Setelan Modem Huawei E220 pada OpenSuse 11.3

Sebenarnya saya sudah bertanya pada Bli Dani Iswara si pengguna ArchLinux (karena sama-sama pakai Gnome), apa dia menggunakan wvdial saat menghubungkan modemnya yang sejenis? Tapi malah dikatakan menggunakan Network Manager. Saya juga sempat menyeletuk tentang hal ini di blognya Mas Ganda Manurung.

Alhasil, saya justru malas lagi. Akhirnya saya pakai jalan pintas saja, saya buka jendela prefensi Network Manager yang ada di deskbar/workbar, di sana ada setelan untuk GSM connection. Lalu beberapa poin saya ubah, pertama nama koneksinya (sebenarnya sih tidak bakal berpengaruh) jadi IM2 ECO (boleh saja pakai nama lain).

Langkah berikutnya adalah menyetel agar melakukan sambungan otomatis, jadi begitu modem dihubungan, maka sistem akan mengenalinya dan melakukan panggilan/koneksi. Lalu isi data lain sesuai dengan akun pengguna, misal nomor dial-up, username, password, APN dan PIN (opsional), pada bagian selanjutnya pastikan protokol PAP terpilih.

Lalu simpan perubahan, dan modem akan menyambung dengan sendirinya. Sayangnya, karena modem Huawei E22o ini entah mengapa suka un-plug sendiri, sehingga sambungan bisa putus di tengah jalan. Untungnya dia akan menyambung sendiri sekitar 30 detik kemudian, tapi kan tidak asik juga. Namun setidaknya ini lebih baik daripada di Windows, yang tidak bisa melakukan redial otomatis, sehingga kita mesti melakukan sambungan berulang kali dari software IM2 mobile connect.

Setidaknya Linux yang saya gunakan punya keunggulan tersendiri dibandingkan Windows. Nah, kalau pakai modem Huawei E220, memang lebih enak berinternet dengan Linux. Dan berapakah kecepatan akses internet saat ini?

Tes kecepatan unduh/unggah IM2 ECO di Yogyakarta

Jika gambar tersebut kurang jelas, silakan diklik untuk melihat versi besarnya.

Iklan

22 pemikiran pada “Setelan Modem Huawei E220 pada OpenSuse 11.3

    1. Bli Dani,
      Ha ha…, di situ kan walau modem lawas selalu dikipasi hingga sejuk, di tempat saya modem sangat cepat jadi panas, karena sering dipakai ngompori mungkin – ndak tahu deh.

      Suka

  1. iskandaria

    Wuih, kenceng banget tuh speed donlotnya. Saya paling banter cuma nyampe 500KBps aja (sinyal 3G Telkomsel Flash). Itu pun cuma beberapa kali (dulu, beberapa bulan silam). Sekarang? Huuh, nurun drastis deh. Memasuki bulan ketiga, kayaknya speed donlot Flash Unlimited (pakai Simpati Freedom) sengaja diturunkan. Bulan pertama dan kedua rata-rata 40-an KBps. Bulan ketiga? Nurun jadi 5-7 KBps aja 😦

    Oya, saya pakai modem AT&T Sierra 885. Jarang sekali bermasalah selama hampir setahun saya gunakan. Paling cuma lampu indikator sinyal 3G-nya aja yang sekarang udah nggak nyala. Tapi kalau yang ketangkep cuma EDGE atau GPRS, lampu indikatornya masih nyala.

    Modem AT&T Sierra 885 juga langsung bisa dideteksi oleh Linux Ubuntu (versi 10.04 maupun 10.10) tanpa settingan khusus lagi. Kecuali settingan koneksi Internet sesuai kartu yang digunakan.

    OOT dikit. Chromium yang saya pakai buat ngebuka halaman ini ternyata tidak bisa menampilkan gambar screenshot di atas. Padahal udah beberapa kali saya reload. Tapi pas saya buka via Opera, baru bisa nih.

    Suka

    1. Mas Is,
      Itu kan yang kelihatan di Speed Test, tapi kalau di Gnome System Monitor, paling mentok sekitar sebelum 400 kbps untuk unduh, karena memang kan paket IM2 ECO kecepatannya hanya sampai 384 kbps saja.

