Jogja Berselimut Debu Merapi

Pagi ini saya menemukan hal yang tidak biasa ketika keluar dari kamar, warna keabu-abuan menyelimuti segala sesuatu yang saya lihat di luar sana. Mulai dari atap rumah, lantai, halaman, hingga pepohonan. Tampaknya semua tertutup debu yang tipis, pun demikian tampak cukup tebal juga.

Menurut tetangga saya yang cukup sadar semalam. Katanya abu vulkanik mulai turun sekitar jam tiga pagi berbarengan dengan aroma seperti belerang di mana-mana. Ah…, saya pasti terlalu lelap untuk menyadarinya.

Suasana seperti ini membuat saya enggan pergi ke mana-mana, tapi saya mesti mencari sarapan kan. Jadi saya putuskan untuk pergi ke luar mencari sesuap nasi sambil mengantongan ponsel Nokia E71 saya untuk mengambil beberapa gambar.

Sumber: BBC.

 

Beberapa pohon kecil seketika menjadi layu karena debu-debu yang menutupi semua daun dan dahannya.

 

Bahkan untuk dedaunan yang cukup kuat menyangganya, debu vulkanik tampak terlihat menumpuk cukup tebal.

 

Di halaman pun debu vulkanik cukup tebal, bisa melihat kontur terang dan gelap antara batas selimut debu yang masih basah dan yang sudah cukup kering karena embun (mungkin) dan hujan sore sebelumnya yang menyebabkan tanah basah (mungkin juga).

 

Debu Merapi juga menyelimuti jalanan dan perumahan warga yang lainnya. Tampak semuanya menjadi kusam, dan debu akan berjatuhan dari pepohonan ketika tertiup angin. Sementara jalan-jalan besar tampak berdebu karena lalu lintas sepertinya tidak terlalu memperhatikan hal ini.

Jika di daerah saya saja seperti ini, maka saya rasa kemungkinan debunya pasti juga menyelimuti sebagian besar Jogja.

Saya rasa untuk situasi seperti ini, penggunaan masker sebagai perlindungan saluran napas dan google ketika berkendara adalah hal yang wajib bagi mereka yang berada di Jogja. Bagi mereka yang memiliki kondisi fisik yang bisa memburuk karena dipicu debu, seperti asma, sebaiknya hindari bepergian terlebih dahulu di Jogja – jika terpaksa, gunakan perlindungan & jangan lupakan obat-obatan.

Sebenarnya pagi ini saya hendak berenang, namun sepertinya situasi seperti ini tidak tahu kapan akan muncul lagi. Sementara saya juga menghindari aktivitas terlalu jauh. Sebaiknya diganti dengan bersih-bersih kamar di akhir minggu saja.

Bagi Anda yang sedang menikmati kota Jogja, jangan khawatir, ini tidak akan menganggu perjalanan wisata anda.

20 respons untuk ‘Jogja Berselimut Debu Merapi

  1. Mas Agung,

    Mungkin karena arah anginnya ke Selatan ya Mas, jadi daerah Selatan kena hampir semuanya.

    Dhany,

    Wah, saya ndak tahu ya kalau banyak orang Jogja-nya :D. Wah, memang tidurnya di luar kamar ya Mas, sampai merasakan hujan abunya?

    Suka

  2. Ternyata disini banyak arek Jogja juga to? Saya di deket perempatan kentungan jakal km 5, semalem saya juga gak tidur jadi merasakan banget gimana hujan abu n bau belerangnya..

    Salam kenal untuk semua..

    Suka

  3. Saya pernah merasakan debu vulkanik pada masa SMK dulu — tahun 2001 kalau ndak salah. Tadi juga sempat menghubungi keluarga yang ada di Klaten, alhamdulillah baik-baik saja tidak ada debu vulkanik. Semoga tidak ada letusan lagi.

    Suka

  4. Emange mas tinggal di sebelah mana? Saya utara Monjali e… Tadi juga sempet ke barak pengungsian yg di Cangkringan…

    Suka

  5. Mas Andre,
    Sepertinya malah sudah langsung bisa beradaptasi deh :D.

    Di sini sekarang angin mulai kencang, jadi debu tampak berdansa dan berpesta di udara Jogja.

    Suka

  6. Wah hari ini acara Pesta Blogger (PB) di ibukota kesaingan sama Pesta Bleduk di Yk dong ya..hehe

    Saya di Solo cuma liat mobil plat AB yang lewat dan berdebu..

    Suka

  7. TuSuda,
    Tapi sepertinya dampak masalah kesehatan mulai muncul, banyak teman-teman dokter yang mengeluhkan pasien dengan sesak dan rhinitis bertambah.

    Suka

  8. Mbak Anna,
    Iya nih, hujan debu belum berhenti tampaknya. Sepertinya berharap hujan air yang turun.

    Mas Pushandaka & Pak Aldy,
    Semoga demikian…

    Suka

  9. Selama saya di Jogja, saya blum pernah merasakan aktifitas Merapi sebesar ini. Saya cuma merasakan gempa 2006 saja.

    Semoga Jogja baik-baik saja. Begitu juga seluruh daerah di negeri ini.

    Suka

  10. betul..
    sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. harus pake masker dan kacamata. sepertinya sampe sekarang pun hujan debunya belum berhenti.

    Suka

Komentar ditutup.