Rintik Lentera

Aku terduduk di pinggir sebuah meja tertutup debu di antara raut batik lama yang tampak lebih lusuh daripada debu-debu di permukaannya. Sementara di kejauhan orang-orang sedang asyik menyantap kegurihan senja yang terhidang dengan menukar beberapa lembar keringat mereka, dan mungkin inilah sebentuk kepantasan di masa kini.

Seperti biasa, angin bertiup sesenja rintik yang belum hendak berhenti menyapa bumi, walau mentari telah beranjak rendah di cakrawala. Dan aku menyukai pelbagai aroma yang datang dari seberang di mana meja-meja tak tampak berdebu.

Aku tak cukup berpendidikan untuk memahami kenikmatan. Saat di sekitar banyak tangan-tangan berpasangan saling mengulur pengertian dan perhatian, aku terlarut memandangi satu dua ekor layang-layang yang hendak mencari teduh. Yah, aku menyukainya, dengan setipis uap tampak di bawah cahaya yang meredup.

Ah, ya ya…, aku hanya sebuah sepi yang sedang menikmati santap malamku. Hujan tak kunjung mereda, dan biarlah mereka menemani sebelum surut lentera ini menerangi malam yang hanya sekejap.

Iklan

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.