadi terinspirasi bikin segitiga relationship Bli… Intinya kurang lebih sama, mencintai sesama berarti memantaskan diri dicintai Tuhan.. 🙂

    Inspiring note, tapi sistem komentarnya kok jadi balik jaman dulu lagi Bli?

    Suka

  2. Nandini,

    Saya tidak begitu paham segitiga hubungan itu, he he, maklum orang udik 🙂

    [OOT], biar saja sistem tanggapan begini dulu. Lihat mood nanti pinginnya seperti apa :).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.