Malam yang Berat

Bukan karena sakit tapi itu juga salah satu yang membebani, malam kemarin adalah malam yang berat bagi saya. Jadi pagi ini ingin dituangkan sedikit, semoga menjadi lebih lapang dalam perasaan ini. Saya akan mengilustrasikan, karena jujur saja, sampai saat ini sebenarnya saya tidak begitu paham duduk perkaranya dari permasalahan yang sudah berlalu berbulan-bulan atau mungkin sudah hampir setahun ya – entahlah.

Saya memiliki sahabat yang sama-sama menekuni bidang kesehatan, saya sangat menghargainya karena selain dia lebih senior dan lebih berpengalaman, dia juga adalah sahabat baik saja – setidaknya entah ada masalah apa dulu itu.

Saya ingin berbicara dengannya tentang sesuatu – sebenarnya ingin menanyakan dan konsultasi sesuatu tentang kondisi kesehatan saya yang sedang menurun (dengan tajam, bak pasar saham anjlok). Tapi (kesannya) dengan enggan, dia tidak ingin bicara, cukup via pesan singkat saja.

Lha, saya kan merasa tidak enak, karena jelas saya yang perlu, masa nanti malah pesan singkat berkepanjangan yang bisa diwakilkan dengan kata-kata pendek dan cepat selesai mengingat sudah mulai larut malam (apalagi tentunya saya tidak enak membebani pulsa walau sedikit, kecuali jika bisa diperkirakan sms hanya dua kali balasan saja).

Jadi saya bertanya kembali, apa bisa saya berbicara langsung saja. Apalagi tampaknya dia tidak begitu sibuk, karena masih aktif saling celoteh di salah satu akun jejaring sosialnya. Tapi entah kenapa – kepala saya terlalu pusing untuk menangkapnya – percakapan pesan singkat malah jadi tidak menentu.

Saya langsung teringat, kami dulu memiliki sebuah (atau beberapa?) masalah, yang kembali saya tidak tahu duduk perkaranya. Dia pernah sangat marah pada saya, karena alasan yang tidak saya ketahui. Awalnya saya pikir itu karena suasana hati yang buruk, jadi saya menunggu, tapi ternyata makin lama makin kronis.

Dulu setiap kali saya bertanya – ada apa – dia selalu menghindar. Jadi saya hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Saat ini kami sudah bertugas terpisah jauh, tapi dulu sempat bersama-sama. Katakanlah seperti ini, dari terkaan saya, kami pernah mengerjakan sesuatu bersama-sama, tapi mungkin dia melihat ada kesalahan di situ, dan dia berusaha memperbaiki itu tanpa memberitahukan apapun pada saya.

Dan ketika memperbaiki yang dia anggap tidak tepat itu, muncul pelbagai masalah. Mungkin karena sifatnya, dia, saya rasa memaksa diri memperbaiki semua itu sendirian. Tentu saja saya tidak tahu apa-apa, kecuali hanya kalau berpapasan mendapat tatapan sinis dan perasaan yang menusuk. Tapi tentu saja saya bisa mengenali gelagat adanya masalah, walau tidak tahu ada masalah apa.

Saya baru sadar itu bukan masalah suasana hati, karena yang jadi sasaran suasana hatinya kok cuma saya. Sehingga, agar jelas, pernah suatu ketika saya dalam nada “menuntut” meminta adanya kejelasan, tentang sikap dan apa yang sebenarnya ada di balik semua itu. Lha, kan tidak nyaman disenyumi sinis sepanjang zaman, kalau memang saya ada salah, biar saya bisa mengoreksinya.

Tapi bagai geledek di siang bolong, saya tidak tahu dari mana datangnya respons yang mengagetkan itu. Dia bilang saya orang brengsek yang hanya pura-pura baik, dan tidak mau lagi berurusan dengan saya. Tidak menyangka tentu saja, karena saya mengenalnya sebagai orang yang ramah dan santun, bahkan jauh berkepribadian lebih baik daripada saya.

Terhenyak membuat saya diam sejenak, baiklah jika memang saya orang yang brengsek baginya, saya toh bukan orang yang baik sepenuhnya. Tapi akhirnya itu membuat saya diam sama sekali, dan bukan sejenak. Ya, maklum, ini pertama kalinya orang bilang brengsek pada saya dengan begitu serius (tentu saja bersama cacian lain yang tidak mungkin saya ungkapkan di sini) pun itu dari sahabat baik saya sendiri. Dan berakibat akar permasalahannya tidak pernah saya temukan.

