Menabur Garam Ke Lautan

Tentunya Anda pasti sudah paham jika saya mengutip salah satu peribahasa ini, menabur uang, eh…, garam ke lautan – bermakna memberikan sesuatu pada yang memiliki lebih banyak daripada kita. Dan percayalah, lautan memang memiliki garam lebih banyak daripada yang ada di dapur kerajaan sekali pun, apalagi dapur kita.

Pagi ini saya membaca tulisan “Anggaran Beramal” oleh Mas Winarto, dan saya sependapat dalam tulisan bagian akhirnya. Tapi rasanya masih ada yang mengganjal, sesuatu yang pernah saya tuliskan dalam “Pil Pahit di Sudut Jalanan”.

Di mana pun di kota-kota besar saat ini, selalu ada peminta-minta. Dan mereka akan selalu ada karena ada yang menghidupi mereka di sana. Kebaikan hati orang-orang yang tinggal di sana tentunya. Kebaikan hati bukanlah sesuatu yang keliru, bukan sesuatu yang salah, tapi saya rasa itu adalah sebuah harta berharga – yang menandakan bahwa kita adalah manusia seutuhnya.

Apakah Anda ingat pada cerita kecil “Kopi untuk Ikan”? Ada beberapa hal yang membuat kebaikan kita dapat justru memperburuk keadaan. Saya memang setuju kebaikan selayaknya mengalir seperti air, orang tidak perlu menahannya. Jika orang tidak memahami bahwa tindakannya yang berdasarkan belas kasih justru bisa membawa dampak buruk, maka ya sudah – relakan saja demikian. Tapi jika tahu dampak buruk akan terjadi, maka tetap memaksakan hatinya bertindak berdasarkan belas kasih, maka saya rasa itu adalah sebentuk egoisme, orang hanya memuaskan hatinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Memberikan bantuan pada orang tidak mampu bukanlah sesuatu yang salah, malah dalam dunia yang penuh dengan tekanan dan konflik – kita memang mesti saling membantu. Bukankah demikian?

Jika Anda bertemu dengan peminta-minta di jalan, apakah yang akan Anda lakukan? Its hard isn’t it? Satu hal, rasanya ingin memberi, tapi di satu sisi pemberian ini akan mengakibatkan masalah selanjutnya.

Apa yang kita bisa ciptakan adalah social depedency, ketergantungan si pengemis pada kebaikan sosial. Saya rasa semua orang senang memberikan apa yang bisa mereka berikan. Tapi ketergantungan bukanlah sesuatu yang sehat. Jika Anda mementingkan kebaikan hati dan membuat orang ketergantungan, saya rasa itu – entahlah – egois mungkin?

Dulu dalam wacana yang dibawakan oleh UNESCO & UNICEF jika tidak salah, ada komitmen bahwa penduduk dunia selayaknya tidak memberikan bantuan berupa uang (koin/receh/lembaran) pada para pengemis, mungkin dalam pelbagai survei mereka, hal ini tidak membantu sama sekali – terutama dalam menyehatkan masyarakat kita.

Saya mencoba mencari-cari via mesin telusur di Internet, berapa sih yang bisa didapatkan seorang pengemis dalam sebulannya. Luar biasa ternyata, ada yang mengatakan bisa ratusan ribu sehari, yang dalam sebulan berarti jutaan, dan rata-rata di atas 3-4 juta rupiah sebulan. Gila! Itu bahkan lebih banyak daripada suntikan dana bulanan saya. Padahal nilai itu bisa jadi sudah dipotong sewa tempat tinggal, atau sewa anak untuk dibawa sebagai “atribut dinas” di jalanan.

Pengemis bisa membangun rumah kelas menengah di desanya, dan membeli banyak tanah. Pastinya, tidak perlu dibilang lagi – pengemis – jauh lebih kaya daripada saya dalam hal material. Bahkan mungkin lebih kaya daripada pegawai kantoran, buruh pabrik atau pekerja kontrak yang saban harinya mesti banting tulang.

Dan tentu saja, apa hak saya yang lebih miskin ini memberikan receh saya – yang seringkali seharusnya masuk ke celengan – pada orang-orang yang lebih kaya daripada saya, mungkin bagi mereka itu tidak ada artinya. Anak-anak yang mengemis mungkin akan membelikannya es krim lezat berlapis cokelat padat – yang selalu saya inginkan tapi ditahan-tahan karena dana terbatas – sebagaimana yang beberapa kali saya saksikan di jembatan atau sudut-sudut jalan.

Saya rasa memang sia-sia menaburkan garam ke lautan, dan sia-sia memberikan pengemis receh di jalanan. Anda sendiri masih memerlukan garam itu, atau jika pun punya simpanan, siapa tahu besok tetangga anda atau sahabat baik anda memerlukannya, yang jelas laut tidak perlu garam anda.

