Monarki di Yogyakarta

Yogyakarta merupakan sebuah daerah istimewa di nusantara, mungkin telah berlangsung sejak Sultan Hamengku Buwono IX menyertakan wilayah Keraton Yogyakarta ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana salah satu kutipan yang bisa saya temukan di dunia maya (bondinik.com).

Berikut adalah

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.Pemerintahan Daerah Istimewa Yogayakarta dapat kita telusur dari Tahun 1945, bahkan sebelum itu.

Beberapa minggu sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihatkondisi yang ada , Sri Sultan Hamengkubuono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945. Inti dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia.Dekrit dengan isi serupa juga oleh Pakualam VIII pada hari yang sama.Itulah kurang lebih sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta yang sering disingkat dengan sebutan DIY

Sepertinya jika saya tidak keliru menyimak berita, karena masa jabatan Gubernur Yogyakarta oleh Sri Sultan saat ini akan segera berakhir, maka muncul pertanyaan apakah jabatan yang sama akan ditunjuk kembali pada Sri Sultan, ataukah akan pemerintah pusat akan membuatkan aturan baru yang mengkhusus tentang tata pemerintahan Yogyakarta. Ini membuat pernyataan presiden beberapa saat lalu bahwa sistem monarki tidak boleh ada dalam tatanan negara demokrasi.

Beberapa kalangan menganggap pernyataan kepala negara sangat menyinggung dan tidak tepat, karena mengingkari sejarah keistimewaan Yogyakarta itu sendiri. Beberapa yang lain menganggap bahwa sudah seharusnya Yogyakarta tidak lagi berpegang pada sistem monarki, sebagaimana daerah lain melepas sistem kerajaannya dan tergabung bersama NKRI secara demokratis – ini membuat kesan bahwa Yogyakarta tidak bersedia menerima nasionalisme sebagaimana daerah lainnya.

Saya rasa permasalahan Yogyakarta mesti dikembalikan pada masyarakat Yogyakarta itu sendiri. Keraton Yogyakarta merupakan simbol kebudayaan masyarakat Yogyakarta semenjak dulu. Orang boleh mengatakan itu monarki, tapi Keraton-lah yang membantu rakyat Yogyakarta pada masa perjuangan dan masa-masa sulit dulu, dan rakyat tetap mendukung Rajanya. Sistem monarki itulah yang memberikan tempat bagi pelaksanaan pendidikan Universitas Gadjah Mada di awal masa berdirinya, dan memberikan ilmu pengetahuan serta keterampilan bagi banyak pelajarnya yang berasal dari seluruh nusantara.

Tidak adanya rasanya bagian dari keraton dalam hubungannya ke luar tidaklah nasionalis. Dan memang sistem tata keraton itu sendiri adalah sebuah sistem monarki sebagaimana salah satu kekayaan dan keunikan budaya di nusantara yang beragam ini. Saya rasa pun tata pemerintahan Yogyakarta diselenggarakan tidak berdasarkan asas monarki, namun demokrasi sebagaimana di daerah-daerah lainnya.

Nah, karena saat ini memang jabatan kepala daerah Yogyakarta juga dipegang oleh Sultan – hal ini tampak tidak demokratis. Tapi sungguhkah demikian? Jika menurut saya sendiri, hal ini mesti dikembalikan pada masyarakat Yogyakarta. Selama ini kesultanan mampu mengayomi masyarakat Yogyakarta dalam keberagaman kultur budayanya, dan tampaknya memang kesadaran masyarakat Yogyakarta sendiri menginginkan demikian.

Saya sendiri selama menetap di Yogyakarta tidak melihat adanya alasan sistem ini harus berubah. Saya memang bukan orang yang menyukai politik, saya melihat banyak sekali pemborosan ketika kampanye politik sementara dana untuk itu bisa digunakan untuk menolong masyarakat banyak. Saya kadang berpikir, jika orang yang bisa boros seperti itu untuk dapat terpilih, apa yang akan ia lakukan pada keuangan daerah? Kadang ada baiknya sistem seperti di Yogyakarta, pemimpin memanglah orang yang dididik sejak kecil tentang bagaimana menjadi pemimpin yang bijak, mengayomi rakyat, dan tidak segan membantu rakyat ketika kesulitan dan bencana datang. Pemimpin yang dipercaya rakyat dan memperhatikan rakyat adalah yang paling baik. Dan selama ini kesultanan memenuhi harapan itu bagi masyarakat Yogyakarta.

Ah…, saya sungguh tidak memahami apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan pusat.