Sampai suatu ketika, dia mengirim saya pesan singkat. Intinya dia meminta maaf atas semua kata-katanya yang menyakiti, dan menjelaskan latar belakang, yang pada akhirnya juga tidak jelas. Hah…, saya menghela napas panjang, ya sudah, saya anggap semua itu selesai, biar ditutup saja lembarannya, karena tidak semua hal di dunia ini setegas hitam dan putih.

Nah, sampai semalam itu kami berbincang kembali via pesan singkat. Dan sepertinya “suasana hatinya” kembali memburuk, dan kembali tiba-tiba menyambar ke masa lalu, padahal itu sudah ditutup – dan entah mengapa saya menangkap dia tidak menganggap itu selesai, dan tidak melepaskan itu selesai. Sehingga saya jadi berpikir, pastilah masalah itu sangat besar.

Malam kemarin kembali nada bicaranya tinggi (walau lewat pesan singkat), dia menjelaskan sedikit duduk perkara yang dulu. Lalu saya pun merasa perlu memberi pendapat saya, dan saya bilang jika demikian dulu, saya tidak mungkin tak acuh, dan memang dalam pandangan saya di sana seharusnya tidak timbul masalah jika dia berbicara pada saya apa yang sebenarnya terjadi sejak semula.

Nah, malang tak dapat ditolak, lidah (eh, jari) saya kepleset sedikit dan berkata bahwa sebaiknya jika dia bisa bersikap terbuka pada orang di sekitarnya, karena jika tidak masalah seperti ini (atau itu? entahlah) bisa selalu muncul kapan saja. Eh, saya langsung kena semprot, malah dibilang saya munafik, dan tidak perlu berpura-pura bersikap baik, bahwa sebenarnya saya benci dia (atas apa yang dia perbuat), dan lain sebagainya. Yah…, kok malah jadi melodrama begitu pikir saya.

Aduh, maksud wajar, malah kena deh. Saya mungkin berbakat jadi aktor, tapi saya tidak berpura-pura baik di hadapannya – saya tahu itu, memangnya saya dapat untung apa berpura-pura baik, kalau memang ada yang saya tidak suka, saya pasti akan bilang langsung.

Saya tidak benci dia, lha wong hingga sekarang saya masih tidak tahu duduk perkaranya, seperti misalnya apa yang pertimbangannya tidak jujur pada saya tentang masalah itu dari awal. Karena memang tidak ada benci, ya tidak ada, kok pemikirannya dipaksa untuk mengaku benci, jika orang percaya kebaikan itu tiada dan berganti dengan kebencian – apalagi yang tiada beralasan, maka sekalian saja buang semua kepercayaan tentang kebaikan dan kepercayaan tentang Tuhan.  Dan saya tahu dia orang yang taat pada Tuhan, dan tentu saja dia orang yang baik, dan saya tidak pernah mengubah pandangan saya bahwa dia orang yang baik hingga kini.

Hanya saja karena suatu hal yang tidak jelas maka jalan kami berseberangan. Tapi bukan berarti mesti membuat dua manusia larut dalam kebencian yang saling menguatkan. Karena percayalah, dunia sudah ada banyak yang gemar mengobarkan kebencian, dan saya rasa saya tidak perlu menambahnya lagi.

Setelah hampir 30 sms (lupa ngitung, dan memang tidak pernah juga), belasan kertas tisu korban rhinorrhea, segelas besar infusio teh herbal buatan sendiri, kepala yang pening. Maka saya tidak yakin jika kondisi tubuh saya akan membaik dalam waktu 24 jam berikutnya. Tapi terserahlah, tidak semua hal bisa dipahami, dan jika saya memaksa diri untuk memahaminya, maka energi saya akan terkuras lebih banyak lagi. Saat ini saya memilih menjadi egois sesaat, karena saya mengoptimalkan energi saya untuk penyembuhan – masa ujiannya mundur lagi, bisa kena marah seseorang nanti jika kelamaan jadi pengangguran.

Ah…, ini hanya basa-basi di Minggu pagi, jangan terlalu dihiraukan.

Iklan

18 pemikiran pada “Malam yang Berat

  1. Nandini,
    Ha ha…, yang bikin lega justru nonton SpongeBob di Minggu pagi, jadi pingin makan kue pukis :D.
    Oh…, ada CAPTCHA ya, sepertinya karena kondisi saya lagi turun, jadi perlu pengamanan lebih :).