Lalu apa solusinya? Jika Anda terlalu sibuk atau tidak sanggup mengelola panti sosial sendiri, salurkan bantuan dana dan/atau barang anda pada lembaga-lembaga formal yang memerlukan. Formal dalam hal ini berarti memang diakui keberadaan oleh lembaga kemasyarakatan dan pemerintah, termasuk kelurahan dan kecamatan di mana lembaga itu berada.

Tapi kita kadang malas, lebih cepat memberikan bantuan di tempat saja – saat yang “tampak” memerlukan datang pada kita. Yah…, namanya membantu sebaiknya jangan malas-malasan-lah. Tapi jika memang Anda ingin membantu di tempat, dan memang merasa cukup banyak uang untuk itu, sambil membawa mobil anda, siapkan kue-kue kering kecil, berikan kue lebih baik daripada memberikan uang kecil.

Jika memang sudah menyumbang ke sebuah lembaga sosial, mintalah kartu nama lembaga itu dan perbanyak. Serahkan kartu nama itu pada yang memerlukan, dan sampaikan bahwa anda akan membantunya lewat alamat yang tertera pada kartu tersebut. Jangan khawatir kalau mereka tidak bisa membaca – mereka cukup hebat untuk bisa bertahan hidup, dan sebuah kartu nama tidak akan begitu menyulitkan mereka.

Saya sangat tergugah ketika membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang seorang tukang becak di Cina. Dia mengayuh becak sambil menyumbangkan sebagian penghasilan pada pantai asuhan, ia pun hanya makan dari memulung sisa-sisa makanan. Dan dari era 80-an dia mulai menyumbang, hingga beberapa tahun lalu, ia datang terakhir kali pada pantai asuhan membawa uang senilai 300-an ribu rupiah, dan berkata bahwa ini sumbangan terakhirnya karena tubuhnya yang sudah terlalu tua tidak sanggup lagi mengayuh becak. Tidak ada orang lain yang tahu bahwa ia menyumbang ke pantai asuhan, tidak juga anaknya. Hingga setelah ia meninggal karena kanker, barulah terungkap bahwa sumbangannya jika diakumulasi bernilai lebih dari 300 juta rupiah.

Orang yang hidup mengayuh becak dan makan dengan memulung saja, sanggup menyumbang dengan cara yang bijak hingga jumlah yang mengesankan secara nominal. Namun kehidupannya telah jauh lebih mengesankan dan menggugah dari nominal yang ia sumbangkan. Dapatkah kita menjadi sebijak itu?

Jika ada yang dimaksud memberi tanpa menahan, mungkin inilah sedikit contoh yang bisa saya temukan.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Iklan

14 pemikiran pada “Menabur Garam Ke Lautan

  1. Aris FM

    Terkadang susah menahan diri untuk tidak memberi pada pengemis, apalagi kalau pengemisnya masih anak kecil atau cacat, walaupun banyak yang berpura-pura cacat. Saya pernah melihat sendiri di Stasiun Tanah Abang seorang pengemis muda dan normal tubuhnya membungkus kakinya dengan perban bekas lalu berjalan menggunakan kruk, sejak itu saya tidak pernah lagi mengasih pengemis (yang pura-pura) cacat.

    Oh ya Pak, pernah dengar kampung pengemis? letaknya di Semarang dan Brebes, konon sebagian besar kehidupannya cukup terjamin. Coba cari di Google 🙂

    Suka

  2. Lindawati Rahaju

    sangat setuju dengan pernyataan "menyumbang dengan cara yang bijak"…
    sayang kalo niat amal kita cuma setengah-setengah, kurang mau merepotkan diri dengan mencari saluran yang tepat, ujungnya jadi sia-sia juga…

    Suka

  3. kadang niat tulus kita memberi malah membuat seseorang malas tuk berusaha. makanya kalo nemu orang yang minta-minta saya akan lihat dulu keadaan fisiknya. jalan berkilo-kilo meter sambil mengharap belas kasihan orang lain aja mampu masa' kerja ngak bisa. ngak mungkin kan

    Suka

  4. Wirautama06

    Mungkin memang kesannya kita mengeneralisir jika mengatakan bahwa banyak pengemis yang sebenarnya sudah lebih kaya daripada kita, tapi saya setuju bahwa kenyataannya mungkin banyak yang demikian.

    Saya sendiri juga sering melawan "ego" untuk tidak memberikan receh kepada para pengemis, tapi di satu sisi saya merasa lega juga karena tidak membuat keadaan semakin buruk.

    Suka

    1. Bli Wira,

      Mungkin memang tidak, hanya saja cara pemberiannya ada yang lebih baik. Kalau di Jogja sini sudah ada himbauan di perempatan-perempatan jalan untuk tidak menyerahkan receh pada para pengemis, melainkan disumbangkan ke lembaga resmi, karena lembaga ini yang akan melanjutkan mengajari mereka "mengail" bukan hanya memberi "ikan" semata.

      Suka

      1. TuSuda,
        Itulah mengapa banyak guyon yang mempertanyakan apakah pengemis sebaiknya didaftarka sebagai peserta jamkesmas, lha mereka malah tampak seperti profesi yang cukup menghasilkan :).

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.