Iklan

14 pemikiran pada “Monarki di Yogyakarta

    1. Bli Wira,

      Wah, jika itu, saya juga tidak tahu, apakah sekarang memang demokrasi murni, politik uang/kekuasaan/kepentingan, entahlah, saya tidak suka masalah politik.

      Suka

  1. Fad

    lebih baik kaya sekarang aja bli.. daripada pemilihan gubernur yang menelan banyak biaya..
    Terus (bukannya berpikir negatif ne) pasti banyak korupsi nantinya… Jogja kaya gini aja udah bagus kok…

    (dislike disqus)LOL

    Suka

    1. Fad,
      Ha ha…, ya, saya juga tidak perlu lihat poster calon gubernur di mana-mana, lebih baik buat poster pendidikan untuk masyarakat 🙂

      Hmm…, Disqus still nice :D.

      Suka

  2. Saya juga bingung. Kok bisa2nya Pak Presiden mengeluarkan pendapat seperti itu. Harusnya malah monarki di YK dilestarikan, karena memang di situlah letak keunikannya. Apa beliau sudah lupa dengan slogan negara ini Bhinneka Tunggal Ika?

    Ah, sungguh disayangkan…

    Suka

    1. Mas Darin,

      Saya mungkin tidak paham tentang tata negara, namun saya rasa demokrasi itu mesti dipahami secara lebih mendalam. Pemerintahan atas nama rakyat itu selayaknya melihat keinginan rakyat juga, bukan semata alur politik dan kekuasaan yang terpusat.

      Kalau memang kesultanan tidak dicintai rakyat, saya rasa DIY yang sekarang tidak akan mendapatkan banyak dukungan dari pelbagai pihak selain rakyat di DIY itu sendiri.

      Suka

  3. Abdul Hakim

    begini ya, maaf nih bli agak sara, saya hanya ingin memberikan kilas balik ketika waktu Nabi Muhammad meninggal dunia maka dengan cepat umat ISlam menunjuk salah seorang untuk memimpin, bukan dari keturunan Nabi saat itu, tapi dari sahabat beliau, dan dipilih oleh rakyat, dan ketika rakyat percaya maka pemerintahan berjalan baik. dan pemimpin merasa bertanggung jawab.
    jadi saya percaya dengan masyarakat jogja kalu sistem kerajaan disana berjalan baik

    Suka

    1. Mas Hakim,

      Masyarakat dalam tradisi Jawa jika tidak salah percaya akan adanya 3B (bibit, bebet, bobot), yang artinya mereka yang memang terlahir dengan kemampuan dalam bidang masing-masing, termasuk dalam karakteristik kepemimpinan.
      Jadi masyarakat memiliki sesuatu yang disebut adiluhung kepemimpinan, bahwa pemimpin memang terlahir seorang pemimpin dan dibesarkan sebagai pengayom masyarakatnya – rakyatnya.

      Jadi jika mereka dipimpin oleh sosok yang tidak memiliki kriteria ini, tentu saja kepercayaan akan menurun. Tapi itu kembali pada kekinian masyarakat sendiri. Saya sih tidak bisa berkata banyak.

      Suka

  4. Padly

    SBY itu orang yang aneh! Dia sendiri ingin untuk periode yang ke 3, cuma sayang… Terbentur dengan konstitusi 😛

    Tapi tetap saja… "Putra Mahkota" bisa masuk jajaran petinggi PD (untuk mempertahankan kekuasaan kah?). Bukankah itu juga suatu monarki? Agak terselubung memang.

    Secara umum… Aku setuju dengan Mas Kharisma Adi, aku kasih like tuh 😛

    Suka

  5. Kharisma Adi M

    Saya lebih setuju bila DIY dipimpin oleh kesultanan Yogyakarta. Bukan setuju pada sistem monarki atau apalah namanya, tapi yang jelas, bila rakyat Jogja dipimpin oleh orang yang notabene kturunan langsung dari raja (penguasa) jogja dulu, maka pimpinan (dlm hal ini raja) akan merasa memiliki rakyatnya, sehingga otomatis mengayominya.

    Lain halnya bila dipimpin oleh gubernur atau apapun dg masa kepemimpinan terbatas, maka kekuasaan akan dijadikan tujuan. Bukan lagi sebagai pengayom rakyat, namun lebih kepada pencari kekuasaan.

    Suka

    1. Mas Rismaka,
      Kalau masyarakat menghendaki demikian, ya saya rasa memang demikianlah yang terbaik untuk DIY. Berbeda jika masyarakat ingin sistem pemilihan pimpinan daerah yang berbeda, saya rasa kesultanan pun tidak akan mempermasalahkannya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.