    Suka

  2. tary-ssi

    emang nggak enak ya kalo lagi punya masalah, apalagi sama orang terdekat. pasti jadi beban pikiran. istirahat yg banyak, biar lekas sembuh ya 🙂

    Suka

  3. anna

    yang sabar aja mas…
    kalo ada orang yang mungkin merasa terganggu dengan kita… ada baiknya kita ngalah aja dengan minta maaf walo kita gak tau pasti kesalahan kita…

    ikhlas aja..
    tapi ya balik lagi.. kita tak bisa mengatur respon orang terhadap diri kita.. suka gak suka.. yaaa itu hak dia,,,

    yang penting kita gak usah ngebales. itu aja.

    Suka

  4. Wah Mas Cahya ternyata penyabar. Saya suka kata-kata ini, “tentu saja dia orang yang baik, dan saya tidak pernah mengubah pandangan saya bahwa dia orang yang baik hingga kini”.
    Semoga semua bisa membaik dengan segera.

    Suka

  5. Tarry,
    Just let it goes, beban itu akan mengalir dengan sendirinya, if we do nothing wrong, kan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Makasih ya Tarry ;).

    Mbak Anna,
    Ya, sepertinya membuat orang tidak nyaman adalah tetap bagian dari kesalahan saya, karena saya mengambil jalan diam setelah memang sepertinya bertemu tembok buntuk untuk menyelesaikan secara terbuka dan fair.
    Ha ha…, makanya kadang saya enggan gimana gitu, I am not a good negotiator, saya tidak bisa diajak bicara yang muluk-muluk. Dalam artian lain saya orang yang keras kepala :D.
    Sayangnya saya ndak hobi ngebales apapun, padahal rasanya seru juga kalau bisa begitu ya, hi hi…, tapi kehidupan memiliki banyak hal yang indah daripada mengikat diri pada masalah tidak jelas.

    Kodokz,
    Ndak dipikirkan kok, cuma menuangkan, biarlah sisanya mengalir. Makasih ya :).

    Bli Tamba,
    Lha, kalau memang dia orang yang baik, masa saya mesti bilang yang sebaliknya :D. Jika seseorang tidak bisa sepenuhnya berterus terang, bukan berarti dia orang yang tidak baik kan :).

    Suka

  6. Mas Cahya,
    Jujur saya sudah bosan mendapatkan teman seperti ini, tanpa angin-hujan-guntur-petir tiba-tiba mengatakan kita brengsek,
    dari pengalaman, sebenarnya yang brengsek itu dia sendiri. The losser.

    Gara-gara hal semacam ini saya pernah melayangkan tangan dan membuat dia masuk rumah sakit dan berurusan dengan kepolisian. Sekarang jika saya mendapati teman seperti ini, saya juga diam dan akan mengubah diri saya menjadi batu dihadapan dia.

    Suka

  7. Pak Aldy,
    Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, bukan begitu? Saya rasa di dunia yang sudah semakin sempit ini kita mesti bisa saling melengkapi secara bijaksana.
    Masa karena misalnya ada pasien yang notebene dibilang “pecundang” kemudian saya tolak di masa mendatang?

    Orang bijak bilang, Tuhan tidak menutup kasih-Nya pada siapa pun dia, he he… masa kita menutup pintu hati kita pada orang-orang tertentu yang dalam pandangan kita tidak sesuai :).

    Suka

  8. aldy~PF

    Mas Cahya,
    Yap, setiap manusia memang memiliki kekurangannya masing-masing. Tetapi tidak berarti kekurangannya dijadikan senjata untuk menyakiti temannya sendiri.

    Jujur saja, dipostingan ini mas Cahya masih sangat menjaga perasaan sang teman, mungkin karena dia senior. Semoga saja si teman membaca artikel ini dan komentar saya, saya mau tahu bentuk wajahnya setelah membaca komentar pahit ini.

    Suka

  9. Pak Aldy,
    Saya percaya dia orang yang baik, mungkin ada faktor-faktor yang memang tidak ingin disampaikannya, dan ketika agak merasa terdesak, justru emosinya yang meluap.

    Dan karena itu saya merasa kasihan, bukan saya menjaga perasaan, pastinya dia memiliki bebannya tersendiri dalam situasi seperti ini. Tidak ada hak bagi saya menambah beban orang lain, karena keinginan saya sendiri untuk mengetahui sebuah kebenaran. Apalagi itu bukan hal yang darurat dan menyangkut hajat hidup orang banyak :D.

    Tapi jika bicara masalah profesionalitas, mungkin ke depan tentu saja saya akan sulit bekerja sama jika dipertemukan lagi oleh takdir. Saya mungkin akan menolak menjadi bagian dalam satu tim, daripada nanti kerja tim tidak semestinya dan mungkin justru membahayakan tim dan orang lainnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.