      Hmm…, setahu saya Chromium kadang ada masalah di web cache-nya, jika gambar sekali load tidak bisa dibuka, maka selanjutnya tidak bisa dibuka lagi, karena cache memanggap gambar itu rusak atau bagaimana. Tapi saya kira itu bug lawas. Entahlah kalau sekarang.

      Suka

  2. DikMa

    saya rasa modem se type seperti itu, sering unplug sendiri, saya jyga pernah ngalami.

    Tapi sekarang saya make modemnya nokia E71 aja

    Suka

    1. DikMa,
      Ah ya, kemarin saya nyoba pakai E71 dengan software khususnya untuk koneksi ke Internet, iseng dengan kartu IM3, dan sebelum dapat 1 MB akses langsung saya putus, eh gila…, pulsa habis hampir 5 ribu perak. Hiks…, padahal enak juga tuh.

      Suka

  3. Sugeng

    Mas modem nya sering disconect ??? pakai saja wvdial pasti gak akan sering DC setiap sekian menit. Aku sendiri gak punya basic untuk itu tapi sempat juga posting tentang setelan wvdial. Memang sih yang aku pakai modem cdma yang katanya sering DC setiap 30 menit. Tapi setelan ku, aku kasih "Auto Reconnect = on" pada "gedit /etc/wvdial.conf" jadinya tidak pernah DC sama sekali 😆 <del>sekedar informasi saja karena aku juga main coba-coba dan berhasil</del>

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Suka

    1. Pak Sugeng,
      Yah, kalau auto reconnect sih Network Manager juga punya 🙂 – tapi kan tetap ada jeda sesaat setelah DC kemudian RC lagi. Kalau mau pakai wvdial biasanya (ndak ngerti Linux), Network Manager harus ngalah, padahal kan buat ngatur semua koneksi termasuk Wifi dan CDMA Broadband misalnya.

      Suka

    1. Ayu,
      Kalau modem-nya HSDPA/HSUPA (3G+), sedangkan ponselnya cuma UMTS (3G), kan lebih enak pakai modem ya. Biasanya ponsel kalahnya di baterai, begitu sih pengalamannya selama ini. Jadi kalau mau nyala terus 24 jam sehari, 7 hari seminggu, maka modem sih pilihan tepatyang lebih pas – IMHO :).

      Suka

  4. Saya saat ini menggunakan 2 modem GSM. Salah satunya merknya sama seperti punya Mas Cahya ini. Enginenya pakai Huawei E1550 tapi dibranding jadi merk SUN. Satunya yang buat cadangan merk SpeedUp. Secara harga mahalan yang terakhir (Dulu belinya Rp 1,3 juta). Namun yang merk SUN/Huawei betul relatif lebih stabil dengan sinyalnya kalau di lokasi yang lemah sinyal. Dan yang menyenangkan jarang disconnet, beda sama yang SpeedUp.

    Tapi kalau untuk urusan kecepatan yang SpeedUp lebih kenceng, sudah support sampai speed 7.2 Mbps. Di Jalan Malioboro saya pernah tembus 5 Mbps pakai Flash Kartu Halo.

    Pakai IM2, Mas Cahya? Kenapa kemarin saya lihat lewat Google Maps Latitude buzznya mengeluhkan IM2? Posisinya kalau nggak salah di Jalan Jendral Sudirman. 🙂

    Suka

    1. Joko Sutarto,
      Iya Mas, yang kemarin itu masalah pelayanan (human resource), bukan karena kecepatan akses IM2 🙂 – saya ndak begitu mengerti merk modem sekarang, makanya saya pakai yang lawas saja. Dulu juga kalau tidak salah Huawei E220 harganya di atas satu juta, hingga setahun kemudian turun jadi sekitar 800-an, dan sekarang malah sampai 250-an. Padahal barang dan kualitas sama saja. Kadang harga tidak menentukan kualitas modem, makanya saya juga sering bingung kalau disuruh memilihkan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.